
"Rich!"
Panggilan dengan suara nyaring yang terdengar di telinga, menghentikan langkah pemuda dua puluh delapan tahun itu. Menolehkan kepalanya ke arah sumber suara dan melihat sosok lelaki yang rambutnya sudah muncul uban. Lelaki seusia papanya yang Rich pun sudah mengenalinya.
"Om Rega."
Ya, lelaki paruh baya yang memanggil Rich tadi adalah Rega. Bahkan kini keduanya tampak saling berpelukan sebagai salam pertemuan. Meski pun tinggal di satu kota yang sama, tak membuat mereka sering berjumpa. Karena kesibukan masing-masing dan jika tidak disengaja seperti ini, belum tentu juga mereka bisa bertemu. Mungkin jika Rega dengan Rayyan dan Nabila masih sering dipertemukan karena sampai mereka usia hampir kepala lima, persahabatan yang terjalin di antara mereka terbilang masih dekat dan baik-baik saja.
Firza. Dulu mungkin wanita itu tidak bisa dikatakan wanita baik. Namun, berumah tangga bersama Rega, mampu mengubah sosok Firza menjadi luar biasa dan itu semua tak lepas dari didikan Rega yang mau istrinya menjadi wanita sehebat Nabila tentunya. Bukan maksud membanding-bandingkan. Hanya saja, berkaca pada kebaikan dan kehebatan orang lain juga tak ada salahnya.
"Rich, kamu ada di sini ... ada rencana pergi ke mana atau ...." Rega menelisik penampilan santai seorang Richard Alexander. Berada di Bandara seperti ini bukan hal aneh bagi seorang fotografer semacam Rich ini. Yang aneh karena Rich tak membawa koper atau barang-barang lainnya. Hanya dengan ponsel di tangan itu saja.
Cepat Rich menjawab karena tahu jika teman papanya ini pasti penasaran dengan keberadaannya di tempat ini. "Oh, itu Om. Saya lagi mau jemput teman."
"Oh." Rega manggut-manggut. "Pantas saja kamu tak terlihat membawa barang-barang."
Belum juga keduanya mengobrol banyak, ketika Rich harus dikejutkan dengan kedatangan seorang perempuan yang tengah menyeret sebuah koper di tangan.
"Rich!"
Rich mengulas senyuman tentunya untuk wanita yang terlihat buru-buru sekali menghampirinya. Sampai hampir saja Rich melupakan fakta jika dia sedang bersama Rega.
Rega hanya berdehem ketika wanita yang dia sendiri tak tahu siapa sudah ikut bergabung bersamanya juga Rich. Wanita muda yang melempar senyuman untuknya.
"Siapa dia Rich? Cantik sekali. Calonmu?" Goda Rega dengan menaik turunkan alisnya menggoda. Dalam pikiran Rega, tidak mungkin jika hanya teman biasa. Dan ikut senang jika rupanya Rich sudah memiliki kekasih. Itu artinya Rayyan akan segera memiliki hajat menekankan pemuda di hadapannya ini.
"Oh, kenalkan, Om. Dia teman aku. Resca namanya."
Dengan ragu sebenarnya Rich mengenalkan wanita itu. Wanita yang sudah mencuri hatinya. Dan wanita ini baru saja pulang dari liburan setelah sesi pre wedding tempo hari. Ya memang benar Rich yang selesai dengan pekerjaannya memilih pulang dulu sementara Resca melanjutkan liburannya sendirian tanpa calon suami wanita itu. Oleh sebab itulah kenapa hari ini Rich berani menjemput Resca di Bandara.
"Hai, Om. Panggil saja saya Caca."
__ADS_1
"Hai, Caca. Senang berkenalan denganmu. Dan kamu Rich ... jika sudah siap menikah, gas kan. Jangan ditunda-tunda."
"Om ini bicara apa. Dia hanya temanku saja, Om. Kenapa sudah berpikir ke arah pernikahan segala."
"Ya siapa tahu saja kan feeling Om ini tidak salah."
Rich salah tingkah dibuat, begitupun dengan Resca.
Rega yang tak ingin mengganggu dua sejoli ini memilih undur diri karena sebentar lagi pesawat yang ditumpangi putrinya akan sampai. "Kalau begitu silahkan lanjutkan acara kalian. Om harus segera masuk ke dalam. Pesawat anak Om sebentar lagi mendarat."
