Mengejar Cinta Vera

Mengejar Cinta Vera
Dua hari kemudian


__ADS_3

Sebelum melangsungkan hari pernikahan, ada prosesi penting yang nggak boleh terlewatkan, yakni lamaran. Momen spesial malam ini juga menjadi malam yang paling ditunggu-tunggu sekaligus mendebarkan bagi kedua belah pihak. Pasalnya, lamaran merupakan ajang pertemuan dan pinangan resmi dari pihak laki-laki kepada keluarga perempuan.


Karena mengingat malam ini adalah momen yang sepesial. Aliya terlihat sibuk mendandani wajah Vera di kamarnya. Setelah selesai mendandani wajahnya, Aliya menata rambutnya dengan gaya kepangan yang menyamping. Memakai aksesoris dengan headpiece bunga kecil memanjang yang dirambatkan di rambut belakang. Sungguh membuat Vera tampil feminim dan juga terlihat manis setelah rambutnya di hiasi aksesoris tersebut, senada dengan warna gaun malam yang berlengan pendek dan panjangnya sampai mata kaki.


"Selesai deh." Ucap Aliya setelah memakaikan anting yang menempel di telinga Vera. "Sekarang Mama mau memakaikan kalungnya di leher kamu. Dan kamu yang memakai gelangnya sendiri."


"Mmm" Vera menangguk lalu memakai gelang ditangannya.


"Bagaimana sayang, kamu suka gak. Dengan dandanan Mama yang seperti ini?" Aliya bertanya setelah memakaikan kalungnya di leher Vera


"Suka sih, tapi... Rasanya penampilan ku terlihat aneh.".


"Kamu gak aneh kok sayang. Justru cantik sekali, Mama suka melihat penampilan mu yang sepeti ini."


"Sungguh? Mama gak bohong kan."


"Benar sayang, masa Mama bohong. Kamu ini ada-ada saja."


"Hehe.." Vera nyengir "Terimakasih, karena Mama sudah mau mendandani ku."


"Heemmh" Aliya tersenyum "Ya sudah, sekarang kamu pakai sepatunya. Habis itu kamu turun kebawah ya sayang. Karena rombongan keluarga kita akan tiba sebentar lagi."


"Ya Mah, nanti kalau sudah siap aku turun ke bawah."


"Hemm, sekarang Mama tinggal dulu ya sayang. Mama mau siap-siap juga."


"Ok bos."


Aliya berjalan dan menghilanglah dia di balik pintu yang tertutup.


Tinggallah Vera sendirian, berjalan menunju lemari khusus penyimpanan sepatunya. Dia keluarkan sepatunya dalam kotak lalu memakainya.


Setelah beberapa kali aku memutar tubuh ku di depan kaca yang setinggi ini. Tetap saja terlihat aneh. Kenapa bisa begini.

__ADS_1


Ya Tuhan, semoga saja dengan penampilan ku yang seperti ini. Kakak berubah pikiran lalu kembali ke sisi ku. Hah! Gila apa yang aku pikirkan. Tidak Ve tidak, kau tidak boleh memiliki niat jahat seperti itu. Ada-ada saja.


Alih-alih Vera masih membolak-balikkan tubuhnya di depan kaca. Arya dan Arian juga sudah terlihat semakin tampan setelah memakai setelan balzer yang di pilih Aliya. Mereka berdua bahkan sudah duduk sambil mengobrol, menemani rombongan keluarga di ruang tamu. Menunggu.


"Ini sudah setengah jam, kenapa Mama dan Vera belum keluar juga." Ucap Arian setelah melihat jam tangannya. "Aku harus segera mengecek mereka ke kamarnya." Penasaran


Arian bangun dari duduk lalu berjalan menuju kamar Vera. Baru saja dia mau mengetuk pintunya, orang yang dicarinya muncul setelah membuka pintu. Matannya membelalak saat melihat gadis dengan penampilannya yang berbeda.


"Ya Tuhan, cantik sekali kamu Ve."


"A'ah Kakak bisa saja deh. Aku kan malu jadinya." Jawab Vera sambil salah tingkah. "Oya bagaimana dengan sepatu heelsnya. Cocok tidak?"


"Tentu dong Ve, itu cocok sekali."


"Sungguh?"


"Mmm" Mengangguk "Kakak bersungguh-sungguh."


"Hehe... Terimakasih."


Dan Vera menyambut lengan itu. Baru saja berjalan tiga langkah. Dia oleng lalu terkilir. Untung saja Arian menahan tangannya, kalau tidak mungkin saja dia sudah terjatuh di lantai.


"Makanya kalau jalan hati-hati dong sayang, jangan terburu-buru."


"Siapa yang terburu-buru. Aku hanya gak terbiasa memakai sepatu tinggi ini. Merepotkan."


