
Malam hari
Waktu menunjukan pukul 20:30 Vera terlihat sedang bersiap untuk pulang di hari pertama bekerja. Sementara Roni masih duduk di ruangannya, mengerjakan tugas terakhir menyalin pemasukan hari ini ke dalam dokumennya.
"Ron apa aku sudah boleh pulang ?" Vera bicara saat sudah masuk kedalam ruangan
Roni menatap Vera
"Tentu ! Kamu pulanglah''
"Baiklah kalau begitu aku pulang, terimakasih untuk hari ini. Selamat malam" Vera melambaikan tangannya
"Malam sampai jumpa" Roni menjawab
Vera sudah berjalan keluar meninggalkan kafe setelah sampai di halte xxx, dia duduk di kursi menunggu angkot datang. Di keluarkannya hp dalam tas nya.
Mama dan Kak Arian menelpon ku berulang-ulang. Ada apa ya ? Lebih baik aku telpon Mama lebih dulu, urusan Kakak belakangan saja
"Selamat malam Mah"
"Malam, sayang kamu kemana saja. Dari tadi mama telpon kamu, tapi gak ada jawaban. Kenapa jam segini kamu masih belum pulang sayang ? Mama khawatir."
"Maaf mah, hari ini Vera sudah dapat pekerjaan. Handphone ku ada di tas. Jadi Vera gak tahu kalau Mama menelpon berulang-ulang hehehe"
"Kamu ini!" Kening Aliya cenat-cenut "Lain kali, kalau ada urusan apa-apa, beritahu Mama dulu, apa kamu tau? Mama sangat khawatir sama kamu" Khawatir kalau kamu kenapa-napa.
"Maaf, karena Ve sudah bikin Mama khawatir, lain kali Ve beritahu Mama dulu deh ya."
"Ya sudah, kamu cepat pulang sekarang, Kakak mu Arian lagi mencari mu ke mana-mana, dia lebih khawatir sama kamu sayang."
Ah benar, bodohnya aku kenapa aku melupakan Kakak, Pasti sekarang dia sangat marah. Apa yang harus ku katakan ya.
"Lalu, apa Kakak sekarang sudah pulang ?"
''Kakak mu belum pulang juga, dia masih mencari mu sayang. Kamu dimana sekarang? Mama mau telpon Kakak supaya dia menjemput mu ya."
"Gak perlu mah. Lagi pula Ve sudah terlanjur naik angkot, hehe" Dasar tukang bohong.
"Kamu ini" Aliya menarik nafasnya dalam, berusaha menahan amarah yang mau meledak "Ya sudah cepat pulang sayang Mama menunggu mu."
"Iya mah.." Vera menutup telponnya
Dari pada Kakak datang menjemput ku Lebih baik aku naik angkot saja. Jika tidak, habislah riwayat ku.
Vera mengeluarkan headset nya mendengarkan musik dari handphonenya. Langit malam terlihat lebih menghitam sepertinya sebentar lagi hujan mau turun. Begitu pikirnya setelah menengadahkan kepala ke langit.
Suara alunan musik terdengar semakin nyaman di hati, membuat dirinya tenggelam dalam lamunan.
Tiba-tiba
Suara rem mobil terdengar nyaring di telinga, entah dari mana datangnya itu. Sebuah mobil sport hitam mewah berhenti di depan halte. Kaca mobilnya terbuka perlahan, tampaklah si pengemudi melihat ke arah Vera.
"Naiklah" Si pemilik mobil bicara.
Vera hanya diam melihat belum tau dia siapa karena gelap.
"Kenapa masih diam ? Cepat naik"
Vera tidak tergerak matanya kembali sibuk menatap hp.
"Apa kau tuli ? Cepat naik " Ucapnya menggema membuat gadis itu mengangkat kepalanya.
"Apa kau bicara padaku ?" Vera menunjuk dirinya
"Kalau bukan kau siapa lagi. Naiklah"
"Kenal juga enggak ! Kenapa aku harus naik ke mobil mu. Gila ya ?" Vera naik pitam
Karena kesal akhirnya Si pemilik mobil keluar melangkahkan kakinya maju mendekat didepan Vera
Vera tersentak setelah tau si pemilik
mobil itu siapa
"Kau ! Kenapa kau tau aku ada disini ?"
"Tidak sulit bagiku menemukan mu kucing liar ku" Ujarnya dingin
Sulit menemukan ku Vera tersindir
"Cih! Apa kau bodoh ! Kenapa mencari ku? A' lupakan! Lagi pula, aku juga tidak mau ikut. Apalagi harus satu mobil dengan mu, sudah gila ya." Vera membuang mukanya.
"Kau sungguh berani melawan ku sekarang ?" Vera diam tidak menjawab "Cepat naik, jangan membuat semua orang lama menunggu mu"
"Aku tidak mau" Vera bersikeras
"Kau !" Arya menarik tangan Vera dengan
__ADS_1
paksa
"Ah sakit! Kau gila! Lepaskan tanganku. Aku tidak mau masuk ke mobil mu."
