Mengejar Cinta Vera

Mengejar Cinta Vera
Menjernihkan pikiran


__ADS_3

Di meja makan saat waktunya makan malam.


"Bagaimana dengan pertemuan waktu di cafe sore tadi sayang. Kalian saling suka kan?" Aliya bertanya memecah keheningan yang sebelumnya tercipta.


"Ya, mama gak tahu ya, katanya, Kak Arian gemas melihat reaksi wajahnya yang lucu."


"Heh" Arian menyenggol lengan Vera dengan lengannya. "Mama itu bertanya pada Kakak, kok malah kamu yang jawab." Arian protes


"Kapan dia bilang sama kamu sayang?" Aliya menanyai Vera.


"Tadi, sebelum aku mengajak Kakak makan malam."


"Oh, pantas, tadi Mama menerima telepon dari Paman Anggara, katanya dia mau pertunangan nya di percepat."


"Apa? Di percepat?" Aliya mengangguk. Degh, jantung Vera berdebar kuat barusan namun sakit rasanya. Seperti tertusuk benda tajam. "Lalu, kapan kalian mau mengadakan acara pertunangan nya?"


"Mungkin di akhir pekan, Kakak mau mengadakannya." Arian menjawab dengan suara datar.


"Akhir pekan!" Vera terkejut, sendok yang di pegangnya sampai terjatuh lalu terpental di meja makan.


"Ada apa sayang? Kenapa rekasi mu begitu besar. Sendok mu sampai terpental lagi." Arian mengejek.


"Gak papa kok, aku hanya kaget. Namun bahagia setelah mendengar pertunangan Kakak akhirnya di percepat heheh."


Melihat rekasi Vera di ejek seperti itu, ekspresi Arya terlihat tidak suka, sambil tangannya meraih sendok Vera yang masih tergeletak di meja.


"Jadi, dalam tiga hari lagi Mama akan sibuk mempersiapkan acara pertunangannya." Arya bersuara sambil menyodorkan sendoknya


Vera meraih sendok itu


"Benar sayang" Aliya menimpali "Dan kamu Vera, Mama minta kamu jangan dulu masuk berkerja ya. Karena mulai besok, kita akan sibuk berbelanja pakaian yang akan di pakai nanti."


"Berbelanja? Tumben, biasanya kalau mau membeli pakaian baru Mama selalu menemui desainer nya langsung."


"Mama memiliki beberapa kartu keanggotaan, sayang kalau gak di pakai. Lagi pula, waktu nya terlalu mepet, Mama khawatir kalau waktunya tiba. Gaun mu belum selesai di buat, kan Mama juga yang jadi repot nantinya."


"Ah, benar juga ya." Vera kikuk "Ya sudah, aku akan minta izin pada bos ku nanti sebelum tidur."


"Mmm" Aliya tersenyum lalu kembali lagi melanjutkan makannya.


Sementara Vera melirik Arya dan Arian secara bergantian, ada aura negatif yang menyeruak dari caranya mereka saat bertemu pandang. Seolah berperang dalam pikirannya masing-masing.


Kenapa saling diam. Apa kalian sedang bermusuhan. Hhh, ada-ada saja.


Setelah bicara dalam hati, dia meneguk segelas air putih di sampingnya, menarik dua lembar tisu, lalu dia usapkan tisunya di area bibirnya. Menyeka sedikit minyak bumbu makanan yang masih menempel erat dibibir tipisnya. Dia sudah selesai makan. Padahal sisa makanan di piringnya terlihat masih banyak.


"Kok, kamu cuma makan sedikit sih sayang. Ada apa? Apa masakannya tidak enak?" Aliya bertanya


"Gak siapa bilang? Ini enak sekali kok mah. Aku cuma lagi gak berselera makan saja."


"Mungkin itu efek dari obat yang kamu minum. Jadinya, saat mengecap lidah mu pasti gak enak kan sayang."


"Mmm" Vera mengangguk saja.


"Apa yang di rasakan mu sekarang, apa kepala mu pusing lagi?" Arya yang bertanya


"Pusing? Kamu sakit apa Ve?" Arian baru terlihat panik


"Panas dingin" Vera menjawab "Tapi sekarang udah gak lagi kok. Tinggal lemasnya saja. Kakak gak usah panik"


"Hhh, syukurlah." Arian menghela nafas lega.


