
Malam masih berlanjut
Saat keluarga Aliya sudah memasuki rumah. Aliya kaget melihat kaki Vera yang tanpa sepatunya. Vera sendiri menjelaskan bagaimana alasan dia membuang sepatunya. Awalnya Aliya sempat marah, namun setelah mendengar penjelasan dari Arya amarahnya langsung meredup.
Baru Vera naik ke atas lalu masuk ke kamarnya. Melihat segores luka di kakinya yang belum mengering Arian pun terlihat berjalan cepat, mau menyusul. Namun berhenti saat Arya menghadang dadanya di dekat tangga.
"Apa kau tidak mendengar alasan yang di bicarakannya tadi? Dia bilang dia terluka karena pilihan mu." Arya bicara.
"Karena itulah aku mau membalutnya. Untuk apa Kakak repot-repot menghentikan ku. Kaulah yang memulai segalanya." Arian terlihat marah saat menyampaikan kalimatnya. "Dan jika bukan karena dia sudah mencintai mu. Aku tidak mungkin semudah itu mengabaikannya. Jadi, biarkanlah aku menebus kesalahan ku."
"Bodoh! Aku sudah memberitahu mu sejak dulu bahwa dia bukan Adik ku tapi hanya Adik mu. Tapi kau tak berbuat apa-apa. Sekedar mengatakan perasaan saja enggan. Cih! Ketidakmampuan mu membuat ku muak."
Degh,
Jantung Arian berdebar kuat. Karena ternyata Arya sudah mengetahui alasan pengorbanannya yang sesungguhnya. Yakni tentang kepentingan antar dua keluarga dan banyak hal lainnya. Alasan yang menyebabkannya menerima tawaran perjodohannya dengan gadis lain. Bukan memperjuangkan perasaannya. Pecundang! Begitu arti senyuman yang di cernanya melalui bibir Arya.
"Kau!" Merasa dirinya di permainkan Arian menarik kerah kemeja Arya dengan satu tangannya geram. Matanya memerah seperti mengatakan. Sejak kapan kau mengetahui segalanya.
Dan sebaliknya, karena kerah kemejanya di tarik. Arya melakukan hal yang sama dengan Arian. Dia tarik kerah kemeja Arian sampai maju. Menantang.
"Berhentilah kau peduli padanya." Arya bicara pelan, masih saling menarik kerah kemeja. Belum terlepas satu sama lain. "Dan malah berpaling padanya seperti yang biasa kau lakukan. Kau sudah melamar wanita mu, dia bukan urusan mu lagi."
Arian langsung terdiam setelah mencerna kalimat yang seperti pedang menikam di jantungnya. Membuat Arian tersadar bahwa dirinya sudah di miliki orang lain. Artinya dia harus menjaga sikap.
Hening....
Melihat Arian masih diam membisu, seringai penuh kemenangan muncul di bibir Arya. Satu tangan yang tadinya mengait di kerahnya, langsung terlepas.
"Karena kau sudah mengakui kekalahan." Arya bicara lagi. "Jangan coba-coba kau menantang ucapan ku. Sekali saja kau berani mengacau nya. Aku tidak akan tinggal diam menghadapi mu."
Setelah bicara Arya meraih plaster luka dan salep pereda nyeri dalam kotak khusus tempat penyimpanan obat yang menempel di dinding. Lalu berjalan menuju kamar Vera.
Arian kaget sendiri melihat Arya langsung membuka pintu lalu masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu atau minta izin dari pemiliknya.
"Cih, belum saja menikah. Tapi kau sudah berani seenaknya masuk ke kamarnya. Dasar Kakak sialan!"
Alih-alih Arian mengutuk Arya dalam hati sambil menuruni tangga menuju kamarnya. Si Vera kaget sendiri saat melihat Arya masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu. Padahal dia sudah berbaring di tempat tidurnya. Gaunnya sudah di ganti dengan setelan piyama celana pendek.
"Bisa gak sih, kalau mau masuk ke kemar orang kau harus mengetuk pintu dulu." Vera sewot sambil mengusap dadanya.
"Aku tidak mau melakukannya karena sudah terbiasa." Hah? Vera bingung sendiri sambil melihat Arya menaruh benda yang di bawanya di bawah lampu tidur lalu duduk di tepi kasur. "Buka selimutnya." Dia bicara lagi.
Degh, mata Vera membelalak
__ADS_1
"Buka selimut! Mau apa?" Langsung meringkuk di bawah selimut lalu memeluk lututnya karena takut.
"Bodoh!" Arya yang membuka selimutnya "Jika ada kecelakaan kau harus tangani dengan benar. Ulurkan kaki mu."
"Ah, kenapa gak bilang yang sebenarnya. Bikin orang kaget saja." Setelah menjawab Vera langsung mengulurkan kakinya. "Tapi apa yang kau lakukan pada kaki ku. Sampai kau membawa obat yang begituan."
"Sudahlah jangan banyak omong. Lebih baik kau diam saja dan lemaskan kaki mu."
"Ya, ya,ya"
Susana di sekitar menjadi hening, hanya tangan Arya yang bergerak membantu Vera melakukan gerakan perengangan di tempat tidur. Sesekali Vera mengeluh karena kesakitan.
Setelah melewati beberapa gerakan yang menghilangkan pegal, akhirnya Arya mengoleskan salep pereda nyeri pada betis dan kaki Vera lalu di pijat-pijat.
"Hhh, nyamannya." Vera bicara "Bagaimana kau bisa tahu tadi, kalau betis ku masih pegal?"