Vera berusaha melepaskan tangan Arya yang mencengkram di lengannya. Sementara Arya memaksanya masuk ke dalam dan berhasil. Tanpa menunggu lama Arya menghidupkan mobilnya kembali bergerak melewati jalanan ramai di kota malam.
Dalam perjalanan Vera menatap Arya bingung
Orang gila ini bukankah seharusnya dia sudah ada di rumah. Kenapa tiba-tiba datang mencari ku. Maunya dia apa sih sebenarnya. Bikin orang pusing saja
"Hei! Apa kau salah minum obat ? Kenapa kau sengaja datang menjemput ku ?" Ujar Vera penasaran.
Arya diam tidak menggubris pandangannya masih fokus berkendara
"Kita saling membenci" Vera bicara lagi." Seharusnya kau tinggal duduk diam saja di rumah sambil minum kopi dengan tenang, itu lebih baik daripada harus repot mencari ku kan. Kenapa kau melakukan ini ?"
Arya masih diam
Aaaaaaaah dasar orang gila ! *Rasanya a*ku mau mencakar muka nya.
Akhirnya Vera hanya diam melihat keluar kaca mobil. Menyangga dagu dengan tangan sambil melihat-lihat pemandangan malam di kota Jakarta nyaman sekali rasanya.
Sesampainya di rumah Vera langsung keluar dari mobil. Arya mengikutinya di belakang dengan jarak cukup jauh.
"Veve pulaaang" Ujarnya sambil berjalan menuju sofa keluarga.
"Sayang syukurlah akhirnya kamu pulang juga." Vera mencium tangan Aliya "Mama khawatir sekali sama kamu sayang"
"Mama, tidak usah khawatir lagi pada ku."Langsung merapat duduk di sebelah Aliya " Karena sekarang aku sudah besar. Aku bisa menjaga diriku dengan baik kok."
''Malam Mah" Arya menyapa
"Arya !" Aliya terkejut "Kenapa kamu juga baru datang? Tugas apa yang kamu kerjakan sampai malam begini? Seharusnya kamu sudah pulang lebih awal kan sayang."
"Tadi siang aku ada urusan mendesak dan harus di selesaikan secepatnya Mah"
"O begitu ya" Aliya pura-pura mengerti padahal tidak tau urusannya itu apa. "Vera Bagaimana pelajaran mu hari ini sayang?" beralih memandang Vera
JGERR, Vera membatu
Matilah aku ! Aku tidak tau harus menjawab apa. Sialnya aku tidak bisa berbohong kan saat ini. Aaaaah kenapa orang gila itu harus berperan menjadi dosen ku.
"Dia sengaja di keluarkan." Arya yang menjawab "Karena senang bergosip" Ucapnya lagi di akhiri dengan senyum kemenangan.
"Apa itu benar sayang, kenapa kamu jadi senang bergosip ? Kamu kan harus serius dalam pelajaran mu" Aliya mulai marah
"Hehe." Vera nyengir "Aku gak lagi bergosip kok mah," Membela diri "Aku hanya bicara apa adanya."
'Kamu ini !" Aliya mencubit pipi Vera." Untuk apa kamu kuliah, jika kamu senang bergosip. Hah?" Berapi-api
"Aaaaa ! Ampun mah pipi Vera sakit." Merengek manja "Vera janji, Vera gak akan mengulanginya lagi" Aliya melepas cubitannya
"Janji kamu!" Vera menganggukkan kepala.
Melihat Vera mengusap-usap pipinya. Arya tersenyum penuh makna
"Mama tenang saja, setelah kejadian ini, aku akan memberi pelajaran tambahan khususnya di rumah."
"Aku tidak mau !" Vera langsung menolak mentah-mentah
"Sayang kamu harus turuti apa kata Kakak mu, dia melakukannya demi masa depan mu" Mode tegas bicara
Sial ! Dari dulu orang ini selalu pandai memanfaatkan situasi. Aaaaah ! Aku benci melihat senyum liciknya
"Tapi mah, ini sudah malam, sudah waktunya aku tidur kan ?" Vera merayu
"Tidak bisa pokoknya kamu harus turuti apa
kata Kakak mu" Aliya bersikeras
"Iiiiiiiiiiih Mama gak ngerti" Ucapnya sebal karena tidak mau mengaku kalah
"Kau ikut dengan ku !" Arya bangun dari duduk lalu berjalan menuju ruangan nya.
"Tunggu apa lagi ? Cepat kamu kesana dan ikuti Kakak mu!" Aliya yang tidak sabaran
'lyaaa, iyaaa " Mode patuh menjawab
Dia pasti sengaja melakukannya karena mau mengerjai ku lagi kan. Aaaaaah kenapa aku harus di ajari mu, Kak Arian di mana kamu tolong aku.
Vera menggerutu di belakang Arya, wajahnya celingukan mencari-cari
Tapi lupakan ! percuma saja aku mencari Kakak. Tidak mungkin dia mau menolong ku kan. Bodoh sekali aku !
Sementara Aliya hanya tersenyum melihatnya lalu berjalan menuju ruangan kerja Arian. Meraih pulpen dan buku dalam laci, meletakkannya meja.
