
Setelah puas menghadiri acara yang meriah Vera berpamitan lalu bergegas meninggalkan area pesta. Saat sudah sampai di luar gerbang, dia melihat jam di tangan. Ini sudah hampir tengah malam pikirnya. Lalu dengan segera dia mengeluarkan hp dalam tas. Memberi tahu ibunya sedang dalam perjalanan pulang.
Di keluarkan nya headset dalam tas setelah selesai menelpon ibunya, lalu duduk di kursi halte sambil menunggu angkot datang.
Beberapa menit berlalu.
Semilir angin malam menerpa wajahnya. Setelah melihat sekitar tidak ada orang satupun yang lewat. Hanya beberapa kendaraan terlihat berlalu lalang disana.
Hubungi aku jika kau mau pulang
Sekilas Vera teringat kalimat Arya tadi. Rasa tidak nyaman muncul dalam hati. Seperti penyesalan yang selalu datang belakangan.
Kenapa perasaan ku tidak tenang begini.
Dia memegang tengkuknya yang tiba-tiba merinding. Kegelisahan mulai menjalar di sekujur tubuhnya. Seolah memaksa jiwanya agar segera menghubungi laki-laki itu. Tapi belum sempat Vera melakukannya tiba-tiba.
Sebuah mobil mewah berwarna merah berhenti di depannya. Atap mobilnya di biarkan terbuka, membuat Vera bisa melihat orangnya dengan jelas.
Adit
Vera melepaskan headsetnya
"Vera ! Apa yang kau lakukan di situ ?" Adit bertanya
"Menunggu angkot." Vera menjawab datar sambil menyimpan hp sekaligus headset ke dalam tas nya.
"Serius ?"
"Ya ! Kenapa ?"
"Gak papa, aku cuma khawatir "
"Haaah ?" Vera terheran-heran setelah mendengarnya "Hei, kau itu kan tuan rumah yang baru ku singgahi. Masih banyak tamu yang harus kau ladeni di sana. Kenapa berkeliaran di luar ?" Bukan Vera namanya kalau dia tidak bicara dengan santai namun kurang ajar.
"Aku bosan."
"Bosan ?" Itu acara pesta paling megah yang pernah ku hadiri. Dia bilang bosan. Vera mengerutkan keningnya. Sesering apa keluarga itu memeriahkannya sampai membuatnya bosan begitu.
Alih-alih Vera bicara dalam batinnya. Laki-laki itu terlihat turun dari mobilnya, berjalan mendekat lalu duduk menemani gadis aneh di sebelahnya ini.
"Ada apa ?" Adit bertanya " Kenapa kau memandang ku bingung begitu ?"
"Aku gak tau, seberapa banyak aku memikirkannya. Setelah ku pikirkan kenapa orang-orang seperti mu selalu bermuka dua ya ?"
"Bermuka dua ?" Tanya Adit kaget
"Ya, waktu di kantin. Aku sempat melihat mu dan mendengar ucapan mu bahwa kau berhasil memanfaatkan kasih sayang orang tua mu untuk sesuatu yang sulit kau dapatkan. Berikutnya aku mendengar cerita bahwa kau adalah seorang yang hangat dan harmonis. Tapi nyatanya kau orang yang cuek dan tak mau peduli dengan orang di sekitar mu. Dingin sekali."
"Dingin ! Tidak juga. Sebenarnya ada banyak hal yang belum kau ketahui. Meski banyaknya cinta memenuhi dunia. Secuil apapun, kebencian masih tersimpan dalam hatinya. Dan orang seperti mu takan mampu memahami nya."
"Aku tau. Dan itu kelemahan ku. Selalu menilai orang dari sudut padang saja. Tanpa tau dalamnya seperti apa. Karenanya aku selalu menjaga jarak dengan orang yang tidak ku sukai. Apalagi orang seperti mu."
" Hahaha." Adit terbahak
"Kenapa tertawa ?" Vera ketus
"Baru kali ini aku menemui seorang gadis yang tidak mau memandang ku. Kaulah yang pertama. Berani merobek harga diri ku."
__ADS_1
"Hah ? Gila !"
Memang terdengar gila. Sejauh ini Adit adalah yang orang di kagumi sekaligus di takuti banyak wanita. Wajahnya tampan sikapnya dingin postur tubuhnya dan kecerdasannya sangat sempurna di kalangan laki-laki. Lantas kenapa di takuti. Dia kejam dan sangat berpengaruh berkuasa di kampus itu.
Pernah suatu hari seorang gadis memanggil namanya. Memberanikan diri mengutarakan isi hati di depannya. Lalu apa yang terjadi. Laki-laki itu langsung meraih lehernya lalu menghempasnya tanpa bicara sepatah katapun. Pandangannya tajam seolah bicara Beraninya.
Tapi hebatnya karena kejadian menakutkan itu. Semua wanita tidak ada yang berani memandangnya. Meski sekedar menyapa menghormatinya. Hanya menyimpan kekaguman dalam hati.
"Omong-omong mau sampai kapan kau menunggu disni. Malam sudah larut, tidak baik bagi mu sendirian di luar." Adit bicara lagi
"Benar juga, kenapa masih belum ada angkot yang lewat ya ?" Wajahnya bergerak kenan dan ke kiri. "Oya, sampai jam berapa biasanya angkot beroperasi ?"
"I d-o-n-t know. Aku belum pernah naik angkot." Jawab Adit dengan gaya dinginnya
Vera terbahak
"Aku Lupa, orang sepeti mu mana mau menyentuh benda rendahan. Benar kan ? Hahaha" Terbahak lagi.
"Lalu, kau sendiri bagaimana ?"
