Mengejar Cinta Vera

Mengejar Cinta Vera
Tempat kerja


__ADS_3

Di halte unversitas xxxx, ada seorang gadis sedang menunggu angkot, sebuah headset menempel di telinga. Kepalanya mangguk-mangguk, mengikuti irama alunan musik di hp nya. Vera melihat mbah google nya untuk mencari lowongan kerja dan sepertinya dia menemukanya.


Angkot yang di tunggu sudah datang, tanpa menunggu lama dia naik kedalamnya. Satu jam kemudian dia turun di lokasi yang di tuliskan mbah google, setelah angkot menghilang, Vera berjalan dengan langkah pelan, wajahnya celingukan mencari-cari.


Ada dimana ya kafe itu, seharusnya ada disini kan, tapi kenapa aku tidak melihatnya, oh itu dia akhirnya aku menemukannya.


Vera berjalan memasuki kafe dengan sumringah, menarik kursi lalu duduk di mejanya. Tidak berapa lama pelayan wanita berjalan mendekat.


"Selamat datang kak" Tersenyum ramah " Maaf Kakak mau pesan apa ?"


"Aku mau pesan kopi moccachino dan sepotong kue tiramisu saja"


Pesan yang mudah di nikmati masyarakat saja. Maklum author miskin yang belum pernah masuk ke kafe hehe


"Baik Kak, mohon di tunggu sebentar ya"


"Baik, terimakasih"


Pelayan menjawab dengan senyuman lalu dengan segera ia melakukan tugasnya menyiapkan pesanan Vera.


Sembari menungggu Vera melihat keadaan di sekitar kafe cukup ramai, tidak sedikit orang yang datang. Sepertinya kafe itu tempat nongkrong nya anak remaja.


Jika aku melamar kerja disini


apakah aku di terima. Aku baru tau,


ternyata seperti ini ya perasaan orang saat pertama kali melamar pekerjaan.


Tidak semudah yang aku pikirkan, Rasanya gugup bercampur malu menghantui ku.


Belum saja mencoba batin Vera sudah berkeliaran ke mana-mana


Tiba-tiba datang seorang lelaki datang tanpa di undang lagi, sepertinya dia baru saja muncul dari luar kafe dan dia adalah


"Vera !" Vera mendongak "Sejak kapan kau di sini ?" menarik kursi lalu duduk di depannya


Vera diam belum menjawab karena tidak percaya dengan orang yang di lihatnya itu siapa.


Dia lagi, dia lagi


Kenapa orang ini selalu datang dia saat yang tidak aku inginkan


Jujur saja ya, aku gak suka dengan laki-laki yang tampang nya sok akrab begini.


Vera menarik nafas panjang membuang kesalnya yang sudah mau meledak


"Aku baru saja datang" jawabnya ketus " kenapa kau bisa ada disini ? membuntuti ku ya ?" Kesal lagi


Roni terkekeh


"Jika aku benar membuntuti mu, kamu mau apa ?"


" Hanya satu kalimat mau aku ucapkan"


"Apa itu ?"


"Menjauhlah kau dari ku sialan !" Rasanya aku mau mencakar muka mu. Aku sedang kesal setengah mati malah kau pancing


" Hahaha" Si Roni malah tertawa


"Kenapa kau tertawa ? senang ya melihat ku marah ?"


"Iya senang, karena wajah mu imut kalau lagi marah"


"Apa ? Gila ya !"


"Hehe bercanda"


''Cih" Vera membuang muka


Roni tersenyum


"Omong-omong, amplop di pangkuan mu... itu isinya apa ? Mau melamar kerja di sini ya ?"


"Dari mana kamu tau ?" Langsung menutup amplop dengan tasnya. Wajah yang tadinya kesal pun berubah menjadi malu tak terkira.


"Karena kamu, bukanlah orang yang pertama kali membawanya ?"


"Hah ! Maksudnya ?"


"Aku sering menerimanya"


"Jadi kau selalu datang ke sini setiap hari ya ?"


"Ya, sejak kafe ini resmi di buka aku datang kesini setiap hari dan itu sudah menjadi kewajiban ku"


"Kenapa menjadi kewajiban mu ?"


