Mengejar Cinta Vera

Mengejar Cinta Vera
Raja ampat part dua


__ADS_3

Setelah sekian lama akhirnya Vera selesai di dandani didalam kamarnya dan sekarang ia melihat dirinya di depan kaca. Merasa ada yang aneh dengan wajah dan penampilannya.


Apa ini benar-benar aku, kenapa aku jadi aneh begini. Rasanya semua orang sedang menertawakan ku. Mbak perias tadi saja hanya diam melihatku. Lebih baik aku membujuk kaka supaya aku mengganti gaun ini dengan bajuku yang biasa saja,


Vera bangkit dari kursi, melangkahkan kakinya setengah berlari menuju kamar Arian yang berhadapan dengan kamarnya.


Brukkk. Suara pintu kamar yang di bukanya dengan kencang. Matanya terbelalak melihat Arian hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya. Dia baru selesai mandi sepertinya.


"Maaf Kak, karena aku masuk ke kamarnya tiba-tiba" Langsung membuang muka malu


Bagaimana tidak malu. ini baru pertama kalinya Vera melihat perawakan Arian tanpa menggunakan busana. Tubuhnya putih bersih dan mulus, sixpack di perut nya terlihat jelas. Baru kali ini Vera merasa bahwa kakaknya begitu tampan dan sexy.


"Kakak bagaimana dengan penampilanku, apa aku pantas memakai gaun ini? Tapi aku merasa ini gak cocok deh sepertinya?"


Tidak ada reaksi apapun dari Arian, bahkan mendengarkan Vera bicara saja tidak. Dia hanya diam melihat gadis itu dari ujung kepala sampai ujung kakinya tanpa berkedip. Melihat pesonanya.


Cantik sekali, membuatku tidak sabar ingin segera memilikinya seutuhnya. Seandainya Mama izinkan aku menikahinya di usianya yang masih dibilang kecil ini. Aku mau menikahinya saat ini juga.


Arian tidak peduli jika Vera sekarang menatapnya dengan bingung. Dia melangkahkan kakinya, mendekatkan diri sampai berhenti didepan Arian.


"Apa Kakak dengar apa yang aku omongin? Kenapa Kakak diam saja? Itu tandanya aku sama sekali gak cocok kan! Lebih baik sekarang aku ganti gaunnya dengan baju ku yang ini saja bagaimana?"


"Kakak suka melihat kamu memakainya" Akhirnya Arian buka suara. Ada gelora asmara yang tersirat di matanya. "Kamu cantik sekali Ve"


Sial kenapa Kakak melihat wajah ku tajam begitu sih. Vera salah tingkah


"Stop! Kakak jangan melihat aku dengan pandangan begitu terus dong. Aku malu." Menutup muka dengan baju yang di bawanya. Bibir Arian tersenyum saat gadis itu mengintip di balik bajunya


"Lain kali, kalau mau masuk kamar Kakak, kamu harus ketuk pintu dulu ngerti?" Di akhir kalimat Arian menuding kening Vera dengan telunjuknya.


"Oke boss," Vera menurunkan bajunya"Kalau begitu aku keluar dulu yah, aku tunggu kakak di bawah saja" Setelah tersenyum ia berjalan meninggalkan Arian


Manisnya saat dia tersenyum, membuatku tidak sabar ingin mencium bibirnya yang tipis.


 ***


Mobil sport mewah berwarna biru tampak melaju dengan kecepatan sedang. Entahlah Arian mau membawa Vera kemana.


Kakak tampan banget pakai kemeja itu. Aku suka melihatnya


Saat itu Arian memakai kemeja abu tua dengan lengan panjang yang di gulung dan jam tangan hitam mewah yang melingkari tangannya membuat Arian terlihat menjadi lebih tampan berkelas.


"Kak! Memangnya kita mau kemana sih, kenapa aku harus memakai gaun yang bahunya terbuka begini?" Vera bicara, sebenarnya dia merasa risih saat memakai gaunnya, apalagi yang modelnya begitu.


Arian mengusap kepala Vera dengan lembut.


"Vera sayang kamu tenang saja, nanti juga kamu tau, sudahlah jangan gelisah, Kakak yakin kamu pasti senang."


"lya"


****


Sebuah rumah mewah berkelas tengah mengadakan pesta, yaitu pesta ulang tahun Dery sahabat Arian dan Arya. Mereka tumbuh bersama waktu kecil. Dery adalah anak pemilik dari PT SINAR UTAMA yang merupakan perusahaan terkenal di kota xxxx.


