Mengejar Cinta Vera

Mengejar Cinta Vera
Teman ku yang rajin


__ADS_3

Siang hari setelah pulang kuliah


Vera sudah turun dari angkot berjalan menuju tempat kerjanya, hpnya sudah di matikan di dalam tas. Baru saja masuk matanya langsung terkejut melihat pemandangan yang tidak biasanya. Dari meja tempat duduk tempat pemesanan sampai dapurnya semuanya sudah rapih dan bersih. Seolah mau segera tutup. Tidak ada orang lain di sana, kecuali Nina dan seorang Satpam penjaga cafe.


"Nina, ada apa ini ? Sekarang masih siang, tapi kenapa kau sudah membersihkan semua tempatnya. Dan di mana yang lainnya, sepi sekali ?" Nina menghentikan aktifitas membersihkan lantainya.


"Tidak tau kenapa setelah menerima telepon Si Bos tadi langsung pulang. Dan menyuruh kami segera menutup cafe nya. Teman kita yang lainnya juga sudah pulang barusan. Jadinya hanya aku yang tersisa dan sebentar lagi tugas ku juga selesai."


"Begitu ya, tapi omong-omong kenapa si Bos langsung pulang ya. Dan kenapa dia tidak mengirim pesan pada ku."


"Mana ku tau" Sahut Nina sambil melanjutkan tugasnya." Kamu pindahlah kesana, aku mau bersihkan di bagian situ." Kaki Vera langsung bergeser secepatnya


"Hehe maaf, kau perlu bantuan ku tidak ?"


"Tidak perlu." Menolak santai "Kamu pulanglah, Ini sudah selesai kok. Dan sebentar lagi aku pulang."


"Hhh," Vera membuang nafasnya kecewa


"Kenapa! Kamu gak mau pulang ya ?"


"Hah ? Kok kamu bisa tau, kalau aku gak mau pulang cepat."


"Ya, di lihat dari wajahmu juga sudah kelihatan Ve. Kalau kamu lagi gak betah di rumah."


Ya Tuhan, apa begitu jelasnya sampai semua orang menyangka aku tidak nyaman di rumah. Padahal aku hanya ingin tau bagaimana rupa keindahannya di luar.


"Kamu salah. Rumah ku surga ku. Aku betah dan sangat nyaman kok di rumah."


"Lalu apa ?"


"Ini waktu nya aku bekerja, rasanya sayang kan jika di lewati tanpa melakukan apa-apa. Di siang bolong begini biasanya ya, selain belajar memasak, aku gak di perbolehkan kemana-mana. Jadi bisanya cuma tidur dan tidur hehe.."


Nian mengerutkan keningnya


"Terserah deh"


"Aduh" Kata Vera sambil memegang perutnya


"Ada apa ?"


"Ini sudah saatnya aku makan siang, makanya perut ku jadi lapar begini."


"Hhh, Dasar anak orang kaya. Makan saja harus di atur. Telat sedikit saja perut mu langsung kesakitan. Ada-ada saja ya."


"Hehe.." Vera cuma nyengir.


"Eh kalau kamu mau, kamu main saja ke rumah ku. Kita makan bakso yuk. Kamu lapar kan. Ada warung bakso langganan ku loh di sana."


"Wah, boleh juga tuh, sudah lama aku gak makan bakso. Terakhir aku makan bakso saat lulusan sekolah. Aku pecinta kuliner bakso hehe.. Jadi aku penasaran dengan rasanya." Si Vera langsung menjawabnya tiada jeda, seolah mendengar tawaran yang menarik.


"Oke, kamu tunggu ya, aku mau ganti baju. Permisiii."


"Silahkaaan..."


Nina menaruh semua peralatan bersih-bersih di tempatnya. Berjalan ke ruang ganti, lalu keluar lagi sudah membawa tas di punggungnya. Dia sudah selesai berganti. Dan langsung berpamitan pada Satpam katanya mau pulang duluan.


"Mari, kau duduklah di belakang ku." Kata Nina saat sudah menyalakan motornya. Vera memakai helm nya di kepala lalu duduk di belakang Nina. Dan akhirnya motor melaju dengan kecepatan normal.


Beberapa puluh menit kemudian setelah menghadapi sinar teriknya matahari yang dahsyat. Akhirnya kedua gadis itu tiba juga di warung bakso langganan sederhana. Keadaanya begitu ramai pengunjung, membuat Nina celingukan mencari-cari tempat duduk yang kosong.


"Di bungkus saja ya." Kata Nina "Dan bawa ke rumah ku, kita makan di sana. Bagaimana ?"

__ADS_1


"Mmm, setuju." Vera menjawab.