"Karena kafe ini milik ku hehe"


"Begitu ya"


Suara langkah kaki terdengar, seorang pelayan wanita tadi datang lagi. Membungkuk badan pada si Roni sebelum meletakkan pesanan Vera di atas mejanya


"Ini pesanan nya kak, silahkan di nikmati"


"Baik, makasih ya" Tersenyum


"Sama-sama kak" pelayan membungkuk lagi sebelum meninggalkan meja Vera.


Aneh kenapa pelayan itu membungkuk sopan padanya


Belum sempat Vera meraih


moccachinonya tiba-tiba


"Eh tunggu dulu, tadi kau bilang apa ? kafe ini milik mu ya ?" Saking kikuknya si Vera baru tersadar maksud si Roni itu apa.


"Hem" mengangguk cepat. Dari tadi kemana saja mbak. Begitu kira-kira yang di pikirkan si Roni.


"Kamu gak bohong kan ?" masih belum percaya


"Enggak ! demi apa aku berbohong ?"


"Iya iya aku percaya" Jawab Vera dengan wajah sumringah "Kamu juga sedang membuka lowongan kan"


Awalnya aku hanya menduga ternyata benar


dia mencari pekerjaan


Tapi untuk apa dia melakukan nya.


Padahal perusahaan milik keluarganya jauh lebih baik ketimbang dengan perusaahan milik ayah ku.


"Ya, aku membutuhkan dua orang"


"Waah kebetulan sekali ya, kalau begitu langsung saja. Boleh aku berkerja di sini ? Aku bersedia melakukan tugas apapun dengan sesuai yang kau mau."


"Hei ! Setahu ku, Kau adalah anak orang terkaya di kota ini. Kenapa mau berkerja di sini ?"


"Karena aku mau mencari pengalaman"


"Aku pikir kamu membutuhkan uang. Tapi kenapa kau tidak mencoba di perusahaan mu saja ? Di sana jauh lebih baik di banding dengan tempat ku yang seperti ini kan"


Kalau aku mencari pengalaman di sana


sama saja bohong dong,


Aku pasti terkekang lagi karena tidak boleh melakukan apapun yang aku mau.


Hanya tinggal duduk diam menunggu perintah dari kakak ku.


Cih membosankan !


Ingin rasanya Vera bilang begitu, tapi apalah daya, ia tidak mau melakukannya. Menjaga nama baik keluarga tetaplah nomer satu.


"Dari awal niat ku bekerja karena aku mau tahu seperti apa rasanya mencari uang sendiri, tanpa meminta batuan dari keluarga ku. Dan kelihatannya kafe ini sangat cocok untuk ku. Jadi bagaimana apa aku di terima ?"


Sudahlah aku mohon jangan bertanya lagi. Terimalah aku


"Baiklah jika itu niat mu, aku juga tidak mau menolaknya. Dengan senang hati aku menerima lamaran mu" ucapnya lembut tapi di barengi dengan candaan


Ya tuhan kenapa itu terdengar seperti aku sedang melamar pernikahan


Aneh-aneh saja dia itu kelakuannya.


"Terimakasih" Vera tersenyum "Wahh ternyata kau baik sekali ya pada ku. Padahal sikap ku sudah berlebihan.


Dan aku juga minta maaf, karena sempat berpikir kau sama saja seperti laki-laki lainnya. Yang hanya bermodal ketampanan demi mendekati seorang wanita. Hehehe kamu jangan marah ya"

__ADS_1


"Tidak apa, aku mengerti sikap mu dan aku juga tidak marah kok"


"Kau memang baik sekali, aku sangat berterima kasih untuk itu, omong-omong, mulai kapan aku bekerja di tempat ini ?"


"Itu terserah pada mu, mulai sekarang juga boleh kalau kamu mau" ucap si Roni bercanda


"Benarkah ! kalau begitu, aku mau bekerja di sini sekarang juga, ini ambilah" Vera menyodorkan amplop miliknya dengan wajah sumringah. Bendera semangat berkibar.


"Kau serius ?"


