Mengejar Cinta Vera

Mengejar Cinta Vera
Raja ampat part tiga


__ADS_3

Di toilet Vera sibuk membersihkan gaun yang terkena tumpahan minuman tadi, hingga menghasilkan warna pink tepat di bagian perutnya, gaun cantik biru itu sekarang menjadi basah terkena air.


Kurang ajar gara-gara orang gila itu gaunku jadi kotor begini. Apa mau dia sebenarnya ? Kenapa dia melakukan ini padaku


Setelah selesai Vera melangkahkan kaki keluar dari toilet dengan kondisi gaunnya yang sudah basah. Tanpa sadar ia berpapasan dengan seorang laki-laki berjalan sambil memperhatikan Vera sejak keluar dari toilet wanita.


"Maaf aku melihat gaun mu basah. Apa kamu baik-baik saja ?" Dia juga memandang wajah Vera dengan lekat "Bibir mu pucat sekali, kamu kedinginan ya?"


"Aku gak apa-apa, aku gak merasa kedinginan kok" Walaupun bibirnya bergetar Vera mengucapkan kalimatnya dengan jelas


Setelah mengintimidasi tubuh gadis imut di depannya. Orang asing itu terlihat melepaskan jaketnya karena ia tahu Vera kedinginan.


"Tunggu" Menahan bahu Vera saat mau melangkah "Sebaiknya, kamu pakai Jaket ini." Ia menyodorkan Jaketnya


Vera menggeleng


"Kamu gak perlu baik padaku, sumpah aku gak apa-apa kok." Masih bersuara dengan jelas, padahal tubuhnya sudah mulai gemetaran


"Kamu harus pakai ini, kalau tidak ! Nanti badan kamu masuk angin" ucapnya lembut sambil memakaikan Jaket di punggung Vera.


Entah kenapa Vera hanya diam, bibirnya tersenyum karena merasakan hangat di tubuhnya.


"Tapi bagaimana dengan mu? Nanti kamu kedinginan juga kan?"


"Gak apa-apa" Ia tersenyum "Aku gak kedinginan kok"


"Ya sudah makasih yah"


"Sama-sama, jangan sungkan"


"Tunggu" Baru mau melangkah, Vera menghadang jalan laki- laki itu dengan tangannya. "Boleh aku tahu Nama mu ?" Tanpa basa-basi laki-laki itu langsung menyodorkan tangannya sambil memandang Vera tajam.


Baru kali ini aku melihat mata yang sangat indah dari seorang gadis.


Vera meraih tangannya.


"Namaku Roni, bagaimana dengan mu?"


"Aku Vera"


"Vera nama yang simple namun mengesankan."


Vera nyengir kuda sambil melepaskan tangannya.


Ya Tuhan ini baru pertama kalinya aku melihat orang yang begitu percaya diri sepertinya


"Aku mau mengembalikan jaket ini nanti, itu juga kalau ada kesempatan bertemu lagi sama kamu"


"Apa kamu berharap kita bertemu lagi?"


"Tentu biar bagaimanapun jaket ini punya mu."


"Kamu gak perlu kembalikan, jaket itu untuk kamu saja. Anggap saja itu hadiah dari perkenalan kita" ucapnya tulus


"Gak terima, pokoknya aku mau mengembalikan jaket mu jika ada kesempatan di lain waktu" Masih keras kepala


"Terserah kamu saja" Roni tersenyum lalu berjalan meninggalkan Vera sendirian


Dasar orang aneh tapi wangi sekali jaket ini. Aku suka dengan aromanya, ini sesuai dengan karakternya.


Vera tersenyum


Tiba-tiba


"Vera ada apa dengan mu? Kenapa kamu memakai jaket ?" Suara Arian yang entah darimana datangnya membuat Vera terbelalak.


Ya Tuhan. Aku gak mau Kakak tau dengan apa yang aku alami tadi, kalau sampai Kakak tau, dia pasti marah.


