
"Kenapa kau berjalan kaku ?"
Arya tersentak setelah melihat tali sepatu heels yang dipakai Vera sudah mau terputus. Kaki kananya merah membengkak, pergelangannya lecet. Sepertinya dia keseleo akibat terkilir tadi.
"Aku baru pertama kali memakai sepatu model begini, kedua kaki ku seperti mau terlepas, pegal sekali rasanya"
"Cih, sekiranya jika kau tidak tau cara menggunakannya. Kenapa bersikeras memakainya? Dasar bodoh!" Arya panik tanpa sadar
"Terserah kau mau omong apa! Jika mata mu tidak mau terganggu, kau berpura-pura saja tidak melihatnya."
Arya diam membeku. Ya dia mengakuinya, selalu bilang begitu di saat Vera melakukan hal bodoh. Tapi kali ini lain lagi ceritanya.
Bagaimana ya aku menggambarkan perasaannya. Pernah dengar tidak para lelaki sejati tidak akan mungkin membiarkan gadis yang di cintainya terluka karena kecelakaan. Saat terjadi mereka akan langsung mendekat secepat kilat berharap keadaan gadis yang di cintainya baik-baik saja.
"Bagaimana kalau aku mau melihatnya?" Arya bicara iba
"Gila!" Vera berjalan lagi mendekati kursi besi panjang di bawah pohon, setelah sampai ia duduk berlunjur disana
Sementara Arya mencengkram tangan geram di abaikan, hatinya meluap-luap. Ia tiba-tiba mendekat, berjongkok, tangannya meraih kaki Vera
"Tunggu sebentar. Kau mau apa? Lepaskan kaki ku!" Berontak berusaha melepaskan kakinya dari tangan Arya
"Diamlah! Kaki mu terluka" Arya menyentak membuat Vera langsung terdiam di tempatnya terduduk.
Aku kira dia mau melempar sepatu ku barusan. Ternyata dia mau menolong ku. Aku tak habis pikir.
"Bagaimana kau bisa tau kaki ku terluka?" Vera bicara pelan merasa bersalah
Arya tidak menggubris, hanya tangannya yang bergerak melepaskan sepatu Vera. Dia urut pergelangan kakinya dengan lembut.
"A sakit"
"Lemas kan kaki mu, supaya sakitnya berkurang" Ucapnya lembut, gadis itu menurut dengan benar "Sudah berapa lama kaki mu terkilir?"
"Setengah jam yang lalu"
"Apa ?" terkejut "Sudah tau kaki mu terkilir, kenapa tidak duduk diam saja, sekarang lihat akibatnya, kaki mu jadi bengkak begini"
Vera langsung diam memanas.
"Berhenti memarahi ku, jika kau tidak tau aku melakukannya demi siapa?"
"Jadi kau menahan sakit mu demi orang lain?" Wajah Arya terlihat memanas
"Benar! Aku bertahan demi orang lain! KENAPA ?" Si Arya langsung tersentak
Ada apa dengannya hari ini. Tadi dia begitu bersemangat. Kenapa jadi meringis sekarang.
"Kalau begitu beritahu aku alasannya, kenapa kau bertahan?" Huh, Vera terbelalak "Apa kau menguji perasaannya?"
Deg
"Kau ini bertanya tentang apa? Tadi kita bicara tentang sepatu sialan ini. Kenapa sekarang jadi bicarakan tentang orang? Gila ya?" membuang muka kesal
"Dilihat dari sikap mu ternyata benar kau mencari perhatian. Tapi bagaimana dengannya, apa dia tau kau terluka?''
"Mana ku tau! Jelas-jelas kaki ku terkilir di depannya. Tapi lihat apa yang di lakukannya. Dia...."
