
Makan malam
Setelah berbincang lama dengan Kakaknya tadi, Vera bergegas mandi dan setelahnya ia memakai baju tidur. Sesudahnya ia turun menuruni tangga menuju ruang makan. Di sana sudah ada Arian sedang duduk dan Aliya terlihat sedang menghidangkan makan malam bersama Bik Minah kepala pelayan di meja makan.
"Malam sayang." Ucap Aliya sesosok wanita hangat namun tegas ini terlihat di wajahnya " Mari makan, kami sudah menunggumu dari tadi."
"Malam mah, malam Kak. Maaf sudah membuat kalian menunggu lama" Vera menarik kursi lalu duduk bersebelahan dengan Arian
"Apa Mama tidak tahu dengan kelakuan aslinya Vera ? Dia itu kan mirip banget sama anak kebo. Seandainya Vera tidak di bangunkan tadi. Mungkin sampai malam juga Vera gak akan terbangun dari mimpinya."
Aliya menatap Vera tajam setelah mendengarnya. Ada rasa malu pada Arian dalam hatinya. Merasa dirinya kurang mendidik Vera dengan baik. Padahalmah kurang baik apanya coba. Sebagai seorang Ibu Aliya selalu ingin anaknya menjadi yang terbaik.
"Hehe.." Vera hanya nyengir. Aliya langsung menarik pipinya tanpa aba-aba
"Aaaaah sakit mah" Vera merengek
Rasain kamu. Kata Arian dalam hati sambil menyeringai
"Kamu ini yah. Mau sampai kapan tidur siang begitu lama? Ingat Vera kamu itu sudah besar, sudah remaja. Apa kamu tidak malu sama Kakak mu. Terus kalau kamu nanti punya suami bagaimana? Apa kata suami kamu hah ?"
"Ampun mah ampuuuun. Lagian kan Vera juga gak sengaja kok" Malah membela diri seraya memegang tangan Aliya demi melepaskan cubitannya.
"Gak sengaja kata mu ?" Aliya melotot
" Iya" Ucap Vera santai Aliya marah lagi.
"Setiap hari tidur siang selama itu, massa di bilang gak sengaja." Arian menimpali
"Hehe" Vera mengaku kalah
Kenapa cubitannya semakin keras. A' sakit sekali, pipi ku sakit.
"Ampun mah Vera janji. Vera gak akan ulanginya lagi. Sekarang lepasin tangannya ya mah, pipi Vera sakiiit"
"Awas ya ! Janji kamu jangan di ingkari. Kalau sampai terjadi lagi. Mamah gak mau bicara lagi sama kamu" Kata Aliya tegas
Vera mengangguk saja tidak berani melawan Mama yang lagi ngamuk ini. Dan Akhirnya Aliya melepaskan tangannya lalu duduk berhadapan dengan kedua anaknya.
Lihat saja kamu Kak. Aku akan membalas mu nanti
Vera langsung mendelik sambil mengusap pipi yang sudah memerah dengan tangannya
"Hehe, lagian siapa suruh kamu tidur siang lama-lama. Buat anak gadis itu gak baik. Apa kamu gak takut, kalau mata kamu membusuk dan badan kamu jadi gemuk gara-gara kebanyakan tidur ?"
"Hahaha ! Kaka yang super nyebelin. Bukannya Kakak sudah tahu ya. Walaupun aku banyak makan dan tidur, badan ku tetap begini dan gak pernah jadi gemuk kan ?"
Vera memang di takdirkan seperti itu. Tubuhnya tetap stabil meski dia terlalu banyak makan dan tidur. Berat badannya tidak pernah bertambah maupun menurun. Karena inilah badannya terlihat imut. Kalau Arian meraih tubuhnya sangat pass sekali dalam dekapannya. Seperti memeluk seekor anak kucing yang sedang kedinginan.
Tak!
Arian menyentil kening Vera
"A' sakit" Vera mengusap keningnya berulang kali. "Hiiiih Kakak memang nyebelin" Ucapnya menggema kesal
"Kalau Kakak lagi nasehati. Seharusnya kamu dengarkan dan turuti apa yang Kakak katakan. Bukannya malah di bantah. Ngerti ?" Ucap Arian tegas
"Kalian berdua sudah jangan bertengkar lagi." Secepat kilat Vera dan Arian menatap Aliya bersamaan "Lebih baik kalian habiskan dulu makanannya."