"Aku gak sengaja menumpahkan minuman ku tadi, jadi gaun ku basah dan kotor" Terpaksa berbohong jika tidak tamatlah riwayat ku


"Mmm Terus, kamu dapat dari mana jaket ini?" Arian melihat sinis pada jaketnya


Vera bingung mau menjawab apa lebih parahnya lagi, jaket di gunakan nya adalah jaket untuk laki-laki.


"Tadi aku bertemu dengan orang, terus dia meminjamkan jaketnya untuk ku. Karena aku kedinginan."


"Ooo syukurlah orang itu baik banget sama kamu. Apa itu artinya kalian sudah lama saling kena? Dan kenapa kamu gak cerita sama Kakak kalau dia datang juga?'' Arian bertanya tanpa jeda, dia mulai cemburu


Vera menghirup udara panjang


Kakak selalu saja begini, kalau aku dekat dengan lelaki. Kakak selalu menyuruh ku jauh-jauh darinya. Punya Kakak yang begini setiap hari. Rasanya kepala ku mau meledak


Pusing sekali.


"Ini baru pertama kali aku bertemu dengannya. Jadi! Mana mungkin" Ucapnya ketus


Reaksi wajah Arian langsung berubah menjadi lega


"Sudahlah kalau begitu, kita pulang sekarang saja" Ajaknya lembut


"Pulang! Kenapa secepat itu?"


"Karena Kakak gak mau kamu masuk angin"


"Oo.. Kakak tenang saja, aku gak apa-apa kok, gak perlu khawatir. Kita kembali ke pesta lagi saja yuk ! Acaranya baru di mulai kan?"


"Apa kamu yakin gak apa apa ? Lihat wajah kamu sekarang pucat banget sayang" Entah kenapa jantung Vera berdebar cepat, saat kedua tangan Arian membelai pipinya, di barengi dengan pandangannya yang lembut


Apa ini mimpi. Aku belum pernah melihat Kakak perhatian begini sebelumnya. Sentuhan tangannya hangat dan lembut sekali.


"Kakak tenang saja, aku gak apa apa kok, beneran."


"Ya sudah kita kembali saja yuk, Kakak mau kasih kamu kejutan"


"kejutan apa?"


"Sudahlah ikuti kaka saja, nanti kamu juga tau" Arian meraih tangan Vera menggenggamnya sambil berjalan.


Saat di perjalanan mereka berpapasan


dengan Dery


"Vera ada apa denganmu? Kenapa kamu pakai jaket" Dery bicara merasa ada yang berbeda dengan penampilan Vera sebelumnya.


"Aku gak sengaja menumpahkan minuman ku tadi. jadi gaun ku basah dan kotor"


"Sayang sekali ya, padahal kamu sangat cantik memakai gaun itu." Ucapnya prihatin.


"Hehee" Vera nyengir kuda.

__ADS_1


"Dery apa kau melihat Kakak ku Arya?" Arian bertanya.


Arya! Kakak tadi menyebut namanya kan. Jadi kejutan yang mau di tunjukan Kakak itu adalah... Waah! Terimakasih Kakak aku sangat merindukannya. Aku sudah gak sabar mau melihat wajahnya sekarang. Tapi.... dia masih membenci ku gak ya.


Dulu, saat Vera masih kecil, Arya selalu menindas nya. Setiap hari, mereka selalu bertengkar dan tidak pernah akur. Walaupun begitu Vera tidak pernah membencinya. Tapi bayangkan jika dia tau Arya adalah laki-laki yang menabraknya tadi, entahlah bagaimana lagi ceritanya.


"Sepertinya dia di toilet dan aku melihat kemejanya juga basah. Sama persis dengan Vera."


"Apa? Basah! Bagaimana bisa dia..." Arian tidak melanjutkan ucapannya saat melihat Arya berjalan menuju ke arahnya.


