
Di kamar Adit
Ada dua manusia sedang duduk disofa berdekatan dengan tempat tidur. Yang satu meringis perih yang satu tidak sabaran karena mendengarnya meringis sudah bikin greget duluan.
"A' sakit, pelan sedikit, jangan di tekan begitu." Adit ngomel merasai luka di bibirnya semakin perih. Dia sedang di obati dengan cotton but yang sudah di beri betadine cair oleh Adiknya. Di tempelkan pelan-pelan agar bibirnya tidak mudah terkena infeksi.
"Bawel banget sih, tahan sebentar kenapa ! Ini sebentar lagi juga selesai. Makanya jadi orang tuh jangan banyak lagak. Begini deh jadinya." Fani berbalik ngomel "Mana plasternya berikan pada ku."
"Ini," Adit menyodorkan plaster yang diberikan Vera tadi siang. Fani langsung membuka bungkusannya.
"Hah ! Kenapa ada gambar bonekanya dan warnanya pink lagi. Lucu sekali ya, dari mana Kakak dapatkan ini ?"
Suasana hening sesaat, hanya tangan Fani yang bergerak menempelkan plaster di bibir Kakaknya.
"Dari seorang gadis yang berani memukul ku." Adit menjawab tatapannya penuh makna.
"Wuah, siapa ?" Fani penasaran
"Kucing liar."
"Hah ?" Fani terbelalak.
"Sudahlah lupakan tentang itu. Oya, tentang kamu mau menikah dengan laki-laki yang kamu dambakan. Bagaimana dengan pendapat Ayah. Apa Ayah mau memenuhi keinginan mu ?"
"Entahlah, tapi ibu bilang pada ku. Katanya Ayah sudah bicarakan tentang ini padanya. Hanya tinggal menunggu tanggapan. Kenapa memangnya ?"
"Tidak apa, aku hanya mau tau. Omong-omong kenapa kamu memilih laki-laki yang cukup jauh melebihi usia mu. Padahal masih ada banyak laki-laki muda yang menggoda selera mu."
"Aku memilihnya bukan tanpa alasan Kak. Selain dewasa kelihatannya dia sangat baik dan sangat perhatian. Apalagi saat aku ingat dia pernah datang menolong ku. Aku bisa melihat ketulusan di matanya, memancarkan cahaya penuh kasih sayang terhadap sesama manusia."
"Kapan dia pernah datang menolong mu ?" Adit penasaran sambil menekan-nekan plaster di bibirnya.
"Waktu itu aku baru keluar dari cafe, tiba-tiba ban mobil ku kempes daan....
Mengalirlah ceritanya seperti ini
"Kempes lagi ! Terus saja kau menyiksa ku. Dasar mobil sialan." Fani marah-marah.
Saat itu sekitar jam delapan malam. Ada seorang laki-laki baru keluar dari cafe.
Rupa laki-laki itu sungguh menawan hati rambutnya rapih. Pakaiannya juga rapih seperti Ceo yang baru keluar dari perusahannya berjalan sambil membawa blazer di lengannya.
Melihat Fani sedang marah-marah sambil menendang-nendang ban mobil mewahnya. Ia berjalan mendekat. Tapi belum sempat ia berkata-kata tiba-tiba....
"Kenapa kau lihat-lihat ? Senang ya, melihat ku menderita." Ucap Fani sinis. Sebenarnya laki-laki itu kaget juga mendengar ucapannya. Meski begitu ia tetap membalasnya dengan senyuman.
"Heh, malah senyum-senyum bantuin kek!"
"Dari awal juga niatku mau membantu, tapi sudah di semprot duluan. Ya sudah gak jadi deh." Katanya sambil ngeloyor pergi.
"Eiiit... Tunggu !" Fani mulai panik. Laki-laki itu langsung berbalik melihatnya.
"Hehee.. Maaf. Kamu benar-benar mau membantu ku kan ?" Laki-laki itu mengangguk. "Ya sudah kalau begitu. Lihatlah, ban mobil ku kempes, kamu bisa menolong ku menggantikan bannya gak ?"
"Hmmm... Kamu punya dongkrak ?"
"Sepertinya ada sih, di bagasi !" Fani langsung membuka bagasinya dan menunjukan dongkraknya. Laki-laki itu mengambilnya, lalu mengganti ban mobilnya dengan segera.
Beberapa menit berlalu
"Terimakasih ya." Ucap Fani setelah ban mobilnya selesai di ganti.