"Ya, aku serius"


Roni meraih amplop itu


"Baiklah kalau begitu, akan aku turuti kemauan mu, selamat bergabung" Roni bangun dari duduk sambil membawa amplop lamaran Vera di tangannya."Kau ikut dengan ku sekarang"


"Kemana ?" Vera ikut bangun dari duduk


"Ke ruangan ku"


"Ruangan mu ! untuk apa ?"


Tidak mungkin dia berpikir aku mau melakukan hal yang aneh kan.


Kata Roni dalam hati padahal si Vera masih polos banget ya. Boro-boro berpikiran aneh, tanda-tanda jatuh cinta saja belum pernah ia rasakan.


"Karena kamu belum tau apa yang harus di kerjakan. Maka aku sendiri yang akan mengarahkannya dan mengajari mu langsung di sana." Roni menjelaskan


"Begitu ya, baik mohon bimbingannya senior ku hehe"


Mendengar kalimat itu, wajah si Roni tersipu malu.


Senangnyaaa


Akhirnya aku bisa lebih dekat dengan gadis aneh dan unik yang baru ku temui ini.


"Mari kau ikut dengan ku sekarang"


"Baik"


Sekarang Roni berjalan di depan menuntun Vera menuju ruangannya. Pandangan staff dan para pelayan tertuju pada mereka, saling berbisik siapa dia, saling mengangkat bahu tidak tau. Kenapa Bos besar membawa seorang gadis masuk ke dalam ruangannya.


 


Di ruangan Roni


Adalah ruangan yang tidak boleh di masuki sembarang orang. Artinya harus meminta izin terlebih dahulu sebelum memasukinya.


Meski ruangan itu tidak semewah ruang presdir di kantoran. Tapi jangan salah di ruangan itu memiliki akses dan fasilitas modern juga lho. Begitu sekiranya khayalan ku hehe. Mari kita balik lagi ke cerita.


Tata krama adalah tugas yang paling di utamakan dalam melayani pelanggan.Teliti saat menyajikan pesanan. Sabar dan tersenyum saat menerima komplein. Datang dan pulang bekerja harus tepat waktu kecuali lembur. Begitu Roni berbicara pada Vera saat menjelaskan poin utama tentang aturan dalam bekerja.


"Ini pakailah seragam mu" Kata si Roni sambil menyodorkannya, setelah selesai bicara panjang lebar tentang aturan bekerja sampai ke akar-akarnya tadi.


Vera meraihnya dengan wajah sumringah, hebatnya meski sudah tau poin aturan terberatnya, bendera semangatnya masih berkibar.


"Baik, aku akan segera memakainya, di mana ruang gantinya?"


"Saat kamu sudah keluar dari sini, kamu berjalan lurus, setelah mentok, kamu belok kanan, di situ ada pintu kamu langsung masuk saja. Selain berganti, kamu juga bisa menyimpan semua barang bawaan mu di sana."


"Baik, terimakasih senior ku" tersenyum


"Roni !"


"Apa ?"


"Maksudnya kamu panggil saja aku Roni"


"Kenapa ? aku pikir kau senang di panggil begitu"


"Aku tidak suka mendengarnya" itu terlalu


imut bagi ku


"Kalau begitu maaf, terimakasih Roni"


"Jangan sungkan, setelah berganti kau kembali lagi kesini"


"Baik"


 


Mimpi ! Bukan ! ini bukan bukan mimpi, ini kenyataan. Tapi aku masih tidak percaya


Mama akhirnya aku bisa menemukan pekerjaan sesuai yang aku mau


Wuuahhh senangnyaaa.


Vera senyum-senyum sendiri melihat seragam hitam di tubuhnya menempel dengan rapih. Logo kafe tertera di bagian dada kiri. Topi kafe melekat di atas kepalanya dan rambutnya sudah di ikat. Dia sudah selesai berganti.


Setelah menyimpan semua barang bawaannya ke dalam rak. Ia berjalan kembali menuju ruangan Roni.


