
Kimy ini adalah gadis dua puluh tahun yang tidak polos-polos amat tentang hubungan antara lelaki dengan perempuan. Tentu saja dia sudah paham. Begitu pun juga dengan istilah malam pertama.
Sebelum menikah, Kimy sudah banyak mencari tahu apa saja hal yang berkaitan dengan hubungan pernikahan, dan salah satunya adalah hubungan suami istri di malam pertama seorang pengantin.
Bukannya takut, Kimy justru penasaran. Banyak hal yang menjadi pertanyaan di dalam benak gadis bar-bar itu. Kimy ini memang selalu ingin tahu banyak hal. Dan rasa penasaran itu akan terus bergentayangan dalam benak jika belum berhasil direalisasikan. Seperti halnya malam ini. Bukannya deg-degan atau takut, yang ada Kimy sudah tidak sabar ingin segera masuk ke kamar dan tidur seranjang dengan suaminya. Ingin tahu rasanya seperti apa ketika dia tidak lagi tidur sendirian tapi ada peneman. Benarkah rasanya hangat jika tidur dalam pelukan lelaki yang bergelar sebagai suami?
Lamunan Kimy tentang banyaknya hal-hal yang manis-manis harus dikacaukan oleh Rich. Pria itu risih sendiri karena sejak tadi ketika keduanya berada di dalam mobil, Kimy tak lepas dari senyuman yang bahkan membuat Rich melihat dengan tatapan ngeri. Entah apa yang sedang Kimy pikirkan. Rich tak tahu. Ah, jangan-jangan gadis itu sedang berpikir hal mesum karena ini adalah malam pengantin mereka. Oh, tidak.
Tidak ada dalam kamus seorang Rich untuk menghabiskan malam ini bersama gadis ingusan itu. Yang ada dia akan dimintai pertanggungjawaban dari Om Rega jika sampai berani ngapa-ngapain putri kesayangannya itu.
"Buruan turun! Ngapain cengengesan begitu sejak tadi? Nggak sedang kesambet, kan?"
Bukannya marah, Kimy justru menjawab. "Aku memang kesambet, Kak. Kesambet kegantengan Kak Rich!" ucap Kimy diakhiri dengan kekehan yang membuat bulu kuduk Rich meremang.
Tak mau menimpali apa yang akan diucapkan lagi oleh gadis di sebelahnya ini, Rich turun dari dalam mobil lalu membanting pintunya kasar. Tak ada niat juga untuk membantu Kimy keluar dari dalam mobilnya sampai gadis itu kesusahan karena panjang gaun yang dikenakan. Beruntung mobil yang dikemudikan oleh Rayyan pada akhirnya sampai juga. Nabila lah yang dengan sigap membantu menantunya.
"Rich!" Panggil Nabila dengan suara lantang mengejutkan langkah kaki pemuda itu yang sudah mencapai pintu masuk.
Rich menolehkan kepala dengan tidak merasa bersalah sama sekali justru menjawab, "Ada ap sih, Ma. Aku capek. Ingin segera beristirahat."
"Kamu ini! Bantu Kimy dan bawa sekalian istrimu ini ke dalam kamar."
Bisakah Rich membantah mamanya? Tentu saja tidak. Pria itu membalikkan badannya dengan malas mendekati Kimy.
Nabila mengulas senyuman. "Kimy, sekarang rumah ini adalah rumah Kimy juga. Tidak perlu segan atau sungkan berada di rumah ini. Jika membutuhkan bantuan, katakan saja pada Rich atau cari mama, ya."
Kimy mengangguk mengerti. Lalu menurut dengan mengekori Rich yang menggandeng tangannya. Sampai memasuki sebuah kamar yang ada di lantai dua. Kimy bisa bernapas lega ketika dia berhasil juga sampai di lantai dua rumah ini. Memang membutuhkan perjuangan untuk bisa sampai di dalam kamar yang lumayan luas. Kimy menelisik seluruh penjuru kamar yang didominasi warna cat abu dan hitam. Menggambarkan jika si pemilik adalah sosok lelaki yang begitu elegan.
Kimy masih sibuk mengamati kamar tidur yang dilengkapi dengan ruang kerja. Kimy jadi tahu jika kamar ini tak hanya berfungsi sebagai tempat tidur saja tapi juga sebagai ruang kerja.
