
Setelah sekian lama Vera menantikan kuliah di universitas xxxx, akhirnya sekarang waktu itu pun tiba. Vera berjalan di koridor untuk mencari kelas nya, dia berhenti di papan pengumuman untuk mencari di mana dia akan di tempatkan. Saat fokus melihat tulisan di depannya, tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya dari arah belakang.
"Vera !"
Vera menoleh ke arah suara itu berasal, di sana ada seorang laki-laki sedang berjalan mendekat ke arahnya
"Benar aku tidak salah, kamu itu Vera kan ! Apa kamu masih ingat pada ku ? Ucapnya sambil menunjuk wajah diri
Vera memutar otaknya pandangannya tidak lepas dari orang itu
"Siapa ya ? Aku gak ingat, maaf" Ucapnya sambil nyengir
"Kamu jahat juga ya rupanya, padahal kamu sudah bersikeras mau kembalikan jaket ku malam itu ?"
Jaket waktu malam itu !
"Yaaa aku ingat nama mu Roni ya ?" memori di otaknya baru tersadar " Aku lupa, tapi maaf aku tidak bisa kembalikan jaket mu hari ini. Lain waktu saja ya"
"Aku sudah bilang, kamu tidak perlu melakukannya" wajah Roni langsung memelas
"Gak bisa, jaket itu milik mu, jadi aku harus mengembalikannya"
"Keras kepala mu masih belum hilang juga ya, kalau begitu terserah kamu saja." menyerah karena tidak tahu harus berbuat apalagi
"Nah begitu dong, tapi omong-omong kenapa kau ada disini ?"
"Aku memang kuliah disini dan tahun ini aku sudah mau memasuki semester tiga." Roni dengan bangga mengatakannya " Bagaimana dengan mu, kenapa bisa ada disini, kamu mencari ku ya ?" jurus PD nya keluar lagi
"Gila ! Siapa bilang ? Semaunya saja kau bicara." Protes kesal. " Aku mahasiswi baru dan ini kali pertamanya aku masuk kesini " Vera mulai berjalan lagi di ikuti Roni di sampingnya
"Mmm begitu ya, jadi seharusnya kamu memanggil ku kakak senior dong ?" Ucapnya santai
Huh !
"Tidak mau" menolak dengan cepat "Tapi bagaimana jika aku memanggil mu senior saja ? Mungkin aku lebih nyaman memanggil mu begitu" terpaksa nyengir
"Hahaha gak perlu lagi. Aku hanya bercanda jangan di anggap serius. Kamu panggil saja aku Roni"
"Kau ini ya ! Dasar orang yang aneh."
"Aneh ?" Bingung. Si Vera hanya senyum seperti mengatakan Sudahlah jangan di bahas lagi
"Aku sudah menemukan kelas ku, jadi sampai jumpa" Vera melambaikan tangannya
"Tunggu !" Baru mau melangkah lengan Vera langsung di tariknya "Apa itu artinya kita berteman ? Kamu bilang sampai jumpa pada ku barusan"
"Apa ? berteman ?" Roni mengangguk senyumnya penuh harap "Aku tidak mudah berteman dengan laki-laki yang baru saja aku temui." tersenyum "Maaf ! Selamat tinggal" berbalik lalu berjalan masuk ke dalam kelas
Roni hanya diam melihat Vera berjalan meninggalkannya. Pasalnya baru kali ini dia menemukan wanita yang tidak ingin berteman dengannya, padahal di universitas itu dia sangat populer loh di kalangan wanita.
Setelah Roni berlalu
Vera berjalan mendekat di meja yang tak jauh dari papan tulis. Lalu duduk sambil menunggu dosen datang dengan bermain handphonenya. Saat asik bermain hp, tiba-tiba seorang berkata..
"Permisi... bolehkah aku duduk di sebelah mu ?" Seorang bicara karena melihat sebelah kaki Vera menghalangi jalannya
"Ohh tentu silahkan" Vera menggeser kakinya tanpa melihat wajah orang itu dan masih sibuk dengan handphonenya.