"Dari ekspresi wajah mu."
"Hah? Maksud mu?"
"Aku bisa mengetahui segalanya. Perasaan yang kau sembunyikan di wajah mu." Arya menjawab lembut membuat Vera kehilangan kata-kata
"Ah, begitu ya." Vera mengangguk
Ah, tidak tidak. Selain bertampang dingin wajah mu terlihat tampan. Sentuhan tangan mu juga lembut. Perhatian yang selalu kau berikan pada ku selalu membuat ku tenang dan nyaman. Ups kenapa aku jadi berpikir begini sih. Ya Tuhan, jangan-jangan benar yang di katakan banyak orang. Aku jatuh cinta padanya!
Menggeleng
Tidak! Sadar Ve sadar, paling sebentar lagi sikap dinginnya juga keluar. Kau jangan sampai terbawa suasana yang hangat ini.
"Makanya, kau berpikirlah sebelum bertindak. Jangan mengikuti hawa nafsu. Merepotkan orang tahu tidak." Suaranya terdengar agak menyentak saat menyampaikannya.
Entah kenapa setelah mendengar Arya bicara si Vera langsung diam cemberut.
Tuh kan. Baru saja aku berpikir barusan, sikap angkuhnya langsung keluar. Pakai memarahi ku segala lagi. Eh tunggu-tunggu, dia bersikap tegas begitu karena perhatian pada ku kan. Hhh, senangnya...
"Sekarang kau istirahatlah dan tidur" Arya bicara lagi setelah menempelkan plaster di kaki Vera yang ada goresan lukanya.
"Mmm'' Vera mengangguk "Eh, bagaimana dengan besok? Bukankah kau memutuskan mau liburan bersama di Vila itu."
"Jadi atau tidaknya itu tergantung pada mu."
"Kenapa memangnya, kenapa jadi tergantung pada ku?"
__ADS_1
"Bodoh! Bukankah kau sakit melihatnya bermesraan."
"Ah benar juga. Tapi kan sekarang sudah tidak lagi."
"Maksud mu?" Arya mengerutkan keningnya.
"Awalnya hati ku memang sakit saat melihatnya bermesraan. Pada akhirnya aku mencoba memutuskan untuk melakukan hal yang tidak masuk akal. Namun aku tidak menyangka ternyata berhasil menghilangkan perasaan itu."
"Katakan, apa yang sudah kau lakukan?"
"Memberikan cinta ku pada mu."
Degh,
Jantung Arya berdebar kuat barusan, setelah melihat tatapan yang dipenuhi dengan cinta itu tertuju padanya. Senyum yang tulus dari lubuk hati membuatnya tidak mampu berkata-kata, pengendalian dirinya menurun. Dan akhirnya dia refleks mencium bibir Vera.
Entah kenapa Vera hanya diam menikmati sentuhan lembut yang mendarat di bibirnya. Nafasnya naik turun seirama dengan tubuhnya yang bergetar.
Hemmh
Perasaan yang begitu familiar. Sentuhan bibirnya yang lembut, lidahnya yang menari di bibir ku, sungguh membuat ku kecanduan. Kenapa bisa mejadi seperti ini. Rasanya aku tidak rela mengakhiri ciuman hangat ini.
Beberapa menit berlalu bibir yang masih terpaut itu akhirnya terlepas. Pandangannya masih bertemu.
Melihat wajah Vera di penuhi dengan tanda tanya. Arya menarik kepalanya lalu dia jatuhkan di dadanya. Dia belai rambutnya dengan penuh kasih sayang.
"Terimakasih, karena kau mau memberikan cinta mu pada ku." Arya bicara, sementara Vera masih kebingungan dengan perasaannya yang meledak-ledak barusan. Membuatnya tidak mampu membalas kata-katanya. Apalagi setelah mendengar detak jantung begitu kuat. Vera bisa merasakan bahwa laki-laki yang mendekapnya itu membalas cintanya. "Sekarang tidurlah, besok kita harus berangkat pagi-pagi."
"Mmm" Meski dalam keadaan terkejut bercampur bahagia, masih sempat-sempatnya Vera mengangguk lalu berbaring di tempat tidur. Sementara Arya menarik selimut, menutupi tubuhnya sampai ujung leher.
"Tidurlah dengan tenang bunga ku yang indah." Begitu Arya bicara. Setelahnya dia mengecup kening dan bibir Vera sekali lagi. "Selamat malam." tersenyum.
Aaaaa tampannya bocah ini kalau lagi tersenyum. Rasanya aku tidak mau berhenti memandangnya.
Lagi-lagi gadis itu hanya melongo kehilangan akal sehat karena melihat senyuman yang begitu indah. Bahkan setelah Arya sudah menghilang di balik pintu yang tertutup dia masih melongo.
Mimpi bukan ini bukan mimpi. Ini kenyataan. Aku dan dia.... Gila!
Vera menampar wajahnya. Ini benar-benar bukan mimpi pikirnya. Meraih guling lalu memeluknya.
Cinta yang dulu pernah aku tanam, akhirnya berbuah. Dan aku tidak menyangka ternyata dia sesayang itu pada ku.
Ya Tuhan terimakasih, karena engkau telah membalas sakit ku dengan kebahagiaan yang berlimpah. Rasanya aku sudah tidak sabar menunggu hari esok. Hihihi senangnya...
__ADS_1
Sambil senyum-senyum sendiri di bawah selimut Vera bicara dalam hatinya.