Mencintaimu Mr Photographer

Mencintaimu Mr Photographer
Episode 47


__ADS_3

"Kimyra!!"


Tanpa rasa bersalah gadis itu mengucek matanya lalu menolehkan kepala melihat Rich dengan seulas senyuman. "Kak Rich sudah pulang?"


Beringsut bangun sembari mengumpulkan separuh nyawanya yang belum kembali. Menyandarkan punggung pada sofa dan mengernyit ketika mendapati wajah Rich yang mengeras menatap padanya.


"Apa yang kau lakukan, Kimy!"


"Hah? Melakukan apa?"


"Melakukan apa katamu? Lihatlah bagaimana berantakannya rumah ini karena ulahmu!"


"Kak Rich tidak perlu teriak-teriak begitu. Nanti juga aku bersihkan."


"Tidak ada kata nanti. Sekarang cepat kamu bersihkan sampai bersih dan kembali rapi!"


Lagi-lagi Rich harus berucap dengan nada tinggi. Setelahnya berlalu pergi menuju kamar. Sebelum masuk ke dalam kamar, pria itu kembali membalikkan badan seraya berucap, "Aku tidak mau tahu. Begitu aku kembali keluar nanti malam ... rumah harus sudah bersih dan rapi seperti semula. Dan lagi ... kamu juga harus menyiapkan makan malam untukku."


Belum sempat Kimy menjawab, Rich sudah menghilang di balik pintu melesat masuk ke dalam kamarnya.


Kimy mendesah kecewa. Rich datang bukannya memberikan sambutan yang hangat, yang ada pria itu hanya bisa marah-marah. Kimy menolehkan kepala ke kiri dan ke kanan dan gadis itu meringis melihat betapa berantakannya rumah ini akibat ulahnya. Pantas saja Rich marah sekali padanya.

__ADS_1


Huft. Menghirup napas panjang. Gadis itu mulai mengumpulkan semangat untuk mulai membereskan kekacauan yang dia buat sendiri.


Mencepol asal rambutnya yang dicat warna coklat abu-abu, lalu berjongkok dan memungut satu per satu plastik bungkus makanan serta snack yang tadi dia makan. Memasukkan ke dalam plastik besar. Stereo foam bekas makan siang juga dia masukkan ke dalam kantong plastik lalu keluar rumah membuangnya ke dalam bak sampah. Tak hanya sampai di sana. Ceceran makanan juga bekas minuman dia lap sampai bersih. Menyapu lantai sekaligus mengepel sekalian. Lumayan menguras tenaga di sore ini. Keringat juga mulai membasahi baju yang dia kenakan. Seumur-umur menjadi anak Rega dan Firza, mana pernah Kimy ikut membantu membersihkan rumahnya. Tidak pernah dia lakukan karena kedua orang tuanya tidak pernah menyuruh Kimy melakukannya. Bahkan kamar tidurnya yang selalu berantakan masih bisa Kimy gunakan untuk tidur tanpa terganggu sedikit pun dengan banyaknya barang yang berceceran di atas kasur. Hanya mengandalkan pembantu atau mama yang akan membereskan kamarnya. Hanya saja ketika dia berada di Korea dua tahun lamanya, sedikit-sedikit Kimy masih mau membersihkan tempat tinggalnya. Selebihnya ada jasa cleaning servis yang menghandel semuanya.


Dan sekarang, Kimy benar-benar dituntut mandiri agar bisa melakukan apapun seorang diri. Jika tidak ingin melihat Rich yang melotot menyeramkan jika sedang marah padanya.


Gadis itu menjatuhkan tubuhnya di atas karpet sembari menyeka keringat juga menormalkan napas yang ngos-ngosan. Ini hanya membersihkan rumah yang tidak seberapa besar. Ya, Tuhan. Secapek ini rasanya menjadi seorang istri. Ingin Kimy menangis. Tapi dia tahan. Dia sendiri yang setuju menikah dengan Rich dulu. Ternyata punya suami tampan bukan hal yang menyenangkan karena Kak Rich nya tega menyiksa dia seperti ini. Lepas dari kedua orang tuanya, justru dia masuk ke kandang buaya.