Kali ini Arian dan Vera melangkahkan kakinya melalui pintu masuk utama. Mata Arian berkeliling mencari seseorang. Dan tanpa mereka sadari, semua mata tertuju padanya. Apalagi pada gadis yang berjalan bersamanya. Gadis yang membuat semua tamu yang hadir disana berbisik satu sama lain karena melihat kecantikannya.


"Kak aku malu, kenapa gak bilang, kalau Kakak datang ke acara pesta ulang tahun ini. Rasanya formal sekali, pantas saja kaka menyuruhku memakai gaun ini." Vera berbisik


"Sudahlah jangan banyak omong. Mendingan sekarang kita masuk saja dan nikmati pesta ini." Arian menawarkan lengannya. Vera melingkarkan tangannya di sana. Setelahnya mereka berjalan lagi menuju aula pesta.


Ehh itu Arian kan, terus siapa gadis di sebelahnya ? Dia cantik sekali. Dery bergumam dalam hati


"Dery hahaaha" Arian meyebut nama temanya saat berhadapan lalu memeluknya.


"Bagaimana kabar mu selama ini? Sudah lama kita tidak bertemu ya, kau masih tetap saja seperti ini dan tidak ada yang berubah." Dery bicara.


Arian melepaskan pelukannya.


"Kabar ku baik sekali, maaf Der, aku sibuk akhir-akhir ini. Kau pasti mengerti kan maksud ku?"


Dery memahami apa yang di ucapakan Arian. Akhir-akhir ini Arian bekerja dengan extra, memperjuangkan perusaan almarhum papanya dengan seorang diri, sehingga menjadi perusahan terkenal dan no satu di kota xxxx


"Dery kenalkan ini Adik ku Vera Nindya" Dia menjatuhkan tangannya di bahu Vera saat mengenalkan gadis cantik yang sedari tadi hanya diam di sampingnya.


"Jadi ini gadis yang bernama Vera, senang berkenalan dengan mu. Sudah lama aku ingin melihat wajahmu "Dery menyodorkan tangannya.


Arian memang selalu membicarakan tentang Vera padanya. Gadis imut yang katanya selalu membuat Arian tidak ingin memiliki kekasih manapun. Pasalnya Dery selalu mengenalkan wanita pada Arian, dengan tujuan untuk di jadikan teman pendampingnya.


Tapi semuanya tidak ada yang berhasil. Arian menolak setiap wanita yang di kenalkan Dery padanya. Alasannya karena tidak cocok dengan seleranya.


"Eh iya, aku Vera Nindya senang berkenalan dengan Kakak." Jawab Vera sambil bersalaman dengan Dery sebentar.


Kenapa dia mau melihatku. Apa itu artinya Kakak selalu bercerita tentang ku. Aku baru tau kalau Kakak itu suka bergosip.


Vera menyenggol Arian


"Ada apa?" Arian bertanya


"Kakak suka bercerita tentang aku yah?" Arian hanya nyengir


"Iya sih tapi sedikit kok."


"Ceritakan yang bagusnya apa yang jeleknya?"


"Dua-duanya hehe." Arian nyengir lagi

__ADS_1


"Iish dasar tukang gosip!" Vera mencubit lengan Arian, sementara Dery terkekeh melihat kelakuan mereka berdua.


"Vera apa aku boleh pinjam Kakak mu? Ada yang mau aku bicarakan dengannya sebentar."


"Oh, tentu saja silahkaaan, bawa saja dia. Aku gak keberatan kok. Dan menjauhlah kalian sekarang juga. Dasar tukang gosip!"


"Tapi sayang kan!" Arian menimpali, wajah Vera langsung memanas "Haha.. Adik Kakak yang satu ini kalau lagi marah memang imut deh" Mencubit pipi Vera "Ya sudah Kakak tinggal dulu ya sayang, awas kamu jangan nakal." Arian mengancam sambil menunjuk badannya.


"Hahaa. Memangnya Kakak kira aku ini bocah apa? Ya sudah sana, pergi yang jauh." Ucapnya ketus sambil mendorong maju punggung Arian, menyuruhnya segera pergi.


"Iya iya" Arian menjawab, lalu berjalan di sebelah Dery menuju ruangan lain.


Tinggallah Vera sendirian di tempatnya


Di pesta ulang tahun yang berkelas itu, ada banyak sekali tamu undangan yang datang. Dan sepertinya mereka bukan sembarang orang. Karena di setiap sudut ruangan ada pengawal yang sedang berjaga dengan ketat dan tanpa undangan mereka tidak di perbolehkan masuk.


