
Setelah selesai mengahadapi pelajaran tambahan. Akhirnya Vera masuk ke kamar meletakkan bukunya di meja, berdekatan dengan laptopnya yang berwarna silver.
Alih-alih setelah melihat laptopnya, dia teringat kembali dengan untaian kata yang tertulis dalam benda milik Arya. Apalagi saat teringat dengan kalimat terakhirnya.
Tidak peduli sudah berapa lama aku memikirkannya. Ini tidak mudah di percaya. Ternyata sudah lama aku men... nya.
"Apakah mungkin aku mencintainya, aku mendambakannya cih ! Aku geli sendiri membayangkannya. Ataukah aku membencinya. Kalimat mana ya, yang cocok kira-kira ?"
Vera sudah berbaring di kasur, meraih guling dan memeluknya. Sambil melihat atap kamar kepala nya masih di penuhi dengan tanda tanya.
Meski sudah beberapa menit berguling-guling di kasurnya, namun tak ada satupun jawaban yang memenuhi rasa penasarannya. Jadinya frustasi sendiri.
"Sialan ! Kenapa dia menghilangkan beberapa huruf di tengah-tengah kalimatnya. Jadinya jantung ku berdebar-debar begini. Dasar gila ! Sadar Ve sadar. Dari dulu dia cuma anggap aku mainan seperti bonekanya. Itu sudah pasti."
Vera berguling lagi matanya masih menatap langit kamar.
Omong-omong soal boneka. Aku jadi teringat dengan masa lalu ku. Saat itu aku berumur tujuh tahun dan dia.... Entahlah mungkin dua belas tahun. Dia selalu menjahili ku dan kami tidak pernah melewati hari tanpa ribut. Terkadang dia membuat ku tertawa lalu dalam sekejap dia membuat ku menangis. Aku sampai bingung maunya dia apa. Setiap aku bertanya, dia cuma bilang aku hanya mainan bonekanya.
Tapi satu hal yang membuat ku tidak pernah lupa sampai sekarang. Pernah suatu hari dia mencium kening ku saat aku sedang sakit. Menyuapi aku makan, memberi ku minum obat. Bisa di bilang dia yang merawat ku. Sebagaimana layaknya Kakak yang menyayangi adiknya.
Namun setelah sakit ku pulih kembali. Sikapnya langsung berubah 180 derajat. Entah apa tujuannya, dia selalu menantang ku bermain layang-layang. Huh, kalau ingat kejadian itu, rasanya aku mau menendangnya. Dan satu hal lagi yang tidak bisa ku pahami. Kenapa dia memanggil ku kucing liar sekarang. Bukankah dulu dia selalu bilang aku bonekanya yang bisa dia mainkan dengan sesuka hatinya.
"Hhh sudahlah, jika di pikirkan memang bikin orang sakit hati. Lebih baik aku tidur sekarang."
Meraih selimut lalu menariknya sampai ujung bahu. Beberapa detik kemudian Vera tertidur lelap dalam mimpinya.
***
Di kampus
Tidak terasa pagi sudah beranjak siang. Vera sudah terlihat berjalan gontai di koridor kampus menuju kelasnya. Tapi ada sesuatu yang terjadi saat ini. Yang membuatnya bingung sekaligus merinding. Apalagi saat melihat orangnya senyum-senyum. Menandakan kesenangan karena yang di tunggu-tunggu sudah datang.
"Ada apa ?" Vera bertanya. Linda terlihat bangkit dari duduk saat Vera sudah berdiri di dekatnya.
"Aku menunggu disini dari setengah jam yang lalu. Kenapa kau baru datang ?"
"Menunggu ku ?" Vera menunjuk dirinya. Si Linda menganggukkan kepala.
"Ikutlah ke kantin dengan ku. Kau belum makan kan ? Kita makan bersama."
Huh ! Vera mengerutkan keningnya
"Kau sudah makan obat apa hari ini. Kenapa jadi sok akrab begitu ?" Reaksi Linda hanya nyengir setelah Vera bertanya "Berhenti mengucapkan kata bersama. Kita tidak sedekat itu kan.''
"Tapi sejak malam itu. Kau sudah aku anggap mu sebagai teman ku." Menjawab seenaknya dengan nada normal. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Gak tau diri juga nih orang. Padahal penghinaan yang berikannya masih melekat dalam pikiran ku. Dan anehnya aku tidak bisa membencinya. Hhh, kenapa ini terjadi pada ku.