___


"Apa kau tidak apa apa, memakai seragam itu, kau kan anak orang terkaya. Bagaimana nanti jika keluargamu tau soal ini. Mereka pasti akan malu." Ucap Roni setelah bertemu dengan Vera


Orang ini benar-benar ya


Cerewet sekali


"Jangan khawatir soal itu, karena aku sudah mendapatkan izin dari mereka"


"Benarkah, baik sekali keluarga mu. Tapi kenapa memberi mu izin ya ?"


"Mana aku tau, mungkin karena mereka sayang sekali pada ku"


Sudahlah kurangi pertanyaan mu yang tidak penting seperti ular berbelit-belit itu. Aku bosan menjawabnya.


"Baiklah kita keluar sekarang, mari aku akan memperkenalkan mu pada anak buah ku yang


lain nya."


"Baik.. "


Vera berjalan mengikuti Roni di depannya


menuju dapur cafe.


"Perhatian semuanya !" Roni bertepuk tangan dua kali "Mohon kemari lah sebentar, aku ingin memperkenalkan pada kalian pelayan baru ku disini"


Para staff dan pelayan pun serentak meninggalkan pekerjaan masing masing.


Lalu berjalan mendekat.


Mata ku tidak salah melihat kan


ini baru pertama kalinya Bos seperti itu dan sepertinya dia terlihat senang sekali.


Gumam salah satu dari staff yang sudah bekerja bertahun tahun.


"Perkenalkan dia pelayan baru kita, dia akan bekerja sama dengan kita mulai hari ini, mohon bimbinglah dia dengan baik."


"Salam semuanya, perkenalkan namu ku Vera Nindya, senang bekerja sama dengan kalian mohon bimbingannya yaaa" Vera membungkukkan badannya.


"Baik salam kenal, kami senang bekerja sama dengan Anda" Jawab salah satu staf mewakilinya.


"Baiklah, sekarang kalian boleh kembali bekerja"


"Baik Bos"


Semua pekerja kembali melanjutkan pekerjaannya masing masing. Sementara Vera masih berdiri di samping Roni.


"Dan kau Vera, kau ikut denganku, aku akan mengajari mu cara membuat kopi di sini."


"Baiklah..." Vera berjalan mengikutinya dari belakang.


Kenapa aku tidak di ajari oleh pelayan mu saja, aku akan lebih senang untuk itu,


Tapiii lupakan dia sudah baik padaku,


aku akan belajar darinya tanpa mengeluh, Semangat Vera, kamu pasti bisa


Roni mengajarkan Vera cara membuat kopi dengan panjang lebar. Untungnya meski begitu banyak dan berbelit-belit si Vera mampu memahaminya hehe.


Satu jam kemudian


"Bagaimana ? Kamu mengerti sekarang ?"


"Aku mengerti "

__ADS_1


"Bagus" Roni tersenyum " Kalau begitu, coba kau buatkan satu kopi untuk ku."


Haah ! jadi ini tujuan mu mengajari ku


kau mau meminum kopi buatan ku begitu ya, yang benar saja.


Dasar kau memang orang yang aneh


"Baiklah, akan ku coba membuatnya, kau lihat ya aku pasti bisa"


Roni terlihat senang saat melihat Vera mulai berusaha membuat kopi itu dengan cara yang di ajari nya. Semangat di wajah Vera terlihat semakin jelas apalagi saat menuangkan kopi ke dalam cangkir, senyum di wajahnya mengalihkan dunianya. Dan akhirnya


"Ini cobalah." Vera menyodorkan kopinya.


"Tentu aku sudah tidak sabar mau mencobanya" Roni meraih kopinya


lalu meminumnya.


"Bagaimana rasanya ?" Tanya Vera dengan wajah tegang


"Lumayan, karena kau baru pertama kali membuatnya, tapi aku yakin kau pasti bisa membuatnya lebih baik dari ini."


Padahal mah rasa nya nikmat, itu cuma akalnya saja, supaya dia bisa mengajari Vera lagi demi berdekatan dengan Vera. Roni tidak mau mengabaikan kesempatan.


