
Di universitas
Sebelum memulai pelajaran berlangsung Arya mengabsen satu persatu semua muridnya terlebih dahulu
"Fani Anjani "
"Saya hadir"
"Vera Nindya "
"Hadir Pak !" Hihihiiii kau memang pantas di panggil begitu
Arya hanya menatapnya dengan sadis.
"Baik, kita segera mulai pelajaran nya"
Arya mengajari semua muridnya dengan serius, Begitu pula dengan Vera sepertinya hari ini ia benar-benar berpegang teguh pada janjinya sampai pelajaran berakhir.
***
Di luar area kampus
"Ve, ini untuk mu" Fani memberi Vera sebuah kartu undangan
"Apa ini ?'' Vera meraihnya
"Aku mengundang mu untuk datang di hari ulang tahun ku besok malam."
Vera memutarkan otaknya.
"Besok malam, bagaimana ya?" Berpikir sejenak "Aku sih maunya hadir, tapi sepertinya aku gak bisa hadir karena sibuk bekerja."
"Yaaah, aku mohon datanglah Ve. Aku menantikan kehadiran mu." Suaranya terdengar merengek manja.
"Tapiii aku baru bekerja satu hari, jadi tidak mungkin bagi ku.."
"Tidak ada tapi tapi" Fani memotong "Pokoknya kau harus hadir. Dan aku tidak akan memulainya sebelum kau datang titik."
Vera merasa aneh dengan tingkah laku teman barunya yang satu ini. Baru saja saling bertukar nama kemarin tapi kelakuannya, seolah sudah saling berhubungan selama bertahun-tahun.
"Baiklah, akan ku coba, minta izin cuti dulu pada bos ku"
"Sungguh, kau tidak bohong kan. Berjanjilah pada ku"
"Iya, aku berjanji"
"Yes Vera thanks a lot of" Fani langsung mendekap tubuhnya dengan wajah sumringah
"Aduuuh kamu jangan peluk-peluk aku seperti ini dooong. Nanti aku di kira lagi mesra- mesra'an sama kamu."
"Hehehe" Fani melepaskan tangannya
Untung saja dia perempuan. Aku hampir mendorong jauh nya barusan.
Vera melihat jam di tangannya.
"Baiklah kalo begitu aku pergi duluan ya. Aku harus sampai tepat waktu"
"Baiklah sampai jumpa Ve" Fani melambaikan tangannya
Vera hanya senyum
***
Di belakang Kafe
Saat sedang istirahat berlangsung dan di lakukan secara bergiliran. Vera dan Nina terlihat sedang duduk di meja luar ruangan khusus untuk para pekerja.
Tempatnya sedikit luas dan suasananya begitu tenang. Ada taman kecil yang membuatnya menjadi indah. Sangat nyaman untuk dijadikan tempat peristirahatan.
"Ve, kenapa kamu selalu datang menggunakan angkutan umum?" Nina bertanya setelah menyeruput es kopi nya.
"Karena aku sudah terbiasa itu saja"
"Tapi sekarang ini zaman modern, tidak sedikit orang menggunakan driver atau ojek online. Kenapa kamu tidak berminat padahal itu lebih praktis kan"
"Iya aku tau itu, tapi entah kenapa aku lebih senang menggunakan angkutan umum.
Setiap hari aku selalu bertemu dengan banyak orang yang berbeda."
"Begitu ya, aku pikir kamu menghemat uang"
"Tidak begitu, hanya saja aku tidak mau memandang sebelah mata pada usaha kecil seperti mereka, tapi perjuangannya begitu mengagumkan. Setiap hari aku selalu bertemu dengan supir yang berbeda. Ada yang sabar
ada yang ramah, ada yang pemarah. Dan ada juga yang menjengkelkan hehe. Selain itu aku senang melihat banyak orang tersenyum sekedar menyapa. Seolah mengingatkan ku
akan arti kehidupan di dunia ini. Bagaimana dengan mu ? Driver apa ojek online, kamu menggunakan yang mana ?"
"Aku mempunyai motor jadi aku tidak menggunakan keduanya hehe, Tapi Ve apa kamu tidak takut saat bertemu dengan pengamen jalanan. Aku dengar mereka sangat menakutkan."