"Siap bos" Ucap Vera singkat sambil melakukan hormat ala kapten.
Sedangkan Arian hanya mengangguk saja.
"Bik ! Tolong buatkan aku susu coklat hangat dong" Ucap Vera pada Bik Minah yang sedari tadi menunggu sambil berdiri di belakang meja makan.
__ADS_1
"Baik Non." Jawab Bik Minah
"Aku juga mau dong Bik" Arian tidak mau kalah dengan Vera sepertinya
"Baik Tuan" Bik Minah menundukkan kepalanya sekali lalu berbalik dan berjalan meninggalkan meja makan
"Huu dasar ! Kakak selalu saja mengikuti semua kesukaan aku. Tapi.... untung saja sih Kakak gak mengikuti gaya penampilan ku. Dan kalau sampai terjadi ! Aku gak bisa bayangkan deh. Bagaimana jadinya Kakak nanti." Ucapnya santai
"Siapa juga yang mau mengikuti semua kesukaan kamu" Arian sewot " Dari dulu kakak juga suka kan sama susu coklat."
"Hmmm, ngeles terus"
Aliya tersenyum
"Vera dengar, daripada kamu ikut acara perpisahan di sekolah nanti. Lebih baik kamu ikut saja ke Raja Ampat temani Kakak kamu. Mama yakin kamu merasa lebih nyaman dan terhibur di sana" Ucap Aliya antusias
Terhibur ! Mimpi kali ya. Bukannya terhibur yang ada malah tertekan. Mamah selalu saja begini. Bahkan di saat terakhir kali bertemu dengan teman sekelas ku sekalipun. Mamah tetap egois gak pernah mau mengerti perasaan ku.
"Selalu saja begitu, Mama gak pernah izinin aku pergi kemana-mana. Memangnya Vera ini bocah pingitan apa ?" Vera menggerutu
Aliya menarik nafas dalam
"Di mata Mama kamu anak kecil. Dan selamanya mama akan menjaga mu seperti itu. Karena mama gak mau kehilangan kamu"
Arian menatap Vera lekat-lekat mengerti dengan perasaannya
"Iya sayang, saran Kakak lebih baik kamu ikut Kakak saja ke Raja Ampat. Di sana ada banyak pemandangan pulau yang indah loh. Kakak yakin kamu pasti bahagia." Arian antusias
Vera diam tidak menjawab. Mengaduk nasi dengan sendoknya berulang-ulang di piringnya. Arian tahu itu adiknya sedang melampiaskan amarahnya.
"Dan Kakak mau kenalin kamu sama temen kakak" Lanjut Arian
"Kenalin aku ? Kenapa ?" Vera mengerutkan keningnya "Tumben banget, lagian kan Vera canggung gak kenal lagi. Karena tidak terbiasa di kenalkan sama orang. Apalagi keluarga sendiri. Gak ada sejarahnya. Jadi ! Percuma kan ?"
"Vera gak mau ! Dari pada ikut Kakak mendingan Vera diam saja di rumah." Membosankan
Arian meletakkan sendoknya meneguk cepat segelas air putihnya. Aliya tahu itu artinya Arian mulai kesal.
"Vera ! Apa kamu yakin, kamu gak mau ikut dengan Kakak kamu ?" Aliya mulai beraksi pandangannya tajam
Mama dan kakak bisanya cuma ngancam ! Gak peduli dengan kemauan ku. Menghadapi keluarga begini tiap hari. Rasanya bagaikan terkurung di kandang singa.
"Iya iya aku mau" Jawab Vera dengan suara lelah
Aliya tersenyum mendengarnya
"Kenapa Kakak jadi senyum-senyum begitu ?" Vera bertanya. Arian mengusap kepalan Vera dan wajahnya mendekat.
"Adik yang baik selalu nurut kan?" Ucapnya lembut di barengi dengan pandangan tajam penuh mempesona
Degh degh
Gila ! Kenapa Kakak lihat aku tajam banget sih. Bikin aku malu saja.