Sial! Kenapa aku jadi terpancing
"Dia mengabaikan mu?" Arya melanjutkan matanya berbinar senang
"Bukan begitu, maksudnya sepatu ku, dia tau aku terluka. Tapi lihatlah sendiri, dia masih berani mendekat di kaki ku hahaha, yang benar saja"
Mimik Arya berubah menjadi sumringah tanpa sadar. Perasaan lega dan bahagia menyatu di hatinya. Karena mendengar jawaban yang ia mau
"Kalau begitu, jangan ulangi lagi lain kali"
Vera mengangguk dengan semangat. Beberapa menit berlalu, akhirnya Arya selesai memijat kakinya
"Bagaimana? Apa kaki mu sudah merasa lebih baik sekarang"
Vera mengangguk lagi
"Baguslah, sekarang kau coba berdiri dengan pelan"
"Tidak mau, aku masih mau duduk" Menolak mentah-mentah
"Lakukan sebentar saja, aku hanya mau melihat apa kaki mu sudah benar-benar membaik atau belum"
Masih belum bergerak
"Lakukan!" Bersikeras. Mode wajah dinginnya kembali lagi
"Iya iya aku berdiri sekarang"
Susah payah aku berjalan demi duduk disni. Tapi kau malah seenaknya menyuruh ku berdiri. Dasar orang gila!
Akhirnya Vera melakukan kata Arya sambil menggerutu dalam hati, ia berdiri dengan cepat. Karena kesal ia melangkah saja tanpa menggunakan sepatunya.
"Mau kemana?" Menarik bahu Vera berbalik menabrak tubuhnya, wajahnya berdekatan hidungnya nyaris bersentuhan. "Aku menyuruh mu berdiri pelan-pelan, dengar tidak! Kenapa kau berjalan?" menyentak lagi
Vera mengigit bibir bawahnya gusar lalu mendorong dada Arya
"Aku sudah bilang tidak mau melakukannya, tapi kau malah bersikeras menyuruh ku berdiri. Dasar orang gila!" Refleks Vera menghujani dada Arya dengan pukulan tangannya. "Aku sudah tidak tahan lagi dengan kebodohan ku, selalu mengira semua yang di lakukan sudah benar. Tapi ternyata hasilnya" Berhenti bicara nafasnya terengah-engah "Hasilnya bukanlah seperti yang ku harapkan, memalukan! Kenapa aku tidak berpikir dulu sebelum bertindak? Kenapa?"
Membuncah sudah semua perasaannya. Dia rela membuang harga diri di depan Arya tanpa sadar. Yang sedari dulu sudah ia pertahankan.
"Akhirnya aku mengerti sikap mu" Arya bicara dengan nada tenang
"Huh!" Mata Vera terbelalak "Mengerti apa?"
"Perasaan apa yang membuat mu kecewa, lampiaskan saja semuanya pada ku"
"Kau ini bicara apa? Aku tidak kecewa, lagi pula untuk apa di lampiaskan pada mu? Gila ya." Refleks Vera memukul dada Arya sekali lagi
"Masih menyangkal padahal kau sudah memukul ku dua kali"
"Tapi aku memukul mu karena kesal dan bukan kecewa." Vera tidak mau kalah padahal suaranya sudah terdengar melunak
"Lalu kenapa wajah mu muram? Perasaan mu sedang tidak enak?"
Vera mengangkat bahu
"Tidak, tapi aku benar-benar bodoh sekarang. Menyesal setelah tau yang terjadi."
"Kau tidak bodoh! Hanya saja kau belum pandai menggunakan akal sehat mu di saat masih muda. Padahal ada banyak cara membuat orang lain menyukai mu tanpa perlu mengubah diri."
Sekilas Vera tersenyum sambil menoleh
"Benar juga ya. Kalau begitu katakan pada ku, kenapa orang pada umumnya rela berkorban demi mendapatkan cinta, padahal mereka tau itu lebih menyakitkan."
"Belum tentu semuanya. Masih ada cinta yang mudah di hadapi dengan enteng. Bahkan sebagian, cinta di anggap sebagai lelucon. Dan jika itu di perankan orang lain. Tapi hal ini berbeda dengan mu. Kau anggap cinta itu berat. Mengandalkan tekad kuat demi menggapainya."
Vera tersindir setelah kembali mencerna kalimat Arya
"Kenapa itu terdengar seperti aku yang sedang mengharapkan cinta?"
"Karena sejak kesini, sepertinya kau mau menangis saja?"
Degh
"Tidak! Aku terluka bukan karena cinta, tapi karena aku sudah salah memilih sepatu, cih!" Vera mendengus jijik melihat sepatunya. "Ceroboh sekali, tidak mengerti kenapa semua wanita begitu menyukainya?"
Sepatu! Lucu sekali. Bagaimana bisa sepatu di ibaratkan dengan laki-laki itu.
Arya tersenyum
"Wanita pada umumnya memilih sepatu dengan penuh percaya diri. Berharap sepatu yang di pakainya membawanya ke tempat yang lebih indah. Tapi situasi akan berbeda di saat kau memperlakukannya dengan cara yang salah, dia berbalik menyakiti mu."