"Kalau begitu, kau istirahatlah dulu lebih awal. Sebelum aku berubah pikiran." Arya yang bicara


"Ah, benar. Dari pada aku mengerjakan tugas pelajaran tambahan. Mending, aku naik ke kamar dan istirahat sekarang. Hehe..."Vera bangun dari kursinya. "Sampai jumpa." Katanya lagi lalu buru-buru berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Melupakan Arian dan Aliya di belakang yang masih melongo menatapnya.


Aliya hanya geleng kepala setelah melihat tingkahnya yang lucu namun kurang ajar itu.


Dan setelah makan malam selesai semua, mungkin Arian sudah pergi menuju kamarnya. Berbeda dengan Arya, dia malah berjalan menuju ruang tv, membuntuti Aliya di belakang. Saat sudah sampai mereka duduk di sofa berdampingan.


"Bagaimana dengan masa depan mu sayang? Jika Arian sudah melaksanakan pertunangan. Itu artinya kamu harus siap menikahi Vera secepatnya."


"Tentu, aku sudah siap Mah."


"Baguslah, Mama senang mendengarnya." Aliya tersenyum " Tapi yang mau Mama tanyakan" Sambung Aliya "Apa kamu sudah siap menjabat sebagai Presdir di perusahaan?"


Degh, mata Arya membelalak


"Bukankah, aku sudah berjanji. Jika Vera sudah lulus dari kuliahnya. Baru aku siap menerima posisi jabatan itu kan Mah."


"Ya, Mama masih ingat. Tapi alangkah baiknya jika kamu menempati posisi jabatan itu setelah kamu menikah kan sayang."


"Jika aku menempati posisi ku secepat itu, siapa yang akan melindungi nya di kampus."


"Hah?" Aliya terkejut "Jadi tujuan kamu menjadi Dosen di kampus itu sebenarnya adalah..."


"Benar Mah" Arya menyela "Jadi, aku mohon pengertiannya."


Aliya tersenyum


"Baiklah, jika itu yang kamu mau. Mama akan selalu mendukung mu. Terimakasih, karena kamu menggantikan tugas Mama yang selalu melindunginya di kampus."

__ADS_1


"Hemm,"


Alih-alih si Arya tersenyum. Di kamar Si Vera bukannya istirahat dan tidur. Ini malah duduk di sofa sambil bermain gitar. Namun tiba-tiba berhenti, setelah tanpa sengaja ia teringat dengan kalimat yang menoreh hatinya lagi.


Aku mencintai mu Vera Nindya.


Ada apa ini. Kenapa jantung ku berdegup sakit setiap aku mengingatnya ya? Apalagi setelah mendengar kabar pertunangannya di percepat. Rasanya aku mau mendobrak pintu hati Kakak, menarik tangannya. Dan berlari bersama ku meninggalkan kenyataan pahit ini.


Tapi jika aku melakukannya, bagaimana dengan nasib gadis cantik itu. Dengar-dengar dia sudah banyak berkorban dan aku juga gak mau merusak harapannya. Aaaaa rasanya kepalaku mau pecah. Pusing sekali.


Begitu batin Vera berperang melawan keinginan yang sesungguhnya. Di satu sisi dia mau melihat Arian kembali menegakkan kepalanya, tapi di sisi lain dia juga tidak mau menghancurkan semua harapan dan pengorbanan pasangan itu. Jadinya bimbang sendiri.


Dan lebih parah lagi, dia juga masih belum tau bagaimana perasaannya terhadap Arian. Sekedar suka, ataukah.... Tidak, dia tidak mungkin mengharap cintanya. Karena setiap melihat wajahnya yang sekarang, hatinya tidak bergetar. Yang ada malah kasihan padanya. Sakit setiap melihat senyum palsunya.


Setelah berpikir, Vera kembali menaruh gitarnya di pojokan. Memeluk lututnya mengarah ke jendela kaca mati, sambil melihat pemandangan kota malam yang di guyur derasnya air hujan.


Lantas apa yang harus ku lakukan? Haruskah aku melakukan sesuatu yang lebih berani demi menantang takdir nya.


Alih-alih si Vera tenggelam dalam pikirannya. Si Arya sedang merapatkan telinganya di pintu karena melihat lampu kamarnya yang masih menyala.


Tidak biasanya dia tertidur dalam keadaan lampunya yang masih menyala. Suara musik dari DVd playernya juga tidak terdengar. Apa yang di lakukannya?


