
Esok harinya di koridor kampus saat
waktunya untuk pulang
"Ve, bagaimana nanti malam, kamu mau pergi bersama ku?" Roni bertanya.
"Aku tidak tau" Jawab Vera sambil angkat bahu
'Kenapa?"
Belum sempat Vera menjawab si Arya memanggil di belakangnya.
"Kucing liar!"
Vera menoleh
"Ada apa?"
Dia panggil apa barusan. Kucing liar?
Si Roni kebingungan. Badannya tersentak. Saat Arya memandangnya tajam penuh makna, bola matanya menyala, seperti mengatakan. Dia milik ku.
Roni langsung minggir selangkah, merapat diri di pilar penyangga memberi banyak ruang agar si Arya lebih leluasa menguasai gadis itu.
"Kau meniggalkan barang mu di meja" Arya menyodorkan hp.
"Ya ampun! Bagaimana aku bisa lupa?" Vera meraih hp nya dari tangan Arya "Masih untung kau yang menemukannya hehe. Terimakasih."
"Bodoh!" Ujar Arya dengan nada dingin, setelahnya dia pergi tanpa bicara apapun lagi
"Hah? Gak ada kata lain apa, selain mengatai ku bodoh. Dasar gila ya ! Aku muak mendengarnya."
Arya hanya diam, berjalan maju ke depan tanpa sedikit pun menoleh. Dia malas meladeni.
Vera beralih memandang Roni
"Ada apa? Kenapa kau melihat ku aneh begitu?" Vera mengerutkan keningnya
"Tidak ada! Tapi di lihat dari bicara mu, sepertinya kau dekat dengan Dosen itu ya?"
Vera bingung harus menjawab apa bibirnya langsung kaku saat mau bilang si Arya adalah
Kakaknya. Dia tidak mau mengakuinya.
"Ya, tapi kami saling membenci."
"Jika benar saling benci, kenapa dia baik pada mu, seharusnya dia mengabaikan hp mu kan"
Vera angkat bahu "Mana ku tau"
"Chiih"
"Kenapa kau mendengus?" Vera bertanya
"Jelas-jelas dia perhatian. Tapi kamu mengabaikannya."
Setelah Roni bicara, mereka berdua kembali melanjutkan jalannya berdampingan
"Perhatian pada ku?" Vera menunjuk badan diri "Idiiiih enggak banget deh!"
"Loh kenapa? Kamu senang kan seharusnya."
"Iya aku senang! Senang jidat mu. Lagian ya, dari dulu kami selalu bertengkar dan tidak pernah akur. Tapi kalau lagi ada mau nya. Kami baru akur, besoknya ribut lagi. Begitu kelakuan kami tiap hari."
Setiap hari! Kenapa aku merasa mereka tinggal satu atap ya.
Roni mengerutkan kening nya
"Sudahlaaaah" Vera melanjutkan "Jangan ngomongin dia lagi, aku muak membahasnya. Oya" Vera menghentikan langkahnya, badannya menghadap Roni "Tentang aku mau pergi bersama mu ke pesta itu. Sepertinya aku bersedia. Kita ketemuan di kafe mu saja. Aku akan memberitahu mu kalau aku sudah sampai. Bagiamana? Kau mau kan?"
"Oke, aku menunggu mu Ve" Roni tersenyum, bunga-bunga bermekaran di sekitar wajahnya
__
Sore hari saat di kamar
Vera sedang bersiap diri demi menghadiri pesta ulang tahun Fani. Saat sedang berkaca si Arian mengetuk pintu tiba-tiba. Tanpa bertanya, dia langsung menekan handle pintu lalu masuk.
"Kakak, ada apa?" tersenyum "Kok tumben sih, pulangnya cepat banget?"
Arian duduk di tepi kasur
"Gak ada apa-apa, Kakak cuma mau memastikan kamu pakai gaun atau enggak?"