"Ya sudah, sekarang jalannya pelan-pelan saja. Supaya kakinya gak terkilir lagi." Ucap Arian dengan suara lembut.


"Mmm." Vera menangguk.


Ya Tuhan kenapa saat berjalan kaki ku jadi sakit begini. Rasanya aku tidak tahan mau mengganti sepatu tinggi ini dengan sepatu ku yang satunya lagi. Tidak Ve tidak, kau harus bertahan sampai akhir. Ini semua demi menghargai pilihan Kakak yang terakhir kalinya untuk mu.


Tapi.. Kenapa Kakak tidak memperdulikan ku, padahal sudah jelas, cara berjalan ku terlihat kaku setelah kaki kanan ku terkilir barusan.

__ADS_1


Dulu dia tidak begini.


Mungkinkah reaksi Kakak yang dingin seperti ini di sengaja. Ataukah Kakak memang sudah melupakan perasaannya pada ku dengan mudah.


Ah, ada apa dengan mu Ve, sedari tadi kau berpikir seperti orang yang tidak rela melepaskannya.


Sambil berjalan menuju ruang tamu pikiran Vera berkeliaran kemana-mana. Sampai tidak sadar bahwa ada laki-laki lain yang melihatnya dengan tajam mempesona.


Cantik sekali, kau terlihat seperti bidadari saat memakai gaun malam yang tertutup itu. Membuat ku ingin segera menikahi mu.


"Kenapa kau lambat sekali. Membuat semua orang menunggu lama dari tadi." Arya bicara saat Vera sudah melepaskan tangannya dari lengan Arian.


"Ish" Vera hanya mendelik tidak mau menjawab apa-apa.


"Ya sudah" Aliya bicara lalu bangun dari duduk, mengedarkan pandangannya pada rombongan keluarga. "Karena Vera sudah siap. Mari semuanya, kita berangkat sekarang juga."


"Oke" Paman yang menjawab mewakili semuanya.


Setelahnya semua rombongan keluarga memasuki mobilnya masing-masing. Melakukan perjalan menuju rumah calon mempelai wanita.


Dan setelah sampai di pelataran rumah mobil terparkir dengan rapih. Lalu semua rombongan keluarga turun dari sana.


Prosesi lamaran dimulai ketika keluarga Arian bersama rombongan tiba di rumah Fani. Saat sudah masuk mereka di sambut dengan hangat oleh pihak keluarga Fani lalu mempersilahkan tamu yang datang untuk masuk ke dalam rumah atau tempat di mana acara akan dilangsungkan.


Setelah seluruh rombongan dari keluarga Arian duduk, prosesi lamaran pun dibuka oleh pembawa acara mengucapkan selamat datang dan berterima kasih atas kehadiran semua pihak. Setelah memberikan susunan acara lamaran secara singkat serta bercerita sedikit mengenai kedua calon mempelai. Sang pembawa acara ini langsung menanyakan maksud kedatangan keluarga Arian.


Memasuki inti acara, perwakilan dari keluarga Arian mengutarakan tujuan kedatangannya, yakni untuk melamar Fani. Kemudian, ia menanyakan apakah keluarganya bersedia menerima lamaran dan menikahkannya dengan Arian


Pembawa acara pun mempersilahkan pihak dari keluarga Fani untuk memberikan jawaban. Dan tentu saja mereka setuju. Fani terlihat senyum-senyum sendiri setelah mendengar jawaban dari pihak keluarganya.


Setelah resmi menerima lamaran tersebut, pihak kelurga Arian menyerahkan seserahan kepada calon mempelainya. Seserahan tersebut memiliki makna simbolis, yakni sebagai bentuk keseriusan keluarga Arian untuk meminang sang mempelai perempuan.


Setelah menyerahkan seserahan, acara dilanjutkan dengan proses tukar cincin pada kedua calon mempelai. Aliya memasangkan cincin di jari manis Fani. Begitu pun sebaliknya, ibu Fani memasangkan cincin di jari manis Arian.

__ADS_1


Setelah itu, acara dilanjutkan pada sesi perkenalan antar keluarga. Hal ini dilakukan guna mempererat keakraban antara kedua keluarga. Seperti sesi perkenalan pada umumnya, setiap anggota keluarga yang hadir saling diperkenalkan dan berbincang dengan ramah. Perkenalan yang diiringi dengan canda tawa untuk mencairkan suasana.


Di sela-sela semua rombongan terlihat saling memperkenalkan diri. Entah kenapa Vera memisahkan diri, lalu berjalan keluar mencari-cari tempat yang terlihat sepi di taman. Namun siapa sangka saat di pertengahan jalan dia berpapasan dengan Arya. Mengurungkan niat si Adit saat mau menemani langkahnya di belakang.


__ADS_2