Mengejar Cinta Vera

Mengejar Cinta Vera
Syarat Arya


__ADS_3

Malam hari


Di sofa keluarga Arian dan Aliya terlihat sedang berbincang. Tidak berapa lama Arya dan Vera datang menghampirinya.


"Veve pulang..." Berjalan mendekat meraih tangan Aliya dan menciumnya. Aliya mengusap rambut Vera setelah duduk di sofa kepalanya bersandar.


"Sayang, bagaimana kuliah dan pekerjaan mu hari ini?"


"Baik Mah"


"Malam mah." Arya duduk di sofa


"Malam sayang. Apa kalian pulang bersama lagi?"


"Hanya kebetulan lewat. Melihatnya duduk sendirian di halte. Jadi aku membawanya pulang bersama." Arya menjawab


"Benarkah?" Arian menimpali


"Ya, kenapa? Kau keberatan?"


"Tidak!" Arian menjawab cepat "Aku senang mendengarnya. Karena Kakak mulai peduli padanya." Arian tersenyum. Tapi arti dari senyum yang sebenarnya adalah menyindir.


"Cih!" Arya menyeringai. "Aku kira kau membual nya"


Arian terkekeh


"Selama kakak mengakuinya Adik, tidak ada gunanya aku berbual."


Arya hanya terdiam


Sepertinya Vera tidak mendengarkan apa di bicarakan keduanya lantaran pikirannya sedang berkeliaran. Sambil melihat sebuah kartu undangan di pangkuannya.


Gara-gara si Cantik itu membuai ku. Jadi aku memutuskan hadir demi dia seolah aku melupakan mama. Bagaimana ini, aku harus melakukan apa supaya mama memberi ku izin ya. Merayu nya ! Ah tidak tidak aku sudah pernah mencobanya tapi tetap gagal.


"Sayang" Vera tersentak "Sedari tadi Mama lihat kamu diam saja. Apa yang kamu pikirkan?"


Mamah memang selalu tau apa yang aku alami. Tapi kenapa aku gugup ya?


"Mah"


"Ada apa sayang ?" Aliya tersenyum


"Aku... Aku mau minta izin"


"Izin! Untuk apa ?" Vera menyodorkan kartu undangannya, yang tinggal di tarik pitanya langsung terbuka, warnanya merah maroon.


"Aku di undang teman ku untuk hadir di acara pesta ulang tahunya besok malam. Dan aku sudah berjanji padanya."


"Janji! Kenapa kamu tidak memberitahu Mama dulu sayang?" Sambil bicara Aliya meraih benda itu.


"Maaf, aku tida sengaja melupakan Mama hehe " Vera memang terkekeh tapi dalam hati ketakutan membuat Aliya menarik napasnya dalam.


"Kamu ini.."


"Kakak tidak mau mengijinkan mu." Arian memotong cepat


"Lagi lagi Kakak yang menjawabnya. Mengancam supaya aku menurut. Dan aku selalu kalah." Vera membuang muka jengkel. Entah kenapa si Arya tersenyum samar melihatnya.


"Hush! Kamu gak boleh ngomong begitu." Aliya menasehati


"Tapi Mah, aku kan sudah berjanji." Vera bersikeras "Masa, harus di ingkari."


"Kau boleh hadir di acara pesta ulang tahun


itu, tapi ada syaratnya." Arya buka suara "Bagaimana menurut Mama" katanya sambil memandang Aliya penuh arti


"Kakak bicara apa ? Dia tidak boleh di izinkan" Arian mengelak


"Diam!" Hardik Arya dingin "Aku tidak minta pendapat mu."


Ya Tuhan ! Itu sama dengan pemikiran ku. Gumam Vera dalam hati. Sementara Arian langsung menutup bibir rapat tapi dalam hati menyangkal.

__ADS_1


"Memangnya apa syarat kamu sayang?" Aliya yang bertanya


"Mudah saja, di pesta itu dia tidak boleh memakai gaun terbuka atau apapun namanya itu. Seperti yang pernah kau pakai sebelumnya."