"Kakak bagaimana kabarmu? Aku sangat merindukan mu" Arian memeluknya sebentar


"Kabar ku baik sekali? Bagaimana dengan mu?" Ucap Arya tanpa melirik Vera


"Kabar ku baik juga."


JGERR bagaikan di sambar petir, cahaya wajah Vera menghitam. Hatinya hancur berkeping saat melihat wajah orang di depannya itu siapa.


Sial! Ini gak mungkin. Kenapa yang di muncul itu malah dia. Aku buang kata-kataku, aku tidak merindu nya, aku membencinya setengah mati. Sampai kapanpun aku gak akan pernah melupakan ucapan kasarnya tadi pada ku. Hemph!


"Oya Kak, ini Vera" Arian menepuk bahu Vera seolah memberitahu bahwa gadis di sebelahnya adalah adik kecilnya yang sudah tumbuh besar menjadi gadis cantik. "Vera ini kejutan untuk mu, bukannya kamu mau sekali melihat wajah Kakak Arya. Bagaimana kamu senang kan sekarang?"


Iya aku senang. Senang jidat mu. Aku mau memukul wajahnya berulang kali.


"Benarkah?" Arya menimpali. Bibirnya tersenyum merendahkan.


"Benar sekali Kak, setiap aku kembali dari tempat mu, Vera selalu bertanya tentang kabar mu. Benarkan Ve apa yang barusan Kakak bilang?"


Vera masih diam, wajahnya semakin memanas setelah mendengar Arian bicara.


Sial! Seharusnya Kakak jangan bilang begitu padanya, sadarlah dia gak sebaik yang Kakak kira. Dia serigala berbulu domba. Aku harus menjauh darinya.


Melihat Arya memandang dengan sinis Vera langsung terbahak.


"Hahaha benar sekali, aku senang. Dan saking senangnya aku mau memukul wajahnya sampai mati." Menjijikan! Begitu gumamnya dalam hati.


Arian terkejut "Maksud kamu?"


"Hehe. Maksudnya aku gembira, setelah sekian lama menunggu. Akhirnya aku bisa melihat wajahnya yang tampan mempesona." Cih bahkan sekarang aku harus merendah diri di depannya." Bagaimana dengan mu?" Beralih memandang Arya "Apa Kakak juga bahagia melihat wajah ku?" Menyindir


Arya belum mau menjawab, dia masih diam melihat Vera dengan tatapan sadis.


Sial, ternyata kucing liar ini berani menantang ku sekarang. Tapi, mari kita lihat, siapa yang akan mati lebih dulu. Cih! Aku menantikannya.


Dery hanya diam menyimak. Entah kenapa hawa di sekitar tengkuknya menjadi dingin.


"Ya sudah, kalau begitu lebih baik sekarang kita kembali ke sana dan nikmati acaranya bagaimana?" Dery menghangat kembali suasana


"Ya sudah kita kembali sekarang" Hanya Arian yang menjawab. Mereka melangkahkan kakinya berjalan menuju acara pesta ulang tahunnya.


Di tengah-tengah acara pesta


"Vera kamu ikuti Kakak yuk." Arian menarik tangan Vera


"Kemana?"


"Kakak mau kasih kejutan buat kamu"


"kejutan, bukannya Kak Arya itu kejutan dari Kakak ya?"


"Ayolah ikuti Kakak saja"


"Kakak tutup matamu ya" Kata Arian saat sudah sampai. Ia menutup mata Vera dengan kedua tangannya. Beberapa detik kemudian Arian melepaskan tangannya.


Duar, suara petasan kembang api terdengar keras di telinga. Membuat Vera takjub melihat warnanya.


"Waaaaah indahnya, terima kasih kakak, Vera sayang banget sama Kakak."


Mungkin bibir Vera tersenyum saat melihatnya. Tapi siapa sangka jika hatinya terbenam luka. Ingin menangis tapi tidak boleh di keluarkan. Dia merindukan kedua orang tua kandungnya.


Arian tersenyum melihat reaksi Vera.


