
"Bos!"
Panggilan lelaki berkulit sawo matang itu tak mengalihkan tatapan Rich dari lensa yang sedang dia bersihkan. Bahkan pria itu hanya menjawabnya dengan gumaman. "Hem."
"Gimana rasanya nikah dengan daun muda? Jika kulihat-lihat bos ini juga sekarang terlihat lebih muda. Lebih segar, lebih ceria ...."
"Tutup mulutmu, Deni!" sela Rich membungkam mulut salah satu asistennya. Lalu ia kembali menyimpan kamera di tangan, pada tempatnya.
Bukannya ketakutan, pria dua puluh lima tahun yang disapa dengan nama Deni justru tertawa terbahak melihat kekesalan sang atasan. "Ya Tuhan, bos. Lagian, bos. Perjodohan itu tidak melulu buruk, yang ada sebaliknya. Mana ada orang tua menjerumuskan anaknya. Justru semua demi kebaikan."
Deni memang tahu asal muasal pernikahan dadakan yang dilakukan oleh Rich. Juga hubungan Rich dengan Resca. Mereka selalu bekerja bersama jadi tak lagi ada rahasia di antara mereka.
"Kau ini belum pernah merasakan yang namanya perjodohan. Tiba-tiba harus menikahi bocah yang hanya membuat pusing kepala."
"Kepala atas atau bawah, bos?"
Plak
Pukulan ringan mendarat di lengan Deni, dan Rich lah pelakunya.
"Ampun, bos!"
Rich beranjak berdiri dari duduknya. "Lebih baik aku pulang saja. Lama-lama di sini berada bersamamu bisa gila aku!"
"Bos mau ke mana?"
"Jemput Kimy di rumah papanya."
"Cie ... yang sudah rindu dengan istri."
__ADS_1
Rich mendelik menatap horor pada Deni seraya mengacungkan kepalan tangannya. Gegas pria itu meninggalkan studio tempatnya bekerja. Menjawab sapaan dari beberapa model yang duduk di ruang tunggu.
Menuju mobil dan masuk ke dalamnya. Waktu menunjukkan pukul empat sore. Sebenarnya Rich terbiasa sampai malam jika bekerja, hanya saja semenjak ada Kimy memang dia mengusahakan untuk pulang sore. Selebihnya jika ada pekerjaan yang memang harus dia selesaikan, maka Rich akan melanjutkannya di rumah. Di studio miliknya juga ada beberapa orang pekerja yang membantunya menghandel semua.
Memacu mobil lumayan kencang karena jalanan lumayan lengang. Sebentar lagi ketika jam pulang kerja tiba maka hanya kemacetan yang akan dijumpai di mana-mana.
Tiga puluh menit dan Rich sudah memarkir mobil ke dalam garasi rumah mertuanya. Mengucap salam ketika memasuki rumah dan disambut langsung oleh Firza, sang mama mertua.
"Sore, Ma."
"Hei, Rich. Sudah pulang."
Meski hanya mertua, tapi karena hubungan baik yang terjalin antara keluarga Rayyan dengan Rega sejak dahulu kala, jadi tidak menimbulkan kecanggungan sedikitpun dalam diri Rich ketika harus dipertemukan dengan sahabat sang mama yang sekarang sudah menjadi mertuanya. Pria itu membungkukkan badan lalu mengecup punggung tangan Firza.
Sebuah kesopanan yang membuat Firza terharu memiliki menantu seperti Rich. Sejak dulu Firza selalu bermimpi agar kelak mendapat menantu orang-orang baik seperti halnya dia mendidik anak-anaknya. Dan kini satu dari sekian doa-doanya terkabul juga.
"Kimy mana, Ma?"
Rich mengangguk.
"Masuk saja ke kamarnya Kimy, Rich!" Pinta Firza yang diangguki kepala oleh Rich. Mengikuti arah petunjuk sang mama mertua hingga Rich sampai juga di depan kamar Kimyra.
Meski pun Kimy adalah istrinya, tetap saja Rich harus mengetuk pintu kamar terlebih dahulu sebelum masuk ke dalamnya. Berhubung tak ada jawaban yang Rich dengar setelah dua kali dia mengetuk pintunya, terpaksa Rich membuka dengan sangat pelan pintunya. Takut andaikan Kimy sedang mandi atau sedang apa begitu.