__ADS_1
"Itu yang membuat ku jengkel kadang-kadang. Tapi paling tidak mereka sudah berusaha demi bertahan hidup kan. Menurut ku sebenarnya
mereka sama sepeti manusia pada umumnya. Entah apa yang membuatnya menjadi berbeda
dengan caranya sendiri. Semua pasti ada alasannya, selama kita saling menghargai. Mereka tidak pernah mengganggu ku tapi sebaliknya mereka melindungi ku tanpa sadar"
"Ya aku setuju dengan kata mu, mari kita saling menghargai dengan begitu kita akan hidup tenang dan saling bahagia. Benar begitu bukan sih ? hehe"
"Tapi aku tidak menjamin itu benar, karena setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda. Kau juga harus memakluminya"
"Iya iya aku tau"
Vera tersenyum
"Omong-omong sudah berapa lama kau bekerja di sini ?"
"Sekitar lima tahunan." Nina ragu menjawab
"Lama juga ya. Mulai kapan ?"
"Sebenarnya aku mulai bekerja saat sekolah ku di putuskan karena tidak mampu. Keluarga ku mempunyai banyak kekurangan itu saja. Selebihnya ayah ku sudah meninggal dan ibu kuuuu " Berhenti "Ibu kuuuu"
Ya Tuhan kenapa aku malu mengatakannya
"Kenapa dengan ibu mu?"
"Ibu ku menikah lagi lalu pergi meninggalkan ku." Nina mendesah sedih memandang Vera nanar entah kenapa dia mencurahkan isi hatinya dengan tenang. Padahal dia sangat tertutup sebelumnya.
"Lalu dengan siapa kamu tinggal sekarang ?" Vera bicara lagi
"Aku hanya tinggal bersama Kakek. Karena Nenek, sudah lama meninggal juga. Menyusul Ayah ku."
"Jadi itu artinya kamu bekerja demi membahagiakan Kakek mu ya?"
"Ya karena aku tidak mau kehilangan Kakek dan aku tidak mau merasa kehilangan lagi."
Kenapa air mata ku mau menetes ya.
Vera menatap iba
"Bagaimana dengan mu kenapa bekerja disini ?"Nina melanjutkan
"Aku hanya ingin tau bagaimana rasanya mencari uang. Dan ternyata tidak semudah seperti yang kubayangkan ya. Membutuhkan mental kuat saat menjalaninya."
"Jadi maksudnya ini pengalaman pertama mu ya. Tapi Ve saat pertama kali melihat mu dekat dengan si Bos aku kaget. Aku kira kamu pacarnya."
"Kenapa begitu banyak orang mengira aku adalah pacarnya ya? Padahal dia hanya senior ku dan aku juga tidak begitu dekat seperti yang kau pikirkan"
"Hehe" Vera nyengir kuda
****
Dalam Kafe saat waktunya bekerja
Vera terlihat sedang melakukan tugasnya, meski lelah bendera semangatnya selalu berkibar. Hebatnya baru satu hari bekerja tapi sudah banyak mendapat dukungan dari pekerja yang lainnya karena ia mudah akrab. Mudah mendapatkan pertolongan saat mengalami kesulitan. Saling membantu adalah poin
utamanya. Itu yang membuatnya nyaman dan betah berkerja di sana sampai melupakan waktu.
"Akhirnya waktunya pulang tiba juga'' Ucap Nina setelah selesai melaksanakan tugasnya
Vera melihat jam di tangannya
"Benar waktu terasa begitu cepat ya, aku sampai lupa"
"Itu karena kamu terlalu bersemangat"
"Hehe"
"Ve, Nina." Sapa Tita salah satu pekerja yang di tugaskan menjadi kasir di sana. "Aku pulang duluan ya." ucapnya ramah dia sudah selesai berganti
"Oke! Hati-hati di jalan ya Ta." Vera menjawab
"Ya" Tita mengacungkan jempol kanannya sambil mendorong pintu kaca yang tertutup.
"Ve, kau mau ikut pulang bersama ku" Nina menawarkan diri agar Vera menumpang di motornya
"Terimakasih, tapi tidak perlu. Lagi pula perjalanan pulang kita tidak searah kan. Aku gak mau membuat mu repot nantinya"
"Benar juga ya"
"Oya! Omong-omong si Bos sudah pulang apa belum ya. Kau melihatnya ?" Ucap Vera sambil berjalan menuju ruang ganti di ikuti Nina di sampingnya.
"Tadi sore aku melihatnya masuk ke ruangannya dan aku belum melihatnya keluar sampai sekarang"
"Itu artinya dia masih di dalam ya?"
"Bisa jadi! Tapi, ada urusan apa kamu mencarinya ?"
