
Hari sudah malam
Arian baru saja masuk ke kamar. Mendekat ke dinding kaca, lalu diam berdiri. Kedua tangannya sudah di masukan kedalam saku celananya. Fokus matanya memang tertuju padas tanaman hias bunga yang bergoyang karena tertiup angin. Tapi pikirannya entah melayang kemana, alias melamun. Setelah terbayang-bayang dengan pertemuan di cafe sore tadi.
Sore itu di cafe itu.
Arian baru saja datang dari arah luar pintu menuju meja perjanjian. Dia yang tadinya mau bertemu dengan calon tunangannya dalam beberapa minggu lagi, akhirnya di percepat. Entah apa alasannya hanya Arian yang tau.
Gadis yang mau di temui melambaikan tangannya saat melihatnya datang dari kejauhan.
"Selamat sore." Arian menyapa menarik kursi lalu duduk berhadapan. Kedua tangannya langsung diletakkan di meja. "Maaf karena sudah membuat mu menunggu."
"Gak papa, aku juga baru datang kok." Malu-malu Fani menjawab, sambil menyisipkan rambutnya di belakang telinga.
"Di lihat dari dekat, ternyata kamu gadis yang cantik sekali ya, wajah mu hampir mirip dengan Adik ku. Tapi bedanya, kamu feminim dan sikap mu selembut penampilan mu." Mendengar dirinya di bandingkan dengan gadis lain, reaksi Fani terlihat aneh, ada kecemburuan nyata terselip dari senyumannya. "Ah, maaf aku malah membandingkan mu dengannya."
"Gak papa kok Kak, santai saja. Aku malah senang jika aku dinilai sama dengan Adik Kak Arian. Itu artinya Kak Arian bisa mencintai ku seperti Kak Arian mencintai Vera."
Degh, mata Arian membelalak
"Dari mana kamu tahu jika aku mencintainya?"
"Dari cara Kak Arian membicarakannya juga sudah jelas kok. Kalau sebenarnya Kak Arian lagi memikirkan Vera. Benar kan?" Tersenyum
"Hhh" Arian menghela nafas lalu memundurkan tubuh bersandar di kursinya. "Jika kamu sudah tahu bahwa aku mencintai Vera, kenapa masih bersikeras ingin bertunangan dengan ku?"
"Karena aku mencintai Kak Arian. Hanya itu alasan yang mewakili semuanya. Dan jangan tanyakan kenapa, karena aku cuma punya hati."
Gila! Aku pasti sudah gila. Karena sudah menjawabnya dengan seberani itu. Aku benar-benar sudah gila. Dasar mulut! Kenapa kau terlalu bicara jujur seperti itu. Aku kan malu jadinya.
Rasanya Fani mau menutup wajahnya dengan tas disamping tangannya karena terlalu malu. Ia buru-buru tundukkan saja pandangannya pada secangkir kopi di atas meja. Menyesapnya sedikit sambil melirik Arian sesekali.
Eh, kenapa reaksinya hanya diam ya. Ayo dong di jawab, jangan bikin aku tambah malu. Tapi biarkan saja, mungkin dia sedang berpikir. Mau atau tidak maunya dia menerima cintaku. Aku tidak peduli. Toh, dia akan tetap menjadi milik ku hehe. Dasar! Aku kalau sudah cinta memang begini orangnya. Mencuri raganya adalah jalan terbaik daripada hanya tinggal diam mengharap yang tidak pasti. Urusan hati, itu belakangan saja. Dan yakin sebentar lagi dia pasti mencintai ku.
Melihat Arian masih diam seribu bahasa si Fani berdehem lalu menyesap kopinya lagi. Memasang wajah yang tidak tahu malu.
"Bagaimana Kak, apa Kak Arian mau menerima cinta ku?" Gila! Aku perempuan apa bukan ya? Bahkan akulah yang terkesan menembak hatinya duluan disini. Ya Tuhan. Hilanglah sudah harga diri ku.
