Mencintaimu Mr Photographer

Mencintaimu Mr Photographer
Episode 42


__ADS_3

Petang menjelang ketika Rich baru saja datang kembali ke rumah. Kimy sedang menonton drama korea bersama adik iparnya setelah tadi sempat membantu Nabila menyiapkan makanan untuk makan malam mereka sekeluarga. Rich berlalu begitu saja menuju kamar yang dihadiahi cebikan bibir dari Zoey.


"Apa memang seperti itu tingkah laku kakakmu?" Karena penasaran Kimy pun bertanya.


"Ya, memang seperti itu, Kak. Punya dua orang kakak lelaki saja tingkahnya nggak ada yang bener. Kak Rich telalu cool sampai tidak peduli pada sekitar. Sementara Kak Zayn, playboy yang hampir setiap wanita digombalinya. Sampai-sampai perutku saja mual jika mendengarnya."


Kimy tertawa mendengar cerita dari Zoey. "Untung saja di rumah ini aku masih bisa bertemu denganmu, Zoey. Jika tidak ... entahlah. Bisa stres sendiri pasti."


"Lagian kenapa Kak Kimy tidak lanjut kuliah saja dan kenapa justru memilih menikah. Bukankah enakan kuliah ya daripada menikah?"


"Habisnya Kak Rich ganteng. Mana mungkin aku menyia-nyiakan kesempatan punya suami ganteng dan tajir. Bukankah kesempatan itu tidak akan datang dua kali?"


"Benar juga. Ah, tapi aku yakin sekali jika Kak Kimy bakalan bisa mencairkan gunung esnya Kak Rich."


"Semoga saja ya, Zoey. Tapi Zoey harus janji bantuin aku agar mendapatkan hatinya Kak Rich."


"Setuju. Ya sudah sana samperin Kak Rich nya. Siapa tahu saja kan nanti diajakin mandi bersama," celetuk Zoey membulatkan mata Kimy.


"Ih, Zoey bisa mesum juga pikirannya."


"Salahkan saja mama dan Papa, Kak. Tingkah mereka berdua yang membuat Zoey dewasa sebelum waktunya."


Kimy lagi-lagi tergelak dan kali ini cukup kencang. Gadis itu beranjak berdiri meninggalkan adik iparnya untuk masuk ke dalam kamar.


Tepat sekali karena kedatangannya ke kamar bertepatan dengan Rich yang tengah membuka kemejanya berniat ingin mandi. Mata Kimy membola memandangi perut six pack suaminya. Hampir ngiler malah andai kata dia tidak mendengar ucapan sarkas yang terlontar dari mulut suaminya.


"Jangan menatapku seperti itu, Kimy!"


"Habisnya Kak Rich nggak hanya ganteng tapi juga memiliki badan yang seksi. Kimy jadi ingin meraba-raba dan menyentuh roti sobeknya Kak Rich."


Mata Rich melotot. Berani sekali bocah ingusan itu menggodanya seperti itu. "Jangan macam-macam kamu. Lagian kamu ini bocah kegatelan banget."

__ADS_1


"Gatel dengan suami sendiri. Iya kali gatel dengan suami orang."


Rich hanya bisa mengusap dadanya mendengar semua keberanian Kimyra. Terbuat dari apa gadis itu kenapa agresif sekali. Tak mau berdebat dengan Kimy yang hanya akan membuat kepalanya sakit, Rich memilih berlalu pergi meninggalkan gadis itu menuju kamar mandi.


"Kak Rich mau ke mana?"


"Mandi."


"Ikut!"


Rich mendelik lalu membanting pintu kamar mandi dengan cukup kencang karena kesal dengan Kimy.


Sementara gadis itu justru terkikik karena berhasil membuat Rich uring-uringan.


•••


Malam kedua. Sejak beberapa jam yang lalu Kimyra menunggu suaminya yang tak kunjung masuk juga ke dalam kamar. Entah sedang berada di mana yang Kimy sendiri tidak paham. Gadis itu memilih mengobrol dengan teman-temannya pada sebuah grup WhatsApp dengan posisi berbaring telungkup di atas ranjang. Karena asyiknya mengobrol banyak hal sampai dia tak menyadari jika pintu kamar telah terbuka dan Rich lah pelakunya.