"Sama-sama" Jawab laki-laki itu sambil tersenyum lalu pergi meninggalkannya
Begitulah ceritanya
"Saking terpesonanya aku melihat senyumannya. Aku sampai lupa menanyakan namanya siapa. Jadinya, aku hanya bisa melihat plat nomer mobilnya saja. Dan sisanya Ayah yang melakukan semuanya hehe."
__ADS_1
"Kamu hanya melihatnya sekilas, tapi sudah berpikir sampai sejauh itu. Padahal kamu masih kuliah. Belum tentu laki-laki itu mau menikah dengan mu."
"Aku terpaksa melakukannya Kak, karena aku takut kehilangannya."
"Apa itu yang membuat mu takut ?"
"Karena waktu itu aku kebetulan melihatnya berbeda caranya memandang gadis lain. Niat ku ingin mengetahui informasinya bukan yang lainnya. Namun pada akhirnya akulah yang harus berkorban. Artinya aku mungkin harus memengaruhi gadis itu."
"Kau ini !"
Plak
"A'sakit kenapa kau kau memukul kepala ku ?" Fani marah sambil mengusap belakang kepalanya.
"Ingat jangan sampai kau jadi penjahat seperti Linda. Karena mau mengganggu hubungannya dengan laki-laki itu."
"Siapa juga yang mau mengganggunya. Orang dia tinggal satu rumah dengannya kok. Enak saja ! Maksud ku bukan dalam artian yang buruk Kak."
"Lalu apa maksudnya ?"
"Rahasia dong, nanti juga Kakak tau hehe."
Adit hanya diam tidak menjawab lalu beranjak dari duduknya sambil menenteng jaketnya.
"Eh, mau kemana ?" Fani bertanya
"Mendengar cerita mu, aku jadi mau membeli kopi. Sampai jumpa." Kata Adit lalu keluar dari kamarnya.
"Hhh! Dasar orang aneh."
*****
Di rumah Nina
Ada seorang gadis yang baru bangun dari tidur siangnya, menggeliat sambil merentangkan kedua tangannya di udara. Ini sudah jam lima sore pikirnya.
Dimana Nina. Katanya dia mau membangunkan setelah aku tidur dua jam. Dasar orang yang suka memaksa. Begini deh jadinya, aku ketiduran sampai lupa waktu.
Baru mau mengajak Nina mengantarkannya pulang. Seorang Kakek menyuruhnya duduk di karpet, menunggu Nina yang sedang masak di dapur. Vera terlihat menurut lalu duduk disebelah Kakek.
"Siapa Nama mu Nak ?" Tanya Kakek ramah
"Aku Vera Nindya Kek."
"Sudah berapa lama dekat dengan Cucu ku ?"
"Ah, aku hanya baru mengenalnya beberapa hari Kek. Ada apa ?"
"Tidak, Kakek harap kamu sering-seringlah datang kesini menemani Cucu ku dan buatlah bahagia."
"Loh, kenapa ? Bukankah hanya dengan melihat senyuman Kakek itu sudah membuatnya bahagia Kek."
"Kakek tau, tapi umur Kakek sudah tua. Kakek takut meninggalkannya dalam kesendirian. Dia tidak memiliki siapapun lagi selain Kakek. Ibunya pergi meninggalkannya karena cinta. Sejak Ayah dan Neneknya meninggal, Kekek belum pernah melihatnya dekat dengan siapapun. Apalagi sampai membawa teman ke rumah Nak, kamulah yang pertama."
"Maksud Kakek..."
"Ya Nak, Kakek mohon, kamu bantulah Kakek menjaganya dan buatlah Cucu ku agar jangan terlalu mementingkan Kakek. Alihkanlah dunianya, Kakek tau kamu pasti memahaminya."
"Tapi Kek, Ini...."
"Sudahlah" Memotong "Di luar hujan deras. Sekarang Kakek mau lihat kamu makan dulu sebelum pulang. Lihatlah Cucu Kakek sudah selesai menyiapkannya untuk mu."
"Hai Ve, kita makan dulu yuk. Kakek yang menyuruh ku menyiapkan semua ini untuk mu." Nina tersenyum sambil menghidangkan beberapa lauk nasi di meja.
"Baik, kalau begitu biarkan aku memantu mu membawakan nasi dan piringnya ya. Dimana tempat nasinya ?" Belum di jawab Vera sudah bertanya.
"Tidak usah, kamu duduklah disini. Biarkan aku yang melakukan semuanya ya. Awas ! Sebagai tamu kau jangan membantah."
__ADS_1
"Heheh." Vera cuma nyengir.