Vera mengedarkan pandangan ke seluruh tamu yang berada di ruangan itu. Mencari wanita siapa saja yang mau di ajak bicara. Memang banyak tamu wanita yang hadir disana. Namun sayangnya semua berpasangan. Membuat Vera menjadi enggan melakukannya.


Vera lebih memilih berjalan mendekati hidangan makanan yang tersedia di meja. Baru saja dia mau mengambil makanan dan minuman, tiba-tiba brukkk, badannya terpental karena di tabrak seorang laki-laki burasan. Segelas minuman yang di bawanya tumpah. Membanjiri bagian depan tubuhnya. Dalam sekejap gaun biru yang indah itu berubah menjadi basah dan kotor sekarang.


"Ah Maaf kak maaf, aku gak sengaja," Ucapnya tanpa melihat laki-laki di depannya, karena sibuk menyeka air minuman di gaunnya dengan tangan.


"Maaf maaf, kalau jalan mata lihat ke depan dong!" Ucapnya lantang. "Apa kau buta? Lihat kemeja ku jadi basah dan kotor gara-gara kamu." Lanjutnya sambil melihat Vera dengan penuh kebencian


JGERRR Vera langsung mendongak


Terlihatlah sosok laki-laki yang tak kalah tampannya dengan Arian. Mata dan aura wajahnya hampir mirip dengan Arian. Tapi dia terlihat lebih sedikit dewasa. Penampilannya juga gentle dan berkelas suaranya juga sangat khas membuat laki-laki itu menjadi semakin tampan dan sexy.


Sialan! Dia pikir dia siapa? Kenal juga enggak, beraninya memaki ku.


"Gila! Kaulah yang buta, kau yang menabrak ku tadi. Apa kau tidak melihatnya? Gaun ku juga basah dan kotor gara-gara kamu." Vera tidak mau di salahkan.


Hemh, sudah lama aku menantimu kucing liar. Aku mau memainkan mu.


Sambil mendekat laki-laki itu bicara dalam hatinya, entah kenapa sekujur tubuh Vera mulai gemetar


"Mau apa kau?" Vera mulai ketakutan tapi tidak bergerak dari posisinya. Saat laki-laki itu sudah mendekat dia meraih dagunya secepat kilat, mencengkeramnya kuat. Seringai tipis mengerikan muncul di bibirnya.


Sementara Vera mencengkram lengannya sambil menggoyangkan dagunya dengan kuat demi melepaskan diri. Tapi laki-laki tampan itu tidak mau melepaskan tangannya.


"Kurang ajar! Lepaskan tangan mu!"


Melihat Vera meronta laki-laki itu menyeringai lagi.


"Jaga ucapan mu, beraninya kau memaki ku" Ucapnya dingin, belum melepaskan tangannya.


"DENGAR, kaulah yang seharusnya menjaga sikapmu, kau yang menabrak ku, kenapa kau juga yang menyalahkan ku? Menurutmu apa bedanya itu dengan orang GILA dan kaulah yang seharusnya minta maaf. " Vera tidak mau kalah


"Hahaha, minta maaf? Jangan mimpi!" Setelah menjawab laki-laki itu baru melepaskan tangannya sambil merendahkan Vera dengan seringainya. "Tidak pantas bagi ku, minta maaf pada kucing liar seperti mu." Plak sebuah tamparan mendarat mulus di pipinya.


Laki-laki itu hanya menyeringai lagi sambil mengusap pipinya yang bekas di tampar barusan. Tidak ada sedikitpun rasa kesakitan terlihat di wajahnya. Ia melangkah maju, menjatuhkan kedua tangannya di bahu Vera lalu berbisik


"Dengar kau bukan manusia, tapi kau kucing liar ku."


Vera merinding geli mendengarnya, kakinya gemetar wajahnya merona, tangannya yang terkepal langsung berkeringat dingin. Menahan gelora di dadanya


Ini gak mungkin. Kenapa jantung ku berdebar kencang! Jangan-jangan.


Saat tersadar Vera mendorong tubuh lelaki di depannya. Namun anehnya laki-laki itu hanya tersenyum merendahkan setelahnya ia berjalan melewati Vera tanpa sedikitpun merasa bersalah.


Sialan! Siapa orang itu? Beraninya dia merendahkan ku. Dasar gila! Aku gak akan pernah melupakan kejadian ini dan aku gak mau memaafkan orang yang kurang ajar sepertinya.


Vera memaki dalam hatinya, walaupun pertemuan singkat tapi laki-laki itu sudah membuat lubang kebencian yang teramat dalam.


"Tunggu! Rasanya aku pernah melihat dia sepertinya. Tapi dimana ya? Wajahnya juga tidak asing."


