Mengejar Cinta Vera

Mengejar Cinta Vera
Bukan kesepian tapi merindu


__ADS_3

Setelah Linda berlalu si Roni malah muncul dari arah yang berbeda.


"Apa yang kau lakukan disini Ve ?" Katanya saat sudah berdekatan


"Gak ada yang ku lakukan, cuma jalan-jalan."


"O, tadinya ku pikir kamu masih berduaan dengan Fani. Makanya aku mencari mu."


"Memang ada perlu apa kau mencari ku ?"


"Gak ada, karena melihat mu sendirian disini, jadinya aku cuma mau temani kamu saja hehe"


"Heuh !" Vera menyeringai, di barengi dengan tatapan aneh " Oya, ada yang mau aku ceritakan. Tapi aku takut kau tersinggung." Vera duduk di kursi yang tadi di dudukinya.


"Tentang apa ?" Roni bertanya sambil menduduki kursi di sebelahnya


"Teman masa kecil mu. Aku bertemu dengannya barusan. Dan ada banyak hal yang aku bicarakan dengannya."


"Jadi, hal apa yang membuat mu berpikir kalau aku kan tersinggung ?" Kata Roni dengan tatapan aneh


"Sebelum aku memberi tau mu, dengarlah alasan ku lebih dulu. Kau mau kan ?"


"Tentu, bicaralah aku mau tau"


"Saat bertemu, kami saling bertanya tanpa sadar. Dan aku kaget setelah tau apa yang membuatnya begitu tertarik. Awalnya ku pikir dia membenci ku. Ternyata bukan, tapi kau lah penyebabnya. Karena melihatnya kesepian aku tidak tega. Jadi aku gak sengaja memberitahu apa yang kau inginkan sesungguhnya padanya. Aku tau ini memang salah, tapi aku tidak mempunyai pilihan lain demi melihatnya tersenyum."


"Jadi maksud mu, kau memberi taunya bahwa aku... "


'Ya !" Vera mengangguk dengan cepat " Dari awal aku sudah tau konsekuensinya. Kau pasti membenci ku, karena ku gagal menjaga rahasia mu seperti yang ku janjikan tempo hari. Jadi sebelum kau membenci ku, aku benar-benar minta maaf. Ku mohon tolong maafkanlah aku." Di akhir kalimat Vera mendudukkan wajahnya


Roni tersenyum, tak ada sedikitpun terlihat perasaan kecewa di wajahnya.


"Tapi bagaimana kau bisa berpendapat bahwa dia kesepian ?" Vera mengangkat wajahnya.


"Aku hanya menebak dari wajah dan cara bicaranya. Selebihnya dia yang mengakuinya. Dan dia sendiri yang memberitahu alasannya, Yang membuatnya menjadi orang lain. Bahkan merokok tanpa malu. Dan disitulah aku menyadari bahwa dirinya membutuhkan kehangatan."


"Begitu ya " Roni tersenyum lagi


"Kenapa tersenyum ? Bukankah seharusnya kau marah pada ku ?"


"Buat apa aku marah jika itu membuat ku tenang" Jawab Roni dengan santai


"Maksud mu... Kau sudah memaafkan ku ?"


"Heumh" Roni mengangguk pelan


" Syukurlah aku lega mendengarnya."


"Sejak kau menceritakan alasannya, aku sudah memaafkan mu. Dan seharusnya aku yang berterimakasih. Tanpa mu, mungkin aku takkan pernah tau selamanya."


"Hah ? Apa yang baru kau ketahui ?"


"Alasan yang membuatnya menjadi oranglain."


"Benarkan ucapan ku, itu sebabnya, aku langsung menasehatinya dengan sesuai yang kau mau. Tapi apa yang kan kau lakukan, jika kau melihatnya berbeda dari sebelumnya ?"


"Aku berani bertaruh itu takkan terjadi pada ku, tapi sebaliknya. Seandainya dia mau berteman dengan mu. Bagaimana ? Apa kau bersedia dekat dengannya ?"


"Berteman ? Mana mungkin ! Yang aku tau, dia gak suka pada ku. Itu juga gara-gara kamu." Sebal.


"Hehe, maaf"


'Cih !" Vera buang muka


Tiba-tiba


"Hei Ve, hei Kak Ron ! Apa yang kalian bicarakan ? Seru sekali." Fani bertanya entah dari arah mana datangnya.


"Kami cuma bicara tentang dia." Vera yang menjawab sambil menunjuk Roni." Bagaimana dengan mu ? Apa urusan mu sudah selesai dengan teman spesial mu itu ?"


"Wah ! Kak Roni baru tau, diam-diam Fani punya teman spesial juga ya ternyata. Boleh dong di kenalin"


'"Iish, Kak Roni ngomong apa sih ? Orang perempuan juga." Fani ketus " Tuh, liat orangnya juga ada di sana." Ucapnya lagi sambil melirik orang yang sedang duduk bernyanyi di atas panggung sendirian.


"Hooo, penyanyi toh, kirain hehe."

