Mencintaimu Mr Photographer

Mencintaimu Mr Photographer
Episode 12


__ADS_3

Sejak kehamilan yang memasuki usia tujuh bulan , hidup Nabila tidak tenang . Mau apa-apa rasanya seperti kesusahan. Belum lagi keluhan-keluhan seputar kehamilan mulai Nabila rasakan. Sakit pinggang, sering buang air kecil, selalu merasa kegerahan serta saat tidur pun beragam posisi selalu merasa tidak nyaman.


Tidur hanya dengan miring ke kiri dan ke kanan. Bergerak pun sudah kesusahan. Sungguh tersiksa rasanya. Tapi semua itu akan hilang dengan sendirinya kala Nabila meraskaan pergerakan baby dalam perutnya. Rayyan pun juga sangat bahagia jika mendapati baby nya yang bergerak gerak . Seringkali Rayyan menangkupkan telapak tangan nya di atas perut Nabila.


" Sayang , dia bergerak-gerak terus, " ucap Rayyan antusias.


Nabila yang tertidur miring dengan Rayyan berada di belakang tubuh nya dan melingkarkan tangan nya di pinggang Nabila . Hingga telapak tangan Rayyan jatuh di atas perut istri nya. Menikmati setiap gerakan-gerakan halus baby nya. Sungguh tak dapat Rayyan prediksi kan bagaimana perasaan nya saat ini.


" Dia sangat lincah. Aku percaya jika dia laki-laki, sayang , " ucap Rayyan lagi.


" Mau laki-laki atau perempuan , kita tetap harus bersyukur dan menerimanya." Nabila menasehati suaminya.


" Tentu lah, "


Dan setelah pembicaraan singkat mereka, Rayyan sudah menyeruak di ceruk leher Nabila. Mendaratkan satu kecupan di leher sang istri. Telapak tangan yang tadi berada di atas perut istrinya sudah merayap naik menangkup dada Nabila yang tidak terbungkus bra. Nabila sudah mendesah membuat Rayyan semakin bersemangat melancarkan aksinya.


Rayyan, demi melihat Nabila yang sudah hamil besar, justru dimatanya istrinya itu semakin seksi saja. dan Rayyan akan selalu gagal menahan diri setiap kali berdekatan dengan sang istri.


***


" Ini semua salahmu, Ray ! bukan nya dokter sudah mengatakan kalau kehamilan sudah membesar seperti ini sangatlah rawan." Omel Nabila masih dengan meringis menahan nyeri di perutnya.


Mereka berdua baru saja pulang dari Rumah Sakit dimana dokter kandungan yang menangani Nabila sedang praktek.


" Kamu nya sendiri juga menikmati kenapa menyalahkanku. Lihat lah tanganku bekas gigitan mu saja masih memerah begini." Rayyan yang masih fokus mengemudi pun tidak mau tinggal diam. Diulurkan tangan kirinya ke hadapan Nabila.


Nabila tersenyum masam, pasalnya di tangan Rayyan memang masih menancap bekas gigitan nya.


" Habis nya kamu sih ... sudah kubilang jangan kencang-kencang, malah kamunya terlalu bersemangat. Aku kan kesakitan Ray!" ucap Nabila manja.


" Kesakitan apa keenakan." goda Rayyan membuat pipi Nabila merona.


" Auw ... sakit sayang !" Rayyan memekik. Nabila mencubit gemas perut suaminya.

__ADS_1


Beginilah sekarang mereka berdua. Tanpa segan, tanpa malu dan tanpa perlu menyembunyikan kata-kata vulgar yang terlontar dari mulut kedua nya. Membicarakan keintiman dan urusan ranjang sudah menjadi hal yang biasa.


" Untung saja dia tidak kenapa-napa." tangan Rayyan terulur menyentuh perut besar Nabila.


" Iya. Lain kali jangan kau ulangi lagi Ray."


" Awas saja ya kalau kamu yang meminta. Aku tidak akan memberikan nya, " ledek Rayyan pada Nabila.


" Ray...! " Nabila sudah menggeram kesal.


Pecahlah tawa Rayyan. Pasalnya semenjak Nabila hamil besar, baik dirinya ataupun Nabila sama-sama memiliki keinginan yang tinggi untuk selalu menyatukan diri mereka. Rayyan yang selalu tidak tahan setiap kali melihat Nabila yang semakin hari semakin padat berisi. Sementara Nabila mungkin karena pengaruh hormon hingga tiap kali mendekat dan mencium bau suaminya pasti ingin nya selalu menempel saja. Dan keintiman pun tak mungkin dihindari.