"Siapa nama mu ? Maaf jika aku mengganggu mu lagi" Katanya setelah duduk di samping meja Vera
Vera baru menoleh padanya. Terlihat sosok gadis yang sangat feminim polos dan lembut seperti putri yang baru saja keluar dari istana begitulah kira-kira sampai-sampai Si Vera terpaku melihatnya.
Gila ! Cantik sekali orang ini
"Gak apa-apa kok ! Kamu gak perlu minta maaf, Aku Vera dan siapa nama mu?"
"Aku Fani, senang berkenalan dengan mu"
"Sama-sama, maaf ya karena aku sibuk bermain hp, jadinya aku mengabaikan mu tadi"
"Apa kau mau berteman dengan ku ?"
"Berteman dengan ku ?" Vera menunjuk dirinya
"Ya ! Kenapa memangnya ? Kamu gak mau ya." Ucapnya sedikit kecewa
"Aku memiliki latar belakang yang buruk dan aku tidak mau kamu merasakan pengaruhnya. Jadi lebih baik kamu jangan mau berteman dengan ku ya" tersenyum sejuta wat
Ya tuhan baru pertama kali aku bertemu dengan orang berwajah indah tapi bermata dingin seperti ini. Membalut luka dengan ketegaran padahal dia terlihat jelas kesepian.
Kata Fani dalam hati
"Setiap orang di takdirkan memiliki kekurangan. Terkadang apa yang menurut mu buruk atau baik belum tentu orang lain menilainya sama seperti mu kan ?"
"Iya juga sih" Vera nyengir " Tapi... Aku tidak mau kamu merasa kecewa saja nantinya"
"Aku tidak akan kecewa, lagi pula apa yang membuat mu menjadi tidak mau dekat dengan siapapun" Dan aku mau tau apa sebenarnya yang membuat mu begitu tertutup. Seperti itu mata Fani seolah bicara
"Karena aku tidak suka merendahkan orang lain. Apalagi jika mata ku melihatnya. Rasanya aku mau memaki langsung di depan mukanya. Dan jika ada yang berani merendahkan ku, tidak peduli siapa orang itu. Akan ku hajar mukanya langsung tanpa ampun.''
Eh ! Aneh kenapa aku merasa dia sedang bicarakan orang lain
Jleg Fani menelan ludah
"Kamu galak juga ya ternyata"
"Galak ! Ck, gak juga kok, hanya saja selama ini aku belum pernah bergantung pada teman
dan jarang sekali ada teman yang dekat dengan ku."
"Kenapa ? Apa karena mereka tidak suka pada mu atau bagaimana ?" Fani memancing
Mungkin karena aku terbiasa terkekang dengan peraturan keluarga ku dulu, sampai aku tidak mau berteman dengan banyak orang. Percuma dekat dengan teman jika pulang sekolah tidak di izinkan kemana -mana. Apalagi saat aku meminta izin mau membawa teman ke rumah. Tidak tahu alasannya kenapa, mama dan kakak selalu menceramahi ku tiada henti. Aaaaah kenapa dada ku sesak sekali ya rasanya.
Rasanya Vera mau sekali bilang begitu tapi entah kenapa ia tidak mau mengatakannya
__ADS_1
"Karena aku lebih banyak menyendiri dan aku sangat menginginkan kebebasan. Itu lah sebabnya walau aku punya banyak teman, tapi mereka jarang sekali dekat dengan ku"
Dugaan ku benar. Dia kesepian. Sama persis seperti kakak ku yang galak itu
Kata Fani dalam hati seperti mendapat angin segar, sedari tadi dia penasaran
Padahal alasan Vera mengatakan itu demi menjaga nama baik keluarganya. Ditambah lagi keluarga yang ia miliki sekarang adalah keluarga angkatnya. Ia rela menutup nya rapat tanpa ada orang lain yang tau keluarga angkatnya memperlakukannya seperti apa.