Di sudut lain


Sedari tadi ada seseorang yang memperhatikan mereka, orang itu adalah orang yang di lihatnya di kantin tadi, dia memperhatikan dengan sangat lekat seperti menemukan hal yang menarik baginya. Siapa orang itu, apa dia mengenal Vera. Entahlah orang itu misterius sekali dan salah satu dari mereka tiba-tiba berkata.


"Permisi bisakah kau kemari sebentar, aku mau pesan kopi"


"Baik Nona" Pelayan itu berjalan mendekat "Anda mau pesan apa ?'' menunggu


"Aku mau pesan vanila latte satu ingat jangan di tambah creamer, moccachino nya dua dan kopi hitamnya satu" Pelayan itu mencatat pesanannya di buku dengan cepat


"Baik Nona mohon di tunggu sebentar ya, Pesanan anda akan segera datang terimakasih"


Beberapa menit kemudian


Nina sudah selesai menghidangkan pesanan pelanggan tadi. Vera terlihat membantunya karena tidak tega melihat Nina kesulitan membawa semua pesanan itu.


"Maaf Nona, ini pesanan anda." Vera meletakkannya tanpa melihat wajah orang orang itu.


Nina pun meletakan pesanannya. Lalu tanpa sengaja tangan Nina menumpahkan kopi hitam dan mengenai baju wanita itu


Wanita itu refleks bangun dari tempat


duduknya


"Aduuuuh baju ini baju keluaran terbaru Paris" Merengek manja, tangannya sibuk menyeka air kopi di bajunya.


"Maaf kan saya Nona, saya tidak sengaja, sungguh saya tidak sengaja "Nina memohon, badannya gemetar ketakutan


Wanita itu langsung memelototinya tidak mau menerima permintaan maafnya.


Dia berjalan mendekat


"Heh ! Pelayan miskin bagaimana kau harus bertanggung jawab ?"


"Sa-sayaaa" Bibir Nina terasa kaku, rasa ketakutan menjalar di ujung lidahnya. Ia takut kehilangan pekerjaannya.


"Melakukan tugas sepele saja tidak berguna. Kenapa kau tidak gunakan saja kata maaf mu itu untuk duduk di pinggir jalan sambil meminta-minta agar mendapatkan uang." JGEER ! Bagaikan petir di siang bolong Vera naik pitam mendengarnya."Asal kau tau saja walaupun kau mau mengganti bajuku dengan 10 tahun gaji mu di sini, kau takkan mampu melunasinya" lanjutnya


Kelakuan wanita ini seperti iblis yang sedang menyamar menjadi manusia


Mulut dengan wajah gak ada bedanya


Sabarlah Ver sabar


Sabar apanya


Aku mau menyeretnya keluar barusan


dia sudah berlebihan


Vera menarik nafas dalam. Ia tidak terima Nina di permalukan seperti itu depan orang banyak.


"Maaf Nona, saya benar-benar minta maaf " Hanya itu yang bisa Nina ucapkan karena tidak tau harus berbuat apa lagi dan wanita itu terlihat mengibaskan rambutnya. Besar kepala


"Kau mau aku memaafkan mu ?" Nina mengangguk cepat, matanya


berkilau senang " Oke, Tapi kau harus berlutut di hadapanku." Ucapnya lantang sambil menunjuk kakinya


Nina mematung di depannya


Silau dikedua matanya berubah menjadi berkaca


Menyadari harga dirinya memang pantas di rendahkan. Dia seorang pelayan yang tidak mampu membela diri walau sekedar menggelengkan kepala.


"Kenapa diam ? Cepat lakukan !" Hardik Si wanita tidak sabaran. Membuat semua orang melihat kearahnya.


Seluruh badan Nina terasa dingin tersentak


Matanya berkeliling mencari pertolongan


Namun pada akhirnya dia memutuskan untuk berlutut di hadapan wanita itu demi mempertahankan pekerjaannya. Karena hanya satu-satunya tempat ini yang mau menerima pekerja lulusan menengah pertama seperti dirinya. Nina hanya bisa pasrah sekarang.


Tiba-tiba


"Tunggu !" Vera meraih bahu Nina saat mau berlutut "Kau jangan melakukannya, jika perlu aku akan mengganti baju wanita gila ini


untuk mu"


Wanita ini begitu mudahnya dia


merendahkan orang lain


Sepertinya dia benar-benar tidak pernah menghargai orang sebelumnya.


