
Tak hanya para tamu undangan yang berdecak kagum dengan ketampanan wajah Rich, tapi juga Kimy yang tak lain adalah sang mempelai wanita. Perempuan itu sampai harus mengerjab-ngerjabkan mata karena terpesona.
'Ganteng banget, sih,' ucap Kimy dalam hati sampai sebuah senggolan tangan dari Firza menolehkan kepala Kimy ke samping menatap sebal pada mamanya yang mengganggu kesenangan dirinya.
"Biasa saja ngelihatnya," celetuk Firza mengomentari apa yang Kimy lakukan.
"Mama ... ganggu kesenangan orang saja."
Firza mengulum senyuman. Anaknya ini sudah dewasa rupanya. Buktinya sudah bisa membedakan mana cowok ganteng dan tidak. Sudah berani mengagumi ketampanan laki-laki dengan terang-terangan. Mata Firza berkaca-kaca. Ingat bagaimana dulu bahagianya dia dan Rega ketika memiliki Kimy. Anak perempuan yang sangat diinginkan kehadirannya setelah memiliki dua orang anak lelaki. Tak heran jika Kimy menjadi kesayangan keluarga karena dia memang penyempurna rumah tangga Firza dengan Rega. Siapa sangka jika hari ini Kimy sudah menikah dan Firza harus rela melepaskan putrinya untuk Rich. Berdoa dalam hati semoga Rich bisa memberikan kebahagiaan bagi putrinya. Mampu membimbing Kimy menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Sesungguhnya Firza menaruh harapan besar pada pernikahan putrinya ini. Keluarga Rayyan adalah keluarga baik. Persahabatan di antara mereka yang disatukan dalam ikatan keluarga dengan adanya pernikahan Rich dengan Kimy.
"Sah!"
"Sah!"
Saling bersahutan para saksi pernikahan Kimy dengan Rich yang menandakan jika acara ijab qabul berjalan dengan lancar tanpa hambatan. Kini Kimy dengan Rich telah resmi menjadi pasangan suami istri.
Dan karena acara pernikahan ini termasuk mendadak, jadi acara resepsi kecil-kecilan juga langsung diselenggarakan setelah acara ijab qabul selesai. Tidak banyak tamu undangan yang hadir selain dari keluarga dekat kedua belah pihak juga beberapa rekan bisnis Rega dan Rayyan.
Meski hanya acara sederhana, tapi tetap saja Kimyra merasa capek luar biasa. Terlebih ketika dirinya harus mengulas senyuman untuk para tamu undangan, sampai gigi kering dan juga rahang yang pegal.
"Kak!" rengek Kimy manja pada Rich yang berdiri di sebelahnya.
Tanpa repot-repot menoleh, Rich hanya bergumam. "Hem."
"Aku capek dan haus. Boleh minta tolong?"
"Kau pikir aku ini juga tidak capek apa!" Dengan ketus Rich menjawab.
Kimy mengerucutkan bibirnya. "Gitu amat jawabnya. Ya, udah kita sama-sama capek, kan? Mending kita sudahi saja acara ini agar kita bisa lekas istirahat."
"Mana bisa begitu. Acaranya belum selesai."
"Tapi aku haus, Kak!"
Rich menghela napas mencoba bersabar meski sebenarnya dia lelah dan juga kesal karena acara pernikahan yang tidak dia inginkan digelar juga. Bahkan dia sudah resmi menjadi suami bocah ingusan yang sekarang sudah berani menyuruhnya ambil minuman. Tak ayal Rich yang memang tak bisa protes, turun juga dari pelaminan. Lalu dia ambil minuman untuk dapat diberikan pada Kimy.
Nabila yang mengetahui bisa-bisanya senyum-senyum sendiri sampai membuat Rayyan jadi ikut penasaran.
"Kenapa senyum-senyum sejak tadi."
"Papa lihat Rich dengan Kimy. Ah, semoga saja akur ya mereka."
__ADS_1
Rayyan ikut menatap pada apa yang istrinya ceritakan. Benar saja. Rich sedang membantu Kimy untuk menyesap minuman.
"Lama-lama bersama ... mereka juga akan suka. Tinggal nunggu waktu saja."
"Iya benar."
Sampai tiga jam lamanya pada akhirnya acara selesai juga. Kimy menyeret kakinya untuk dapat duduk dengan menyandarkan punggung pada kursi. Sejak tadi berdiri rasanya capek sekali.