"Cepat berdoa sebelum kembang api nya berhenti" Vera memejamkan mata lalu menunduk berdoa dalam hati.


Ya Tuhan berilah aku kesempatan untuk bertemu dengan ayah dan ibu ku meski dalam mimpi. Aku ingin memeluknya dan bilang padanya, bahwa aku sangat bahagia dan baik-baik saja sekarang.


Ya tuhan bantulah aku agar aku selalu sabar dan tegar untuk menghadapi pahit dan kerasnya kehidupan. Bantulah aku mendapatkan kebebasan dari keluarga ku karena aku ingin mengetahui seperti apa warnanya kehidupan di dunia ini.


Arya hanya terdiam saat melihat Vera begitu bahagia. Apalagi saat Arian menarik kepala gadis itu agar bersandar di bahunya. Aura wajahnya menghitam menahan amarah.


Apa benar Arya sangat membenci Vera. Jika iya apa alasannya ? Entahlah hanya dia yang tau jawabannya. Tidak terasa acara pesta ulang tahun pun berakhir dan seluruh para tamu pulang ke tempat tinggalnya masing masing.


__


Vila waktu 00:30 pagi.


Setelah sampai di vila, Vera langsung masuk ke kamar, melepaskan sepatu hak tinggi nya dengan asal-asalan. Tanpa basa basi ia langsung berbaring ke tempat tidurnya sambil memejamkan mata. Dua menit kemudian dia tertidur pulas, tanpa melepaskan jaket yang masih di pakainya.


Satu jam kemudian, pintu kamar terbuka. Ada seorang laki-laki yang diam-diam masuk ke dalam. Berjalan mendekat, lalu duduk di tempat tidur sambil menatap Vera dengan tajam. Perlahan wajahnya mendekatkan lalu bibirnya menyentuh bibir Vera, menciumnya dengan sangat lembut. Ciumannya yang hangat mengalirkan semua kerinduannya.


Beberapa menit berlalu, dia berjalan keluar lalu menutup pintunya kembali tanpa mengeluarkan suara seolah membersihkan jejak.


Kira kira siapa laki-laki itu? Arya atau Arian. Percayalah itu ciuman pertama Vera. Jahat ga sih caranya dia mengambilnya seperti itu dan apa maksudnya, kenapa dia melakukannya? Entahlah, misterius sekali. Toh, gadis itu juga tidak ada reaksinya. Dia terlalu kebo.


***


Esok paginya


Vera terbangun dari tidurnya, dia menguap sambil melihat matahari pagi, waktu menunjukan 08:30. Dia duduk dari tidurnya, jaket yang di pakainya tadi malam masih menempel. Aroma khas parfum itu masih tercium wanginya.


Suara ketukan pintu kamar terdengar setelah bunyi ketiga pintu terbuka. Tangan Arian terlihat memegang handle pintu.


"Pagi sayang, kamu sudah bangun. Ya ampun semalaman kamu tidur dengan gaun itu. Tadi malam kamu melakukan apa saja? Sampai kamu lupa gak ganti baju tidur." Arian berjalan mendekatkan diri.


"Semalam aku capek kak, jadi gak sempat


ganti baju" Menguap lagi sambil merapikan rambutnya yang acak acakan entah kemana.


"Berati semalam kamu gak mandi ya, dasar jorok"


"Habis mata ku berat banget kak, aku gak sanggup menahannya. Jadi, aku tidur saja langsung."


"Ya sudah sekarang kamu cepat mandi dan sarapan. Kakak tunggu kamu di bawah." Arian bangkit dari tempat duduknya


"Iya "


Arian pun melangkahkan kakinya meninggalkan kamar Vera


Setelah Arian menghilang di balik pintu yang tertutup Vera bangkit dari tempat tidurnya, lalu berjalan ke kamar mandi. Setelah selesai dengan urusan mandinya. Vera memakai baju yang biasa di kenakan menemani setiap harinya. Sekarang dia memandang diri di depan cermin sambil menyisir rambut lembabnya.