Padahal dokter sudah mewanti-wanti jika di usia kehamilan menginjak trimester ketiga, pasangan suami istri dilarang terlalu sering melakukan hubungan suami istri, karena cairan ****** bisa menyebabkan kontraksi dini. Dan itulah sebab nya kenapa Nabila tadi harus berada di rumah sakit. Karena sedari pagi dia sudah mengalami mulas disertai kontraksi. Dia pikir akan melahirkan. Ternyata setelah diperiksa itu semua hanyalah kontraksi palsu yang akan hilang dengan sendirinya. Usia kehamilan Nabila masih belum cukup umur untuk melahirkan.


*****


Pagi ini di kantor yang merangkap studio milik Rayyan, lelaki itu keluar dari dalam lift dan langsung melihat Raisa , sekretarisnya.


Tapi pandangan Rayyan menyipit melihat seorang wanita yang duduk di sofa . Rayyan menatap tajam Raisa, dan sekretarisnya itu hanya menatap nya penuh maaf.


" Maafkan aku bos. aku sudah bilang bos tidak ada di kantor, tapi dia tetap mau menunggu sampai bos datang ."


" Huft, " Rayyan membuang nafas kasar, menatap Firza. Bahkan perempuan itu kini sudah berdiri dari duduk nya, menatap Rayyan dengan senyuman lebar.


Rayyan menuju dimana ruang kerjanya, dan firza mengikuti nya.


Begitu Rayyan masuk ke dalam ruangan nya, tanpa menoleh sedikitpun pada Firza, lelaki itu berkata " Buat apa kau ada disini, Firza?"


" Aku sengaja menunggumu. Ada hal yang harus aku bicarakan denganmu."


"Hal apalagi? Kurasa diantara kita sudah tidak ada apa-apa lagi."


"Kau salah Ray! Aku masih mencintaimu. Sebenarnya apa yang sudah Nabila berikan padamu? Hingga kamu bisa takluk begitu saja kepadanya. Asal kau tahu Ray! Aku bisa memberimu lebih dari apa yang sydah Nabila berikan untukmu."

__ADS_1


"Tapi aku tak butuh itu semua darimu. Kuharap kau mengerti. Dan jangan lagi mengganggu kehidupan ku dan Nabila."


"Tapi Ray...."


" Cukup Firza. Sebaiknya sekarang kau pergi saja. Aku banyak pekerjaan."


Dengan menghentakkan kami Firza keluar dari ruangan Rayyan.


Rayyan bernafas lega dan lelaki itu berharap agar Firza tak lagi mengganggu kehidupan nya.


****


Malam harinya sebenarnya Rayyan berencana ingin mengatakan pada Nabila mengenai kedatangan Firza di kantornya. Akan tetapi karena pekerjaan yang menyita waktu membuat Rayyan lupa.


" Ray ...!" Nabila yang sudah berada di balik selimut memanggil Rayyan yang masih duduk di sofa dengan laptop di pangkuan nya.


" Hmm..." jawab Rayyan masih fokus dengan pekerjaan nya.


" Ray ...!!" panggil Nabila lagi, suara panggilan nya kali ini naik satu oktaf.


Rayyan tau jika Nabila tidak akan bisa tidur jika dia tidak memeluk nya. Segera Rayyan save semua pekerjaan nya lalu mematikan laptop dan menyimpan nya di atas meja.


Setelah nya Rayyan bangkit dari atas sofa berjalan menghampiri Nabila. Dilepasnya kaos yang membungkus tubuh atletisnya sebelum dia naik ke atas ranjang.


Nabila sudah berbinar melihat Rayyan shirtless.


" Celana nya dibuka sekalian Ray ! " ucap Nabila manja.


Rayyan menghela nafas. Tapi dituruti juga kemauan istri nya. Celana pendek nya dia lepas lalu celana dalam nya juga.


" Kenapa celana dalam mu kamu lepas juga ?" protes Nabila meskipun pandangan mata nya tak bisa lepas dari milik suaminya yang sudah menegang.


Rayyan tersenyum miring lalu naik ke atas ranjang. Berbisik di telinga Nabila, " Aku tahu kamu menginginkan nya. "

__ADS_1


Nabila merona mendengar ucapan Rayyan. Memang itu yang dia inginkan. Entahlah sejak masa kehamilan, Nabila begitu menggilai Rayyan. Tidak ada lagi cinta tersembunyi di diri Nabila karena dia akan selalu mengungkapkan apa yang dia inginkan. Termasuk keinginan nya diatas ranjang yang tidak akan pernah bisa Nabila tahan.


__ADS_2