"Bagaimana kalau aku keberatan ?" Vera bertanya lagi
"Aku tidak peduli. Dan sekarang, karena kau sudah menjadi teman ku. Mari kita bermain bersama mencari kesenangan."
"Tapi ini bukan waktunya bermain. Aku mau masuk ke kelas ku. Maaf."
"Masih ada waktu 29 menit." Vera melihat jam di tangannya. Dan benar waktu yang tersisa cukup lama
"Tapi..." Tidak tahu kenapa Vera masih ragu. Keraguan yang tidak dapat di sampaikan dengan kata-kata.
" Jangan mencari alasan lain. Kau ikut dengan ku sekarang." Linda meraih tangan Vera agar mengikuti langkahnya.
__ADS_1
"Hei ! Kau mau bawa aku kemana ? Jangan menarik tangan ku !" Meski meronta tapi ujung-ujungnya Vera menurut juga. Reaksi yang sama seperti pada kedua Kakaknya saat memaksa kemauannya. Tapi entahlah, mungkin karena Linda seniornya. Mau tidak mau dia terpaksa menurutinya.
Alih-alih gadis itu di seret menuju kantin. Ada seseorang bersandar di balik pilar penyangga. Yang sedari tadi diam-diam memasang telinganya sambil bermain hp. Entah apa yang sudah di dengarnya. Dia terlihat tersenyum setelah kedua gadis itu menjauh dari jangkauannya.
Di Kantin
Linda memilih tempat duduk yang biasa di tempatinya setiap hari.
"Duduklah." Vera duduk di kursinya. Bersebelahan dengan Linda." Kau mau makan apa ? Biar aku yang mentraktir mu."
"Terimakasih. Tapi aku sudah sarapan di rumah." Menolak dengan sopan namun terselip acuh menjawab. Kurang ajar.
"Kalau begitu kau pesan minuman saja. Cemilan apapun juga boleh. Temani aku makan disini." Memaksa lagi semaunya
Ini orang benar-benar keras kepala. Mau menghindar saja susah.
"Bukankah kau punya banyak teman laki-laki. Kenapa harus repot memaksa ku ?" Vera bicara ketus
"Mereka bukan teman ku. Hanya satu yang ku anggap sebagai teman. Dia sepupu ku."
"Sepupu mu ! Siapa ?" Vera penasaran
"Adit. Dan kami tumbuh bersama." Linda melambaikan tangan pada Pelayan. Dan Pelayan itu terlihat bergegas mendekat kearahnya.
"Apa benar dulu kalian pernah sekolah di tempat yang sama dengannya ? Aku hanya mau memastikan." Arti yang sesungguhnya adalah dia menyeret nama Roni. Laki-laki yang katanya sudah dicintai Linda sejak dulu.
"Benar" Linda menganggukkan kepala "Banyak kenangan indah yang terjadi di antara kita. Tapi saat aku mulai bergantung padanya. Dia tiba-tiba menghilang." Suaranya terdengar kecewa saat menyampaikannya. Membuat Vera bingung mau menanggapinya bagaimana. Sejujurnya dia tidak mau ikut campur dengan masalah mereka berdua. Tapi karena namanya ikut terseret. Akibatnya mau tidak mau dia harus menemukan jalan keluarnya.
"Maaf. Anda mau pesan apa Kakak ?" Akhirnya suasana teralihkan setelah seorang Pelayan bertanya.
"Menu makan ku seperti biasa. Tapi minumannya air putih saja ya." Linda yang menjawab dengan nada ramah. Bukan sok angkuh seperti waktu memesan minuman di kafe tempat Vera bekerja. "Dan kau mau pesan apa ?'' Beralih menanyai Vera
"Baik, mohon di tunggu sebentar ya Kak." Setelah bicara si Pelayan langsung berjalan kembali, melakukan tugasnya dengan sebaik mungkin.
"Apa kau sudah tau alasannya kenapa dia tiba-tiba menghilang tanpa pamit ?" Kembali pada topik saat pelayan sudah jauh.
