
"Aku mencintai Resca, Ma."
"Sekalipun Resca calon istri orang?"
Di sini justru Nabila yang menggebu-gebu padahal di awal Rayyan lah yang gelisah ketika mendapati putranya menjalin hubungan dengan wanita itu.
"Ma, sebenarnya Resca itu menikah karena terpaksa."
"Dan kamu mau jadi pahlawan dengan menggagalkan rencana pernikahan wanita itu? Begitu kah?"
"Aku hanya ingin membantu Resca karena aku sendiri cinta dengannya, Ma."
"Sekarang mama tanya padamu, Rich. Sejak kapan kamu kenal dengan Resca? Apakah kalian sudah menjalin hubungan sebelum Resca menjadi klien-mu?"
Kepala Rich menggeleng. "Aku kenal dia ketika pre wedding."
"Ya, Tuhan, Rich!" Nabila memijit pelipisnya. Dia tak habis pikir dengan putranya itu. Apa yang dipikirkan oleh Rich sampai-sampai mengambil keputusan yang diluar nalar.
Rayyan yang tahu bagaimana pusingnya sang istri memilih merangkul bahu Nabila sembari berbisik, "Tenanglah sayang. Sebaiknya kamu obati luka Rich. Nanti infeksi."
Nabila sampai melupakan jika putranya sedang terluka. Beranjak berdiri mengambil kotak P3K.
Kini tinggal Rayyan dan Rich berdua di ruang keluarga. Rayyan menatap putranya yang entah apa tengah dipikirkan oleh Rich.
"Kamu sudah dewasa. Papa rasa kamu tahu mana yang baik dan tidak baik. Sekarang kamu baru mendapatkan sebuah pukulan yang papa yakin dilakukan oleh calon suami Resca. Benar begitu?"
Rich mengangguk karena memang benar kenyataannya seperti itu. Rayyan menghela napas panjang. "Lain waktu jika kamu masih saja mengganggu Resca, bisa-bisa bukan hanya pukulan yang akan kamu dapatkan. Bisa jadi kamu akan dipermalukan. Ingat, Rich! Nama baik itu harus dipertahankan. Jika ada wanita lain yang masih single bisa kau jadikan pacar, ke napa harus calon istri orang. Pikirkan baik-baik sebelum kamu melangkah lebih jauh lagi."
"Tapi aku mencintainya, Pa."
"Cinta itu memang buta. Tapi janganlah menjadi buta karena kamu cinta dengan seseorang. Sampai-sampainya nggak bisa membedakan. Mana salah dan benar."
Baik Rich dan juga Rayyan bungkam ketika Nabila datang dengan kotak P3k serta kompresan. Meletakkan di atas meja. Lalu mendekat duduk di samping putranya.
"Hadap sini, Rich. Mama obati dulu lukamu."
__ADS_1
Rich menurut. Dengan pelan dan hati-hati Nabila membersihan lebam di pipi dan juga sudut bibir Rich yang darahnya sudah mulai mengering. Padahal tadi Rich sudah memnersihkannya dengan tisu.
Meski Nabila kecewa juga marah dengan putranya, tapi Nabila sangat menyayangi Rich.
Selesai dengan apa yang Nabila lakukan, Rayyan segera meminta pada Rich untuk masuk kamar dan istirahat sebelum istrinya kembali mengomeli putranya itu.
"Sebaiknya kamu segera masuk kamar. Istirahat."
"Baik, Pa. Terima kasih. Aku ke kamar dulu."
•••
Nabila sedang sibuk menghubungi Rega. Tentunya ada Rayyan juga sedang bersamanya. Dia ingin membahas perihal perjodohan Rich dengan Kimy.
"Reg, bagaimana?" Tanya Nabilah begitu Rega menjawab panggilan teleponnya.
"Aku sudah bicara dengan Kimy."
"Dan Kimy menolak?" Tebak Nabila.
"Tapi kamu tenang saja Bila. Meski Kimy menolak, dia tak akan ada pilihan lain. Karena jika dia tidaklah menikah maka aku tak akan mengijinkannya untuk kelayapan. Dan akan memasukkan dia di Universitas di Indonesia yang dekat rumah kalau bisa agar dia tak lagi berulah. Aku paham Kimy pasti akan menyerah karena anak itu sangat benci dikekang."