Aliya tersipu menahan gelak, berbeda dengan Vera dia lebih gila lagi dan akhirnya.


"Hahaha" Vera terbahak "Oke! Siapa takut? Lagi pula aku juga tidak suka memakainya. Hahaha"


Arya diam mematung di tempatnya duduk, tapi jika di artikan kembali, entah kenapa dia memberi syarat itu. Mungkin dia mau melindunginya. Sama hal nya dengan Arian tapi dengan cara yang berbeda.


"Aku tidak setuju, Vera biar bagaimana pun kamu tidak boleh hadir." Arian bersikeras


"Arian adik mu sekarang sudah besar. Selama itu tidak membahayakan. Biarkan dia menikmati dunia luarnya sebelum menikah. Mama yakin Vera bisa menjaga dirinya dengan baik kok." Arian langsung terdiam mendengar nasihat dari Aliya


"Baiklah jika itu yang Mama mau. Aku akan menurutinya."


"Yes! Terimakasih. Mama selalu yang terbaik" Vera memeluk Aliya lalu mencium pipinya.


"Seharusnya kamu berterima kasih pada kakak mu." Aliya menunjuk Arya dengan matanya


"Apa?" Vera terkejut


''Cih! Jangan lakukan bila tidak mau." Ucap Arya dingin


"Siapa bilang? Justru aku sangat berterimakasih karena kau selalu mendukung apapun yang aku mau. Sekali lagi terimakasih Kakak, aku sangat menghargainya." Tersenyum dengan tulus yang membuatnya nyaman di pandang, membuat laki-laki di depannya terpesona.


"Heem" Arya tersenyum dengan gayanya yang dingin


"Baiklah, sekarang aku mau pergi ke kamar. Aku lelah aku mau istirahat" Bangun dari duduk


"Kau harus pergi ke ruangan ku." Saat mau melangkah Vera menoleh.


"Kenapa aku harus pergi ke ruangan mu ? Mau apa?"


"Aku akan memberi mu pelajaran tambahan." Ucapnya datar


"Hah? Bukankah kita sudah sepakat. Hari ini aku tidak melanggar janji. Jadi kau tidak perlu memberi ku pelajaran tambahan kan?"


"Iya kau memang tidak berceloteh hari ini, tapi bagaimana jika Mama mengetahui nilai mu? Haruskah aku mengadu?"


Gila ! kau memang gila. Tidak, mama tidak boleh mengetahuinya, kalau sampai Mama tahu, dia pasti akan menyuruhku keluar dari pekerjaan ku.


Vera menelan ludah


"Apa maksud kamu Arya ?" Aliya curiga memandang Vera tajam "Ada masalah apa dengan nilainya?"


Arya menatap Vera penuh arti, bibirnya menyeringai dingin.


"Nilai dia.."


Belum sempat Arya melanjutkan kata-kata nya. Vera buru-buru membungkam mulutnya dengan tangannya.


"Kau!" Arya menggoyangkan dagunya demi terlepas dari tangan Vera. Mimiknya tidak dapat di jelaskan. Antara benci, campur kesal, campur senang, atau apalah tidak mengerti. Jantungnya berdetak tidak karuan.


Sementara Arian reaksinya terlihat aneh sekali cahaya di sekitar wajahnya menghitam.


''Ve apa yang kau lakukan? Kendalikan tangan mu. Itu tidak sopan" Arian berapi


Vera melepaskan tangannya


"Baiklah aku akan pergi ke ruangan mu ya oke!" Tersenyum tapi arti yang sebenarnya adalah Jangan mengadu aku mohon. Membuat Arya tersenyum samar melihatnya.


"Baiklah, kau ikut dengan ku sekarang" Bangkit dari duduk


"Oke! Kalau begitu aku pergi belajar dulu ya mah. Selamat malam." Vera mencium pipi Aliya lalu berjalan mengikuti Arya di belakang


Tertinggal lah dua orang lagi yang masih duduk di tempat itu


"Arian sayang, kenapa kamu melihat Kakak mu seperti itu?" Aliya bicara " Kamu tidak suka?"