Demi menghilangkan penasaran, akhirnya dia buka saja pintunya tanpa mengetuk tentunya karena sudah terbiasa. Saat sudah masuk dia menutup pintunya kembali. Mengedarkan pandangannya pada setiap sudut ruangan. Tersenyum setelah menemukan gadis yang di carinya sedang duduk di sofa sambil melamun di balik jendela kaca mati.


Melihat gadis itu tidak sadar dengan kedatangannya, ia berjalan mendekat lalu duduk di sofa, di belakang punggungnya.


"Sakit mu belum sepenuhnya sembuh. Bukannya istirahat dan tidur, malah duduk sendirian di tengah malam begini. Dasar bodoh! Bisa-bisa aku membawa mu ke rumah sakit, jika demam mu kambuh lagi."


"Hehe..." Vera hanya nyengir tapi pandangannya masih menatap jendela kaca, melihat air hujan.


"Apa yang kau lakukan disini?" Arya bertanya


"Tidak ada, aku hanya sedang berusaha menjernihkan pikiran ku."


"Menjernihkan pikiran?" Arya mengerutkan keningnya


"Ya, kau tahu? Ternyata selama ini, Kak Arian menyimpan cinta pada ku. Dan menyedihkannya, aku baru tau setelah membaca buku hariannya tanpa di ketahui. Bukan melewati pengakuannya."


"Jadi, apa yang mau kau lakukan sekarang?"


"Entahlah, aku juga belum tau bagaimana dengan perasaan ku. Setiap aku melihat wajahnya, yang ada malah kasihan. Hhh"


Melihat wajah Vera di penuhi dengan kegundahan. Arya hanya mendengus.


"Dan yang membuat ku bingung adalah" Sambung Vera "Kenapa rasa suka ku menghilang setelah aku mengetahui semuanya ya. Dan saking kasihannya, rasanya aku mau menarik tangannya pergi, meninggalkan dunia kepalsuannya. Bukan hati yang bergetar seperti saat aku menghadapi mu. Padahal sudah jelas, kita saling membenci."


Degh, mata Arya membelalak setelah mendengar pengakuan cinta dari mulut gadis itu tanpa sadar. Dan sepertinya si Vera malah cuek padahal telinga Arya memerah, bibir nya juga tersenyum dengan senang.


Cinta dan benci memiliki perbedaan yang sangat tipis dasar bodoh!


"Cih!" Wajah malu di bawa melengos, mengusir hasratnya yang nyaris menyambar bibir Vera dengan bibirnya barusan. Gemas karena mau menyadarkan bahwa sebenarnya gadis itu sudah jatuh cinta padanya.


"Hehe..." Si Vera malah menanggapinya dengan nyengir kuda. Tanpa ada rasa yang aneh-aneh. "Oya, omong-omong. Ada urusan apa kau datang ke kamar ku? Tengah malam begini lagi. Dan bagaimana kau bisa tahu, kalau aku sebenarnya malas mengunci pintu."


"Menengok mu." Arya menjawab singkat, tapi dalam hati dia berharap gadis itu tersadar kalau setiap malam dia datang demi mencium bibirnya. Melepas rindu.


"Oh," Vera kikuk "Kau tenang saja, aku gak papa kok."


"Tidurlah." Vera menggelengkan kepala


"Kau tidurlah duluan, aku belum mau tidur." Jawab Vera lalu kembali lagi menatap jendela kaca.


Melihat wajah Vera masih di penuhi dengan kebimbangan, Arya menarik kepalanya, mendaratkannya di pangkuan.


Gadis itu berbaring miring ke kiri, melihat ke arah jendela. Dan gemercik air hujan masih turun dengan derasnya.


Tidak ada sedikit pun kecanggungan yang di rasakan Vera. Karena terbiasa melalukan hal yang sama waktu dulu tentunya. Saat dirinya susah tidur.


Berapa menit berlalu


Melihat Vera hanya diam seribu bahasa si Arya membelai rambut panjangnya mengalirkan semua kasih sayangnya.


Sungguh perasaan yang tidak pernah berubah, belaian tangannya yang hangat ini, selalu membuat ku nyaman saat aku berbaring di pangkuannya. Dalam sekejap semua kesedihan ku terhapuskan.


Sambil tersenyum menatap air hujan, Vera bicara dalam hatinya.