"Aku pun berpikir ke arah sana. Tapi Nabila. Kamu belum menceritakan padaku kenapa tiba-tiba saja kamu ingin menjodohkan Rich dengan Kimy. Padahal jelas-jelas aku tahu jika putramu itu memiliki seorang kekasih yang jauh dari Kimy. Cantik dan seksi. Tidak seperti Kimy yang urakan dan bar-bar."
"Kimy itu anakmu sendiri. Ya, Tuhan Rega. Bisa-bisanya kamu memuji perempuan lain dan kamu beda-bedakan dengan putrimu."
"Bukan begitu maksudku."
"Ya ... ya. Aku tahu. Pasti kamu bertanya-tanya sekaligus penasaran. Asal kamu tahu saja Rega. Wanita cantik yang pernah kamu temui bersama Rich itu adalah klien-nya."
"Ah, mana mungkin."
"Dengarkan dulu."
"Iya ... iya maaf."
__ADS_1
"Dia klien nya Rich. Dan pada saat pengambilan foto prewedding Rich jatuh cinta dengan wanita itu. Yang aku tak habis pikir, bisa-bisanya wanita bernama Resca itu menanggapi Rich dan keduanya menjalin hubungan. Aku sampai tak habis pikir apa sebenarnya motif si Resca itu mendekati Rich. Sudah kuingatkan agar Rich menjauh dari wanita itu. Eh, Rich mengatakan cinta pada Resca. Apa aku nggak shock dibuatnya. Sekalinya jatuh cinta dengan calon istri orang. Ya, Tuhan Rega. Aku tidak siap dipermalukan hanya karena ulah Rich yang menyimpang. Oleh sebab itulah lebih baik aku nikahkan saja Rich dengan Kimy. Meski mereka tak saling cinta untuk saat ini, tapi aku yakin suatu hari nanti mereka pasti akan terbiasa bersama dan benih-benih cinta akan tumbuh dengan sendirinya."
"Aku percayakan semua padamu Bil."
"Firza bagaimana? Apakah dia tidak keberatan dengan rencana kita?"
"Tentu saja tidak. Karena hanya itu pilihan satu-satunya. Firza sendiri sudah menyerah melihat tingkah laku Kimy."
"Baiklah jika begitu, aku akan bicarakan hal ini dengan Rich."
"Oke Bil."
"Terima kasih, Ga."
"You are welcome."
Panggilan telepon terputus. Rayyan yang sejak tadi mendengar obrolan istrinya pun bersuara. "Bagaimana sayang?"
"Ya, rencana perjodohan kuharap berjalan lancar. Kimy memang menolak tapi dia tak ada pilihan lin kecuali menurut. Sama halnya dengan Rich yang aku rasa juga dia pasti menolak. Tapi kita tidak boleh menyerah. Aku pastikan Rich tak akan ada pilihan untuk menerima rencana perjodohan ini."
"Aku serahkan semua padamu, sayang."
"Kamu ini. Harusnya kamu membantuku bukan justru menyerahkan semua padaku."
"Ya maksudnya aku akan membantumu juga. Lalu kapan kita bicarakan hal ini pada Rich."
"Nanti saat makan malam."
"Baiklah."
Benar saja. Nabila sungguh merealisasikan apa yang sudah direncanakan. Usai makan malam, Zoey dan Zayn pamit undur diri meski mereka bertanya-tanya akan apa yang mereka lihat dari wajah kakaknya. Namun, tak ada yang berani bertanya.
Rich sendiri memilih pamit dan dia akan mengurung diri di dalam kamar karena tak mau dicecar banyak pertanyaan oleh mama dan papanya. Sayangnya, Nabila telah berhasil menghentikan langkah Rich.
"Tunggu, Rich. Ada hal yang ingin kami bicarakan denganmu. Duduklah dulu."
__ADS_1
Rich membalikkan badan dan kembali mendudukkan diri di kursinya. "Ada apa, Ma?"
Nabila dan Rayyan saling pandang. Lalu Nabila yang memulai obrolan. "Rich, papa dan mama sudah sepakat untuk menjodohkanmu."