"O, gitu ya. Aku pikir Kakak lagi ada masalah di kantor"
"Kakak memang punya masalah Ve, makanya pulang secepat ini."
"Apa masalahnya?"
"Kakak mau menemani mu."
"Hah?"
"Ada apa? Kenapa kamu melihat wajah Kakak begitu bingung?"
"Ya! Aku bingung mau nya Kakak apa? Padahal Kakak bersikeras melarang ku kemarin. Sekarang, kenapa jadi begini ? Mau menemani segala lagi. Aneh banget."
Arian diam tidak menjawab merasa tersudutkan
"Maaf ya Kak, lagi pula aku sudah punya janji dengan teman ku."
"Janji?"
"Ya, kami mau datang bersama." Vera menjawab cepat, bangga.
Arian hanya diam tidak menjawab
__
Di kafe
Roni terlihat memerintahkan para pekerjanya pulang lebih cepat dari waktu biasanya. Terkecuali beberapa orang satpam nya. Karena mau menghadiri acara pesta ulang tahun adik temanya itu.
Setelah memastikan semua pekerja sudah pulang tanpa ada yang tersisa. Roni langsung masuk keruangan nya bersiap diri.
Satu jam kemudian pesan singkat dari Vera masuk ke hp nya. Memberitahu bahwa dia sudah duduk sambil menunggu di kafenya.
Diraihnya benda menyala itu dengan cepat. Bibirnya tersenyum setelah membacanya.
Lalu dengan segera dia berjalan cepat demi menemui Vera dengan wajah sumringah
"Ve apa kau sudah lama menunggu ku?"
Vera mengangkat wajahnya. Terlihatlah seorang laki-laki dengan penampilan sempurnanya.
"Waah kau tampan sekali memakai kemeja itu. Aroma parfum mu nyaman sekali. Aku hampir tidak mengenal mu."
"Heheh, terimakasih untuk pujiannya. Tapi kenapa penampilan mu biasa saja ya. Tidak sama saat kamu memakai gaun biru malam itu."
"Tapi Aku nyaman begini di banding memakai gaun pesta atau apalah namanya itu. Aku tidak suka."
"Tapi malam ini kita akan menghadiri acara ulang tahun dari keluarga terpandang. Paling tidak kamu mempercantik diri kan?"
Agar tidak ada orang lain yang berani memandang mu rendah. Begitu arti yang sesungguhnya. Tapi bukan Vera namanya bila dia tidak paham.
"Aku tau dengan maksud kalimat mu." Vera menjawab cepat " Tapi tenanglah, aku bisa menjaga diri kok.'' tersenyum
Dia benar-benar berbeda. Sikap keras kepalanya selalu membuat orang lupa diri
__ADS_1
Menarik sekali.
Roni tersenyum juga
"Ya sudah, mari kita berangkat sekarang "
"Oke bos "
***
Sebuah mobil keluaran terbaru berhenti dengan mulus di depan teras rumah sangat megah. Terlihatlah dua orang turun dari sana.
Sementara itu seorang pengawal langsung mengambil alih kemudi, saat pemiliknya sudah meninggalkan mobilnya di belakang.
"Wuaah mewah sekali ya pestanya"
Vera takjub setelah melihat keadaan di pesta sangat luar biasa. Hampir semua wanita memakai pakaian elegan bah model papan atas.
Dia juga melihat ada beberapa artis penyanyi yang sangat terkenal di negara ini. Meriahkan suasana.
Tidak terasa Vera dan Roni sudah memasuki aula pesta. Melewati banyak tamu dari keluarga terpandang. Hebatnya Vera tidak memiliki perasaan malu atau tersudutkan, karena penampilannya yang alakadarnya saja. Dia memang sangat cuek tidak perduli dengan desas-desus orang lain terhadapnya.