"Kalau begitu, kamu buatlah aku melupakannya."
"Hah?" Fani tergagap kaget dan nyaris menumpahkan kopinya."Maksud Kak Arian apa?" Buru-buru ia letakkan kembali kopinya di meja. Memasang telinganya lebar-lebar.
"Sudah jelas kan apa yang sudah ku katakan barusan. Aku ingin kamu membantu ku melupakannya." Begitu Arian berpikir, mungkin segalanya bisa di lupakan jika memulai hubungan dengan gadis itu.
"Oh, Kak Arian tenang saja. Masalah tentang mengalihkan dunia aku adalah ahlinya. Tapi, berjanjilah satu hal. Kak Arian harus menuruti apapun yang mau ku lakukan. Agar Kak Arian bisa melupakan sepenuhnya dan beralih mencintai ku."
"Baiklah, aku setuju."
"Hehe, terimakasih" Sambil tersenyum Fani bicara dalam hati.
Ya Tuhan, aku bahagia. Akhirnya semua rencana ku berjalan dengan lancar. Aku jadi sudah tidak sabar menunggu hasilnya.
"Dan sekarang, sebelum Kak Arian pergi, tolong di nikmati dulu kopinya ya. Aku sengaja memesannya khusus buat Kakak loh."
"Hemm, terimakasih." Arian langsung meraih kopinya yang barus saja di antarkan pelayan. Menyesapnya beberapa kali. "Hhh, bahkan kamu sampai tahu dengan selera kopi ku. Menakjubkan ya."
"Hehe.." Fani cuma nyengir
Begitulah bayangan Arian di matanya, sedikit merinding juga setelah tahu si Fani ternyata punya banyak juga koneksi nya ya. Menggaris bawahi bahwa gadis itu bukanlah orang yang mudah di kalahkan. Seperti rencana sebelumnya yang ia uraikan dengan susah payah. Namun ujung-ujungnya dia sendiri juga yang menyerah pada takdirnya.
Apalagi setelah Arian tahu Kakaknya mencintai Vera. Semangat jiwanya menghilang, segalanya terasa luluh lemah dan tak bertumpu. Berdiri tegak pun rasanya tak mampu. Entah dimana dia seharusnya bersandar. Mencurahkan semua perasaan yang tertumpuk dalam hati.
Padahal ya, bisa kan dia bicara langsung pada Aliya. Mengatakan semua keinginan hati yang sebenarnya. Tapi apalah daya jika semuanya sudah terlambat. Mau protes juga tidak ada gunanya.
Pada akhirnya aku hanya bisa menelan getir yang terus ku kecap akibat dari kebodohan ku.
Arian meremas jemarinya, menahan kekesalan yang tiada ketara. Baru saja ia mau melangkah ke ruang berganti baju. Ketukan pintu terdengar dari luar kamar. Di selingi dengan suara gadis yang minta izin masuk kedalam.
"Masuklah." Kata Arian dengan sumringah. Pintu terbuka, terlihatlah Vera berdiri sambil tersenyum, lalu menutup pintu. Urat kekesalan di sekitar wajahnya menghilang saat Vera sudah duduk bersila disofa sambil menaruh bantalnya di pangkuan, tersenyum. "Ada apa sayang? Kok tumben, kamu datang ke kamar Kakak malam-malam begini." Arian ikut duduk, bersebelahan dengan Vera.
__ADS_1
"Gak ada apa-apa," aku cuma mau ngobrol saja sama sih Kakak."
"Ngobrol apa?" Melihat rambut Vera berjuntai menghalangi pandangan, Arian sisipkan ke belakang telinganya.
"Tetang pertunangan Kakak."
"Hhh, akhirnya kamu tau juga." Arian berusaha tersenyum menepis semua penyesalan yang bergentayangan. Sementara Vera sedikit terkejut saat Arian menjatuhkan kepala di bahunya.