__ADS_1


Semalam aku bermimpi ada seorang yang datang mencium bibirku. Ini gak mungkin! Tapi seperti itukah rasanya berciuman. Aaaa aku pasti sudah gila, kenapa aku memikirkannya. Padahal cuma mimpi.


Vera langsung membuang bayangannya yang satu itu jauh-jauh, lalu keluar dari kamarnya. Menapakkan kakinya menuruni anak tangga. Saat itu ia memakai celana jeans pendek biru di atas lutut.


Kaos berwarna pink yang ada tulisan MORNING terlihat jelas di dadanya dan tak lupa rambutnya di kuncir buntut kuda. Matanya berkilau indah membuat siapa saja yang melihatnya, pasti akan jatuh cinta karena imutnya


Setelah sampai di lantai bawah tiba-tiba


Brukkk ia terjerembab lututnya membentur di lantai. Karena ada orang yang menjahili kakinya.


"Aww sakit" Vera langsung duduk sambil menekuk lututnya, lalu dia mengusap nyeri pada bagian lutut yang bekas terbentur di lantai dengan tangannya.


"Apa kau sedang memohon ampunan dari ku?"


Karena mendengar suaranya Vera menengadahkan kepalanya, karena kesal dia langsung berdiri dari duduknya.


"Kau gila!"


"Hahaha, makanya saat berjalan. Gunakanlah kedua mata mu dengan jeli dan jangan membuat orang lain kesal." Arya menyindir kejadian tadi malam, saat saling bertabrakan. Yang menyebabkan kemejanya basah dan koror gara-gara gadis itu.


"Hahaha, paling tidak aku lebih baik darimu. Karena yang aku tau. Mulut mu selalu bicara setelah melihat orang lain. Cih, memalukan."


Karena merasa dirinya di rendahkan Arya langsung mencengkram dagu Vera secepat kilat.


"Jaga ucapan mu." Suaranya dingin terdengar membuat Vera ketakutan dan tidak tau harus berbuat apa. Namun untungnya Arya segera melepaskan tangannya saat suara langkah kaki Arian terdengar semakin nyata mendekat ke arahnya.


"Ada apa dengan lutut mu Ve?" Arian bertanya saat melihat lutut Vera, ada sedikit warna lebam di sana.


"Aku gak apa-apa Kak, kaki ku cuma tersandung tadi" lebih baik berbohong saja daripada menambah masalah, begitu pikirnya.


"Kamu ini ada-ada saja, tapi beneran kamu gak papa kan?" Arian menyentuh lutut Vera


Arya hanya diam aura wajahnya memanas menahan geram melihat gadis yang di bencinya mendapat perhatian lebih dari Arian


"Iya aku gak apa-apa. sudahlah Kakak gak usah khawatir" Dia menjauhkan lututnya dari tangan Arian


"Ya sudah lebih baik kita sarapan sekarang"


Akhirnya mereka bertiga pun berjalan menuju meja makan lalu sarapan di meja makan dengan tenang.


____


Siang hari


Arya dan Arian terlihat sedang berenang di kolam. Sedangkan Vera hanya bersandar di kursi lesehan, sambil memakai headset di telinganya. Mendengarkan musik dari handphone nya. Di lengkapi sebuah kaca mata hitam yang bertengger di wajahnya.


Sangat cocok di pakai siang hari begini sambil menikmati indahnya pulau raja ampat. Nyaman dan tenang sekali rasanya.


Handphonenya bergetar saat panggilan masuk. Tertulis Mama dalam layar, lalu dengan segera Vera menjawab panggilannya.


"Siang Mah, apa kabar? "


"Kabar Mama baik sayang, Mamah juga kangen sama kalian, Kapan kalian pulang?"


"Vera gak tau Mah"


"Apa Arya ada di sana sayang?"