Ah, rupanya gadis itu sedang tidur sama seperti yang mama mertuanya katakan. Rich menghela napas panjang melihat istri kecilnya itu dengan damai masih memejamkan mata. Padahal ini hampir jam lima sore sudah saatnya untuk mandi seharusnya.
Setelah menutup kembali pintu kamar, Rich mendekati ranjang. Tanpa dia sangka ketika netranya memperhatikan wajah Kimy yang sama sekali tidak terganggu dengan keberadaannya. Mata yang terpejam memaksa Rich untuk memperhatikan lekat-lekat setiap inci wajah sang istri yang baru satu minggu dia nikahi.
"Cantik," gumamnya.
__ADS_1
Ya, Kimy memang cantik untuk ukuran gadis belia seusianya. Bulu mata lentik, bibir merah muda yang melambai-lambai untuk dicoba tapi sekuat tenaga Rich abaikan. Kulit putih mulus milik Kimy yang tanpa cela ditambah dengan penampilan gadis itu ketika tidur seperti sekarang. Hanya celana pendek setengah paha saja yang Kimy kenakan. Tentu saja sebagai seorang lelaki normal Rich sebenarnya tergoda, hanya saja dia terlalu pandai untuk membohongi diri serta hatinya agar tak boleh lepas kendali dan jatuh cinta dengan Kimy. Bagi Rich, Kimy tak lebih dari sosok adik yang harus dia jaga seperti halnya Zoey.
Lelah berperang dengan hatinya, bukan justru membangunkan Kimy agar istrinya itu bangun dari tidur, yang ada justru Rich ikut merebah di samping Kimy. Rasa capek bekerja juga berkendara tanpa terasa menghantarkan Rich ke dalam alam mimpi. Menyusul Kimy yang masih tertidur pulas di sampingnya.
•••
Di meja makan. Beberapa kali Firza mendongak ke atas di lantai dua rumahnya di mana terdapat kamar sang putri di sana. Waktu sudah menunjukkan pukul enam petang. Rega saja juga sudah pulang dan sekarang suaminya itu sedang mandi.
Namun, sampai detik ini belum ada tanda-tanda Kimy dan Rich akan turun. Sebentar lagi memasuki waktu makan malam. Firza dan pembantunya bahkan sudah selesai memasak dan sekarang sedang menyiapkan makanan di atas meja makan. Ada banyak makanan yang Firza hidangkan, mengingat ada sang menantu di rumahnya. Ini untuk pertama kalinya Rich ada di rumahnya semenjak menikahi Kimy. Jadi jangan salah jika Firza yang sangat antuasias menyambut kedatangan Rich.
"Belum turun Kimy dan Rich?" Pertanyaan Rega membuat Firza terjengit kaget karena sejak tadi tidak fokus akan aktifitasnya.
"Ya, Tuhan ... Papa. Mengagetkan saja."
"Mengangetkan apanya. Bahkan aku hanya bertanya saja padamu. Memangnya kamu sedang melamun, hem?"
Firza nyengir ketahuan oleh suaminya sedang tidak fokus. "Maaf. Aku memang sedang melamun. Habisnya sejak tadi nungguin Kimy dan Rich tidak turun-turun. Apa mungkin mereka ketiduran, Pa. Atau perlu aku bangunkan saja."
Rega menggelengkan kepalanya. "Biarkan saja mereka menikmati waktu berdua. Jangan mengganggu kesenangan Kimy dan Rich."
"Tapi ini sudah saatnya makan malam, Pa."
"Kamu ingin memiliki cucu tidak? Jika ya ... biarkan saja. Mereka bisa makan malam kapan saja. Sudah duduk sini. Kita makan duluan saja."
" Apa tidak masalah kita makan duluan, pa."
"Memangnya kenapa?"
"Aku sudah terlanjut masak banyak untuk menyambut kedatangan Kimy dan Rich. Apa iya kita makan duluan dan meninggalkan mereka."
__ADS_1
"Tidak apa, Firza. Kamu ini mengganggu kesenangan anak saja."
Firza hanya geleng-geleng kepala melihat antuasiasnya Rega pada hubungan Kimy dengan Rich.