Vera diam tidak menjawab
Benar yang di katakannya. Mungkin aku sudah salah memilih cinta. Karenanya aku menjadi seperti ini sekarang. Heuh, kenapa aku baru menyadarinya.
"Jadi." Arya melanjutkan "Jagalah sepatu mu dengan baik seperti di kesan pertama kau melihatnya dengan penuh perhatian"
__ADS_1
"Perhatian? Cih! Siapa juga yang mau memakai sepatu ini kedua kalinya. Menyakitkan saja!" Vera membungkuk, meraih sepatu di dekat kakinya, berdiri lagi sambil mengangkat tinggi sepatunya. Dia lempar sepatunya jauh ke depan menyusur di tanah. "Lihat! Aku sudah membuangnya kan sekarang" Setelah bicara Vera langsung membelakangi Arya, mengepal kuat kedua tangannya di depan dada, wajahnya menunduk, gundah.
"Bagaimana, kau lega sekarang?" Arya bertanya
Vera diam belum menjawab
Awalnya aku memberanikan diri menjadi orang yang berbeda. Karena ingin mengubah segalanya.
Namun pada akhirnya Kakak tetap memutuskan melamarnya tanpa melihat ku kembali. Seharusnya aku bahagia kan. Tapi kenapa aku tak bisa mengendalikan diri ku.
"Kenapa tidak bicara? Merasa terpukul?" Arya bertanya lagi
Degh
Vera berbalik lagi melihat Arya
"Terpukul! Hah siapa bilang? Bukankah ini lebih baik daripada tidak sanggup menjaganya kan. Kau tau? Setelah membuang sepatu nya. Suasana hati ku kini senikmat liburan musim semi. Tidak itu masih belum cukup menggambarkan perasaan ku. Seharusnya seperti sedang berjalan menyusuri pantai sambil melihat senja. Hati ku penuh suka cita, aku sangat bahagia sekarang." Setelah bicara napasnya terengah-engah. Mimiknya sedih berbeda dengan ungkapannya.
"Hemm" Arya mengangguk, berpura-pura paham. Padahal ia tidak tau apalah maksudnya itu.
"Ada apa?" Vera curiga saat melihat senyuman yang meledeknya.
"Kalau isi hati mu tertebak, kau akan berceloteh tiada henti.''
"Siapa bilang? Kau jangan sok pandai mengamati orang ya."
Arya diam melihat reaksi Vera yang tidak dapat di jelaskan.
Tiba-tiba
"Vera!" Seorang memanggil, membuat kedua manusia itu menoleh bersamaan
"Fani!" Vera terkejut melihat Fani datang bersama Arian.
"Kebetulan"
Vera mengangguk
"Iya ya. Kebetulan."
"Kalian sudah lama disini?"
"Baru sebentar." Vera memang menjawab tapi matanya memperhatikan Arian "Kalian sedang berkencan?"
"Betul." Fani menjawab lalu memeluk lengan Arian
"Sepertinya sangat lancar." Vera menduga-duga
"Iya, kami berdampingan seperti ini. Mirip sekali dengan pasangan yang sedang kencan kan."
"Iya, sangat mirip ya. Serasi sekali."
"Jangan cerewet!" Arian sewot pada Vera
"Kenapa galak-galak?" Fani yang marah "Maaf dia jadi malu. Jadi harus sok dingin."
"Tidak apa-apa. Kami sudah biasa." Setelah menjawab Vera dan Arya saling bertukar pandang
"Tadi juga begitu." Sambung Fani. "Selalu bilang lelah mau istirahat. Jadi aku pikir sekalian saja tidur di kamar ku." Huh! Vera tercekat "Akhirnya dia ngeloyor pergi"
''Kamar? Apa tidak terlalu cepat?" Arya buka suara.
"Tidak. Kan kita sudah saling bertukar cincin dan sebentar lagi kita menikah. Jadi aku pikir itu lebih baik." Tersenyum
Menikah
Deg mata Vera membelalak seirama dengan hatinya yang sakit.
"Kamu berceloteh tiada hentinya ya" Arian marah
"Apa salahnya? Teman ku sudah banyak berkorban. Seharusnya Kakak berterimakasih. Calon suami yang baik tidak akan mengecewakan." Vera menceramahi tiada henti
"Betul!" Fani menjawab cepat "Eh tau tidak. Keluarga ku punya beberapa Vila di gunung. Besok hari libur kita pergi bersama yuk."