"Jika Kak Arian sudah menikah, itu artinya kita juga harus menikah kan." Akhirnya si Vera bersuara


"Jadi?"


"Sebelum itu terjadi, apakah aku boleh meminta sesuatu lebih dulu?"


'Katakan, apa yang kau minta."


"Aku ingin berhenti kuliah."


"Maksud mu?" Arya mengerutkan keningnya lagi.


"Sejujurnya, aku sudah muak menghadapi banyaknya materi yang harus ku pelajari dikampus. Dan saat kita menikah aku hanya ingin fokus menjalani peran ku sebagai istri di rumah. Seperti peran istri pada umumnya. Bagaimana, apa boleh?"


"Lalu, bagaimana dengan pekerjaan mu? Bukankah selama ini kau mendambakan kebebasan."

__ADS_1


"Aku memang mendambakan kebebasan, tapi jika kita sudah menikah itu lain lagi ceritanya. Mentaati perintah dari suami adalah kewajiban ku. Makanya sekarang, aku tidak mau membuang waktu kebebasan ku pada hal gak berguna."


"Apakah itu artinya, jika aku menyuruh mu berhenti dari pekerjaan mu, kau mau berhenti?"


"Tentu, dan jika sebaliknya, aku akan tetap bekerja sampai semua rencana ku terselesaikan."


"Rencana! Apa itu?" Arya terjekut


"Aku ingin mewujudkan semua harapan teman ku yang rajin itu."


"Hhh," Arya menghela nafas. "Ternyata dari dulu, kau gak berubah ya."


"Ya begitulah, hehe..."


"Tapi, kau juga harus mengetahui satu hal. Jika kau benar-benar memutuskan berhenti kuliah, itu artinya aku harus siap menerima jabatan ku sebagai Presdir di perusahaan."


Mata Vera terbelalak


"Jadi maksud mu, jika aku berhenti kuliah, maka kau juga akan berhenti menjadi Dosen?" Arya menganggukkan kepala "Gila! Kenapa bisa begitu?"


"Karena itu yang di janjikan Ayah pada ku. Menjabat sebagai Presdir adalah permintaan utamanya."


"Begitu ya." Vera menganggukkan kepala di pangkuannya "Eh, tapi... Kalau memang itu keinginan Ayah, kenapa kau tidak menjalani jabatan itu sekarang saja? Malah menjadi Dosen lebih dulu. Itu kan buang-buang waktu namanya."


"Bodoh! Aku melakukannya karena ingin melindungi mu."


"Hah?" Mata Vera terbelalak lagi.


Melindungi, melindungi apa? Yang ada kau selalu menindas ku. Itu baru benar. Dasar!


"Kenapa bengong? Kau pasti sedang berpikir yang aneh lagi." Arya bicara


"Tidak, mana mungkin aku berpikir aneh. Yang ada aku malah bingung. Kenapa kau melindungi ku. Karena kita kan saling membenci."


"Bodoh!" Arya kesal "Vera, kau memang benar-benar kikuk."


"Ya, lebih baik aku di katai, daripada kau mengucapkan kalimat yang aneh-aneh atau apapun namanya itu. Rasanya badan ku merinding semua mendengarnya."


"Cih! Kau bahkan tidak mudah tersinggung lagi ya."


"Hehe...." Vera nyengir lagi "Eh, sekarang aku paham. Kenapa Kak Arian selalu mengunjungi mu waktu kau tinggal di luar negri. Itu karena dia..."


"Setiap menghadapi masalah di perusahaan, dia selalu meminta solusi nya pada ku."


"Nah, benar kan perkiraan ku. Makanya dia gak pernah mengajak ku. Tapi kau harus tahu, setiap Kak Arian kembali dari tempat mu. Aku selalu menanyakan bagaimana kabar mu loh di sana. Karena sejujurnya aku merindukan mu juga. Eh!" Berhenti sambil menutup mulutnya dengan tangan. Keceplosan dia wajahnya juga merona. Berharap laki-laki itu tidak mendengar kalimat terakhirnya.


Tapi, kenapa reaksinya hanya diam ya? Jangan bilang dia tersadar kalau sebenarnya aku suka padanya waktu dulu. Begitu pikir Vera.


"Kalau kau merindukan ku, kenapa kau gak pernah menghubungi ku?"


Dan saat ku datang, malah di sambut dengan adegan bergandengan tangan. Sengaja mempertontonkan ke harmonisan seolah kau sudah menjadi miliknya. Cih!