"Sebelumnya aku benar-benar tidak tau. Bahkan setelah kembali dia tidak mengabari ku. Malah menjaga jarak seolah kita belum pernah bertemu. Akhirnya aku memberanikan diri menjadi orang yang berbeda. Tapi ternyata perubahan ku malah membuatnya semakin menjauh. Jujur, aku frustasi saat aku melihat dia begitu dekat dengan mu. Jadi nya sikap ku berlebihan karena kau merenggut milik ku. Tapi saat aku tau kau tidak menaruh hati padanya, hati ku jadi lega. Dan terimakasih karena kejujuran mu membuat ku hidup kembali."
"Lalu apa rencana mu sekarang ? Apa kau mau tetap seperti ini. Berpura-pura kuat sementara hati mu merindukan pelukannya."
"Meski aku sudah tau keinginannya. Tapi aku belum bisa berdamai sepenuhnya dengan diri ku yang sebelumnya. Aku memerlukan banyak waktu menyingkirkan semua perilaku keburukan ku."
"Bukankah kau sendiri yang bilang. Tidak ada manusia sempurna di dunia. Baik dan buruk semua orang memilikinya. Jadi jangan memaksakan diri menjadi malaikat. Dia tidak mengharapkan itu dari mu. Hanya sebuah perubahan yang berguna untuk dirimu sendiri. Bukan orang lain."
"Jadi aku harus bagaimana ? Dia tidak suka dengan karakter ku yang berbeda. Kau tau ? beberapa hari ini aku telah memikirkan banyak hal. Namun hasilnya ini di luar dugaan."
"Kuncinya kau jangan terpengaruh pada obsesi mu. Biarkan semua yang kau inginkan mengalir dengan sendirinya tanpa adanya paksaan. Berhasil atau tidak itu tergantung usaha mu. Karena setiap orang ditakdirkan memiliki beban masing-masing. Dan ingat kau jangan bermuka dua."
"Jadi artinya aku harus percaya pada kemampuan ku. Tanpa mengikuti gaya orang lain. Begitukah ?" Setelah Vera mengangguk. Pelayan yang tadi datang lagi. Menyapa dengan sopan lalu menghidangkan pesanan di meja." Terimakasih." Linda bicara lagi.
"Sama-sama Kak" Pelayan tersenyum lalu kembali lagi melakukan tugasnya yang lain.
"Tadinya " Sambung Linda "Aku berpikir jika aku berubah menjadi seperti mu. Seorang yang hebat dan tegar. Kemungkinan dia mau melihat ku lagi. Dan..."
"Tunggu !" Vera memotong " Jangan bilang karena itu alasannya kau memaksa ku bermain bersama ? Maksudnya kau mau berubah menjadi aku ?" Wajah Linda terlihat merah padam setelah mendengarnya. Tanpa aba-aba tangannya langsung mengetuk kepala gadis itu satu kali. " A' sakit ! Kenapa kau menjitak ku ?" Vera mengusap-usap kepalanya dengan tangan. Namun anehnya dia tidak marah sama sekali. Hanya mengerutkan keningnya menunggu jawaban.
"Bodoh ! Aku memang mau berubah menjadi seorang yang hebat dan tegar. Tapi bukan berarti aku harus menjadi orang seperti mu. Gila ya." Linda sewot "Aku lebih suka berpenampilan lebih cantik dan elegan. Bukan seperti gaya mu. Feminim saja bukan di bilang tomboi juga enggak. Iiish siapa yang mau." Tengkuk Linda merinding setelah membayangkan dirinya seperti apa nantinya.
__ADS_1
" Ya ya ya aku tau. Kalau begitu syukurlah karena kau masih berpikir dengan normal hehe.."
"Sudahlah jangan berpikir aneh lagi." Linda meraih sendoknya "Aku mau menghabiskan makanan ku dulu."
"Kalau begitu aku sudah boleh pergi kan sekarang ? Lagi pula ini sudah hampir waktunya, aku mau masuk ke kelasku lebih dulu."
"Tidak boleh !" Menjawab cepat " Tetaplah disini sampai aku selesai makan."
"Aku sudah menduganya kau benar-benar keras kepala."
"Tapi baik hatinya kan ?" Linda menimpali
"Apa ?" Vera terkejut "Gila."
"Hehe..." Linda nyengir "Eh, omong-omong apa kau langsung bekerja lagi setelah pulang kuliah ?"
"Ya, itu sudah pasti. Kenapa ? Kau mau ikut ?" Bercanda
"Enggak siapa bilang. Aku bisa celaka jika orang tua ku mengetahuinya."
"Hooo. kirain."