" Heh ! Apa maksud mu ? " Melangkah maju mendekat " Kau mau mengganti baju ku dengan apa ? Di pikir dulu sebelum bicara ya. Kau itu sama saja dengan nya. Dasar pelayan tidak tau diri " Mendorong bahu Vera


Vera tetap berdiri di posisinya tidak ada sedikitpun rasa ketakutan terlihat di wajahnya.


"Kau jangan merendahkan ku, wahai wanita yang tidak pernah mau menghargai orang lain. Kau seharusnya berkaca dulu sebelum bicara. Dasar parasit"


" Apa ? PARASIT !" Ucapnya menggema


"Benar ! Kau itu hanyalah parasit yang hanya tau cara menghamburkan uang. Tapi tidak pernah tau bagaimana rasanya mencari uang sendiri. Seolah berjiwa besar padahal hanya mampu berlindung di bawah ketiak orang tua mu saja. Tanpa orang tua mu kau itu bukanlah apa-apa. Jadi berhentilah bersikap sombong"


Semua orang di sana terkejut mendengar kalimat panjang Vera terutama laki-laki misterius itu.


Wanita itu langsung malu tidak terkira, merasa yang di katakan Vera memang benar tapi tidak mau mengakuinya. Kedua tangan terkepal kuat tidak menerima dirinya di permalukan.


"Dasar kau pelayan tidak tau diri"


Geram mau menampar Vera tapi gagal karena ada seorang yang menahan tangannya.


"Cukup, kau tidak perlu berlebihan seperti ini. Apa kau tidak malu, lihatlah berapa banyak orang yang sedang memperhatikan mu." ucap laki-laki misterius itu dengan nada menenangkan hati. Dia mulai bertindak.


Parasit ini bukankah sedari tadi hanya diam melihat semuanya tanpa melakukan apa-apa


Tapi kenapa menolong ku sekarang. Seharusnya dia membela wanita itu kan.


"Maaf atas kelakuan teman ku ini Nona. Mau kah kau memaafkan nya?" ucapnya dengan nada cool mempesona, semua wanita di sana memuji dirinya tampan saat melihatnya. Mereka terpanah asmara, tapi berbeda dengan Vera. Dia malah benci melihatnya


"Hahaha, kau siapa, pacarnya ya ? Jika benar tolong kau ajari dia caranya sopan santun dan saling menghargai. Dan bilang padanya supaya dia mau meminta maaf pada teman ku." Vera menunjuk Nina dengan kedua matanya.


Vera aku tidak menyangka, kamu seberani ini Tapi aku berterima kasih sekali padamu


Karena sudah menolong ku


Kata Nina dalam hati


"Sudahlah Vera, jangan di teruskan, lagi pula memang seharusnya aku yang meminta maaf kan. Akulah penyebabnya."


"Tidak ! Parasit itu sudah merendahkan mu. Aku ingin wanita itu meminta maaf padamu sekarang juga"


"Sudahlah mari kita melanjutkan pekerjaan, itu lebih baik dari pada memperpanjang masalah"


Benar juga ! Vera tersadar dia sempat lupa bahwa posisinya sedang bekerja saat ini. Nina meraih cangkir di atas meja dan meletakkan nya di nampan, sementara Vera menyeka air tumpahan kopi di meja dengan kain serbetnya tanpa melihat orang di sekeliling nya.


Sedangkan laki-laki misterius itu terlihat berbisik sesuatu di telinga wanita di sebelahnya. Wanita itu terlihat mengangguk, setelahnya mereka berjalan meninggalkan mejanya. Di ikuti kedua teman-temannya sampai menghilang di balik pintu kaca yang tertutup.


Di sudut lain seorang laki-laki berparas tampan namun dingin terlihat mengamati Vera dari jarak sedikit jauh di mejanya


Ternyata gadis itu lebih menarik


dari yang ku bayangkan


Membuat ku semakin tidak

__ADS_1


mau melepaskan nya.


__ADS_2