__ADS_1
Rich sebenarnya risih dengan keberadaan orang asing di dalam daerah pribadinya. Namun, dia tak bisa berbuat banyak karena Kimy adalah istrinya. Jika dia mengusir Kimy dari dalam kamarnya, yang ada sang mama akan marah besar. Sekarang, Rich merasa canggung harus berbuat apa. Di dalam kamarnya sendiri tak bisa leluasa.
"Kau atau aku duluan yang mandi?" Pertanyaan yang sebenarnya digunakan Rich hanya sekedar berbasa basi.
"Kenapa tidak mandi bersama saja untuk menghemat waktu," jawab Kimy asal yang langsung membulatkan mata Rich.
Sungguh, gadis yang dia hadapi saat ini bukan gadis biasa tapi sanggup membuatnya pusing kepala. Baru beberapa jam saja menjadi seorang istri, Kimy sudah berani menggodanya. Oh, Tuhan. Gadis seperti apa yang dia nikahi ini.
"Jangan ngaco! Kamu saja yang mandi di sini. Aku akan mandi di bawah," putus Rich kemudian.
Pria itu melangkah hampir mendekati pintu ketika suara manja serta rengekan Kimy terdengar di telinga.
"Kak! Boleh bantu aku?"
"Bantu apa?"
"Tolong bantu melepas resleting gaunku."
Cobaan apalagi ini. Rich menghela napas panjang. Melirik pada gaun Kimy yang memang resletingnya terdapat di bagian punggung.
Ragu. Antara membantu atau tidak.
"Aku panggilkan mama saja biar beliau yang membantumu."
"Ya, Tuhan, Kak! Hanya melepas resleting gaun saja Kak Rich harus meminta bantuan mama? Yang benar saja. Jika aku bisa melakukannya sendiri ... pasti aku juga tak akan meminta bantuan pada Kakak."
Rich mengusap pelipisnya. Wajah Kimy sudah ditekuk masam. Baiklah. Tak ada pilihan lain lagi. Dia dekati juga gadis itu yang langsung membalikkan badannya dengan menyodorkan punggung pada Rich.
Sebelum benar-benar membantu Kimy, sekali lagi Rich embuskan napas panjang demi menormalkan kegugupan. Dia sudah sering membantu para modelnya membenarkan baju dan sebagainya. Namun, tak pernah sedikit pun Rich gugup seperti ini. Entah kenapa hanya menghadapi satu gadis ingusan saja jantung Rich harus berdebar-debar seperti ini.
__ADS_1
Dengan perlahan Rich mengulurkan tangannya menyentuh gaun yang Kimy kenakan.
"Buruan, Kak! Keburu malam."
"Iya ... iya. Bawel banget."
Dengan satu tarikan napas, Rich berharap bisa segera menurunkan resleting tersebut. Namun, dugaannya salah karena demi menurunkan resleting gaun yang pas di tubuh Kimy dibutuhkan usaha yang maksimal. Ditambah lagi tangan Rich yang mendadak tremor begini.
Ini tidak bisa dibiarkan. Batin Rich berteriak.
Dan perlahan tapi pasti, gaun itupun terbuka menampakkan punggung putih dan mulus milik Kimyra. Sialnya lagi resleting yang tak ada ujungnya baru berhenti di pinggul Kimy. Untung saja gadis itu memegangi bagian depan gaunnya. Jika tidak, entahlah apa yang akan terjadi. Karena sebagai pria normal Rich tak mampu membohongi dirinya sendiri jika disuguhi pemandangan mulus dan seksi pasti akan tergoda hati.
"Sudah."
"Terima kasih, Kak."
"Hem."
Rich hendak keluar, tapi lagi-lagi Kimyra justru menggoda.
"Kakak mau ke mana?"
"Mandi di lantai bawah."
"Yakin nih nggak mau mandi bersama? Kimy nggak keberatan loh kak!"
Bisa-bisanya gadis itu cengengesan kepadanya. Rich geleng-gelengkan kepalanya. "Sorry, aku nggak tertarik!"
Setelah mengatakan itu, Rich benar-benar kabur keluar sampai-sampai menutup pintu kamarnya dengan kencang.
__ADS_1
Kimy justru terbahak melihat tingkah laku suaminya.