Mencintaimu Mr Photographer

Mencintaimu Mr Photographer
Episode 27


__ADS_3

"Sore, Ma!" Rich yang pulang ke rumah, langsung menghampiri sang Mama yang sedang mengelap meja makan. Wanita itu meskipun ada pembantu rumah tangga, tetapi tak juga mau diam. Ada saja yang dia kerjakan di setiap harinya. Seperti sekarang ini. Jika pembantu yang memasak, maka Nabila yang akan membersihkan meja agar nanti sudah bersih ketika masakannya matang dan tinggal meyiapkan saja.


Rich mencium sebelah pipi Nabila. Kebetulan putranya itu datang. Sejak tadi Nabila memang menunggu kedatangan Rich karena ada hal yang ingin dia tanyakan pada putranya itu.


"Dari mana saja kamu, Rich? Sejak pagi baru pulang sore ini."


"Ada kerjaan, Ma."


"Kerjaan apa?"


Rich menarik salah satu kursi lalu mendongak menatap penuh selidik pada mamanya. "Tumben mama tanya apa kerjaanku?"


Nabila berdecak. "Kata Om Rega, tadi dia bertemu kamu di Bandara."


Rich menelan ludah. Kenapa dia sampai melupakan keberadaan teman mamanya yang dia temui di Bandara tadi. Pasti Om Rega sudah mengadu pada sang mama.


"Iya. Tadi memang aku bertemu dengan Om Rega."


Nabila menatap putranya lekat-lekat. "Ngapain kamu ke Bandara?"


"Ada kerjaan, Ma."


"Jangan bohong."


"Bohong apanya?"


"Siapa wanita yang bersamamu tadi?"


Rich terdiam sesaat. Mencari alasan apalagi. Sepertinya mamanya ini sudah curiga padanya.


"Temanku, Ma."


"Hanya teman wanita? Atau ... kekasihmu?"


"Menurut mama?"


Nabila berdecak. "Kamu ini ditanya juga ganti bertanya."


"Kami belum terikat hubungan apa-apa."


"Kamu menyukainya? Kenapa tidak kamu kenalkan pada Mama?"


"Ma ... belum waktunya. Aku hanya berteman dengannya. Yah, meskipun tak aku pungkiri jika aku memang ... menyukainya."

__ADS_1


Nabila menghela napas. Mendengar pengakuan Rich, Nabila jadi khawatir jika apa yang Rayyan katakan memang benar adanya.


"Rich ...." Nabila susah ingin menyampaikan sesuatu pada putranya itu. Takut menyinggung perasaan Rich juga.


Sementara itu, Rich melihat dari ekspresi Nabila yang seolah menyimpan suatu tanya. "Sebenarnya apa yang ingin mama katakan padaku?"


"Begini Rich."


Nabila yang tadi dalam posisi berdiri, kini ikut menarik kursi dan duduk di samping putranya. Wanita itu menyandarkan punggungnya.


"Mama hanya tidak ingin kamu salah dalam memilih pasangan hidup. Karena menikah itu kalau bisa satu kali seumur hidup. Jadi ... bukan mama sok ikut campur dalam urusanmu. Tapi memang mama hanya ingin yang terbaik untukmu. Kamu ini anak pertama yang harus menjadi panutan adik-adikmu. Kamu paham kan apa yang mama maksudkan?"


Rich hanya mengangguk. Sedikit paham ke mana arah pembicaraan mamanya. Bukan sebab dia ingin berahasia dengan keluarga seputar siapa wanita yang nantinya akan dia pilih untuk dijadikan istri. Hanya saja hubungan yang dia jalani bersama Resca tanpa ikatan yang pasti. Rich paham betul jika Resca adalah calon istri orang. Oleh sebab itulah kenapa dia tidak mau berharap banyak pada sosok Resca.


Dia menyukai Resca tapi tidak yakin apakah dia mencintai wanita itu. Resca adalah wanita yang cocok untuk menjadi teman ngobrol karena banyak kesamaan dan juga kecocokan di antara mereka berdua.


"Aku paham, Ma. Karena itulah aku belum ada rencana mengenalkannya pada Mama karena memang aku dan Resca hanya berteman biasa saja."


"Oh, namanya Resca."


"Iya."


"Kenapa mama baru saja mendengar nama itu. Selama ini tidak ada kamu menyebut-nyebut nama gadis itu."