"Baiklah, Om. Saya duluan kalau begitu," pamit Rich.
"Sampaikan salam Om pada Papa dan mamamu"
Rich mengangguk dan mereka pun berpisah dengan tujuan masing-masing.
Namun, Rega yang tidak tenang dan masih penasaran, bisa-bisanya justru mengeluarkan ponsel dari saku celana dan tanpa pikir panjang langsung menghubungi Nabila. Hubungan mereka terjalin akrab dan sangat baik hingga sekarang. Tak ada segan atau apa pun jika hanya mengobrol biasa melalui sambungan telepon.
"Bil!"
"Tidak ada apa-apa. Hanya ingin mengatakan padamu jika aku baru saja bertemu dengan Rich."
"Bertemu Rich di mana?"
"Di Bandara."
"Ngapain kalian di Bandara."
"Ya, nggak sengaja saja bertemu dia di sini. Jika aku sendiri sih karena menjemput putriku yang baru pulang."
"Loh, Kimy pulang?"
__ADS_1
"Iya."
"Wah pasti bawa oppa oppa. Secara dia cukup lama di Korea, kan?"
"Jangan sampai dia bawa lelaki. Kamu tahu sendiri bagaimana putriku satu-satunya itu. Sulit sekali dikendalikan."
Tentu Nabila ingat bagaimana perilaku anak bontotnya Rega. Mungkin karena dua kakaknya adalah lelaki, jadi Kimy yang merupakan anak perempuan satu-satunya ikut-ikutan bertingkah seperti kakak-kakaknya.
Beruntung Nabila tidak mendapati hal yang sama pada Zoey. Anak bontotnya itu juga perempuan, tapi manjanya kebangetan dan mungkin karena selama ini kedua kakaknya selalu over protektif, jadilah Zoey yang manja lain dengan Kimy anaknya Rega.
"Kimy itu sudah besar, Ga. Jangan terus kamu kekang begitu. Sudah waktunya menikah juga."
"Masih dua puluh tahun kamu bilang siap menikah. Biar dia lulus kuliah dulu, baru menikah. Kecuali jika lelaki yang mau menikahi Kimy adalah salah satu anak lelakimu. Barulah aku bisa tenang."
"Ya, sudah Kimy jodohin saja dengan Rich."
"Mana bisa. Rich sudah punya kekasih. Gimana sih kamu sebagai ibunya masak nggak tahu jika anak tertuamu itu sebentar lagi mau menikah."
"Kamu ini selalu saja sok tahu."
"Lah, kan tadi aku katakan padamu, Nabila. Aku ketemu Rich di Bandara sedang bersama seorang wanita."
"Tapi Rich tak punya kekasih. Mungkin modelnya atau temannya."
"Tidak mungkin. Aku ini lelaki yang juga pernah muda. Sangat tahu betul jika keduanya memiliki hubungan spesial. Terlihat jelas dari cara Rich dan gadis itu memandang."
"Apa iya begitu?"
"Coba saja nanti tanyakan padanya. Ya, sudah. Aku harus ke dalam dulu. Takut Kimy menunggu. Bye."
Panggilan telepon sudah Rega putuskan. Namun, pikiran Nabila sudah sampai mana-mana. Iyakah Rich memiliki kekasih.
__ADS_1
Lalu, Nabila teringat akan ucapan Rayyan semalam jika suaninya itu curiga pada Rich yang menyukai kliennya. Inginnya, Nabila tidak mempercayai itu semua. Tapi ini Rega juga bercerita. Apakah wanita yang Rayyan dan Rega lihat itu adalah orang yang sama. Jika memang iya ... Nabila harus ambil tindakan. Jangan sampai Rich salah jalan.
"Ya, Tuhan Rich. Kamu ini ada-ada saja. Kenapa harus membuat mama cemas memikirkanmu seperti ini." Nabila berucap pada dirinya sendiri. ingin menelpon Rich, tapi dua urungkan. Mungkin ada baiknya jika dia dan putra pertamanya itu bicara dari hati ke hati agar tak menimbulkan salah paham juga perdebatan.