"Begitu ya" Fani menjawab "Aku kira mereka tidak menyukai mu. Tapi jika aku mau lebih dekat dengan mu bolehkan ? Aku tidak akan menganggu waktu mu. Percayalah pada ku"
"Baiklah, aku percaya pada mu"
"Selamat siang" Kalimat dari seorang dosen yang baru saja masuk
JGEERRR Vera langsung menutup wajah dengan buku karena tidak percaya dengan orang yang baru saja di lihatnya. Siapa lagi kalau bukan dan tak lain adalah ARYA
"Siang..." Jawaban serentak memenuhi ruangan
Sedangkan si Vera hanya sibuk menggerutu dalam hati di balik bukunya.
Sialan, bukankah seharusnya saat ini dia sudah kembali ke negara asalnya. Aneh kenapa Mama gak beritahu aku kalau dia mengajar disini dan apa tujuannya.
Sengaja mau mengganggu ku ya ! Jika di pikirkan lagi dia seperti bayangan yang selalu mengikuti ku. Aaaah bikin orang jengkel saja.
Tapi mari kita lihat, jika kau berani menindas ku disini, aku akan membalas mu ribuan kali.
"Vera, kenapa wajah mu di tutupi dengan buku" Fani mengerutkan keningnya bingung
"Aku gak apa-apa kok" Masih menutup wajahnya
''Beneran kamu gak apa-apa"
"Sudahlah kamu jangan hiraukan aku"
Arya memperkenalkan diri di depan semua orang, setelahnya dia mengabsen satu persatu semua muridnya dan sampai akhir nya di menyebut nama.
"Vera Nindya." Arya menatapnya dengan sadis
Vera mengangkat tangannya. "Hadir pak !"
Haha aku bahkan memanggil mu. Pak saat ini, kau memang pantas di panggil begitu, Karena otak mu sudah koslet, seperti orang tua yang sudah pikun hahahaha.. Puas sekali rasanya.
Arya meletakan buku absen dengan keras di meja geram melihat reaksi Vera tersenyum penuh kemenangan seperti mengatakan
Beraninya
Arya membuka lembaran buku, setelahnya ia mengajar muridnya dengan serius, saat menerangkan pembelajaran semua muridnya menyimak pembicaraannya dengan teliti. Tapi berbeda dengan dua gadis ini.
"Ver, dia tampan sekali, kelihatanya dia baik aku suka dengan penampilan nya yang gantle itu dan aroma parfumnya juga sangat sexy " Fani mulai memuji Arya
"Apa Katamu Fan ? Tampan !" Vera mendelik ke arah wajah Arya" Gila ! muka menyebalkan begitu kok bisa di bilang tampan. Sadarlah sedikit, dia tidak sebaik yang kau kira"
"Aku sadar, dia memang tampan kan, di lihat dari kharismanya dia juga baik sepertinya''
"Ada apa ?"
"Dia nggak baik !" protes setengah mati "Kamu jangan sembarang menilai orang"
"Aku gak sembara...Eh tunggu ! kenapa kamu bersikeras begitu ? Jangan-jangan kamu mengenalnya ya ?"
"Tidak !" spontan menjawab
"Terus kenapa menyangkalnya ?"
"Itu karena kau tidak tau siapa dia sebenarnya"
"Artinya kamu mengetahuinya kan hehe" Fani menyeringai
"Enggak juga kok !" masih menyangkal dengan cepat
Si Fani mulai curiga
"Kamu jangan berbohong ya !" katanya bercanda tapi berhasil membuat si Vera salah tingkah
"Aku.." Kalimatnya terpotong saat melihat Arya tersenyum indah setelah menerangkan pelajaran di depannya. Entah pada siapa senyum itu ditujukan, si Vera sempat terkagum. Deg, jantungnya berdegup kencang barusan.
Berbohong ! Ya aku mengakuinya. Di depan semua orang kau memang berbeda di banding dengan wajah dingin mu saat di depan ku.
Jadi begitu ya wajah mu saat tersenyum rasanya nyaman di pandang.
Tapi untungnya aku tau bagaimana kelakuan diri mu yang sebenarnya hahaha. Jadi kau tidak pantas di bilang tampan.
Vera tertawa lagi tanpa suara membuat si Fani mengalihkan pertanyaannya
"Ver, kenapa kau tertawa ?"