"Tapi jika kau tidak keberatan biar aku yang mengantar mu." Vera langsung menghadang dengan tangannya
"Tidak perlu. Sudahlah, lebih baik kau cepat habiskan makanannya."
"Mmm, oke"
Akhirnya Linda makan dengan tanpa banyak bicara lagi. Sementara Vera sedikit demi sedikit menyeruput Milk Shake Strawberry miliknya sampai habis tak bersisa.
Selang beberapa menit Linda sudah menghabiskan makanannya. Setelah Linda menyimpan uang di meja. Kedua gadis itu langsung berdiri lalu berjalan meninggalkan kantin. Menuju kelasnya masing-masing.
Mungkin Linda sudah memasuki kelasnya. Tapi berbeda dengan gadis yang satu ini. Dia terlihat menghentikan langkahnya setelah melihat sesuatu yang di bencinya di koridor. Apalagi yang sudah di lihat nya barusan adalah seorang laki-laki sedang merendahkan wanita.
Di lihat dari kejadian sepertinya wanita itu berniat baik mau memberikan satu cup minumannya. Namun apa yang terjadi, laki-laki itu malah menyiramkan minumannya pada baju wanita itu tanpa iba.
"Dasar laki-laki keparat. Uh !" Karena sudah tidak tahan Vera sontak mendorong laki-laki itu. Lalu menghajar wajahnya satu kali tanpa ampun."Kau tidak apa-apa kan ?" Setelah memukul dia malah bertanya pada wanita yang sudah duduk di lantai. Wajahnya di penuhi dengan ketakutan. Bajunya sudah di banjiri dengan minuman yang mau di berikan pada laki-laki tadi.
"Kau berani memukul ku demi membela wanita murahan ini ?" Adit bicara dengan tatapan murka "Jangan pikir kau wanita. Aku jadi tidak berani memukul mu."
"Apa ? Murahan !" Vera semakin memanas "Binatang kau. Umh !" Menghajar wajahnya lagi satu kali, sampai ujung bibir Adit mengeluarkan sedikit darah namun gadis itu tidak peduli. "Berani memukul wanita. Kau tidak pantas di sebut laki-laki. Dasar bajingan."
"Berhenti memaki ku, jika kau tidak tau siapa dia sebenarnya." Adit membela diri setelah mencerna kalimat Vera.
"Aku memang tidak tau siapa dia. Tapi setidaknya kau hargai sedikit niat baik perempuan. Jangan mempermalukannya di depan umum. Apalagi melukai harga dirinya. Kau tau itu menyakitkan."
Adit tidak tau harus menjawab apa, karena yang di katakan Vera memang ada benarnya juga. Selama ini Adit selalu menganggap wanita yang datang sendiri padanya sama saja. Sama dengan wanita murahan yang hanya datang demi menggodanya. Menghancurkan hatinya. Entahlah mungkin dia pernah jatuh cinta juga sebelumnya. Makanya dia mempunyai pikiran sempit seperti itu. Tanpa melihat-lihat dulu.
"Sudahlah aku tidak apa-apa." Wanita ini menggenggam tangan Vera "Aku mohon kalian jangan ribut lagi."
"Baiklah, sekarang berdirilah" Vera tersenyum tangan terulur membantu gadis itu sampai berdiri dari posisinya."Biarkan aku membantu mu membersihkan diri ya. Siapa nama mu ?"
"Mmm, terimakasih. Nama ku Azkadina. Kamu bisa memanggil ku Dina saja."
"Ah Dina ya. Aku Vera Nindya. Senang sekali rasanya aku bisa membantu mu. Mari kita pergi ke toilet sekarang. Dan tinggalkan binatang itu."
"Baiklah" Dina tersenyum dengan tulus lalu berjalan meninggalkan Adit tanpa sedikitpun berpaling.
"Ternyata benar dia memang kucing liar. Kucing betina yang berani menunjukan cakarnya pada ku. Menarik sekali." Setelah menyeka darah di ujung bibirnya Adit bicara di belakang gadis itu.
__ADS_1
Alih-alih Vera menjauh dari jangkauan Adit. Ada sepang mata yang sedari tadi memandang dengan tajam. Seolah mengintai dari kejauhan. Namun setelah melihat gadis itu menghajar laki-laki di depannya. Ada senyuman tipis muncul di ujung bibirnya. Mewakili perasaan amarahnya.
Bersambung.