
"Kak Rich! Memang benar kita akan pindah?" tanya Kimy yang mengekori sang suami masuk ke dalam kamar.
"Hem." Jawaban singkat tapi tidak jelas membuat Kimy tidak puas.
"Beneran papa yang kasih rumah untuk kita?"
"Iya."
Bibir Kimy mengerucut. Kenapa juga papanya ini masih juga merecoki hidupnya. Tidak cukupkah selama ini papanya terlalu memaksakan kehendak padanya. Lah ini, sudah menikah saja masih harus menuruti apa yang papanya mau.
"Kenapa sih kita harus pindah. Padahal aku sudah mulai betah tinggal di sini." Gerutu Kimy yang lagi-lagi tidak ditanggapi oleh Rich. Menurut pria itu, Kimy terlalu berisik. Tanpa Rich sadari jika Kimy sudah mulai merasa nyaman di rumah ini. Ada mama Nabila juga Zoey yang selalu ada dan menghiburnya.
"Sudah, jangan banyak protes. Lebih baik kamu siapkan saja barang-barang yang akan kita bawa pindahan."
"Memangnya kita mau pindahnya ke mana sih, Kak?" Ah, Kimy jadi penasarannya rumah seperti apa yang papanya berikan.
"Nanti kamu juga akan tahu sendiri."
Kimy sudah berniat mengajukan tanya lagi, tapi segera disela oleh Rich. "Jangan banyak tanya-tanya lagi, Kimy. Aku capek menjawabnya."
Gadis itu langsung menutup mulut rapat-rapat karena jika Rich sudah bersabda maka dia takut membantahnya.
Baru juga Kimy akan duduk di atas ranjang ketika Rich kembali memerintah. "Ambil kopermu dan masukkan baju-bajumu."
"Bukannya baru lusa kita pindahannya?"
"Iya. Tapi mulai besok kita akan mencicil untuk memindahkan barang-barang. Tinggalkan saja di sini seperlunya. Biar bisa digunakan ketika nanti mengunjungi rumah ini lagi."
"Iya, Kak. Siap."
Kimy kembali beranjak lalu berjinjit di depan lemari untuk mengambil koper yang dia letakkan di rak teratas. Sementara Rich, pria itu bersiap masuk ke dalam kamar mandi. Namun, kembali membalikkan badan seraya berucap, "Baju-bajuku juga bereskan sekalian."
Belum sempat Kimy menjawab, suara bantingan pintu bedebam di seluruh penjuru kamar. Kimy hanya mengurut dada dengan sikap suaminya. Sebenarnya di sini siapa yang bar-bar? Dia atau aku? Kimy bermonolog sendiri.
__ADS_1
Tak ayal gadis itu pun menurut dengan perintah sang suami. Setelah memasukkan baju-bajunya juga perlengkapan pribadinya. Kini giliran baju-baju milik Rich yang dia eksekusi. Membuka pintu lemari yang di dalamnya banyak sekali terdapat baju milik Rich. Tidak mungkin akan diangkut semua karena kopernya pasti tidak muat. Setelah memilah-milah Kimy putuskan hanya membawa beberapa setel baju sesuai dengan fungsi dan juga kegunaannya. Seperti kemeja, celana kerja, celana santai, baju tidur dan tak lupa baju dalaman untuk membungkus aset pribadi milik Rich.
Betapa bodohnya gadis itu yang justru berbinar karena penasaran melihat ****** ***** milik Rich yang tertata dengan rapi di dalam almari. Juga bokser dengan aneka macam gambar yang menyilaukan mata. Gadis itu cekikikan lalu meraih satu dan merentangkan di depan matanya.
"Kimy! Apa yang kamu lakukan!" Teriak Rich panik gegas mendekati Kimy lalu merampas paksa ****** ******** dari tangan sang istri.
"Kamu, ya!" tuding pria itu tidak terima.
"Aku hanya penasaran saja, Kak."
"Ini barang pribadiku. Seharusnya kamu ijin dulu jika ingin menjamahnya."
"Kak Rich sendiri yang tadi memintaku untuk membereskannya."
