Mengejar Cinta Vera

Mengejar Cinta Vera
Kalah telak


__ADS_3

Kejadian sebelumnya, saat Arya dan Vera sedang menikmati pop mie instant nya masing-masing. Ada seorang perempuan yang baru saja muncul dari lorong rumah di lantai bawah.


"Siang tante."


"Siang, eh ada Linda. Apa kabar?" Aliya tersenyum saat melihat Linda berjalan ke arahnya. Dia di hantar Bik Minah barusan.


"Baik tante.'' Linda mencium tangan Aliya lalu duduk di sebelahnya.


"Syukurlah, Ayah dan ibu mu juga sehat kan ?"


"Tentu, mereka sangat baik kok. Hanya jarang ada di sih rumah tante. Karena bosan lebih baik aku main saja kesini. Sekalian menjenguk Vera."


Disela-sela percakapan, ada seseorang yang berdiri sambil mengetik pesan dibalik ruang keluarga. Entah apa yang di ketiknya, tangannya terlihat cekatan. Saat pesan terkirim ia langsung menghilang dari tempat itu.


"Hemm, pasti Ayah dan Ibu mu sibuk bekerja. Makanya jarang ada di rumah. Padahal kamu anak perempuan satu-satunya. Dan setelah Kakak mu menikah, mereka pindah ke luar negri." Aliya membelai rambut Linda dengan hangat, menguatkan. "Yang sabar ya sayang. Kalau sudah waktunya. Tante yakin, pasti sebentar lagi kedua orang tua mu lebih mementingkan kamu di atas segalanya. Mereka sedang berusaha keras demi membuat mu bahagia sekarang, bahkan di masa depan. Maka dari itu, jangan sekali-kali kamu beranggapan mereka tidak sayang pada mu. Karena tante pernah mengalami di posisi itu. Bahkan tante nyaris tidak pernah bertemu pandang dengan anak-anak tante. Kamu paham kan maksud tante."


Linda tersenyum sambil mengangguk.


Ya Tuhan, entah kenapa setiap aku mendengar tutur kata tante yang terucap, aku merasa damai, semua kepedihan ku terhapuskan. Seandainya setiap aku bertemu ibu dengan sikap perhatiannya yang seperti ini. Alangkah baiknya. Kini aku paham kenapa gadis itu menyangkalnya saat aku bilang kesepian. Dan ini alasannya, dia memiliki seorang ibu yang sempurna di mata ku. Membuat ku ingin bersandar dalam pelukannya, mencurahkan semua keluh kesah ku padanya. Ya Tuhan rasanya aku ingin menangis.


Begitu keinginan Linda dalam hati, meski ingin menangis tapi ia sanggup menepisnya dengan senyuman.


"Iya tante, terimakasih."


"Kalau kamu merasa bosan, sering-seringlah datang kesini. Tante juga tidak keberatan kok. Itu dia" Aliya menunjuk Arya dengan matanya. Saat turun dari tangga. "Biar Kak Arya yang mengantar mu ke kamar Vera ya sayang."


"Baik tante."


Wah aku tidak menyangka, ternyata Dosen itu adalah calon suaminya ya. Wajahnya terlalu sempurna ketampanannya, bibirnya seksi, tubuhnya juga atletis harum lagi. Aku nyaris tergoda.


Penampilannya juga berbeda dengan saat di kampus, ini terlihat lebih berwibawa, padahal dia hanya memakai kaos biasa dan celana cargo di atas lutut.


Pantas jika si Adit bodoh itu patah hati. Dia kalah telak bersaing dengannya hehemm. Kau carilah gadis yang lain Adit. Itu lebih baik, daripada hati mu dibuat babak belur, mental mu juga rusak nantinya.


Alih-alih si Linda tenggelam dalam dunianya si Arya sudah datang menyapa


"Siang."


"Siang Kak"


"Siapa nama mu?" Arya beratnya dengan suara dingin yang ala gayanya. Lalu duduk di sofa.


"Nama ku Linda Kak, senior Vera di kampus."


"Oh, jadi kamu senior Vera ya." Aliya menimpali "Kok, tante baru tau."