"Gak apa-apa kok"
"Bohong ! Pasti ada apa-apanya. Beritahu aku dong, bisa-bisa aku mati penasaran gara-gara kamu"
"Makanya jadi orang jangan..."
"Hai kamu !" Vera menoleh "Bisa kah kamu menghentikan celotehan mu saat pelajaran sedang berlangsung ? Sedari tadi saya terganggu dengan suara mu"
Vera langsung membisu wajahnya malu tidak terkira saat mengetahui semua orang di ruangan itu melihat ke arahnya sambil berbisik satu sama lain.
"Kenapa diam ?" Katanya tegas si Vera semakin malu. Entah kenapa ia tidak mampu mengangguk maupun menggeleng kepala.
"Ruangan ini" sambung Arya " Adalah ruangan khusus untuk mereka yang benar-benar mau mencari ilmu. Artinya siapapun saat sedang mengikuti pelajaran. Mereka harus mematuhi peraturan saat pelajaran sedang berlangsung. Jika kamu tidak mau mematuhinya. Silahkan kamu boleh keluar dari ruangan ini."
Hening
Sialan ! Kau pasti sengaja mengatakannya agar membuat ku kehilangan muka. Merendah kan ku adalah tujuan utama mu iya kan.
Si Vera mulai berapi
__ADS_1
"Baik Pak, lain kali saya akan turuti seluruh aturan disini. Tapi karena saya sekarang sudah terlanjur melanggarnya. Maka saya harus menerima akibatnya. Artinya dengan lapang dada saya memilih keluar dari ruangan ini sekarang juga."
Lupakan harga diri. *T*idak peduli mereka menilai ku seperti apa. Karena aku tidak mau tinggal diam menghadapi mu.
Katanya dalam hati sambil menatap Arya tajam, tangannya bergerak mengemasi semua barang miliknya ke dalam tas tanpa ada yang tertinggal. Lalu dengan segera ia angkat kaki dari tempat duduknya.
"Terimakasih Pak" Vera menyempatkan diri menunduk sambil tersenyum saat berpapasan dengan Arya, tapi arti dari senyum yang sebenarnya adalah merendahkan. Setelahnya ia berjalan lagi keluar ruangan tanpa sedikitpun berpaling
Aura wajah Arya menghitam mencengkram spidol di tangannya kesal. Udara dalam ruangan menjadi dingin, membuat semua orang tidak ada yang berani bertanya.
Sedangkan di luar ruangan
Dia pasti sangat malu kan hahaha. Rasakan itu!
Gumamnya sambil berjalan
Senangnyaaaaa
Vera mengangkat kedua tangannya di udara sebentar. Sekedar menghela angin segar. Dia merasa bebas sekarang
Dunia terasa indah saat aku tidak melihat mukanya. Kenapa perut ku lapar tiba-tiba. Lebih baik aku ke kantin sekarang. Sesudah makan aku langsung pergi mencari pekerjaan. Baiklah semangat Vera
Kantin kampus
Vera terlihat sedang memesan menu makanan dan minumannya. Sesudah menerima pesanannya di atas nampan ia menaruhnya di meja makan lalu duduk di kursinya. Dengan lahapnya ia menyantap makan siangnya.
Selang beberapa detik Vera melihat suatu yang tidak di inginkan nya tanpa sengaja. Siapa lagi kalau bukan orang-orang yang sok berkuasa. Sepertinya mereka adalah seniornya.
Mereka itu kenapa ? Terlalu banyak gaya dan sombong di tempat yang salah. Cara bicara mereka seperti mengelabui orang tuanya. Aku tidak mau membayangkan bagaimana jika orangtua mereka mendengarnya.
Dasar anak orang kaya yang manja. Sadarlah ! Harta dan kekuasaan bukan lah yang pantas untuk di pamer kan.
Vera meneguk air putihnya demi membuang kesal.