__ADS_1


Di dunia orang yang terpandang memang begitu. Melihat bintang bertaburan adalah suatu hal yang biasa baginya. Berbeda dengan orang awam, jangankan bertaburan. Hanya ingin menggapai satu bintang saja, rasanya sulit di raih.


Begitu sekiranya haluan ku. Aktris Penyanyi Aktor, apalagi ya. Semua namanya yang ku sebutkan, hanya karangan semata. Jadi jangan di anggap serius ya ! Mereka cuma bintang di novel ku kok. Hehe.


Balik lagi ke cerita


"Wah ! Dia kan pendatang baru, bagaimana bisa kau dekat dengannya ?" Vera terkagum-kagum


"Kami sudah saling dekat, jauh sebelum dia terkenal kok, dia teman sekolah ku."


"Pantas, aku seperti pernah melihatnya."Roni menimpali. "Tapi, aku lihat dari penampilannya, dia sangat berbeda dari yang dulu. Kalau tidak salah dia juga dekat dengan aktor itu kan." Menunjuk orang yang terkait dengan matanya.


"Kalau begitu, sekolah yang pernah di tempati mu sangat populer ya ?" Vera bertanya.


"Ya begitulah " Fani yang menjawab "Eh Ve, aku sengaja mendekat karena ada yang mau ku sampaikan."


"Apa itu ?" Roni kepo


"Bersiaplah, sebentar lagi teman ku mau mendatangi mu."


"Mendatangi ku ?" Vera menunjuk wajah diri


"Ya !" Fani mengangguk cepat "Aku bilang padanya kalau kau suka bernyanyi. Katanya dia mau mengajak mu bernyanyi bersamanya"


"Wah ! Becanda ya, kapan aku bilang pada mu ?''


"Kapan-kapan hehe." Fani tertawa. Jahil "Lihat ! Orangnya sudah mau datang."


Dalam sekejap semua ketiga pasang mata manusia di meja itu langsung tertuju pada seorang gadis yang sedang berjalan menuju ke arahnya.


Penampilan gadis itu sungguh menawan, dengan pakaian sederhana namun mewah membuatnya terlihat elegan. Panduan feminim dan tomboi terlihat menyatu.


"Hai Fan, " Si penyanyi memanggil ramah lalu duduk di kursi. Menempati meja yang sama." Hai Ron, " Sapanya saat melihatnya tanpa berkedip. Laki-laki itu hanya menjawab dengan senyuman. "Dan dia adalah....." pandangannya beralih menatap Vera


"Vera !" Fani yang menjawab


"O, jadi ini toh teman baru mu yang katanya unik itu. Salam kenal Ve, nama ku Riska." Dia mengulurkan tangannya sambil tersenyum. Dan Vera menyambutnya. "Omong-omong sudah berapa lama kamu bisa bernyanyi ?"


"Aku gak bisa nyanyi. Cuma iseng-iseng saja sih sebenarnya. Itu juga kalau ada waktu. Selebihnya aku lebih banyak mendengar lagu yang ku sukai. Karena itu hobi ku hehe."


"Kapan ?" Vera bertanya


"Sekarang, ayo cobalah. Nyanyikan lagu yang kau suka."


"Ayo menyanyi lah Ve, jangan malu-malu" Fani yang tidak sabaran


"Baiklah, akan ku coba. Tapi separuhnya hehe."


"Oke satu dua tiga. Bernyanyi lah." Riska memberi aba-aba, setelahnya Vera langsung bernyanyi


Ku sadari saat semua menghilang. Betapa lemah dirimu ku lupakan. Jiwa tak bisa lagi kurasakan. Apa diriku yang menyesal sejak kau tinggalkan.


Malam menangis karena kau telah pergi. Ku terluka karena kau telah menjauh. Aku minta dengan sepenuh hati. Dengarkanlah aku memanggil mu ingin kau kembali.


Tak ada lagi selain dirimu yang aku cari. Cinta sejati yang selalu kau beri. Ku hanya ingin ini tentang dirimu dan diriku sampai aku mati.


Ku ingin kau percaya, akan ku serahkan semua


Dan selesailah Vera menyanyikan lagu dengan penuh penghayatan


"Wah, wah wah, aku gak nyangka suara mu nyaman di dengar Ve, "Roni yang memuji


"Mmm, dia benar. Meski sedikit memiliki kekurangan, tapi keseluruhan suara mu merdu juga." Riska berkomentar


"Lagu itu di ciptakan untuk orang yang kesepian. Apa kau merasakannya ?" Fani yang bertanya di bumbui dengan kecurigaan. Keingintahuannya mulai beraksi.


"Bukan kesepian, tapi merindu." Riska yang mengelak. "Banarkan Ve ? Tadi aku sempat melihat mata mu mau menangis saat menyayikannya."


"Hah, begitukah ? Jadi siapa yang kau rindukan ?" Fani bertanya lagi dengan tatapan bersalahnya. Sedangkan si Roni hanya diam mengamati, menunggu jawaban Vera.


"Aku rindu kedua orangtua kandung ku."