Wahh itu adalah..... Aku tidak menyangka dia hadir disini juga. Aku mau minta tanda tangannya nanti
Rencana dalam hati sudah di uraikan setelah tanpa sengaja melihat salah satu penyanyi sekaligus pencipta lagu terfavorit nya. Maklum Vera rada kampungan sedikit, akibat di pingit. Ini kali pertamanya dia menghadiri acara ulang tahun teman nya yang sangat mewah menurutnya. Bertema anak muda tapi mengesankan. Heheh.
Tiba-tiba
"Ve, kenalin ini teman baik ku Adit"
Hah? Bukankah dia orang yang membela si wanita parasit itu kan. Tapi kenapa dia gak datang bersamanya.
"O, salam kenal" Setelah bicara Vera langsung melengos, melihat-lihat sekeliling
Adit tersenyum
"Sepertinya kamu tidak suka berkenalan dengan ku ya?" Adit bicara
"Hah?"
"Kamu bahkan tidak mau melihat ku. Apakah karena masalah di kafe waktu itu?"
"Bukan! Aku hanya mau melihat-lihat. Kau jangan sembarang menilai orang. Hei Ron, kenapa kamu memiliki teman yang sama persis dengan mu ya?"
"Persis dengan ku?" Roni kebingungan
"Ya, kalian berdua sama cerewetnya dan selalu mau tau urusan orang."
"Hahaha" Adit tertawa renyah
Sementara Roni tengkuknya merinding, karena dia tau Adit bukanlah orang yang mudah tertawa lepas seperti itu. Dia pendiam dan jarang sekali tersenyum.
"Kenapa kau tertawa?" Vera bingung
"Hah! Tidak" Adit kembali pada akal sehatnya.
"O my good, Vera !" Kata Fani yang tiba-tiba muncul entah dari arah mana datangnya. Membuat ketiga orang di depannya menoleh bersamaan. "Kenapa tidak menghubungi ku, bahwa kau sudah datang?" Langsung melingkarkan tangan di lengan kanan Vera
"Nomer mu saja aku tidak punya. Dengan cara apa aku menghubungi mu?"
"Benar juga ya. Aku lupa hehe. Lain waktu aku berikan pada mu." Beralih memandang Adit "Kakak kenalkan, dia adalah teman yang selalu aku ceritakan."Vera tersentak "Bagaimana dia sangat menarik kan?"
Adit hanya tersenyum
Kenapa belakangan ini aku mendengar orang selalu menceritakan tentang ku ya.
Vera mengerutkan keningnya
"Kau selalu bercerita tentang apa ?" Vera bertanya
"Rahasia dong hehe" Fani mengedipkan sebelah matanya
"Kak Roni bisa aja deeeh"
"Selamat ulang tahun ya, semoga panjang umur dan hari-hari mu selalu menyenangkan."
"Terimakasih Kak" Fani tersenyum
Wuah aku tidak menyangka. Selain cantik, kelihatannya dia di kelilingi banyak orang yang
menyayanginya dengan tulus juga
Belum sempat Vera mengucapakan selamat
Tiba-tiba Fani menarik tangannya berjalan ke arah meja di taman. Setelah sampai Fani menyuruh Vera berdiri agak jauh dari sampingnya. Sementara Fani menghadap kue ulang tahun yang besarnya sederhana namun mewah.
Acara di mulai setelah Fani mengucapkan kalimat sambutan dan terimakasih pada semua tamu karena sudah hadir. Dia meniup lilin di atas cake. Di iringi tepuk tangan dari semua orang yang hadir di sana.
Dan mengalirlah acara ulang tahun sesuai dengan rencana tanpa adanya perubahan. Lagu dari para penyanyi terkenal sudah terdengar silih berganti.
Sekarang yang di lakukan Vera adalah menemani Fani mengobrol sambil menikmati potongan cake dalam piringnya masing-masing.
Sedangkan si Roni, entahlah tidak tau dia ada dimana. Mungkin dia sibuk mengobrol bersama temanya juga.