"Iya tapi nggak gini juga Kimy!" Betapa Rich yang malu karena Kimy justru memerhatikan lekat-lekat pembungkus aset pribadinya. Benar-benar polos atau apa? Sungguh, Rich tak tahu harus berkata apa sampai-sampai dia tak lagi membiarkan Kimy menyentuh koper miliknya.
"Kak Rich ini lebay. Padahal aku hanya menyentuh dan melihat pembungkusnya saja. Bagaimana jika sampai isinya yang aku lihat dan pegang-pegang."
"Kimy!"
•••
Esok harinya.
"Ini beneran kalian mau pindahan?" Nabila dengan mata berkaca-kaca seolah tak rela saja ketika hari ini dia mendapati Rich dan Kimy sama-sama menyeret koper.
"Belum, Ma. Baru besok."
"Lah ini kenapa bawa-bawa koper segala?"
"Kami hanya membawa barang-barang yang sekiranya bisa di cicil untuk dipindahkan."
"Rich! Kalian tinggal di sini saja kenapa sih. Masih pengantin baru juga."
__ADS_1
"Justru karena kami pengantin baru jadi membutuhkan privasi untuk berdua-duaan tanpa ada gangguan."
Jawaban Rich mendapat cebikan dari Kimy. Pengantin baru apanya yang butuh berdua-duaan. Didekati saja Rich sudah lari duluan.
Nabila yang paham akan jawaban putranya sudah senyum-senyum menggoda. "Segera kasih mama cucu ya, Rich. Biar mama nggak lagi kesepian."
Uhuk ... uhuk.
Rich tersedak ludahnya sendiri. Cucu? Astaga. Ucapannya justru menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.
Mampus kau Kak Rich! Kimy cekikikan melihat kegugupan suaminya.
"Kimy!"
"Ya, Mama."
"Jaga Rich baik-baik, ya? Mama percayakan Rich pada Kimy. Pasti Kimy bisa mengurus Rich nantinya."
"Lah, Mama nggak salah meminta hal itu pada Kimy? Harusnya Kak Rich loh Ma yang jagain Kimy."
"Kimy tahu nggak sih. Mama ini merasa tertipu dengan papamu."
Kening Kimy mengernyit. "Memangnya kenapa, Ma? Kimy mengecewakan ya jadi menantu Mama."
"Bukan begitu sayang. Menurut papamu ... kamu ini gadis bar-bar yang susah diatur. Ops keceplosan. Maafkan Mama. Bukan mama menjelek-jelekkan Kimy. Tapi setelah Kimy beneran jadi menantu mama ... Kok Mama rasa kamu ini justru bisa bersikap lebih dewasa daripada suamimu ini."
"Hah! Maksud mama? Kimy nggak paham. Maaf, Ma. Otak Kimy ini terlalu lemot dan loading nya lama."
"Lihat saja bagaimana Rich yang selalu memperlakukanmu dengan kurang baik dan kurang sopan."
"Kurang sopan apanya, Ma?"
"Masak iya istrimu suruh bawa koper sendiri. Kamu ini jadi suami nggak peka sama sekali. Jangan kira mama ini nggak perhatian dengan kalian berdua. Mama lihat semua jika kamu selalu abai pada Kimy. Padahal Kimy ini perhatian padamu, Rich. Suka bantu-bantu mama jika di rumah. Awas saja jika kalian nanti sudah tinggal di rumah sendiri dan kamunya masih nggak mau nganggep Kimy ada ... siap-siap saja Kimy mama akuisisi."
__ADS_1
"Ish Mama ini apa-apaan. Jangan suka berpikiran yang bukan-bukan. Namanya juga baru saling mengenal ya wajar kalau belum terlalu dekat."
Lagian aku sendiri juga takut dekat-dekat dengan Kimy yang agresifnya kebangetan. Lanjut Rich yang hanya berani dia suarakan di dalam hati saja. Karena takut dan malu jika sampai ditertawakan oleh mamanya. Dia yang laki masa harus malu memulai. Padahal sebenarnya dia memang sengaja tidak ingin memulai apapun dengan Kimy. Jangankan cinta, rasa ingin memiliki saja belum ada dalam hatinya. Entahlah kenapa hatinya ini masih terpaut pada Resca. Dan Kimy sama sekali tak ada dalam kriteria seorang istri idamannya.