"Jika begitu ... kapan-kapan bawa dia ketemu Mama. Hanya ingin berkenalan saja. Jangan khawatir jika mama akan berbicara yang macam-macam. Kamu tenang saja karena mama hanya ingin berkenalan."


"Aku nggak bisa janji dengan mama bisa membawa Caca karena ...."


Rich bimbang. Bisa bahaya jika sampai mamanya mengenal sosok Resca dan memaksa untuk serius nantinya. Bagaimana pun juga Resca dan dia belum tahu akan membawa hubungan ke arah mana.


"Karena apa?" Nabila makin curiga saja.


"Tidak ada, Ma. Nanti saja jika Caca ada waktu, aku bawa dia bertemu mama."


Pemuda itu bangkit berdiri. "Aku ke kamar dulu, Ma. Ingin mandi."


Nabila biarkan saja putranya itu pergi meninggalkannya. Menyisakan keingintahuan yang begitu besar dalam dirinya.


•••


"Sayang, kenapa dari tadi kamu diam saja dan melamun. Kamu cuekin aku, hem!"


Rayyan merangsek mendekat. Mendaratkan kecupan demi kecupan di leher istrinya. Karena sejak tadi istrinya itu seolah mengabaikannya. Padahal malam ini Rayyan sedang ingin menghabiskan waktu berduaan dengan Nabila.

__ADS_1


"Sana sebentar, Pa." Nabila menjauhkan kepala Rayyan dari ceruk lehernya.


Rayyan yang tidak suka diabaikan berdecak.


"Pa, kenapa aku jadi kepikiran tentang Rich."


"Kenapa lagi anak itu."


"Ini semua juga karenamu, Pa."


"Kenapa jadi aku?"


"Siapa yang kemarin meminta padaku untuk mencari tahu seputar wanita yang sedang dekat dengan Rich."


"Lalu ... apa kamu sudah mengetahui sesuatu, sayang?"


Kepala Nabila mengangguk. Dia pun mulai bercerita pada suaminya. "Tadi Rega telepon aku. Dia mengatakan jika bertemu dengan Rich di Bandara dengan seorang wanita. Habis itu ... ketika tadi aku bertemu dengan Rich, aku tanyakan perihal siapa wanita itu. Dan jawaban Rich sangat membuatku penasaran saja. Aku tahu ada yang sedang disembunyikan oleh putra kita. Apa perlu kita menyelidikinya?"


"Tidak perlu. Rich sudah dewasa pasti dia paham mana yang baik dan tidak untuknya."


"Haish, kamu ini. Kemarin khawatir sekali dengannya. Sekarang kenapa jadi lepas tanggung jawab begitu."


"Habisnya ... kita harus berbuat apa? Jika memang Rich memiliki hubungan dengan seorang wanita, asalkan wanita itu tepat untuknya ya kita dukung saja."


Nabila menyela. "Tapi jika memang benar wanita yang Rich sukai itu adalah kliennya sendiri bagaimana?"


Rayyan berpikir sedikit. "Besok aku akan ke kantornya. Mencari tahu dengan apa yang Rich lakukan."


"Aku setuju."


"Jika begitu ... jangan lagi berpikir keras tentang Rich. Karena ada aku yang harus kamu pikirkan untuk sekarang ini."


Kening Nabila mengernyit. "Memangnya ada apa denganmu, Pa? Kenapa harus aku pikirkan juga?"


Rayyan senyum-senyum sembari menaik turunkan alisnya menggoda istrinya. Nabila yang paham kode keras dari suaminya sudah mendelik sebal. Dia sedang kahwatir pada putranya, justru Rayyan dengan tanpa rasa bersalah semakin mesum saja.


"Kamu ini, Pa. Makin tua makin mesum saja."


"Puber kedua." Rayyan cengengesan tidak jelas membuat Nabila gemas.


Tak ayal, wanita itu pun memberikan juga dengan apa yang suaminya minta. Usia tak membatasi keduanya untuk menjalin hubungan yang harmonis layaknya orang muda karena keharmonisan itulah kunci kebahagiaan pasangan suami istri berumur seperti mereka berdua.


Rayyan sendiri tidak pernah ada alasan atau keinginan untuk berpaling dari sang istri yang amat sangat dia cintai. Sampai usia pernikahan sudah hampir tiga puluh tahun tak menyurutkan kadar kecintaannya pada Nabila.

__ADS_1


####


__ADS_2