"Jadi maksudnya, kalian Kaka beradik, tapi beda ibu?" Vera bertanya setelah Fani selesai bercerita tentang keluarganya.
"Ya, tapi kami saling akur, karena ibu ku orang yang baik. Kami tak pernah di bedakan. Kakak ku memang pendiam saat di luar. Tapi dalam rumah, dia lebih dari gila kelakuannya hehe."
"Berarti, keluarga mu yang membuat nya bahagia. Harmonis sekali." Vera tersenyum
''Tapi saat Kakak marah dia berubah menjadi orang yang tidak aku kenal. Dia menyeramkan dan galak, selalu melarang ku ini dan itu. Menyebalkan sekali."
"Itu karena dia terlalu sayang pada mu. Dia mau melindungi. karena kau satu-satunya orang yang mampu membuatnya tertawa"
"Ya kamu benar Ve, tapi tadi aku melihatnya tertawa karena mu juga. Apa itu tandanya Kakak ku suka pada mu ya?"
"Suka pada ku? Mana mungkin! Kau jangan berhaluan."
"Kenapa? Kakak itu baik loh orangnyaaaa. Aku sangat mendukung jika kalian bersama. Dan jika ada yang menghalangi aku akan berdiri paling depan demi membela kalian hehe."
"Terimakasih, tapi sayangnya, aku gak suka pada Kakak mu. Jangan kan suka, berteman saja enggan. Karena dia parasit."
"Parasit! Apa maksudnya?" Fani mengerutkan halisnya.
Belum sempat Vera menjawab Fani berdiri dari duduk saat melihat tamu istimewa nya datang.
"Ada apa ? Kenapa kau tiba-tiba berdiri?" Vera bingung
"Ve, maaf aku tinggal sebentar ya, aku mau menyambut teman istimewa ku dulu. Kamu gak apa-apa kan ?"
"Tenanglah, aku gak apa-apa kok." Tersenyum
"Terimakasih."
Setelah Fani pergi, Vera celingukan di tempat duduknya. Matanya berkeliling melihat orang-orang. Ada yang sedang duduk bersama pasangan, ada yang sedang berkumpul sambil tertawa. Intinya semua tamu yang hadir ikut bahagia di hari ulang tahun yang meriah itu.
"Ah ! Bukankah itu seorang penyanyi yang aku idolakan." Ucapnya setelah melihat si Penyanyi sedang bicara dengan satu temannya. "Kesempatan aku mau minta tanda tangannya"
Dengan semangat Vera berjalan cepat ke arah si Idola. Tapi entah kenapa saat sudah dekat, dia mengurungkan niatnya. Karena tidak mau mengganggu orang yang sedang bicara dengan serius.
Beruntungnya, saat si Idola mau menoleh Vera langsung sembunyi di balik batang pohon yang besar sebelum ketahuan. Dia mau minta tanda tangan setelah si Penyanyi selesai bicara begitu rencana yang di pikirkan.
"Aku beralih menjadi penulis buku karena iseng. Job semakin sepi. Jadi aku mencobanya tapi tetap gagal. Ceritanya berantakan semua hehe" Si idola bicara "Bagaimana dengan mu, bukankah dulunya kau seorang Aktris terkenal. Kenapa jadi penulis buku ?"
"Alasannya sama seperti mu. Bedanya aku menulis karena suka, bukan sekedar pekerjaan sampingan. Dan aku bersyukur karena semua karya ku, di sukai banyak orang." Dia mengatakannya dengan penuh syukur tapi dalam hati merasa bangga. Besar kepala.
Maksud yang sebenarnya adalah menyindir si Idola karena semua karyanya selalu berada di level terendah. Padahal semua alur cerita dalam buku si Aktris mirip sekali dengan buku karya si Idola.