"Ada pemandian air panas?" Arya malah bertanya membuat Vera tercengang di tempatnya berdiri.
"Ada! Ternyata kamu suka berendam di air hangat. Kebetulan sekali. Tempat berendam nya sangat bagus."
"Bagus. Kita pergi bersama."
"Oke!" Fani tersenyum. "Eh, omong-omong dimana sepatu mu Ve."
"Oh, ini ya. Kaki ku sakit jadi aku tidak mau memakainya lagi." Vera ragu menjawab
"Sakit, ada apa dengan kaki mu Ve?" Arian panik.
"Tidak apa-apa, Kakak jangan panik."
''Beneran Ve, kamu gak apa-apa?" Fani yang kuatir.
"Beneran, sudahlah kalian lanjutkan berkencan saja. Aku tidak mau menjadi obat nyamuk kalian."
"Hehehe." Fani terkekeh " Baiklah kalau begitu kami tinggal dulu ya."
"Jaga dirimu baik-baik Ve." Arian bicara gadis itu mengangguk saja sambil tersenyum. Mungkin Vera tidak begitu memedulikan kata-kata Arian. Padahal pesan itu mengartikan sesuatu yang teramat dalam.
Arya diam sedari tadi mengamati reaksi Vera terpaku di tempatnya berdiri. Nafasnya tercekik. Namun gadis itu mampu membalutnya dengan ketegaran.
"Jika kau sakit melihatnya. Alihkan pandangan mu. Anggap saja kau kau tidak melihatnya." Arya bicara
Aku memang tidak mau melihat mereka bermesraan. Tapi mataku tidak bisa terpejam. Celakanya di hadapan bocah ini aku menjadi semakin bodoh. Dulu tidak begini. Hari-hari pertengkaran kami tidak bisa dihindari namun sekarang sudah berlalu. Kini aku bisa bebas berhubungan baik dengannya. Tapi, aku tidak bisa berjalan sambil bergandeng tangan seperti mereka kan. Karena kami di takdirkan saling membenci. Itu sudah pasti.
"Melihat orang lain bermesraan. Apa itu hal menyebalkan?" Vera bicara
"Terus terang aku bersimpati pada mu. Dalam suasana begini, memang canggung."
"Iya. Rasanya tidak enak. Entah kenapa orang bisa bermesraan di depan umum semaunya. Padahal itu merisihkan."
"Kau risih melihatnya, itu karena yang kau lihat adalah Arian kan?"
Deg
"Bukan begitu, kalau sudah terlihat ya sudah. Lagi pula mereka sudah saling bertukar cincin. Wajar jika mereka bermesraan kan. Kamu pernah bilang, meski melihat langsung anggap saja tidak melihat. Namun akhirnya mata ku tidak bisa berhenti melihatnya. Rasanya" Berhenti. Nafas dan suaranya saling tertekan." Rasanya sebentar lagi mata ku akan bintitan hehe."
"Mau menangis. Menangislah "
"Eh!" Vera melihat Arya "Siapa yang mau menangis. Kau ini bicara apa? Lagi pula untuk apa menangis jika tidak ada yang perlu di tha-ngi-si." Mengejek diri di akhir kalimatnya lalu melengos, padahal matanya sudah berkaca-kaca sedari tadi menahan air mata.
Hening
Sejujurnya Vera tidak tau bagaimana mencurahkan perasaannya sekarang. Batinnya sedang berkecamuk. Di satu sisi dia tidak mau orang di depannya tau bahwa dia sedang terluka karena jatuh cinta. Tapi disisi lain dia sudah tidak tahan lagi menahan rapuh dihatinya. Lelah.
Dan akhirnya
"Boleh aku pinjam punggung mu sebentar?" Tanpa menunggu jawaban Vera langsung mendorong bahu Arya agar membelakangi pandangannya, menjatuhkan lengan di punggungnya lalu dengan segera ia membenamkan wajahnya di sana. Dia alirkan air matanya itu dengan isak.
Sementara Arya hanya diam menatap suram ke arah pohon, saat merasai air mata gadis itu membasahi punggungnya.