"Tidak Mah, aku hanya curiga"

__ADS_1


"Curiga? Kenapa?"


"Aku curiga kenapa Kakak selalu memberi pelajaran tambahan di kamar nya? Padahal bisa kan Kakak melakukannya di ruangan lain."


"Mungkin Kakak mu mau menjalin hubungan yang lebih baik." Aliya tersenyum


"Hubungan lebih baik! Semoga itu benar sampai Kakak tidak mau menindas nya lagi"


"Arian dengar, Kakak mu tidak bermaksud menindas nya. Dia hanya tidak tau bagaimana cara menghargainya dengan baik sayang."


"Aku tidak pernah melihat Kakak menghargainya selama ini. Yang selalu di lakukan hanyalah mengganggunya. Dan itu membuat ku tidak nyaman Mah."


"Arian kamu masih tidak mengerti bagaimana Kakak mu yang sebenarnya. Dia sama seperti mu, selalu melindungi Vera. Kamu sangat perhatian padanya. Berbeda dengan Kakak mu, dia selalu melakukannya dengan caranya sendiri."


Arian diam tidak menjawab


***


Sementara di ruangan Arya


"Kemarilah dan bawa buku mu."


"Tunggu sebentar, aku kan belum selesai mengerjakannya."


"Waktu mu sudah habis."


"Bisakah kau memberi ku waktu sedikit lagi? Aku belum selesai menjawab semua pertanyaan ini."


"Tidak bisa, cepat bawa buku mu kemari." Arya bersikeras


Matilah aku! Bahkan setengahnya saja aku belum menjawabnya. Apa dia akan menindas ku lagi. Aaa sialnya aku. Kenapa sulit sekali pertanyaan ini, otak ku juga tidak konsen. Bodohnya aku!


"Hei! Cepatlah bawa buku mu kemari. Dengar tidak ?"


"Iya iya cerewet sekali."


Vera berjalan mendekat lalu menyodorkan bukunya. Arya meraih benda itu.


"Apa kau bodoh? Kenapa kau hanya menjawab tiga soal pertanyaan saja." Ucap Arya setelah melihat bukunya.


"Ituuuu karena mungkin aku lelah dan otak ku tidak konsen. Jadi aku hanya mampu menjawabnya segitu." Melengos


"Jadi kau mau keluar dari pekerjaan mu?''


"Tidak! Siapa bilang?"


"Bukankah kau tidak konsen karena lelah."


"Akuu.." Vera tidak tau harus menjawab apa karena apa yang di katakan Arya memang benar


"Kenapa tidak di lanjutkan?" Arya menatap tajam penuh kemenangan


Tidak! aku tidak mau menyerah. Bagaimanapun caranya aku harus menjawab semua pertanyaan itu.


Tak!


"A'sakit ! Kenapa kau memukul kening ku dengan pulpen?" Vera mengusap keningnya


"Ternyata kau benar-benar bodoh ya."


"Kau yang bodoh! Bagaimana bisa aku menjawab sepuluh pertanyaan itu hanya dalam waktu tiga puluh menit. Berikanlah aku waktu sedikit lagi untuk menjawabnya."


"Baiklah jika itu yang kau mau. Aku akan memberi mu tambahan waktu selama lima belas menit." Arya bicara tegas


"Apa?" Terkejut "Lima belas menit?"


"Kau tidak sanggup?" Arti yang sebenarnya adalah Keluarlah dari pekerjaan mu.


Sial orang gila ini pasti sengaja ingin mempermainkan ku. Membuat ku semakin muak padanya.Tapi lihat saja aku tidak mau mengalah ya.


Vera menarik nafas dalam

__ADS_1


"Aku sanggup! Berikan bukunya pada ku."


Arya menyodorkan bukunya, mimiknya terlihat sangat puas. Sementara Vera hanya bisa menggerutu dalam hati sambil mengerjakan soalnya. Dan akhirnya gadis itu sanggup menjawab semuanya dan pelajaran tambahan pun berakhir dengan tenang.


__ADS_2