"Mungkin Vera belum tau siapa dia sebenarnya Mah." Arya yang menjawab


"Ya mungkin bisa di bilang begitu. Karena kami baru dekat juga sih tante." Bohong kamu Lin, padahal sudah tau duluan siapa gadis itu sebenarnya. Apalagi setelah tau dia sudah memiliki calon suami, hati ku semakin bersalah. Hhh, seandainya si Fani bilang pada ku lebih awal. Mungkin hubungan ku dengan Vera tidak seburuk waktu itu. Dasar! Aku kalau sudah cemburu memang buta.


"Oh, begitu ya."


"Ya sudah, saya mau bertemu dengan Vera dulu ya tante, boleh kan?"


"Tentu saja boleh, Arya tolong kamu antarkan Linda ke kamar Vera."


"Baik Mah" Arya berdiri dari duduk "Kau ikuti aku sekarang."


"Baik Kak."


Arya menuntun berjalan di depan sementara Linda mengikuti dari belakang, menaiki tangga menuju lantai atas dan sampailah di kamar Vera.


"Masuklah, ini kamarnya."


"Baik, terimakasih."


"Hemm," Kata Arya singkat lalu berjalan memasuki kamarnya.


Hah? Bahkan kamar mereka saling berhadapan. Benar-benar ya, bikin orang iri melihatnya.


Linda mengetuk pintu, setelah mendapat sahutan dia masuk kedalam. Di sambut dengan ruangan yang harum. Gadis yang di temui hanya duduk melongo saat melihatnya datang.


Sumpah ini pertama kalinya Mama dan penjahat gila itu mengizinkan teman ku masuk ke kamar. Ada apa ini? Jika teman ku datang tanpa di undang, biasanya aku yang harus turun kebawah. Lalu menyuruhnya pulang dengan sopan. Setelahnya aku di ceramahi tiada henti. Ini benar-benar mengejutkan.


"Ada urusan apa kau datang kesini?" Melihat Linda sudah meletakkan tas di meja samping tempat tidur, Vera bertanya.


"Mendengar kabar mu sakit, aku sengaja datang menjenguk mu. Bagaimana, aku teman yang baik hatinya kan orangnya?" Suara Linda terdengar bangga saat menyampaikannya. Dia ingin mendapat pujian.


Vera mengerutkan keningnya


"Terserah deh." Ucapnya dengan suara malas lalu berbaring miring kanan, melihat ke arah Linda.


"Eh, tadi kau dicari orang loh di kampus."


"Siapa yang mencari ku?"


"Fani dan si Adit bodoh itu." Linda ikut berbaring, menatap langit kamar.


"Adit! Heh, gila. Kenapa dia mencari ku?"

__ADS_1


"Entahlah, mungkin dia kangen. Jika bukan karena khawatir, aku mana mungkin datang kesini. Gak melihat batang hidung mu sehari di kampus, rasanya aku kesepian."


"Berhenti mengucapkan kalimat yang menjijikan itu. Aku gak terbiasa, apalagi yang ngomongnya perempuan kayak kamu. Badan ku tambah merinding rasanya. Dan jangan terlalu dekat." Mendorong lengan Linda dengan tangan."Nanti kau ketularan sakitnya."


"Ish dasar!" Linda bergeser sedikit. "Sebagai calon adik sepupu, seharusnya kau sopan pada ku."


"Adik sepupu!" Si Vera mengerutkan kening, ''Adik sepupu dari mananya?" Bingung


"Dari ibu mu. Jangan pura-pura bodoh kau ya."


"Hah? Sumpah ya. Aku gak lagi berpura-pura."


"Masa, kau orang satu rumah tidak tau." Vera menggeleng "Si Fani bilang pada ku, kalau kau calon Kakak Iparnya. Apa kau juga belum tau tentang itu?"


"Hah? Apa kau bilang, Fani calon tunangan Kakak ku?" Wajah Vera langsung murung seirama dengan jantungnya yang berdenyut-denyut.


"Mmm, tapi kenapa wajah mu termenung begitu. Lagi memikirkan apa?"