Rupanya melepaskan seseorang yang di dambakan rasanya seperti ini ya. Walau berkorban segalanya juga tak bisa mengkhianati isi hati yang sebenarnya. Aku tak mampu mengendalikan diri untuk tidak menangis di hadapannya. Aku benar-benar terluka.
Tiba-tiba
"Kenapa kau berbalik?" Vera buru-buru menyapu air mata dengan tangannya.
Arya diam tidak menjawab, tangannya menjangkau kepala Vera agar bersandar di dadanya.
"Menangislah sepuas mu, tidak akan ku biarkan orang lain melihatnya" Arya bicara lembut
Tangisan terdengar makin lama makin lirih, sayup-sayup terdengar isak tersedu sedan. Saat Vera sudah membenamkan wajahnya di dada Arya
Akhirnya moment yang paling aku tunggu-tunggu datang juga. Karena kau sudah mendekap ku. Maka, mulai saat ini kau takkan pernah ku lepaskan selamanya.
Sambil mendekap erat tubuh Vera Arya bicara dalam hatinya.
Beberapa menit berlalu
__ADS_1
"Apa benar saat merelakan seseorang rasanya sesakit ini ya?" Tanya Vera sambil sesenggukan. Hhhh Arya menghela nafas tangannya mengelus rambut Vera dengan lembut. Menguatkan.
"Mungkin kau terlalu berharap, tapi mau bagaimana lagi, berharap di cintai bukanlah suatu hal yang memalukan."
"Jika ini memang cinta aku tidak mau menginginkannya? Ambilah dari ku, ku mohon."
"Jika aku mau meraih nya dari mu, apa kau memberikannya pada ku dengan tulus?"
''Apa?" Tangis Vera langsung berhenti wajahnya mendongak
"Aku menginginkan cinta mu." Arya tersenyum tulus "Kau mau memberikannya pada ku?"
"Jangankan memberikannya pada mu, cara membuangnya saja aku tidak tau"
"Perlahan"
Hah!
"Dengan perlahan aku mengambilnya darimu"
"Kalau begitu coba kau lakukan sekarang" Vera mengulurkan tangannya
Gadis ini apakah dia benar-benar tidak tahu arti dari perkataan ku atau hanya berpura-pura? Aku mau mengetahuinya
Tiba-tiba
Cup! Arya mengecup kening Vera
"Gila ya!" Vera langsung mendorong dada Arya lalu mundur ke belakang "Kenapa kau mencium kening ku?" Marah
"Karena dengan cara begitu aku bisa mendapatkan cinta mu." Arya tersenyum sementara si Vera kebingungan
"Sialan!" Wajah malu di bawa mundur tiga langkah "Berhentilah kau mengucapkan kata yang menjijikan itu."
Tak ! Arya menyentil kening Vera gemas
"A ! sakit !" Vera mengusapnya
"Ternyata kau benar-benar bodoh tentang hal itu ya ?"
"Hal apanya?" Bingung lagi
"Hal yang tidak boleh orang lain mengetahuinya." Arti sebenarnya adalah kau tidak tau bagaimana cara mencintai
"Hah?"
"Sudahlah kita tidak boleh membahasnya lagi"
"Kau itu benar-benar ya, gak ada baik-baiknya banget sama perempuan"
"Hahaha" Arya tertawa renyah
"Kenapa tertawa?"
'Kau sekarang sudah bisa adu mulut. Ini baru namanya kucing liar yang ku kenal. Tadi kau seperti orang kehilangan roh."
'"Hahaha" Tertawa " Enak saja! Kau sendiri bagaimana? Selalu keluyuran dan minum kopi sendirian. Apa kau tidak merasa kesepian?"
"Hanya orang frustasi yang bisa kesepian." Arya menyeringai
"Bicara mu jangan menyindir. Sekarang aku sudah sadar." Vera sewot
"Bagus" Arya tersenyum
Dulu kami selalu bertengkar dan saling menyakiti. Jika bisa saling mengobrol sebanyak ini. Alangkah baiknya.
Sambil menatap Arya tajam Vera bicara dalam hatinya
"Ada apa?" Arya bertanya setelah sadar di perhatikan
"Eh, tidak. " Vera salah tingkah "Aku merasa suana malam ini bagus. Rasanya nyaman"
"Hmmm" Arya menghirup udara "Cuaca seperti ini rasanya mau makan eskrim"
"Cuaca dingin begini kau mau makan eskrim? Hahaha." Vera tertawa "Dulu waktu kecil kau juga menantang ku bermain layangan saat hujan. Kau ini orangnya sungguh aneh."