Namun si Aktris itu mampu mengubahnya menjadi buku yang sangat indah dan keren. Semua tutur bahasa si Idola tertulis lengkap di dalam karyanya yang terbooming.
__ADS_1
Memang tidak tau malu Aktris itu. Entah berapa orang yang sudah menjadi korbannya. Bukankah itu namanya jauh lebih hina dari plagiat. Begitu sekiranya yang di pikirkan si Idola.
Si Idola menarik nafas dalam berusaha menguasai diri.
"Dulu saat aku menjadi penyanyi, lagu ku selalu di cintai dan di kenang banyak orang. Dan aku bangga karena semua lagu ku terinspirasi dari manis dan pahitnya kehidupan mu. Tapi sekarang aku mau menarik semua kata-kata ku."
Degh
"Apa maksudnya? Kenapa tiba-tiba kau bicara seperti itu ?" Si Aktris terkejut
"Awalnya aku menulis karena iseng dan mau mengikuti jejak mu. Aku takjub dengan tulisan mu yang pandai membuat orang lupa waktu. Sampai-sampai aku mau menjadi seperti mu. Dan meski ragu aku tetap melakukannya. Tapi sekarang aku kecewa, setelah mendengar kenyataan, bahwa kau selalu anggap aku saingan mu."
"Saingan! Bukankah selama ini kita saling mendukung? Itu baru benar, bahkan kau tidak tau kalau sebenarnya aku selalu mempromosikan karya mu."
"Cih! Katakan, apa tujuan mu sebenarnya? Apakah kau takut tersaingi, balas dendam, ataukah merasa bangga diri karena, tak ada satupun orang yang dapat menandingi mu?"
"Sindiran apalagi itu? Katakan dengan jelas apa maksudnya dengan semua ocehan mu?"
"Maksud ku, mau sampai kapan kau membuat ku seolah menjiplak karya mu? Bahkan kau tidak mau mengakuinya."
"Hah? Demi Tuhan ya, aku tidak mau mengakui karena aku tidak merasa melakukan nya. Kau jangan sembarangan memfitnah orang."
"Hihihik" Si Idola cekikikan "Aku tidak memfitnah, tapi aku melihat kenyataan. Mungkin semua orang dapat kau bodohi tapi itu tak berguna pada ku." Si Idola keras kepala
"Semua karya ku adalah murni jeri payah ku. Ku selipkan doa pada setiap kalimat yang aku tulis. Dan aku bersyukur semua doa ku terkabulkan. Tapi sekarang kenapa kau merendahkannya dengan sehina itu. Cepatlah minta maaf sebelum aku membalas mu lebih dari ini. Mumpung aku masih baik hati orangnya. Dan aku hanya akan menganggap semua ocehan mu karena iri dan dengki."
Munafik hahaha
Si Idola hanya diam sambil tersenyum penuh makna.
"Ada apa? Kenapa kau tersenyum licik
seperti itu. Seolah kau menghina ku?" Si Aktris bertanya
"Tidak, tapi aku penasaran dengan akibat dari kalimat ku." Arti yang sebenarnya adalah Aku menantikannya.
"Terserah kau anggap aku apa, tapi alangkah baiknya kita jangan saling merendahkan, apalagi menjatuhkan. Karena setiap orang memiliki rizkinya masing-masing."
Si Idola tersenyum.
"Kabarnya kau menulis buku penuh dengan Maksiat. Meski memalsukan Nama, namun sayangnya, tutur bahasa mu mudah di kenali. Hhh," Menghela nafas "Aku kaget, orang yang selalu bahagia atas nama Tuhan, bisa menjadi munafik juga. Hati penuh Noda lalu berlagak sok Suci. Bukankah itu memalukan Tuhan mu." Si Aktris diam tidak menjawab. Mimiknya tidak dapat di jelaskan. Benar atau tidak hanya dia yang tau. "Hati-hati, atau berhentilah sebelum Tuhan mu Murka. Cepat atau lambat kedok mu pasti terbongkar."