Rega yang tadi tengah berbincang dengan Rayyan sebelum mereka meninggalkan tempat acara, melihat Kimy yang sedang memijit kakinya. Rega mendekat dan berjongkok di bawah putrinya. "Ada apa princess papa? Capek?"
Kimy mengangguk. "Kakiku sepertinya lecet, Pa."
"Oh, ya? Mana coba papa lihat."
Rega membantu putrinya untuk dapat melepas sepatu yang melekat pada kaki putrinya. Tampak memerah memang. "Duh, apa ini sakit sayang?"
Lagi-lagi kepala Kimy mengangguk. Namun, derai air mata yang tak dapat dibendung lagi membuat Rega makin panik. "Hei, Kimy kenapa nangis? Apa ini sakit? Tenanglah sayang papa akan meminta bantuan agar ada yang mengobati kakimu."
"Papa!"
"Iya, sabar."
Rega hampir saja meninggalkan Kimy untuk mencari kotak obat agar dapat mengobati kaki Kimy. Namun, Kimy mencekal lengan Rega. "Papa mau ke mana?"
"Papa ... aku menangis bukan karena kakiku sakit."
"Lalu?"
"Aku terharu karena papa begitu perhatian dan sayang padaku."
Entah kenapa Rega jadi ikut-ikutan terharu sampai lelaki itu memeluk putrinya begitu erat. "Papa sayang kamu. Kamu ini anak perempuan papa satu-satunya. Dan hari ini kamu menikah yang artinya sudah ada orang lain yang memilikimu sayang."
"Tapi aku maunya jadi milik papa saja."
"Mana boleh begitu. Mulai hari ini kamu adalah milik Rich meski papa juga masih berhak memilikimu meski sudah tak lagi bisa sepenuhnya."
"Ya sudah jika begitu batalkan saja pernikahannya."
"Ngawur kamu, sayang! Kalian sudah menikah secara sah. Sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Nggak bisa lagi dibatalkan. Memangnya kamu mau nggak jadi punya suami ganteng seperti Rich."
"Eh, iya. Kak Rich ganteng banget hari ini."
__ADS_1
"Sampai kamu melupakan papa? Begitu?"
"Ya, maaf papa."
Ehem! Ehem!
Suara deheman Rayyan yang menghampiri bersama Nabila juga Firza, mengakhiri sesi obrolan Rega dengan Kimyra.
"Kimy ... mulai hari ini Kimy sudah resmi menjadi bagian dari keluarga Alexander. Jadi, mulai hari ini juga Kimy akan ikut kami pulang ke rumah."
"Jadi Kimy tidak boleh pulang ke rumah papa lagi?"
"Boleh tapi untuk sehari-hari tempat tinggal Kimy adalah rumah Mama Nabila dan Papa Rayyan karena Kimy harus ikut dengan Rich."
Kimy tampak berpikir. Apakah dia akan betah hidup di rumah keluarga Rich?
Kepala Kimy mengangguk setuju. Firza memeluk tubuh putrinya. "Sayang, baik-baik ya di rumah mama Nabila. Jangan bandel dan harus nurut sama suami."
"Iya, Mama."
Mereka pun pada akhirnya berpisah juga. Kimy sedih tapi sekaligus juga bahagia.
"Kimy ikut mobil pengantin dengan Rich. Papa dan Mama akan mengikuti di belakang kalian."
Rich yang sejak tadi tak banyak berucap juga bersikap dingin, membuat Kimy sebal sendiri. Mencoba mencari cara bagaimana agar dapat meluluhkan hati Rich.
"Kak Rich!"
Kepala Rich menoleh ketika dia bersiap masuk ke dalam mobil.
"Ini Kak Rich nggak ada apa keinginan untuk membukakan pintu mobil untukku?"
"Kamu bisa membukanya sendiri."
"Nggak bisa Kak Rich. Kedua tanganku masih berfungsi mengangkat gaun ini."
Rich memperhatikan Kimy yang memang menenteng gaun pengantinnya.
Dengan kesal pria itu harus kembali memutari mobil untuk dapat membukakan pintu mobil untuk Kimy.
"Terima kasih, Kak Rich. Upahnya nanti malam saja Kimy berikan."
__ADS_1
Rich mengernyit tak mengerti dengan ucapan absurd dari Kimy.