Entah kenapa semua orang di meja itu langsung terdiam setelah mendengar jawaban Vera.


Dan Vera tidak sadar bahwa mereka sudah mengetahui bahwa dirinya hanyalah anak angkat. Orang terpandang seperti mereka sangatlah mudah walau sekedar mencari informasi ya.

__ADS_1


Terlebih lagi meski di angkat menjadi seorang anak. Aliya tidak memasukan nama Vera kedalam kartu keluarganya, tidak di akui negara bahwa dia adalah anak angkatnya.


Dia memiliki kartu keluarga sendiri.


"Ehem" Roni berdeheum. "Maaf, seharusnya kami jangan menanyakannya."


"Gak papa kok, kalian jangan iba. Aku sudah terbiasa hehe." Vera menjawab dengan senyuman


"Eh Ve, lihat !"Roni bicara "Bukankah itu dosen yang mengajari mu ?" Dia mengalihkan topik dengan kaku


"Dimana ?" Vera langsung menoleh pada sumbernya "Benar ! Kau mengundangnya ?" Ucapnya lagi setelah berbalik sembari menatap Fani


"Ya!" Fani menjawab cepat " Tapi... Kenapa wajah mu jadi aneh begitu ?"


"Hah, enggak kok, gak papa he.." Jawab Vera sambil nyengir.


"Eh Fan, sepertinya aku harus pulang sekarang" Ujar Riska setelah membaca pesan masuk di hp nya.


"Ada apa ? Kenapa cepat sekali ? Bukankah tadi kamu bilang mau bernyanyi bersamanya di atas panggung ?" Fani bertanya


"Lain kali saja ya. Biasalah, job ku yang padat" Jawab Riska sambil senyum, seolah meminta pengertian tanpa di minta. Maklum dia kan penyanyi.


"Begitu ya, baiklah aku akan mengantar mu sekarang" Fani bangun dari duduk


"Oke ! Kalau begitu" Riska berdiri sambil mengedarkan pandangan pada ke dua manusia di depannya."Sampai jumpa lain waktu." Ujarnya lagi tersenyum dan berlalu di temani Fani di sampingnya berjalan meninggalkan meja.


"Kamu kedinginan Ve ?" Roni bertanya saat melihat gadis itu menggesek-gesek kedua telapak tangannya.


Vera mengangguk


"Tapi dikit kok, gak dingin-dingin banget"


Tiba-tiba


"Kucing liar" Arya memanggil di belakang kursinya, terlihat berjalan sambil membawa jaket di lengannya.


"Ada apa ? Dan kenapa gak bilang, kalau kau di undang juga ?" Vera bertanya setelah Arya sudah ada di depannya. Laki-laki itu langsung menyodorkan jaketnya tanpa menjawab pertanyaannya


''Pakailah, ku rasa kau memerlukannya." Vera menatap aneh pada jaket dan orangnya.


"Apa kau kesini hanya mau meminjamkan jaket mu ?" Vera bertanya tapi ujung-ujungnya di raih juga, karena kedinginan.


Arya hanya diam sekilas dia menatap Roni dengan tajam. Laki-laki yang di tatap langsung melengos. Ketakutan.


"Hubungi aku, jika kau mau pulang." Tanpa menunggu jawaban Arya berbalik lagi meninggalkannya


"Hei, siapa bilang aku mau pulang bersama mu. Kalau kau mau pulang, ya pulang saja sendiri. Gak perlu menunggu ku. Menjengkelkan sekali !" Vera ketus


"Lebih baik, kau lakukan sarannya Ve, dia mengkhawatirkan mu." Roni bicara


"Sembarangan !" Protes Vera sambil memakai jaketnya." Kamu gak tau ya. Paling-paling dia cuma mau mengerjai ku. Setiap menerima kebaikannya aku harus membalasnya. Begitu resiko orang saling benci."


"Begitu kah ? Tapi kurasa dia..."


"Sudahlaaah" Vera memotong cepat seolah tidak mau melanjutkan. Malas.


Roni menyerah, tiba-tiba ia meraih hp nya saat bergetar, tanda pesan masuk. "Sepertinya aku harus berpamitan." Ucapnya setelah membaca pesannya


"Pamit ?"


"Ya ! Ayah menyuruh ku pulang lebih awal. Ada yang mau di sampaikan pada ku katanya."


"O begitu ya"


"Bagaimana dengan mu ? Apa kau juga mau pulang lebih awal ? Biar sekalian aku mengantar mu pulang"


"Kau gak perlu repot mengantar ku pulang. Aku bisa pulang sendiri kok. Aku masih betah di sini."


"Sungguh ! Kamu gak apa-apa ku tinggalkan sendiri disini ? Aku merasa tidak enak"


"Yang ada, malah aku yang gak enak sama kamu. Sudahlah kalau kau mau pulang, pulang saja. Masih ada Fani yang akan menemani ku nanti."


"Ya sudah, kalau begitu aku pulang Ve, selamat malam." Roni bangun dari duduk


"Malam"

__ADS_1


__ADS_2