"Ah tidak, aku baru tau, ternyata calon tunangan Kakak ku orangnya sangat cantik. Sikapnya selembut hatinya. Feminim lagi." Aku kalah telak. Kak Arian pasti lebih memilihnya di banding aku. Hhh, sepertinya rencana ku sia-sia. Pada akhirnya aku hanya bisa menyerah pada takdir ku. Vera berpikir dengan jernih.


"Ya, kau benar Ve, selain baik hati, dia sangat penurut orangnya dan tidak suka membantah. Makanya dia selalu di kelilingi banyak orang yang menyayanginya. Orangnya juga sopan kok. Jadi, alangkah beruntungnya, kamu memiliki calon adik ipar yang seperti itu."


"Tunggu, kenapa kau selalu bilang dia calon adik ipar ku? Seharusnya dia calon Kakak ipar ku, itu baru benar."


"Heh, kau bodoh atau apa? Sebentar lagi, kau kan mau menikah juga dengan Dosen itu. Makanya, kau yang jadi Kakak iparnya disini. Paham tidak?"


"Ah, benar juga ya." Vera kikuk "Eh, tapi darimana kau tau? Kelak, aku akan menikah dengan penjahat gila itu."


"Si imut Fani yang memberitahu ku. Oya, kau tahu tidak. Selama ini, dia banyak berkorban demi menikah dengan Kakak mu lho."


"Hah! Masa sih."


"Hemm. Kau tau, saking mau menikahnya dengan Kakak mu. Dia rela meninggalkan semua cita-citanya di masa depan. Termasuk berhenti dari kuliahnya, agar bisa melayani kebutuhan hidup Kakak mu selama ada di rumah. Seperti peran istri pada umumnya."


"Wah, gila! Sepertinya dia cinta mati pada Kakak ku ya. Pantas, jika dia selalu mendekat pada ku. Hhh, dasar! Masih muda kok cara berpikirnya sudah berani sejah itu. Kenapa tidak menunggu sampai lulus kuliah saja. Baru dia menikah. Aku kesal jadinya."


"Itu dia masalahnya. Aku juga tidak tau. Kenapa dia buru-buru ingin menikah? Aku juga sampai kesal di buatnya. Bisa jadi, dia takut kalau Kakak mu keburu di ambil orang lain mungkin."


Degh, mata Vera terbelalak setelah mendengar kalimat yang sama persis di berikannya pada Arian. Hatinya kembali berdenyut, seolah berbalik menamparnya.


Ya Tuhan, ternyata seperti ini ya, yang di rasakan Kakak pada saat itu. Rasanya aku tercekik saat tau jika orang yang kita sayangi, sebentar lagi dimiliki orang lain. Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana perasaan Kakak saat menahan perihnya sendri. Aku jadi merasa bersalah. Karena selalu memaksa Kakak mengakui cintanya.


"Hei!" Linda mengibaskan tangannya di depan wajah Vera.


Eh! Tersadar


"Kenapa bengong?"


"Maaf, ini mau di simpan dimana ya Non?" Bik Minah bertanya.


"Di meja saja ya Bik."


"Baik Non." Bik Minah langsung menyimpan nampan dimeja sudut ruang, samping sofa bed minimalis. Yang berdekatan dengan jendela kaca mati. Ada hamparan karpet bulu berwarna abu muda di bawahnya. Tempat biasa diduduki gadis itu saat bernyanyi sambil bermain gitar. "Sudah Bibi simpan di meja ya Non."


"Baik, makasih ya Bik."


"Sama-sama Non, kalau begitu, Bibi mau permisi dulu ya Non. Selamat siang"


"Siang Bik, silahkan."


Bik Minah langsung berjalan keluar kamar lalu menutup pintunya.


"Minumlah, kau pasti haus kan."Vera turun dari kasur "Mari kita duduk disana dan nikmati kue nya bersama."


"Mmm,"Linda mengangguk mengikuti langkah Vera lalu duduk di karpet berdampingan. Meraih segelas minumannya dan meneguknya perlahan. "Ah, segarnya."


"Hemm,"Vera tersenyum "Ayo, kau nikmati kue nya juga. Ini Mama ku sendiri lho yang membuatnya. Lezat sekali lagi rasanya." Menyodorkan sepiring kue.


