Mengejar Cinta Vera

Mengejar Cinta Vera
Kakak yang posesif


__ADS_3

Seorang laki-laki terlihat turun dari mobilnya, penampilan nya sungguh menakjubkan wajahnya putih, bulu matanya panjang,


bentuk matanya seperti mata elang dengan perawakannya yang gantle, laki-laki seperti itu tak perlu menggoda wanita bukan.


Hanya dengan cara melihatnya berjalan saja. Wanita manapun selalu mencari cara, agar bisa berdekatan dengannya.


Laki-laki itu terlihat melangkahkan kakinya sekarang. Memasuki pintu rumah mewah. Setelah melewati beberapa ruangan, dia menyapa seorang wanita cantik sedang membaca majalah "Selamat sore mah"


Aliya mengangkat kepalanya " Sore, sayang kamu sudah pulang." Menutup majalah lalu meletakkannya di meja "Tumben sayang, kamu pulang secepat ini"


Arian duduk bersandar di sofa. Aliya memandang anaknya yang lelah. Ia menuangkan air kedalam gelas untuknya


" Ini sayang minumlah, Mama tau kamu lelah " Arian meraihnya lalu meneguknya


" Sayang bagaimana pekerjaan mu hari ini. Apa semuanya baik-baik saja ?"


Arian meletakan gelas kosong di meja


" Baik Mah "


" Syukurlah, Mama pikir ada apa-apa di kantor mu."


Arian hanya terdiam pandangannya lelah menerawang pada setiap sudut ruangan.


" Sayang tadi siang Vera bicara sama Mama soal perpisahan di sekolahnya dan tentunya Mama sudah melarangnya. Untuk kali ini Mama merasa Vera sangat marah. Arian tolong bantu Mama. Kamu bicarakan baik-baik padanya. Supaya dia gak marah lagi sama Mama yah."


Arian memandang mamanya dengan lembut lalu menggenggam tangannya


"Baik Mah aku akan bicarakan baik-baik tentang ini padanya, Mama gak usah khawatir masih ada aku yang akan melindunginya dengan baik "


Aliya tersenyum


" Terimakasih sayang "


" Baik kalau begitu aku akan pergi ke kamarnya sekarang " Arian bangkit dari duduknya


" Ya sudah kalau begitu Mama akan menyiapkan makan malam. Mama tunggu kamu dan Vera di meja makan"

__ADS_1


" Iya Mah " Arian melangkahkan kaki menaiki anak tangga berjalan menuju kamar Vera.


" Ve Kakak masuk ya " Katanya saat sudah mengetuk pintu. Tapi tidak terdengar suara apapun dari dalam. Setelah ketukan ketiga di bukanya pintu kamar. Arian berjalan lalu duduk di pinggir tempat tidur. Tangannya terulur membelai pipi Vera dengan lembut. " Ve bangun sayang "


" Hemm " Vera menggerakkan wajahnya ke kanan tapi matanya masih terpejam.


" Mau apa sih Kak ? Mengganggu orang tidur saja " Dengan mata terpejam. Vera bicara dengan nada ketus. Tidak mau di ganggu kesal.


Arian melirik jam di tangannya lalu menarik nafas dalam berusaha tenang menghadapi adiknya yang satu ini. Terkenal paling kebo saat tidur sampai lupa waktu begini.


" Vera apa kamu gak ingat waktu. Lihat ini sudah jam berapa. Masa sudah sore begini kamu masih tidur sayang"


Akhirnya Vera membuka mata melirik jam yang terletak di bawah lampu tidurnya


" Aku kira baru jam 3, ternyata sudah sore" Vera menguap, menggesek-gesek kedua matanya. Lalu dengan malasnya ia duduk dari tidurnya


Arian merapikan rambut Vera ke belakang bahunya." Bagaimana sekolah mu tadi. Apa begitu banyaknya kegiatan di sekolah ? Sampai bisa membuat kamu tidur selama ini "


" Gak ada kegiatan apapun di sekolah. Memangnya mau apa Kakak datang ke kamar ku ?" Menguap lagi, jiwanya belum sadar sepenuhnya. Dia masih mengantuk.


" Tadi mama bicara sama Kakak. Mama bilang kamu tidak di izinkan mengikuti acara perpisahan sekolah mu di Bali yah " Arian langsung bicara pada intinya.


Arian mengembuskan nafasnya panjang


" Kamu gak boleh bilang begitu. Semua yang di lakukan mama karena mau menjagamu dengan baik sayang. Karena kamu adalah keindahan yang paling berharga bagi mama."


"Tapi, aku juga bisa menjaga diri dengan baik kak, lagian kan Bali itu letaknya gak jauh-jauh amat kok" Vera bersikeras


"Vera, dengar di dunia ini tidak ada orangtua yang mau menempatkan anaknya kedalam bahaya. Apalagi penderitaan. Instingnya kuat, selalu melakukan yang terbaik demi membuat anaknya bahagia. "


" Iya iya, tapi bisa gak sih kakak beritahu aku alasan mama yang sebenarnya. Paling tidak alasan yang bisa membuat ku mengerti "


" Maaf sayang mama dan Kakak tidak bisa menceritakannya pada mu sekarang. Kami berdua butuh waktu yang sangat tepat untuk menjelaskannya sama kamu " Arian mengusap rambut adik tersayangnya dengan sangat lembut.