"Aku tidak begitu."
"Hahaha." Vera tertawa lagi
"Sudahlah, mari kita pulang." Arya bicara lembut lagi
"Ya ya ya."
"Kau sanggup berjalan kan sekarang."
"Sanggup. Dan terima kasih karena kau sudah meredakan sakit ku." Vera bicara dengan nada tulus
"Bagus, takutnya kau merengek pada ku supaya menggendong mu." Arya mengejek
"Enak saja, mana ada aku merengek pada bocah seperti mu"
"Siapa yang kau sebut bocah." Arya menetap Vera dingin
"Eh! Tidak, tidak. Hehe" Vera nyengir "Aku hanya becanda." Menggaruk kepala tanpa sadar membuat Arya melengos gemas
"Sudahlah jangan di teruskan. Mari kita jalan."
"Mmm" Vera mengangguk lalu tersenyum
Syukurlah di malam yang sakit seperti ini aku tidak sendirian. Terus memikirkan hal yang menyedihkan. Walaupun yang datang itu si bocah gila ini. Tapi perasaan ini berbeda dengan sebelumnya.
Setelah beberapa langkah Arya berbalik
"Kenapa kau masih tertinggal di situ. Cepatlah kemari."
"Ya ya ya." Vera berlari menyusul "Kau ini ya, orangnya sungguh tidak sabaran."
"Jangan cerewet." Arya protes
"Hai Ve" Linda menyapa dari kejauhan dan terlihat duduk di kursinya berduaan dengan Roni
'Hai juga." Jawab Vera sambil berjalan
"Aku mencari mu dari tadi, ternyata kau lagi asik berduaan dengan calon suami mu."
Degh
Wajah malu di bawa lari beberapa langkah lalu secepat kilat Vera ikut nimbrung, menjatuhkan wajahnya di meja yang sama dengan Linda karena salah tingkah.
Sementara Arya menduduki kursi di meja yang sama dengan Aliya. Ikut mengobrol bersama calon keluarga.
"Heh, bisa tidak? Kau jangan bilang begitu di depan orangnya. Aku kan malu jadinya."
"Cieee, akhirnya teman ku yang satu ini, sebentar lagi mau menikah juga." Roni bicara sambil mengusap kepala Vera. "Selamat ya."
"Heh!" Vera menyenggol Roni. "Yang barusan mengadakan acara lamaran itu kan si Fani. Kenapa kalian menyeret ku?"
"Bodoh!" Linda yang panasan. " Yang mau segera mau menikah itu kan kamu. Bukan si Fani. Dia baru akan menikah setelah kau menikah. Dasar!"
"Ah, benar juga ya. Hehe...." Vera nyengir kuda. "Eh, omong-omong kapan kalian mau menikah?"
"Entahlah, usia ku masih muda. Aku belum siap menikah." Linda yang menjawab.
"Tapi, jika kita sudah benar-benar di jodohkan. Aku siap kok, menikahi kamu secepatnya." Jawab Roni lalu tersenyum, membuat Linda membeku di tempatnya duduk. Wajahnya tersipu malu-malu.
"Heh, ekspresi apa itu. Kenapa kau menutup wajah dengan tangan mu begitu. Menjijikan sekali." Vera merinding sendiri melihat reaksi Linda.
"Hng!" Linda menebas belakang kepala Vera "Kurang ajar"
"Hehe.." Vera nyengir lagi sambil mengusap kepalanya.
Dan tidak terasa sesi perkenalan pun telah usai, pembawa acara langsung menutup acara lamaran dengan pembacaan doa supaya rencana pernikahan dapat berjalan dengan lancar. Acara pun dilanjutkan dengan sesi foto-foto bersama. Setelah itu, pihak keluarga Fani mempersilahkan seluruh tamu dan anggota keluarga yang hadir untuk menyantap hidangan makan malam yang telah disediakan.
Dan selepas makan malam bersama, pihak dari keluarga Fani memberikan balasan seserahan kepada keluarga Arian. Balasan seserahan yang berisi makanan dan kebutuhan sehari-hari. Dan prosesi lamaran pun selesai dilakukan. Setelahnya semua rombongan keluarga pun kembali pulang ke rumahnya masing-masing.
__ADS_1