Batin Vera dalam hatinya
"Ini susu coklatnya Non" Vera terkejut saat Bik Minah meletakkan segelas susu di sampingnya
"Makasih yah Bik" Ucap Arian setelah menerimanya
"Iya sama-sama Tuan" Jawab Bik Minah lalu berdiri lagi di belakang meja makan
Aliya menatap Arian
__ADS_1
"Arian nanti saat kamu sudah selesai makan. Tunggu Mama di ruang kerja kamu. Mama mau bicara sama kamu."
"Iya Mah"
Vera mengerutkan kening
"Bicara apa ?" Meraih segelas susu lalu meneguknya "Kok bicaranya di ruang kerja ?" Tumben
"Kamu penasaran banget ya." Arian mengejek
"Enggak juga" Menjawab acuh
"Oya ! Kalau enggak. Buat apa di tanyakan ?" Ejek Arian lagi
Vera mendelik
"Siapa juga yang bertanya-tanya ?'' Vera tidak mau mengaku kalah "A' ! sakit" Lagi-lagi kening mulusnya di sentil Arian gemas
"Itu hukuman mu" Arian tersenyum."Karena kamu gak mau mengakuinya."
"Iiih nyebelin banget sih jadi Kakak"
Aliya menggeleng sambil senyum melihat mereka berdua mulai mengoceh kemana-mana. Sepasang anak yang begitu harmonis
***
Dalam ruang kerja
Arian dan Aliya terlihat sedang berbincang terkait dengan bisnis perusaan mereka. Seorang pengawal pribadi Arian muncul tiba-tiba. Lelaki itu bernama Deni, ia ditugaskan untuk mengawasi kegiatan apapun yang di lakukan Vera saat sedang di luar rumah.
Di dalam rumah gadis itu memang penurut, tapi siapa sangka jika di luar ia sangat berbeda. Dia seorang gadis yang mandiri periang pemberani dan penuh percaya diri.Tapi sayangnya dia tidak di perbolehkan dekat dengan teman lelaki oleh Kakaknya.
Begitu kenyataannya, jadi tidak heran jika dia selalu menjadi bahan ejekan teman perempuan sebangkunya. Karena tidak boleh merasa jatuh cinta maupun di cintai orang lain.
Deni terlihat membungkuk
"Selamat malam Nyonya Besar dan Tuan muda"
"Malam Den ada perlu apa ?" Arian bertanya
"Maaf Tuan Muda, kedatangan saya kemari ingin memberikan Anda laporan tentang kegiatan Nona Vera hari ini" Deni meletakkan amplop berwarna coklat di atas meja
"Bagaimana keadaanya ? Dia baik-baik saja ?"
"Baik Tuan, Nona hanya bermain dengan sahabatnya di sekolah. Tapi entah kenapa, kali ini saya merasa Nona sepertinya terlihat sangat sedih. Karena melihatnya sedang duduk sendiri sambil menunggu angkot di depan warung Tuan Muda."
Sedih ! Pasti gara-gara dia merasa yakin. Kalau Mama dan aku tidak mau memberinya izin mengikuti acara perpisahan di sekolahnya itu.
"Ya sudah. Sekarang kamu pulanglah dan istirahatlah di rumah mu."
"Baik Tuan Muda, terimakasih. Saya permisi
"Deni menundukkan kepala sebelum pergi meninggalkan ruangan itu.
"Kamu masih saja melakukan hal seperti ini pada Adikmu. Saran Mama setelah dia lulus nanti, biarkanlah dia menjadi dirinya sendiri. Dia sudah besar dan kamu tidak perlu mengawasinya dengan ketat lagi"
"Sampa sejauh ini Mama sudah menyerahkan semua urusan Vera pada ku kan. Jadi Mama gak usah khawatir, aku melakukan ini semuanya demi kebaikan Vera. Aku hanya ingin menjaga dan melindunginya dengan baik."
"Mamah ngerti kamu sayang sekali sama Adikmu" Aliya menampakkan senyumnya "Sudahlah kalau begitu mamah tinggal dulu. Ini sudah larut Mama mau istirahat dan tidur. Selamat malam sayang."
"Malam Mah"
Aliya mencium kepala Arian dengan penuh kasih sayang. Setelahnya dia pergi meninggalkan Arian sendirian di ruang itu.
__ADS_1