"Ya sudah, mas aku pesan dua porsi. Di bungkus saja ya, saus kecap dan sambalnya di pisah."


"Baik Non." Sahut Si Mas pemilik warung bakso, tangannya langsung cekatan menyajikan pesanannya. Sementara Vera dan Nina menunggu sambil berdiri.


"Ini Non." Kata si Mas setelah memasukan dua bungkus bakso ke dalam kantung plastik. Saus kecap dan sambelnya sudah di kemas terpisah di dalamnya.


Setelah kedua gadis itu menyodorkan uang bayarannya masing-masing. Mereka kembali duduk di jok motor melanjutkan perjalanannya menuju rumah Nina.


***


Di rumah Aliya.


Ada seorang laki-laki memarkirkan mobilnya di depan teras rumah. Lalu masuk ke dalam menuju ruang keluarga sambil menenteng tas kerja nya.


Aliya mengangkat kepalanya saat melihatnya datang.


"Arya." Aliya meletakkan majalahnya di meja. Laki-laki itu menjabat tangannya lalu menciumnya."Kok, siang hari begini kamu sudah pulang sayang."


"Tugas ku sudah selesai, jadinya aku langsung pulang Mah." Arya duduk di sofa


"O, begitu ya" Aliya menyodorkan segelas air putih "Minumlah, supaya lelah mu jadi hilang." Arya meraihnya.


"Terimakasih Mah." Katanya lalu meneguknya sampai habis tak bersisa. Dan menaruh gelas kosongnya kembali di meja.


"Ya sudah, lebih baik sekarang kamu ganti baju dulu. Setelahnya kamu cepat turun lalu makan siang. Kebetulan Mama juga belum makan, kita makan siang bersama ya."


"Baik Mah, kalau begitu aku ganti baju dulu."


"Iya sayang." Aliya tersenyum


Ini saatnya makan siang, seharusnya dia belum tidur. Kenapa tidak ada suara.


Karena penasaran Arya memberanikan diri membuka pintunya. Dan hanya di sambut dengan tempat tidurnya yang masih rapi dan wangi. Suara gemericik air di kamar mandi juga tidak terdengar. Orangnya tidak ada pikirnya.


Dimana dia.


***


Di rumah Nina


Nina sudah masuk ke dapur mengambil dua buah mangkok dan sendoknya di rak piring. Menuangkan bakso kedalam wadahnya masing-masing. Sementara Vera meraih dua botol air putih dalam kulkas lalu membawanya duduk di karpet sambil menunggu.


"Ini punya mu." Kata Nina sambil menaruhnya di meja.


"Terimakasih." Vera mengaduk baksonya lalu mencicipi kuahnya sesendok." Wuah, segarnyaaa dan nikmat sekali rasanya. Gurih-gurih dan asam pedas bercampur menjadi satu hehe.."


"Aku bilang juga apa, menggoda selera kan." Nina Antusias "Kalau kurang pedas, kamu tuangkan lagi sendiri sambalnya."


"Tidak mau, ini sudah cukup."


"Oke, selamat makan."


"Mmm."


Semangkuk bakso kuah daging sapi lengkap dengan mi dan sayurannya, di makan sesendok demi sesendok lama-lama habis juga. Vera mengusap keringat di dahinya saat selesai menelan asupan kuah bakso terakhirnya, meraih botol minum di meja lalu meneguknya.


Berbeda dengan Nina setelah minum dia menumpuk mangkok kotor di meja dan langsung mencucinya di dapur. Meraih dua buah jeruk dalam kulkas lalu kembali lagi duduk menemani Vera sambil menonton Tv.


''Ini untuk mu" Nina menyodorkan satu jeruknya Vera langsung mengambilnya.

__ADS_1


"Terimakasih. Eh omong-omong di mana Kakek mu, dari tadi aku gak melihatnya."


"Kakek ku pasti sedang mencukur rambut orang Hehe. Dari sini juga kelihatan. Tuh lihatlah." Vera langsung menoleh ke arah sumber yang tunjukan Nina diluar jendela terbuka, sambil mengupas kulit jeruknya.


"Oh, kelihatannya dia baik sekali ya. Ramah dan nyaman di ajak bicara. Dan sekarang aku mengerti kenapa kamu takut kehilangannya."


"Mmm, Kakek memang baik sekali orangnya. Seandainya aku punya banyak uang. Aku lebih baik membuka usaha di rumah sambil mengurus Kakek. Dan menyuruh Kakek berhenti dari pekerjaannya."


"Memang usaha apa yang membuat mu memerlukan uang banyak ?"