Apa? Aku tidak menyangka. Aktris yang katanya sedang naik daun itu karena hatinya. Ternyata berani juga. Berani membuat buku yang menjijikan itu.
Vera menutup mulut dengan tangannya di balik batang pohon. Karena tidak tahan dia memilih angkat kaki dari tempat itu. Dia tidak mau di bilang menguping.
Setelah berjalan beberapa langkah Vera terkejut saat melihat orang di samping matanya itu siapa. Jika dilihat lebih lekat, sepertinya orang itu kesepian. Bahkan merokok tanpa malu, padahal dia wanita.
Pantas ! Saat tiba disini aku tidak melihat seujung pun batang ekornya. Ku pikir dia tidak hadir. Nyatanya dia duduk sendirian disini.
Tapi kenapa melihatnya seperti itu, hati ku tersayat ya. Padahal sudah jelas, kami tidak memiliki hubungan apapun.
"Apa yang kau lakukan ?" Vera bicara "Merokok tidak baik bagi kaum wanita"
Linda tersenyum lalu menghisap kembali rokoknya. Pandangannya terlihat jemu setelah mengeluarkan asap dari mulutnya.
"Aku kesepian" Menghisap rokok lagi "Bagaimana dengan mu ? Tidak baik menguping pembicaraan orang."
Degh
Vera sedikit malu setelah tau Linda melihat apa yang di lakukan nya barusan. Berdiam diri di belakang pohon. Apalagi kalau bukan menguping begitu pikir Linda.
"Aku tidak menguping!" Vera menjawab gugup "Tapi aku gak sengaja mendengar."
"Cih ! Kau selalu pandai membela diri."
"Terimakasih, karena memuji ku."
Linda hanya tersenyum
"Tadi kau bilang kesepian" Vera bicara lagi "Kenapa bisa? Yang aku lihat, kau bukan orang seperti itu. Selalu berbuat semaunya."
Ini gak mungkin ! Ada apa dengan ku. Kenapa aku jadi mau tau urusan orang
Vera keceplosan sepertinya
"Orang tua ku masih lengkap, tapi aku tak pernah merasakan kehadirannya. Mereka sibuk masing-masing" Entah kenapa Linda mencurahkan perasaannya tanpa sadar
"Artinya kau merindukan belaian hangat dari tangannya kan? Bukan uangnya. Karena itu, kau selalu menghamburkannya." Vera menjawab pelan, berusaha menjaga perasaan orang yang terkait
"Kau benar, hhh." Menghela nafas setelah kembali pada akal sehat "Aku tidak menyangka. Anak pungut seperti mu, pandai membuat orang nyaman juga. Padahal kita tidak jauh berbeda."
Vera mulai memanas
"Sejak kapan kau tertarik pada ku?" Maksudnya mengorek tentang kehidupannya.
"Saat pertama kali melihat mu kesepian, di kantin itu."
"Buat apa kau melakukannya ?"
"Karena kau merampas hal yang menarik bagiku." Berhenti pandangannya menerawang entah kemana "Haruskah aku merelakannya ataukah merebutnya kembali. Bahkan sedikitpun aku tak pernah di beri kesempatan."
"Sekarang aku mengerti, apa yang membuat mu begitu membenci ku. Ternyata laki-laki itu penyebab nya. Dan masalah di kafe. Kau sengaja melakukannya kan? Sekilas, kau menyenggol tangannya. Begitukah?"
"Ups!" Menutup bibir dengan tangannya "Aku ketahuan." Ucapnya lagi dengan gaya terkejut yang di buat-buat.
Vera menarik nafas dalam
"Mengejutkan sekali. Karena cinta kau rela membuang harga diri, itu sekedar mencuri perhatiannya. Aku tak menyangka."