Nina kembali ke dapur membawa magicom sekaligus perlengkapan makannya seperti piring dan sendoknya. Dan tidak lupa dengan kobokan guna cuci tangan Kakek. Setelah semuanya terhidang dengan lengkap, mereka langsung menikmati makannya dengan tenang. Entahlah mungkin karena terbawa suasana yang hangat, membuat Vera menceritakan keseluruhan hidupnya tanpa sadar.
Sampai pada akhirnya.
"Di luar hujan belum reda, bagaimana ini ? Aku takut dimarahi." Ucap Vera sambil berjalan menuju teras rumah
"Aku hanya memiliki satu jas hujan. Biar kamu yang memakainya saja ya." Ucap Nina sambil mengambilnya di bagasi motor. "Lagi pula jarak dari sini sampai di halte cukup dekat."
"Tapi kamu tetap kehujanan kan. Aku tidak mau memakainya. Bair kamu saja. Setidaknya kamu harus tetap sehat demi menjalani pekerjaan mu besok pagi kan."
"Iya juga sih, tapi kamu..."
"Sudahlah," Vera memotong "Aku tidak apa-apa. Hanya sebentar saja kok. Tubuh ku pasti kuat. Mmmh"
"Ya sudah kalau begitu. Aku yang memakainya."
"Mmm" Vera mengangguk saja
"Naiklah." Kata Nina saat sudah menyalakan motornya. Vera langsung duduk di belakang sambil memakai helm di kepala. Dan akhirnya motor melaju dengan kecepatan normal. Melewati gang-gang sempit sampai tiba di halte tujuan.
"Terimakasih ya." Kata Vera saat sudah turun dari motor sambil menyodorkan helmnya. Nina meraih helmnya, menggantungkannya di behel motor.
"Sama-sama, sampai jumpa besok ya. Daaaah" Kata Nina lalu menghilang bersamaan dengan motornya
Sedangkan Vera duduk di halte menunggu angkot datang. Bajunya basah kuyup. Di keluarkannya hp sekaligus headset dalam tasnya. Baru menyalakan hp nya, ia langsung di serang dengan beberapa notifikasi. Ada satu pesan singkat dan beberapa panggilan tak terjawab bermunculan. Karena penasaran ia langsung membaca pesan singkatnya
Dimana kau.
Penjahat gila ini. Apa yang mau di lakukannya.
Vera tidak menggubris malah menekan pemutar musik di hp nya. Dan lagu klasik mulai terdengar nyaman di telinga.
Sudah hampir setengah jam, angkot yang di tunggu tak kunjung datang juga. Rasa menggigil mulai menjalar di sekujur tubuhnya, giginya bergemeletuk.
Kalau aku naik angkot dalam keadaan begini. Aku takut aku tidak dapat menahan dinginnya. Kepala ku juga pusing. Apa yang harus aku lakukan.
***
Sementara itu di waktu yang sama
Di rumah Aliya.
Setelah tahu Vera tidak ada di rumah, sikap Arya terlihat aneh. Berjalan mondar-mandir di kamarnya, memegang remote tv. Lalu duduk lagi di sofa, menukar salurannya berkali-kali. Semua saluran sudah di cobanya. Tapi sepertinya tidak ada satupun saluran yang cocok dengan suasana hatinya saat ini. Akhirnya ia membiarkan stasiun tv yang hanya menayangkan berita terkini.
Di luar masih hujan deras. Kenapa dia belum kembali. Hp nya juga di matikan. Jadi tidak mudah bagiku mengetahui letaknya di mana.
Mungkin mata Arya terlihat fokus menatap layar kaca, tapi sebenarnya tidak ada berita satupun yang dapat di cerna nya. Karena pikirannya melayang kemana-mana.
Tiba-tiba nada dering hp terdengar di meja, tertulis nama Kucing Liar dalam layar. Lalu dengan segera ia meraih benda itu secepatnya.
"Ada apa ?"
"Aku boleh minta tolong gak ?" Kata Vera di hp nya.
"Tolong !" Degh "Apa itu ?"
"Jemputlah aku."
"Di mana ?"
"Aku ada di halte dekat Cafe. Bandan ku menggigil, bajuku juga basah kuyup. Kalau kau bisa cepatlah kesini. Aku sudah tidak tahan kedinginan."
"Baik, kau tetaplah disitu dan jangan berkeliaran sebelum aku datang menjemput mu." Kata Arya panik.
"Ya."
__ADS_1
Panggilan terputus.
Kalau bajunya basah kuyup itu artinya dia kehujanan. Jika dibiarkan lama dia mudah terserang flu. Jadi aku harus segera bawakan baju ganti untuknya.