"Warung sembako kecil-kecilan. Dan itu memerlukan modal banyak kan. Hhh jangankan aku menabung, hanya memenuhi kebutuhan hidup sebulan saja. Terkadang, kami berhutang dulu di warung tetangga karena kehabisan uang hehe."


Ya Tuhan, perih sekali ya hidup mu. Seandainya aku bisa menggesek kartu hitam ku dengan bebas. Aku pasti langsung membantu mu tanpa pamrih. Walupun aku bisa membantu mu secara mudah. Tapi Mama...Tunggu apa aku minta izin dulu pada Kakak ku saja ya.


"Ve, ada apa dengan mu ?" Nina mengguncang bahu Vera."Kenapa bengong ?"


"Ah, tidak ada. Aku hanya lagi berpikir barusan hehee. Kamu bersabarlah ya, karena hidup mu sedang di uji nya. Maaf, aku tidak bisa membantu mu saat ini."


"Ah, tidak usah. Aku hanya bercerita bukan mengemis bantuan mu Ve."


"Benar, aku setuju. Meski hidup mu di ambang kehancuran. Jangan sekali-kali mengangkat tangan mu pada orang lain meminta-minta. Kerena rizki mu sudah di aturnya. Aku salut pada mu.


"Ya, selama hidup aku selalu berpikir seperti itu. Meski sebagian orang beranggapan uang bukanlah segalanya. Tapi bagi ku uang adalah sumber kebahagiaan. Tanpa uang mungkin kami takkan mampu bertahan hidup. Karena itu, aku selalu berdoa. Memohon padanya agar di berikan kemudahan dalam mencarinya."


Ya Tuhan, selama ini aku mengira uang hanyalah hiasan dunia. Mampu membuat manusia berlomba-lomba demi mendapatkannya. Dan aku tidak tau jika uang bisa menjadi harta yang paling berharga bagi kalangan mereka. Tuhan memang benar-benar maha adil.


"Kalau begitu, aku turut mendoakan mu ya. Semoga kamu selalu di berikan kesehatan darinya. Melancarkan tugas mu sehari-hari."


"Mmm, terimakasih, atas doa nya."


"Sama-sama."Tersenyum "Eh, omong-omong di mana kamar mandi mu. Aku sudah tidak tahan mau buang air kecil."


"Kamar mandinya, ada di kamar ku. Mari aku akan mengantar mu kesana." Nina bangun dari duduk lalu berjalan di ikuti dengan Vera di belakang.


"Wah, meski rumah mu besarnya sangat sederhana. Tapi kamar mandinya terletak di kamarnya masing-masing. Seperti ala-ala drama korea hehe. Jadinya aku penasaran mau lihat kamar mu."


"Dasar, kau ini ada-ada saja kelakuan anehnya."


"Hehe..." Vera hanya nyengir


"Masuklah, kamar mandinya ada di dalam." Kata Nina saat sudah membuka pintunya.


"Oke terimakasih. Eh, kamu mau menunggu ku disini kan. Aku merasa tidak enak hati jika masuk ke kamar orang tanpa ada pemiliknya."


"Mmm, baiklah."


Nina masuk kedalam lalu rebahan di kasurnya sementara Vera langsung masuk ke kamar mandi membuang air kecil. Beberapa menit kemudian dia keluar lagi sambil menutup pintu.


"Tidurlah disini Ve, kamu lelah kan. Mari kita tidur siang bersama hehe." Ucap Nina sambil menyangga kepala dengan tangan di kasurnya.


"Hah ? Walupun besarnya tempat tidur mu masih mampu menampung ku. Tapi tidak perlu. Ini sudah saatnya aku pulang. Lagipula, aku takut ketiduran sampai larut sore di kamar mu nantinya."


"Tapi sekali saja gak apa-apa kan. Kalau kamu sudah tidur dua jam, aku langsung membangunkan mu. Oke !"


''Tapi... "


"Sudahlah, jangan mencari alasan lagi. Aku yang akan mengantar mu pulang nanti. Kamu tidak tau jalan keluarnya dari gang rumah ku kan. Aku lelah aku tidur duluan ya selamat siang." Nina tersenyum. Senyum yang bisa membuat Vera tidak mampu berkata-kata.


Ya aku melupakannya. Mungkin kau menyuruh ku tidur karena sebenarnya, kamulah yang paling lelah disini. Baiklah kalau begitu, selamat tidur teman ku yang rajin dan istirahatlah dengan tenang.


Setelah Nina memejamkan matanya Vera datang menyusul, meraih bantal di pojokan lalu tidur di kasurnya. Memejamkan matanya sampai larut sore.

__ADS_1


__ADS_2