"Ada mah, dia lagi berenang sama kak Arian."


"Begitu ya, sayang kalau nanti mereka selesai


berenang, kamu telepon Mama ya. "


"Iya mah..."


"Sayang apa Kak Arya masih suka jahatin kamu?"


"Enggak Mah, dari pertama bertemu sampai sekarang, Kak Arya baik ko sama aku"


Maaf aku terpaksa membohongi Mama saat ini. Asalkan Mama bahagia aku juga bahagia. Karena cuma Mama satu-satunya yang aku sayang di dunia ini


"Oya syukurlah tapi sayang Mama beritahu kamu. Jika Kak Arya jahat lagi sama kamu, Mama tolong jangan di ambil hati. Mama tau sebenernya dia tidak jahat sayang, hatinya baik dan lembut sama seperti Arian. Jadi Mama mohon kamu memaklumi nya"


"Iya mah, Vera juga mengerti ko, Kak Arya cuma mau mainin aku seperti boneka, selalu bilang begitu sewaktu aku masih kecil dan Mama juga selalu datang menenangkan aku di saat aku sedang menangis karena ulah jahatnya. Tapi sekarang aku sudah besar, aku bisa mengendalikan diri. Jadi mama tenang aja dan gak usah khawatir yah"


"Iya sayang"


___


Di kolam renang


Arya dan Arian bersandar di tepi kolam renang, mereka sudah selesai berenang


"Kak sampai kapan Kakak mau menindas Vera? Berhentilah Kak dia adik kita." Arian bicara


"Dia memang Adik mu, tapi dia bukan Adik ku"


Arian menghela nafas, bosan dia karena selalu mendengar asalan yang sama.


"Kak alasan apa sebenarnya yang membuat mu begitu membencinya? Apa salah dia"


"Arian bukankah aku sudah bilang pada mu jika Ayah tidak berkorban demi menyelamatkan Adik mu, mungkin ayah kita tidak akan meninggal."


"Harus berapa kali Mama menjelaskan nya padamu Kak, Ayah meninggal bukan karena itu. Tapi sebaliknya orang tua nya yang sudah menyelamatkan kehidupan kita waktu itu."


"Arian apa kau bodoh?" Ucapnya menggema " Dialah penyebab nya, Ayah kita mengalami kecelakaan."


"Kaulah yang bodoh, kau terlalu di buta kan benci mu. Bagaimana bisa seorang bayi baru berumur satu bulan di salahkan. Kakak tidak punya hati. Pantas jika tidak ada seorang pun wanita yang mau menginginkan Kakak."


Ralat, itu hanyalah rumor tentangnya.


Sebenarnya ada banyak wanita yang rela menunggu demi mendapatkan cintanya.


Selama di luar negri Arya hanya sibuk dengan urusan study nya. Selalu fokus pada rencana masa depan tanpa adanya gangguan terutama wanita.


Sial! Gara-gara kucing liar itu. Arian jadi berani melawan ku sekarang.


Arya mengepal tangannya dalam kolam demi membuang kesal, yang nyaris memukul wajah Arian barusan.


Arian naik dari kolam lalu berjalan menghampiri gadis imut sedang tertidur pulas. Setelah sampai dia duduk di sebelah Vera


"Ckckckc" Arian menggeleng "Dasar kebo, bisa-bisanya kamu tidur di manapun kamu berada" tersenyum


Lucu sekali wajah tidur mu, jadinya Kakak mau mencium mu.


Arian mendekatkan wajahnya dan bibirnya menyentuh kening Vera mengalirkan semua kasih sayang nya.


Sementara dari jarak yang tidak jauh. Urat kesal di sekitar wajah Arya terlihat sangat jelas menahan emosi yang nyaris meledak di kepala. "Aaaah, sial!" Dia memukul air kolam melampiaskan kekesalannya.

__ADS_1


Dan setelah tiga hari berlalu mereka memutuskan kembali pulang ke ibu kota.


__ADS_2