Baru saja Kimy ingin bersantai sejenak, tapi ketika ekor matanya menatap jam yang tertempel di dinding menunjukkan pukul lima sore, gegas gadis itu beranjak karena ingat perintah sang suami. Netra Kimy menatap pintu kamar Rich yang masih tertutup. Sebelum pria itu keluar, Kimy harus memasak makan malam.


Jika memasak Kimy tidak keberatan. Hal yang mudah jika hanya memasak makanan simpel saja. Terkadang rasa malas saja yang menjadi penghalang ketika dirinya ingin berkutat di dalam dapur.


Menuju lemari es dan membukanya. Tidak banyak barang yang ada di sana. Kemarin saat pindahan Mama Nabila memang mengisi kulkasnya dengan beberapa aneka makanan karena takut anaknya kelaparan. Hanya saja sebagian besar sudah dia dan Rich makan kemarin.


•••


Jam tujuh malam Rich keluar dari dalam kamar. Pria itu tidur beberapa jam setelah pulang dari bekerja. Karena emosi dan amarahnya pada Kimy hanya bisa diredam dengan cara tidur. Dan ketika malam ini dia kembali keluar, mata tajamnya mulai berkeliling memeriksa apakah rumah sudah kembali bersih dan rapi seperti semula setelah Kimy berhasil mengacaukannya.


Rich dapat bernapas lega. Setidaknya Kimy sudah mau menuruti perintahnya. Sofa beserta meja tak lagi ada sampah yang berserak di mana-mana. Pria itu melangkah menuju ruang makan. Di atas meja sudah tersedia juga makan malam yang bau harumnya menggugah selera. Dia pernah makan hasil masakan Kimyra dan tidak mengecewakan rasanya. Semoga saja makanan yang sekarang sudah terhidang juga masih bisa berdamai dengan lidahnya.


Namun, kenapa rumah sangat sepi. Ke mana isterinya itu berada kini. Tidak mungkin juga lari meninggalkan rumah setelah tadi dia marahi, kan?

__ADS_1


Lagi-lagi kepala Rich harus menelisik seluruh penjuru ruangan hingga langkah kakinya yang mendekati kamar Kimy. Rich mendekatkan telinga pada pintu mencoba mendengar suara-suara dari dalamnya. Namun, tak ada hasil sampai pria itu memutuskan mengetuk pintunya.


"Kimy! Kau di dalam?"


Tak ada sahutan. Rich mendesah kecewa. Sekali lagi dia ulurkan tangan untuk mengetuk pintunya. "Kimyra!"


Kali ini suara yang Rich teriakkan sedikit nyaring dari yang sebelumnya.


Ceklek. Pintu terbuka. Kimy muncul dengan handuk membungkus kepala.


"Heran dengan Kak Rich. Hobi banget teriak-teriak."


Rich terdiam untuk sesaat ketika aroma sabun juga shampo yang Kimy pakai menguar di indera penciumannya. Oh rupanya gadis itu tadi sedang mandi.


"Kau sendiri aku panggil panggil kenapa tidak menyahut? Jadi jangan salahkan jika aku teriak-teriak seperti ini "


"Aku lagi mandi Kak. Ada apa lagi? Rumah sudah aku bersihkan. Makanan juga sudah aku siapkan. Apa ada yang masih kurang "


Rich menelan ludah. "Tidak ada. Buruan aku tunggu di ruang makan."


Setelahnya, Rich berlalu pergi meninggalkan Kimy yang masih mematung di ambang pintu kamar.

__ADS_1


Gadis itu bergumam. "Heran. Punya suami kok aneh begitu. Mimpi apa aku dulu, ck."


Gegas dia kembali masuk ke dalam kamar untuk bersiap-siap. Jika sampai Rich menunggunya terlalu lama ... marah lagi hanya membuat pusing kepala Kimy. Entahlah, akan jadi seperti apa hidup Kimy ke depannya jika terus saja mengahadapi Rich yang hobinya marah-marah tidak jelas begitu.


__ADS_2