Itulah sebabnya aku sengaja menabrak mu, menumpahkan minuman ku di gaun mu malam itu. Sebagai tanda bahwa hanya aku yang berhak melihat lekuk tubuh mu yang indah ini.


''Aku gak pernah menghubungi mu, alasannya aku takut di marahi." Vera bicara "Sama seperti dulu, baru saja aku mau bicara, mau menanyakan bagaimana kabar mu di sana. Malah di semprot duluan. Dasar!"


''Kapan itu terjadi?" Arya terkejut


"Saat aku baru lulus SMP, niat ku mau memberitahu mu kabar yang menggembirakan itu. Eh, kau malah memaki ku habis-habisan. Jadinya aku malas menghubungi lagi."


"Aku berani bersumpah, aku tidak pernah sekalipun menerima telepon dari mu."


"Jika kau tidak pernah menerima telpon dari ku, lalu siapa yang memaki ku? Hantu? Cih! Jangan berpura-pura amnesia kau ya."


"Aku memang pernah memaki perempuan, Karena posisi ku sedang sibuk saat itu."


"Mmm, bisa jadi kau mengira aku adalah perempuan itu kan. Jadi kau tidak tahu, kalau sebenarnya aku yang terkena makian mu habis-habisan. Hhh" Menghela nafas "Eh, tapi... Ada masalah apa kau dengan perempuan itu? Sampai kau memakinya dengan kata wanita murahan yang gak tahu malu."


"Karena mereka selalu berusaha menarik perhatian ku. Dan itu dengan cara yang menggelikan sekali. Aku tidak suka."


"Menggelikan sekali! Ahaha, aku gak habis pikir bagaimana caranya mereka saat merayu dan menggoda mu atau berpura-pura lemah demi berharap sentuhan tangan mu saat itu. Membayangkannya saja, rasanya aku merinding duluan. Bisa-bisanya mereka berani melakukan hal serendah itu pada orang seperti mu."


"Orang seperti ku? Cih!" Melengos sebentar, lalu kembali menatap wajah di pangkuannya lagi. "Menurut mu, aku orang yang seperti apa?"


"Orang berhati dingin, yang selalu siaga menggenggam pedang di balik punggung. Yang bisa kapan saja kau hunuskan di jantung nya. Dan itu hanya berlaku pada wanita yang berani menyentuh mu. Makanya kau sangat berhati-hati menjaga jarak dari wanita. Apalagi pada wanita rendahan yang seperti itu. Benar kan menurut ku?"


"Dan hanya kaulah perempuan yang berhak menyentuh ku. Dan setelah kita menikah peraturan itu berlaku juga pada laki-laki manapun yang berani menyentuh mu, tanpa terkecuali."


"Hah? Maksudnya?" Si Vera malah kikuk, membuat Arya menghela nafas lelah.


"Hhh, maksudnya, mau sampai kapan kau berceloteh? Ini sudah lewat tengah malam, mau begadang sampai pagi."


"Ya, sebentar lagi juga aku mau tidur. Tapi kenapa nada bicara mu sinis begitu. Seolah kau kelelahan."


"Kau benar, aku memang lelah. Lelah menanggapi kebodohan mu!"


Jadi katakan Vera Nindya, sebenarnya aku harus berbuat apalagi supaya kau tersadar bahwa aku selalu ada menemani di setiap langkah mu. Bahkan setiap kau dalam bahaya, akulah yang selalu muncul di depan mu.


Begitu pikirnya, tapi gadis itu mana tahu dia, kalau sebenarnya kepala si Arya berdenyut-denyut memikirkan banyak hal demi membuatnya tersadar jadinya pusing sendiri.


"Yeee, siapa suruh kau menemani ku disini. Jadinya kau kelelahan sendiri kan. Padahal tadi aku sudah menyuruh mu tidur duluan. Dasar!" Setelah bicara Vera bangun duduk dari berbaringnya. "Sekarang keluarlah, aku mau tidur."

__ADS_1


"Cih, susah payah aku bersabar demi menghibur mu. Tapi, ujungnya kau malah mengusir ku. Dasar perempuan yang tidak tahu berterimakasih" Arya bicara dengan sinis lagi, setelahnya dia menghentakkan kakinya di lantai lalu berjalan, menghilang di balik pintu yang tertutup.


"Ck, kekanakan sekali."


__ADS_2