"iya iya Kakak juga selalu bilang begitu." Akhirnya Vera menyerah saja saat menerima jawaban yang selalu membuat dirinya bosan. "Oya Kak, ada lagi yang mau aku tanyakan. Setelah aku lulus nanti. Apa Kakak mau memberi ku izin mencari pekerjaan sesuai dengan kemauanku. Aku berencana mau mencari jati diri ?"


"Maksud kamu ?" Arian menatap Vera dengan bingung

__ADS_1


" Kakak juga tahu kan, selama hidup aku selalu mengurung waktu di rumah ini. Tapi sekarang aku juga mau tau bagaimana rasanya hidup dalam kebebasan. Selalu bermimpi ingin kuliah sambil bekerja. Dan satu lagi aku ingin menjalin hubungan dengan seorang aku cintai. Bagaimana apa boleh ?" Vera menatap Arian dengan wajah penuh harap


Arian hanya diam setelah mendengar adiknya bicara seperti itu. Ada rasa tidak rela jika adiknya menjalin hubungan dengan orang lain. Semasa sekolah Vera tidak pernah di izinkan berteman dekat dengan laki-laki oleh Aliya mamanya sendiri dan tentunya sama kakaknya yang satu ini, ARIAN WIJAYA yang terkenal posesif sekali sama adik perempuannya.


Vera mengerutkan keningnya. Melihat Arian hanya diam membisu tatapannya kosong.


" Kenapa Kakak jadi bengong begini." Menyentuh kening Arian. "Kakak jangan kebanyakan bengong. Nanti kesurupan loh... kerasukan pocong hehe "


Saat tersadar Arian menarik nafas panjang menetralisirkan perasaan campur aduk nya.


" Kakak gak mungkin kerasukan


sayang. Yang ada malah pocongnya yang takut sama Kakak hehe " Vera tertawa setelah mendengar kalimat dari Arian "Ve, Kakak tau kamu sering bilang bahwa kamu ingin merasakan kebebasan dalam diri kamu. Tapi tentang kamu ingin menjalin hubungan dengan seorang yang kamu cintai. Sepertinya mamah dan Kakak tidak mau mengizinkannya "


" Kenapa aku gak di bolehin pacaran " Vera terlihat sewot. Menatap wajah Arian sebal " Kakak lihat sekarang aku sudah besar. Umur ku saja sudah 18 tahun. Aku hanya ingin tahu bagaimana rasanya mencintai dan di cintai


seseorang. Asal Kakak tau saja, kalau di sekolah aku selalu di jadikan bahan ejekan teman sekelas. Karena gak pernah tahu bagaimana rasanya mencintai''


Arian mengerutkan keningnya


" Loh kenapa ? Menurut Kakak bukannya itu sangat bagus. Di sekolah itu daripada kamu pacaran mendingan kamu belajar yang serius demi masa depan kamu. Kakak gak mau kamu menjadi korban dari orang yang tidak baik sekaligus orang tidak mau bertanggung jawab sayang."


Demi menjaga perasaan adiknya Arian mengucapkan kata demi kata dengan nada kasih sayang dan penuh perhatian.


" Iyah aku tahu, tapi masalahnya apa peraturan itu masih berlaku ? Lihat Kak sekarang aku sudah besar. Aku sudah bisa menjaga diri dengan baik kok " Menepuk dada sendiri bangga karena sudah merasa cukup umur " Jadi mohon izinin aku yah Kak" Mendekatkan wajah manja saat memohon demi mendapat izin dari Arian.


Namun sialnya Arian hanya diam namun tatapannya itu loh sadis sekali seperti mengucapkan Jangan bermimpi


" Kakak jahat ! " ucapnya setengah berteriak " Lihat saja kalau aku punya pacar nanti. Aku akan merahasiakannya dari kakak." Menggerutu


" Yang itu juga gak boleh. Nanti saja kalau kamu sudah lulus kuliah sayang. Kakak berjanji kakak izinkan kamu "


" Gak terima ! " Vera membelakangi Arian " Biar bagaimana pun caranya, kalau nanti aku punya pacar. Aku langsung merahasiakannya dari Kakak "


" Vera sayang kamu benar-benar susah di omongin yah. Jangan mentang-mentang sekarang kamu sudah besar. Kamu jadi berani melawan Kakak. Sekalinya kakak bilang gak ya enggak ! Paham ?" Menggema di akhir kalimat karena gusar


" Kakak ini kenapa ? Setiap aku omongin soal ini, Kakak selalu marah. Seperti aku ketahuan selingkuhan saja dari Kakak. Sadar dong Kak, aku bukan pacar mu kan ?"

__ADS_1


Arian terkejut saat mendengarnya dan hanya diam melihat adiknya mulai berbicara panjang lebar entah kemana. Tapi ujung-ujungnya Vera hanya mampu menerima perlakuan Arian terhadapnya.


Vera aku ingin sekali kamu mengetahuinya. Bahwa aku tidak rela melepaskan mu. Aku mau kamu tetap berada di sisiku selamanya


__ADS_2