"Aku tidak mempunyai pilihan lain, mungkin gila karena kehilangannya"
Ya Tuhan ! Dia bahkan mengakuinya secara blak-blakan. Akhirnya aku mengerti kenapa aku tak pernah menyimpan benci padanya. Ternyata inilah alasannya, dia bukan orang yang pandai menyimpan semua perasaannya.
Begitu yang di pikirkan Vera
"Tapi menurut ku" Vera bicara "Kau tidak separah itu. Dengarlah ini. Jika kau menginginkannya kembali. Raihlah dengan cara tulus dan jadilah diri sendiri. Bukan dengan sikap rendahan. Karena hanya itu yang dia mau dari mu."
"Lantas! Apa gunanya kau memberi tahu ku?"
"Karena kau memerlukan nya. Menghangat kan mu dari kesepian."
Linda tersenyum tulus, tatapan mata yang tadinya kesepian. Berubah menjadi hangat kembali. Semangat jiwanya muncul, setelah mendengar fakta bahwa gadis di depannya tidak sedikitpun menyimpan suka pada laki-laki yang dicintainya sejak lama.
"Kita sama-sama kesepian, alangkah baiknya jika saling menguatkan. Kau mau rokok." Linda menyodorkan rokoknya karena senang ."Ambilah, ku rasa kau memerlukannya juga."
"Aku benci rokok, kau jangan main-main."
"Kalau begitu bermainlah. Karena hidup mu membosankan. Jiwa mu bisa sakit jika terus menahan diri.'' Malah berbalik menasehati.
"Kau jangan menyalah artikan nya. Selain itu, apalagi yang kau tau tentang ku. Jangan sok tau!"
"Kau benci cara mereka memperlakukan mu kan? Terkekang lalu berpura-pura bahagia. Ingat, takkan ada manusia sempurna di dunia."
Entah kenapa Vera hanya diam tidak menjawab. Mimiknya tidak dapat di jelaskan. Benar atau tidak hanya dia yang tau.
''Mmm, kenapa reaksi mu diam seperti itu?" Linda terkejut "Padahal, aku tidak bilang kau munafik kan?"
"Cukup, aku muak mendengar ocehan mu."
'"Haa'aa, rupanya kau sudah tidak tahan ya!" Tersenyum "Bermainlah lain kali, jangan hanya melampiaskan pada kerjaan yang tak berguna. Karena itu lebih membosankan." Memberi Vera saran semaunya, seperti sudah mempunyai pengalaman.
Setelah bicara Linda berdiri dari duduk sambil menjatuhkan putung rokok di atas tanah, Memadamkan sisa api dengan menginjaknya. Sepertinya dia sudah mau meninggalkan tempat itu.
"Tunggu!" Linda berhenti saat mau melangkah "Sebelum kau pergi dengarlah ini dengan baik." Linda terlihat menurut lalu memasang telinganya dengan lebar. "Aku mencari pengalaman bukan karena hidup ku membosankan." Vera melanjutkan "Tapi sebaliknya. Hidup ku penuh warna, berbeda dengan mu. Mungkin kau tak pernah mau tau tentang itu. Karena kau selalu merobeknya dengan kekuasaan yang kau miliki. Jadi tolong, kau jangan memandang ku rendah. Karena kenyataannya kau jauh lebih rendah. Hidup segan mati pun tak mau."
Linda tersenyum
"Awalnya aku kecewa, karena orang seperti mu tidak jauh berbeda dengan hidup ku. Kita sama-sama kesepian. Ternyata tidak, kau hebat dan tegar. Sepertinya aku mulai menyukai mu. Carilah aku saat kau mau bermain. Waktu ku selalu tersedia untuk mu."
__ADS_1
Di akhir kalimat Linda menepuk bahu Vera dua kali sambil tersenyum dengan tulus. Memberi tanda bahwa dia ingin memulai pertemanan yang baik. Tanpa menunggu jawaban, Linda berjalan, meninggalkan Vera sendirian di belakang.