"Sungguh?" Vera mengangguk "Aku jadi penasaran dengan rasanya. Apa benar selezat itu ya?" Linda meraih sendoknya, mencicipi kuenya sedikit. Matanya berbinar senang setelah tahu dengan rasanya yang begitu lumer di mulut. "Ini sih lezatnya keterlaluan." Langsung menyambar piringnya di tangan Vera "Aku sampai ketagihan, mau memakannya lagi dan lagi. Wah, benar-benar ya. Selain pintar membuat hati orang nyaman, Mama mu pandai membuat kue juga ya ternyata. Aku jadi iri."


"Ya begitulah, Mama ku memang pandai dalam segala hal. Termasuk mengatur masa depan ku. Aku benar-benar menyayanginya."


"Bagaimana dengan calon suami mu? Kau sayang padanya juga kan."


"Entahlah, sesungguhnya aku belum tau bagaimana perasaan ku padanya. Karena rasa sayang ku sudah terlanjur di berikan pada orang lain."


"Hah? Kau gila ya?"


"Ya, aku tau ini gila. Namun anehnya, meski aku tau aku menyayangi orang lain, tapi entah kenapa setiap aku berada di dekatnya. Aku merasa terlindungi dan sulit mengabaikannya. Bahkan, aku selalu marah jika dia mengabaikan ku."


"Bodoh! Itu artinya hati mu sudah terikat padanya."


"Terikat padanya?" Degh, mata Vera terbelalak "Ah, tidak, tidak. Mana mungkin, aku membencinya itu baru benar."


"Hhh, kau ini memang dasar ya. Mulut dan reaksi mu selalu berbeda. Tapi sekarang aku paham, kenapa si Dosen dan si Adit bodoh itu, menyukai pesona wajah mu yang satu ini. Lucu sekali ya, rasanya aku gemas mau mencubit pipi mu." Dan benar Linda sudah mencubitnya sekarang si Vera sampai meringis kesakitan."Oya, aku hampir melupakan sesuatu."


Entah kenapa Linda bangun dari duduk berjalan mengambil hp dalam tas nya. Sementara Vera meraih gitar di pojokan, dia mainkan senarnya sambil bernyanyi.


Meski mataku menatap mu, kau tidak dapat melihat ku. Meski mulut ku bisa memanggil mu, kau tidak mendengar ku.

__ADS_1


Meski hati ku mengharapkan mu, kau tidak bisa merasakannya. Meski seluruh diri ku mencari mu. Kau tidak ada.


Aku tidak pernah belajar mencintai namun mengapa perasaan ini datang pada ku? Aku tidak sanggup, ini terlalu menyakitkan. Karena aku tidak bisa lebih dekat padamu.


Aku menginginkan mu, berharap untuk mu namun aku tidak dapat memiliki mu. Aku mencoba mengubah cinta menjadi perpisahan namun hati ku...


Begitulah kira-kira ia bernyanyi. Entah siapa lagu itu di tujukan. Tapi ia nyaris meneteskan air mata karena terlalu menghayati.


"Eh, apa yang kau lakukan?" Vera tersadar setelah dirinya di rekam kamera hp di depannya.


"Aku merekam mu bernyanyi barusan. Dan sudah ku kirimkan pada orang yang mau tau tentang keadaan mu sekarang."


"Siapa?"


"Si Fani, Adit dan Si Roni pangeran ku hehe.." Linda nyengir.


"Hah, gila! Kau jangan macam-macam ya. Berikan hp nya pada ku. Aku mau menghapusnya."


"Enak saja." Buru-buru Linda menjauhkan hp nya dari jangkauan tangan Vera "Aku susah payah merekamnya, ini kau malah mau menghapusnya. Dasar! Lagipula, gak ada ruginya kan, kalau kau berbagi kabar pada orang yang khawtirkan mu."


"Tapi masalahnya kau merekam saat aku bernyanyi. Bisa kan kau mengirim pesan yang lain. Hanya foto nya saja misalnya."


"Tidak bisa, itu kurang akurat. Ahaha, aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi mereka, saat melihat jidat mu di tempeli salonpas sana sini. Aku sudah tidak sabar menuggu tanggapannya."


Wajah Vera langsung bersemu merah, menahan malu.