__ADS_1
Arya akhirnya Mama tau keinginan mu yang sesungguhnya sekarang. Tapi kenapa Vera tidak pernah menyadari nya.
Begitu yang di tulis di buku hariannya
____
Di ruangan Arya
Arya membuka pintu kamar lalu masuk kedalam. Sementara Vera menghentikan langkahnya di depan pintu, belum mau masuk.
"Hei ! tunggu, kenapa kau membawa ku masuk ke dalam? Tidak mungkin kau menyuruh ku tidur di sana kan ?"
"Berhenti berpikir aneh. Cepat masuk !"
"Iya iya" Vera langsung masuk ke dalam " Wuaah indah juga ya kamar mu" takjub setelah melihat keadaan di dalam." Ini pertama kalinya aku masuk kesini. Peralatannya serba canggih. Di sana juga ada tv, luar biasa ya. Aku baru tau, ternyata kau suka menonton tv juga."
"Berhenti bicara omong kosong." Arya menyangkalnya
"Iish kau memang tidak suka di ajak bicara. Eh! Ruang apa itu?'' Vera penasaran pada ruangan di depan matanya.
"Ruang kerja ku" Ujar Arya singkat
"Apa aku tidak salah melihat ? Kau membuka pintu kaca itu dengan sidik jari mu barusan ! Waaah canggih sekali ya. Tapi untuk apa ruangan itu di batasi jika dindingnya terbuat dari kaca yang sebening embun. Benar-benar aneh kamar mu ini, tapi tertata rapih dan indah itu yang membuat suka. Udara nya sangat harum sama seperti kamar ku. Hemmh nyaman sekali rasanya. Membuat ku betah dan ingin tidur disini saja" Arya tersenyum di balik punggung nya, tapi berhenti setelah Vera berbalik melihat wajahnya
"Kau terlalu banyak omong. Cepat masuk"
"Iya iya ! cerewet sekali"
Vera ikut masuk kedalam menarik kursi lalu duduk dimeja kerja Arya. Menyangga dagu dengan tangannya, menunggu. Sementara Arya terlihat sibuk sendiri tangannya mencari-cari buku di lemari.
Dia terlihat tampan juga ya kalau lagi serius. Matanya berkilau indah. Gila ! Apa yang aku pikirkan
Vera menghirup nafasnya dalam
Tiba-tiba
"Kau pelajarilah dua halaman ini, dalam waktu 30 menit." Vera meraih bukunya "Sesudahnya aku akan memberikan mu pertanyaan"
"Apa kau gila, mana mungkin aku bisa menghafalnya dalam waktu 30 menit" Protes setelah melihat banyaknya materi disana
"Apa otakmu bodoh ?" Arya mengejek
"Kau !" Mengigit bibir bawah kelu, karena tau ini bukan saatnya melawan "Aku tidak bodoh" berapi-api
"Lalu, kenapa kau tidak bisa menghafalnya dalam waktu 30menit ?"
"Aaah sial !" Arya menatap dingin. Nyali Vera langsung menciut "Baiklah aku segera menghafalnya"
Benar-benar sialnya aku hari ini
Arya mulai duduk di depannya sementara
Vera memutar otaknya yang kusut demi menghafalnya berkali-kali tapi gagal. Karena badannya lelah dan matanya mulai mengantuk. Tidak berapa lama kemudian dia tertidur pulas di mejanya.
Setelah itu apa yang terjadi ? Entahlah hanya Aya yang tahu jawabannya
Esok paginya
Vera terbangun dari tidurnya, waktu menunjukan pukul 08: 25. Badannya tersentak setelah tau ada orang di depannya itu siapa.
Eh ! Kenapa orang gila itu ada di kamar ku.
"Kau sudah bangun ?" Arya bicara di balik dinding kaca di ruang kerjanya saat pintunya terbuka. Jadi Vera bisa mendengar apa yang di katakan nya.
"Kau kau kau ! Kenapa kau ada disini ?" Langsung menutup badan dengan selimut
"Karena ini kamar ku" Ujar Arya datar
"Kamar mu ?"
"Apa otak mu benar-benar bodoh, bahkan kau tidak ingat kejadian tadi malam"
Vera memutar otaknya
Huh ! benar juga ya. Kenapa aku bisa tertidur di sini. Isi kepala ku pasti sudah gila. Tapi kenapa
dia tidak membangunkan ku ? Malah memindahkan ku ke tempat tidurnya.
"Kau sudah ingat kan." Vera tersentak " Cepatlah turun dari sana dan lanjutkan pelajaran mu" Arya memberi perintah semaunya
"Gila ! kenapa harus secepat itu ? Padahal aku belum mandi dan sarapan."
"Lebih cepat lebih baik, karena otak mu itu sangat bodoh"
"Iiiii kau yang bodoh !" Vera memaksa bangun dari duduknya, menyeret kakinya berjalan menuju ruangan itu sambil memaki Arya dalam hati
__ADS_1
Dan akhirnya Vera terpaksa menuruti kata Arya melanjutkan pelajarannya yang tertinggal tadi malam. Dua jam berlalu Vera berhasil menyelesaikan tugasnya. Setelahnya ia keluar dari kamar itu untuk mandi dan sarapan.