"Aku ?" Vera menunjuk dirinya
Adit mengangguk
"Setiap hari menumpanginya. Tapi tidak tau juga."
"Ya, ini kali pertamanya aku ada di luar sampai tengah malam begini. Aku terbiasa pulang di waktu yang normal."
"Kalau begitu biarkan aku yang mengantar mu."
"Terima kasih, tapi gak perlu. Masih ada laki-laki gila yang akan membawa ku pulang." Vera mengambil hp dalam tasnya
Belum sempat Vera menjawab, sebuah mobil yang tidak asing lagi berhenti di belakang mobil Adit. Lalu dengan segera Si Pemilik turun dari sana.
"Itu dia orangnya. Baru saja aku mau menghubunginya. Dia sudah datang"
"Dia dosen mu ?" Maksud yang sebenarnya laki-laki gila itu adalah Kakak angkat mu. Adit tambah bingung. Ditambah lagi dosen itu sendiri yang tidak mau mengakuinya sebagai Adik angkatnya.
Begitu info yang dia dapatkan dari ingatannya. Tapi kenapa dia rela melakukan itu. Sengaja datang menjemputnya. Bahkan sebelum gadis itu meneleponnya dia sudah siaga di depannya.
"Sia-sia aku menunggu mu. Ternyata kau duduk disini kucing liar." Arya berjalan mendekat
Dia bahkan menyebutnya Kucing liar. Menarik sekali.
Adit sedikit merinding menerima tatapan dingin yang di berikan Arya padanya. Hebatnya tak ada sedikitpun terlihat ketakutan di wajahnya. Malah membalasnya dengan santai. Seperti mengatakan aku menantangnya.
"Apa yang kau lakukan ?" Arya bertanya lagi tanpa memperdulikan laki-laki di sebelah matanya.
''Menunggu angkot." Vera menjawab
"Angkot beroperasi sampai jam 11 malam. Apa gunanya kau duduk disni. Mau menunggunya sampai pagi ?''
"Enggak siapa bilang. Aku mau menghubungi mu barusan. Tapi siapa sangka, kalau kau datang lebih dulu."
"Bukankah seharusnya kau melakukannya lebih awal. Malah sengaja duduk disini menggoda orang lain."
"Apa ? Menggodanya ?" Vera beralih memandang Adit sebentar lalu berbalik lagi menatap Arya "Gila ! Jaga omongan mu"
__ADS_1
"Jangan salahkan dia. Aku sendiri yang datang padanya. Tak ada niat buruk kecuali menemaninya." Adit membela dengan nada santai yang di akhiri dengan senyuman
"Ini bukan waktunya kau bicara." Arti sesungguhnya adalah Jangan ikut campur.
"Oh, oke." Adit berdiri dari duduk "Sampai jumpa lain waktu Vera Nindya." Tersenyum lalu berjalan meninggalkan halte dengan mobilnya.
"Kenapa kau berdiri sejauh itu ?" Arya bertanya pada Vera sesudah mobil Adit menghilang
"Aku tidak mau kau menarik tangan ku." Vera menjawab tangannya tersembunyi di belakang "Aku berjaga-jaga"
Arya berbalik mengerutkan keningnya lalu berjalan menuju mobilnya tanpa bicara sepatah kata. Di susul dengan Vera di belakang. Mereka terlihat memakai sabuk pengamannya masing-masing saat sudah duduk di dalamnya. Dalam sekejap mobilnya melaju cepat.
Dalam perjalanan entah kenapa sedari tadi Arya terngiang dengan kalimat Adit yang di berikannya tadi.
Jangan salahkan dia. Aku sendiri yang datang padanya. Tak ada niat buruk kecuali menemaninya. Begitu kalimatnya.
Baru saja berkeliaran. Butiran debu berani menempel padanya. Arya menekan udara
"Tangan mu yang mana ?"
"Yang mana apanya ?" Vera bertanya kembali
"Tangan yang digunakan mu menyentuhnya."
"Apa ! Duduk sejauh itu bagaimana bisa aku menggapainya ? Gila ya. Coba sebutkan bagian mana yang bisa ku sentuh. Kecuali dengan kaki ku. Baru bisa menendangnya. Asal kau tau ya ! Selain mengobrol tak ada hal lain yang ku lakukan dengannya." Vera menyangkalnya tiada henti
"Bagus !" Arya tersenyum tipis "Di waktu mendatang. Jauhilah, jangan biarkan dia mendekati mu."
"Hah ?" Vera melongo "Tapiiii, bukankah kau pernah bilang, aku boleh berteman dengan laki-laki manapun asal tidak melebihi batasan ku ?"
"Kecuali untuknya. Aku memperingati mu. Dia bukan orang yang pantas kau dekati."
"Oh" Vera menjawab santai "Aku tak habis pikir, ternyata kau termasuk orang yang tidak menyukainya. Tapi aku tak berjanji, karena ku tau batasan ku."
"Cih, alangkah baiknya kau berhenti sebelum melewatinya."
"Hehe, tenaaang. Lagi pula, aku juga tidak mau terlalu dekat dengannya."
Alih-alih Vera menjawab Arya terlihat sudah menghentikan mobil di depan rumahnya.
Mereka turun dari sana setelah melepaskan sabuk pengamannya. Lalu berjalan menuju kamar masing-masing.
Setelah sampai di kamar Vera membuka pintunya.
Kak Arian
Vera menutup pintunya melangkahkan kakinya mendekat saat melihat Arian tertidur pulas di kasurnya.
Kakak terbiasa tidur di kamar ku saat lelah menjalani masalah yang sulit.
Vera mencium keningnya
Tidurlah dengan tenang, aku kan **selalu berdiri di samping mu. M**enyemangati mu.
-
-
__ADS_1
Bersambung.