Mata Vera berputar sambil mencari-cari jawaban di kepalanya tapi tetap gagal. Sudahlah buat apa di pikirkan. Begitu kira-kira batinnya sambil menggeleng, setelahnya ia berjalan meninggalkan tempat kejadian itu


***


Di ruang lain


"Dery apa yang mau kau bicarakan dengan ku?" Arian memulai pembicaraan.


"Apa kau tau bahwa Kakakmu Arya sudah kembali?" Dery malah balik bertanya


"Benarkah!" Arian terkejut tidak percaya bahwa Kakak nya sudah kembali pulang. "Kau mengundangnya?" Dery mengangguk "Sial! Dimana dia sekarang?"


Dery bingung melihat reaksi dari wajah Arian yang merasa tidak senang dengan kehadiran Kakaknya sendiri.


"Dia sudah datang lebih dulu dari mu. Mungkin saat ini dia lagi asik mengobrol dengan teman lama kita."


Arian hanya mematung di tempatnya berdiri.


Sejak kapan Kakak kembali. Dan kenapa Mama tidak memberitahu ku dan kenapa mereka merahasiakannya dari ku. Aku yakin pasti ada yang tidak beres. Aku harus segera melindungi Vera darinya.


***


Kejadian sebelumnya saat Arian dan Vera sedang dalam perjalanan menuju Raja Ampat


Mobil sport hitam mewah terparkir mulus di depan rumah keluarga Aliya. Ada seorang laki-laki yang sangat tampan namun dingin itu turun dari mobilnya dan melangkahkan kaki memasuki rumah Arian. Saat melewati pintu utama ia disambut oleh seorang wanita cantik dan beberapa pelayan yang sudah lama menunggu kedatangannya.


"Selamat datang Tuan Muda" Sambut kepala Pelayan dengan sopan.


"Terimakasih" Arya menjawab sambil senyum

__ADS_1


"Arya Mamah kangen banget sama kamu. bagaimana dengan perjalanan mu sayang?" Aliya memeluk putranya yang selama ini di rindukan.


"Baik Mah, aku juga kangen sama Mama"


Sesudah berpelukan Aliya dan Arya masuk kedalam rumah menuju ruang keluarga. Saat tiba di sana mereka duduk di sofa berdampingan. Arya mengedarkan pandanganya ke setiap sudut ruangan, matanya berkeliling seperti sedang mencari seseorang.


"Mah di mana Arian? Kenapa dia tidak ikut datang menyambut ku."


"Oh maaf sayang. Mama lupa gak bilang sama kamu dari awal. Arian baru saja pergi bersama Vera ke raja ampat. Karena mau menghadiri pesta ulang tahun teman mu. Sayang apa Dery mengundangmu juga?"


Arya diam sesaat belum menjawab


Sial! Ternyata kucing liar itu sudah pergi.


"Iya mah Dery mengundangku juga dan untuk itu juga aku kembali."


Sekedar memberitahu, selama ini Arya tinggal di luar negri karena mau melanjutkan studinya. Sedari dulu Arya tidak tertarik dengan urusan kantor dan lebih ingin menjadi dirinya sendiri. Baginya kantor itu tempat yang membuatnya bosan, sehingga Arian lah yang bertanggung jawab semua atas perusahaan ayahnya. Berkat Arian juga perusahaan ayahnya sukses dan selalu menjadi trending topik.


"Sayang bagaimana rencana mu nanti. Apa sudah yakin dengan keputusan kamu?" Tanya Aliya


"Tentu aku yakin sekali, daripada mengurus masalah kantor. Lebih baik aku menjadi dosen." Arya bicara tatapannya penuh makna


Aliya menghembus nafas panjang setelah mendengarnya. Ia tahu bahwa keputusan Arya tidak bisa di ganggu gugat lagi.


"Asal kamu tau, Mama itu selalu berharap kamu mau bekerjasama dengan adik mu mengelola perusaan."


"Mah, Arya hanya bisa minta maaf, karena tidak bisa menjadi seperti apa yang Mama inginkan. Tapi walaupun aku tidak berhasil dengan keputusan ini, Arya akan tetap berusaha demi membahagiakan Mama."


"Terimakasih, asal mama melihat kamu bahagia saja, itu sudah cukup." Aliya menatap Arya dengan penuh kasih sayang


"Terimakasih, karena Mama mau mengerti dan menghargai keputusan ku." Ucap Arya dengan lembut lalu menggenggam tangan Aliya lembut


Aliya tersenyum saja


Mama berharap kamu juga bahagia bersama Adikmu dan menghilangkan semua rasa benci kamu sama Vera.