"Vera ! " Tiba-tiba Si Roni datang tanpa di undang, pandangan gadis itu teralihkan
"Ada apa ?" Katanya dingin sambil menyimpan gelasnya kembali di atas meja
"Tadi aku melihat mu masuk kedalam kelas dan sekarang, kenapa kau makan sendirian di sini ?" Kata Roni kebingungan
"Aku di usir dosen ku" Jawab Vera asal ceplos sambil makan
"Apa ?'' Roni kaget setengah mati "Tidak mungkin, kau pasti bercanda kan"
" Gak ! Lagian untuk apa aku bercanda" Vera menjawab acuh
"Hari ini adalah hari pertama mu mengikuti pelajarannya. Jadi, bagaimana mungkin dosen itu mengusir mu, pasti ada alasannya"
Ini orang cerewet sekali. Selalu mau tau urusan orang. Jika aku tidak memiliki hutang budi padanya. Lebih baik aku menjauh daripada harus meladeninya.
"Alasannya karena aku tidak suka dengan orangnya." Arti sebenarnya menjauhlah kau dari ku sialan.
"Orangnya ?" Roni kikuk, ada tanda tanya bermunculan di kepalanya "Maksud mu Dosen itu ?"
"Iya aku benci dengan dosennya. KENAPA ?" menggema di akhir kalimatnya membuat si Roni diam tidak bergeming di tempatnya
Ya Tuhan ! Ada apa dengan ku. Kenapa dengan begitu mudah aku melampiaskan perasaan ku padanya. Entah kenapa hatiku menjadi lega setelahnya. Padahal dia bukanlah orang terdekat ku
Hening
"Tidak tau bagaimana hubungan mu dengan dosen itu. Lain kali kamu jangan melakukannya lagi. Karena niat pertama mu datang kesini untuk mengambil pelajarannya. Bukan menemui orangnya kan, apa kamu tidak khawatir dengan nilai mu ?"
"Mau melakukannya lagi atau tidak itu bukan urusan mu, lagi pula untuk apa kau peduli dengan nilai ku" Katanya ketus
"Karena aku mau menjadi teman dekat mu" Jawab Roni sambil senyum
"Terimakasih, tapi aku tidak mau !"
"Tapi hanya sekedar teman biasa saja boleh kan ?"
Si Vera diam saja tangannya meraih gelas di samping lalu meneguknya. Artinya Ia masih menolaknya
"Baiklah, kalau begitu aku tidak akan memaksa mu lagi" Katanya menyerah di akhiri dengan senyuman
Tiba-tiba
"Ron sedang apa kau disini ? Sedari dari tadi aku berkeliling mencari mu" Kata teman si Roni
"Apa kau tidak lihat, aku hanya duduk di sini sambil menemaninya makan"
"Wah ! Siapa dia ? Pacar baru ya ?" Tanyanya dengan wajah sumringah
Uhuk ! Vera tersedak
"Teman saja bukan, bisa-bisanya kau sebut aku pacarnya. Gila ya !" Protes setengah mati.
"Kau itu jangan asal menebak, dia bukan pacar ku. Lagi pula ada perlu apa kau mencari ku ?"
Teman si Roni menarik kursi lalau duduk di sebelahnya
"Ada yang ingin aku bicarakan pada mu, ini tentang Linda " Kata teman si Roni berbisik
Roni mengangguk lalu menyeruput es teh botolnya.
Entah apa yang mereka bicarakan toh si Vera juga tidak mau mendengarkan. Ia hanya ingin segera menghabiskan makan siangnya. Lalu melanjutkan apa yang ingin ia lakukan seperti rencana sebelumnya.
Di sudut lain
Di antara orang yang berlagak sombong tadi, salah satunya terlihat sedang memperhatikan ke arah meja Vera dari tempat duduknya. Entah siapa yang dia perhatikan, hanya dia saja yang tau jawabannya.
"Kau sedang lihat apa ?" Salah satu temannya sambil celingukan, mencari sumbernya. "Serius sekali" ucapnya lagi kebingungan karena tidak tau itu letaknya dimana
Tapi sialnya orang itu tidak mau menjawab, tatapannya tajam, lalu bangkit dari tempat duduknya. Di ikuti ke empat teman lainnya untuk pergi meninggalkan kantin. Mereka sudah selesai makan.
__ADS_1