Sayangnya Rich sudah membentengi dirinya untuk tidak menganggap Kimy ada. Dia terlalu marah pada keadaan yang harus mengikat hubungan dengan gadis yang sama sekali bukan tipenya. Jangankan rasa cinta. Bahkan Rich saja kadang merasa ilfeel dengan keberanian seoarang Kimyra jika sedang berhadapan dengannya. Terlalu berani sebagai sekarang gadis belia. Sempat terpikir dalam benak Rich, apa iya sikap Kimy jika diluaran akan seperti itu. Julukan gadis bar-bar yang tersemat pada gadis itu menguatkan dugaan jika Kimy adalah gadis urakan yang suka tebar pesona pada lawan jenisnya. Makin membuat Rich tidak menyukai gadis itu. Merutuki takdir yang harus mengantarkan kedua orang tuanya yang telah menjodohkan dia dengan Kimyra.


Setelah menetralkan diri untuk tidak terpengaruh sedikit pun akan keberadaan Kimy, Rich masuk ke dalam kamar lalu menutup pintu kamarnya membuat Kimy terkejut dibuatnya. Pria yang sejak tadi ditunggunya rupanya datang juga. Gegas Kimy menghentikan aktifitasnya berkirim pesan dengan teman-temannya dan meletakkan ponsel di atas nakas. Tidak enak hati juga pada Rich.


Kimy pikir Rich akan tidur di sebelahnya. Namun, rupanya pria itu mendekati ranjang hanya ingin mengambil bantal. Reflek Kimy menyambar ujung bantal yang bebas dari pegangan tangan Rich.


"Kak Rich mau ke mana lagi? Tidur di sofa seperti semalam?" Pertanyaan polos yang Kimy lontarkan.


"Iya."


"Ngapain sih Kak Rich harus tidur di sofa. Badan Kak Rich bisa sakit semua nanti. Padahal ranjang ini terlalu besar jika harus Kimy tempati seorang diri."


"Aku akan tidur di sofa."

__ADS_1


"Tidak boleh."


"Apaan, sih, Kimy!" Rich mendelik sebal pada gadis yang mulai berani mengaturnya.


"Kakak tidur di sini saja. Jangan di sofa."


"Suka-suka aku mau tidur di mana saja. Lagian ini kamarku."


"Kenapa sih Kak Rich nggak mau tidur seranjang denganku? Takut khilaf ya? Ayo ngaku?"


Rich melotot menatap Kimy. Berani sekali gadis ini bicara sesuka hati.


"Lagian ya, Kak. Kimy ini sudah pasrah jika memang Kak Rich ingin khilaf."


"Kimy! Jangan ngomong sembarangan dan jangan banyak bertingkah."


Rich ingin meninggalkan Kimy dengan menyentak bantal di tangan. Tapi Kimy juga tak kalah gesit menyambar kembali hingga Rich yang tak siap harus terhuyung dan jatuh di atas ranjang. Untung saja tidak menimpa Kimy posisi jatuhnya.


"Kimy!" Teriak Rich saking kesalnya.


Siapa sangka jika diluar kamar ada Nabila dan Rayyan yang tak sengaja menguping. Pasalnya Rich ini nada bicaranya kelewat tinggi sampai terdengar dari luar kamar. Jadi jangan salah jika Nabila penasaran dan menyeret suaminya untuk mendekati kamar putranya.


"Pa! Itu kenapa Rich yang teriak-teriak. Mama pikir Kimy yang agresif. Ternyata Rich diam-diam begitu jauh lebih agresif."


Nabila terkikik sendiri sementara Rayyan yang memang ditakdirkan dengan tingkat kemesuman yang tiada duanya, sudah menggaruk-garuk rambutnya dan kepala yang mulai memanas.


Tanpa aba-aba pria itu justru menarik lengan istrinya menjauhi kamar Rich.


"Pa, ish mau ke mana?"


"Ngapain sih kita intipin Rich. Mending praktek sendiri daripada harus ngintipin mereka."

__ADS_1


__ADS_2