Setelah berbincang cukup lama Arya bangkit dari tempat duduknya meninggalkan Aliya menuju kamarnya di lantai atas dan tidak jauh dengan kamar Vera. Bahkan berhadapan. Setibanya di dalam, dia melihat-lihat sekelilingnya memastikan tidak ada yang berubah dengan interiornya.


Dari warna dinding sprei tempat tidur hingga peralatan kamarnya hampir mirip dengan kamar Vera. Bedanya ada ruang rahasia di kamar ini, sebuah ruangan yang hanya bisa terbuka oleh sidik jari Arya saja.


Setelah pintu ruangan rahasia bergeser, dia masuk kedalam. Disinilah dia selalu menghabiskan waktu senggangnya. Menarik kursi lalu duduk, tangannya meraih laptop di atas meja.


Setelah beberapa lama melihat dokumennya Arya bersandar di kursinya memejamkan mata sambil memikirkan beberapa rencana.


Rencana seperti apa yang di pikirkan Arya ya kira-kira? Entahlah hanya dia dan Tuhan saja yang mengetahui jawabannya. Satu jam kemudian Arya angkat kaki dari rumahnya menuju Raja Ampat.


Saat sudah tiba pesta ulang tahun


Dia berjalan melewati para pengawal penjaga pintu masuk. Melihat sekeliling sambil mencari seseorang, beberapa detik kemudian ia langsung menemukannya.


"Selamat ulang tahun untuk teman baik ku yang yang satu ini." Dery terkejut setengah mati saat Arya merangkul nya dari arah belakang secara tiba-tiba "Semoga di setiap hari mu selalu menyenangkan." Lanjutnya dengan suara nya terdengar tulus.


"Hahaha Terimakasih."' Dery memeluk Arya sambil menepuk bahunya sebentar "Sudah berapa lama ya kita tidak bertemu. Bagaimana kabar mu?"


"Baik, kau sendiri bagaimana kabarnya?"


"Kabar ku baik sekali, tapi kenapa kau hanya datang sendiri, di mana Arian?"


"Tidak tau, seharusnya dia datang lebih dulu dari ku."


"Apa kau bercanda, aku belum melihatnya dari tadi. Eh, tapi. Kenapa kau tidak datang bersama Adik mu?"


"Aku sengaja merahasiakan kehadiran ku karena mau memberinya kejutan dan aku mau tau bagaimana reaksinya saat melihat ku nanti. Haha." Arya tertawa hambar.


Dery mengerutkan kening bingung, tidak mengerti apa maksud yang di katakannya. Ia hanya menghela nafas panjang demi membuang curiga.


"Ya sudah terserah kau saja. Lalu bagaimana dengan kuliahmu di negara xxxx?"


"Sangat baik, bahkan sekarang aku sudah lulus"


"Benarkah" Arya mengangguk "Apa rencana mu sekarang, apakah kau masih bersikeras ingin menjadi dosen seperti yang di rencanakan mu sejak dulu."


"Ya aku menginginkannya"


Tapi apa tujuan mu sebenarnya. *D*i lihat dari senyuman aneh mu. Aku yakin kau pasti memiliki siasat lain dibaliknya.


"Kalau begitu aku mendukung mu." Ucapnya tulus


Arya tersenyum mendengarnya


"Terimakasih atas dukungannya."


"Omong-omong bagaimana kabar Vera? Apa dia datang juga? Aku penasaran mau melihat wajahnya."


"Kau mengenalnya?" Arya terkejut setengah mati saat mendengar nama gadis itu di sebutkan.


'Haha.. tentu saja, Arian selalu menceritakan semua tentangnya pada ku. Apa kau tau juga? Selama hidupnya Arian selalu enggan berhubungan dengan setiap wanita hanya karena mau menunggu Vera yang katanya sangat cantik itu hehehe."


Sial! Ternyata kucing liar itu sudah pandai menarik perhatian Adik ku. Lihat saja akan ku buat dia menyesali perbuatannya.


Dery kebingungan saat melihat reaksi wajah Arya yang tidak dapat di jelaskan itu


Baru saja Arya mau menjawab Arian dan Vera datang sambil berjalan bergandengan tangan. Dery melongo saat melihat Vera karena takjub. Sedangkan Arya hanya diam, tangannya terkepal karena melihatnya geram.


Dery dia memang cantik, tapi tetap saja dia kucing liar ku. Aku sudah tidak sabar ingin melihat reaksinya setelah kehilangan seorang yang paling berharga di hidupnya. Aku menantikannya.

__ADS_1


__ADS_2