"Heh, rekasi apa itu?" Linda melempar wajah Vera dengan bantal sofa."Berhenti membuat ekspresi yang menggemaskan itu. Kalau kau tidak mau, pipi mu ku cubit lagi."


"Hehee...." Vera cuma nyengir dan malah membuat ekspresi yang semakin lucu menggemaskan.


"Cih, dasar!" Linda menggeleng


"Eh, omong-omong bagaimana perkembangan hubungan mu dengan Kak Roni? Kau sudah menjalani semua yang ku katakan pada tempo hari kan."


"Mmm, eh tau tidak, aku kemarin jalan-jalan berdua lho sama dia."


"Wah" Mata Vera berbinar senang."Jalan-jalan kemana?"


"Ke pantai."


"Oh, pantas. Kemarin si Bos langsung pulang setelah menerima telepon. Ternyata kamu ya, orang yang membuat menutup kafe."


"Hehee" Linda nyengir kuda


"Tapi bagaimana ceritanya, sampai kau berhasil mengajaknya jalan-jalan."


"Rahasia dong, nanti kalau sudah waktunya aku ceritakan. Kali ini kau belum cukup umur untuk memahami semuanya."


"Cih, pelit banget sih kamu."


Linda tersenyum


"Intinya, yang kami lakukan berdua adalah saling melepas rindu sambil melihat senja. Romantis sekali rasanya."


"Melepas rindu!"


"Hemm" Linda mengangguk


Kira-kira apa yang sudah mereka lakukan ya. Berjalan sambil bergandengan tangan. Atau saling mengecup bibir dan keningnya. Gila, gila gila. Apa yang kau pikirkan Ve, kau belum cukup umur, membayangkan cerita romantisnya. Ada-ada saja kau ini.


Alih-alih pikiran si Vera berkeliaran kemana-mana. Linda melihat jam yang menempel di dinding.


"Ini sudah saatnya aku pulang."


"Pulang, kenapa secepat itu?"


"Ada beberapa tugas yang ku selesaikan di rumah." Linda meraih tasnya lalu berdiri dari duduk "Terima kasih atas jamuannya."


"Sama-sama." Vera tersenyum


"Kau tidak perlu mengantar ku, istirahatlah yang banyak. Dan semoga sakit mu cepat pulih ya sayang. Sekarang aku pamit mau pulang. Selamat tinggal, dan sampai jumpa besok lagi."


"Mmm" Vera tersenyum.


***


Sementara itu di waktu yang bersamaan, Adit terlihat duduk di kafe sambil menikmati secangkir kopi ditangannya. Bibirnya tersenyum setelah membaca pesan masuk. Terhibur dengan apa yang sudah lihatnya.


Dia lucu sekali


Tapi berbeda lagi dengan gadis yang satu ini. Mendengar Vera izin tidak masuk kerja hari ini. Di tambah lagi setelah tau dengan alasannya. Dia semakin merasa bersalah.


Seandainya aku tidak memaksanya tidur siang dan makan malam di rumah ku. Mungkin dia tidak akan sakit. Maafkan aku Ve, aku benar-benar minta maaf.


Begitu pikir Nina, melayang kemana-mana. Tanpa sadar ia menyenggol lengan Adit yang baru saja melangkah meninggalkan mejanya. Awalnya Adit terlihat marah dan nyaris memarahinya, tapi setelah melihat wajah Nina sudah ketakutan duluan. Amarahnya langsung meredup. Hanya matanya yang menatap dengan tajam.


Imutnya. Rasanya aku mau memainkannya. Gila! Apa yang ku pikirkan. Bisa-bisanya aku terpukau saat menatap wajahnya barusan.


Adit geleng-geleng, menepis bayangannya yang satu itu jauh-jauh. Lalu berjalan keluar meninggalkan kafe tanpa bicara sepatah kata.

__ADS_1


Sementara Nina menghela nafas dalam.


Hhh, menegangkan. Kupikir dia mau memarahi ku, seperti teman perempuannya yang menghina waktu itu. Eh, tapi.... Saat aku melihatnya berbalik, kenapa telinganya memerah ya dan samar-samar aku melihat senyum di bibirnya. Ada-ada saja.


__ADS_2