"Aku mau minta izin cuti padanya"
__ADS_1
"Apa ? Cuti !" Brakk Membuka pintu dengan keras membentur dinding setelah terbuka mereka masuk kedalam.
"Iya , kenapa memangnya dan kenapa reaksi mu kaget begitu ?"
"Ya aku kaget karena kamu baru bekerja kemarin kan. Tapi sudah berani minta cuti padanya" Nina menutup pintunya kembali
"Iya aku juga memikirkan itu. Tapi mau bagaimana lagi aku sudah berjanji pada teman ku."
"Memangnya ada janji apa?"
''Aku di undang teman ku untuk menghadiri pesta ulang tahunnya besok malam"
"O begitu ya''
"Menurutmu apa si Bos mau memberi izin pada ku ?"
Nina angkat bahu "Mana ku tau."
"Yaaah aku pikir kamu mengetahuinya." Muka si Vera langsung memelas
"Tadi kamu bilang si Bos senior mu kan. Apa salahnya di coba dulu. Siapa tau dia mau memberi mu izin"
"Benar juga ya"
***
Di ruangan Roni
Saat Vera sudah berganti baju
"Ron jika aku meminta cuti padamu esok hari. Apa kau mau memberikan izin pada ku?"
"Alasannya ?"
"Aku sudah terlanjur berjanji pada teman ku Fani, untuk hadir di acara pesta ulang tahun nya. Bagaimana kau mau memberi ku izin atau tidak ?" Vera bicara langsung pada intinya dia memang begitu orangnya, tidak suka bertele-tele. Terkadang sifat ini yang membuatnya menjengkelkan. Apapun maunya harus di penuhi secepat kilat. Begitu yang dipikirkan orang. Tidak sabaran.
"Benarkah! Kebetulan sekali, dia
mengundang ku juga."
"Kenapa bisa kebetulan ya? Padahal kan, dia teman sekelas ku."
"Tentu, karena dia adik dari teman ku"
"Pantas saja dia mengundang mu juga, itu berati kau memberi ku izin kan ?"
"Hemh" Roni tersenyum
"Hehe terima kasih"
"Jangan sungkan, apa kau mau datang bersama dengan ku ?"
"Gimana ya, nanti saja deh aku pikirkan dulu"
"Baiklah, aku tidak memaksa mu" Padahal berharap Vera mau dalam hatinya
"Ya sudah, aku pamit pulang. Terimakasih untuk hari ini, selamat malam."
"Malam "Roni tersenyum
Vera berjalan keluar meninggalkan kafe setelah sampai di halte ia duduk di sana. Tangannya mengambil hp dan headset nya dalam tas.
Aku hampir lupa aku harus telpon Mama
"Malam mah"
"Malam sayang, kamu ada di mana sekarang, apa kamu sudah menyelesaikan pekerjaan mu ?"
"Sudah Mah, bahkan sekarang aku ada di halte sambil menelpon Mama"
"Baiklah, hati-hati di jalan ya sayang, mama tunggu kamu di rumah."
"Baik mah, terimakasih, aku tutup telponnya ya Mah selamat malam"
Vera menutup telponnya lalu mendengarkan musik di hp nya sambil menunggu angkot. Kepalan manggut-manggut seirama dengan lagunya.
Tiba-tiba mobil sport hitam berhenti lagi di depan halte dalam sekejap mata Vera tersentak saat melihat Arya sudah membuka kaca mobilnya.
"Kau lagi kau lagi. Mau apa kau datang kesini ? Menjemput ku lagi ya" ucapnya ketus
"Masuklah"
"Tidak mau! lebih baik naik angkot dari pada aku harus ikut dengan mu"
"Apa kau ingin aku memaksa mu lagi ?"
Glek ! Vera menelan ludah membayangkan sakit di tangannya terulang lagi
"Iya iya" Mode patuh menjawab. Orang gila itu selalu saja bersikap semaunya. Begitu gerutunya dalam hati sambil berjalan masuk kedalam mobil. Menggunakan sabuk pengamannya setelahnya mobil berjalan kembali dengan kecepatan normal.
__ADS_1
Aneh kenapa dia selalu datang di waktu yang tepat. Apa ini kebetulan atau jangan-jangan dia tau tempat ku bekerja. Tidak ! Mana mungkin. Orang gila ini tidak pernah peduli apa yang ku lakukan Tapi kenapa dia sekarang... Hhh, sudahlah untuk apa aku memikirkannya kita saling membenci itu kenyataannya.
Dan keheningan kembali lagi selama dalam perjalanan. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut masing-masing sampai tiba di rumahnya.