Ya Tuhan, ada apa ini sebenarnya. Kenapa Kakak tiba-tiba bersandar pada ku. Helaan nafasnya juga terdengar lelah. Mungkinkah ini ada kaitannya dengan gadis yang Kakak cintai. Tapi, mau bagaimana lagi sekarang, sedikit celah harapan pun tidak ada, karena sebentar lagi Kakak mau bertunangan. Jadi percuma jika aku menyarankan Kakak mengungkapkan perasaannya kan.
Sambil berpikir, Vera mengusap lengannya menguatkan.
"Siapa yang memberi tahu mu?" Bahkan suara Arian sedikit berbeda hari ini, agak pelan namun tertekan, seperti menahan tangis.
"Mama yang bilang pada ku tadi pagi. Tapi, kenapa kalian merahasiakannya pada ku sebelumnya? Ada masalah apa? Coba kalau Kakak ceritakan pada ku lebih awal. Mungkin perasaan Kakak tidak akan selemah ini. Karena terlalu lelah menahan sakitnya sendiri."
"Tapi Ve, walaupun Kakak melakukannya, Kakak tetap tidak bisa lari dari kenyataan. Karena gadis yang Kakak cintai, terperangkap hatinya pada laki-laki lain. Pada akhirnya, Kakak hanya bisa merelakannya demi melihat Mama bahagia. Itu sudah cukup."
"Tapi Kak,"
"Sudahlah Ve, hargailah keputusan Kakak. Kakak tidak mau membahasnya lagi. Sekarang yang mau Kakak lakukan hanyalah bersandar di bahu mu. Biarkanlah Kakak tetap seperti ini walau sebentar saja." Rasanya Arian menangis dalam hati saat wajahnya sudah terbenam di bahunya, matanya terpejam. Semua perasaan yang tertumpuk pun tercurahkan perlahan.
Gadis itu langsung merangkul punggungnya, sambil sesekali mengusap lengannya. Masih menguatkan.
"Kakak harus kuat. Meski menyakitkan, Kakak tidak boleh selemah ini. Ve yakin kok, suatu saat Kakak pasti bahagia bersama tunangan Kakak. Dan perlahan Kakak pasti mampu melupakannya."
"Bagaimana Kakak bisa bahagia bersamanya, jika apa yang Kakak sentuh, apa yang Kakak kecup, sehangat peluknya, selembut belainya, tidak mungkin sama. Karena hati Kakak sudah di penuhi dengan sejuta bayangan dirinya. Yang Kakak takutkan sekarang hanyalah mengecewakannya."
"Tapi menurut ku, jika Kakak benar-benar sudah bulat dengan keputusan Kakak. Bukalah mata dan hati Kakak lebar-lebar, relakan semua. Jangan terlalu tenggelam dalam penyesalan. Lebih baik, Kakak do'akan, agar gadis yang Kakak cintai menemukan kebahagiannya juga. Dengan begitu Kakak baru bisa melupakannya. Itu senjata yang biasa digunakan orang pada umumnya jika sakit hati. Mendoakan lebih baik daripada berharap kembali benar kan."
"Kamu benar Ve, semakin berharap malah membuat luka di hati Kakak semakin dalam. Sekeras apapun Kakak berusaha, Kakak tetap tidak mungkin bisa menggapainya. Apalagi gadis yang dicintai Kakak, hatinya sudah di miliki orang lain."
"Nah kan, untung saja aku segera menyadarkan Kakak. Kalau tidak hati Kakak malah semakin hancur. Mental Kakak juga bisa rusak nantinya Hehe..."
Arian terkekeh saat Vera mengejek mentalnya. Karena gemas ia cubit saja pipi kanannya sampai di tarik-tarik. Tapi hebatnya, reaksi Vera hanya diam saat itu, membiarkan Arian melampiaskan perasaannya.
"Memangnya kamu pikir Kakak sakit jiwa apa. sampai mental Kakak kamu ejek segala. Hemm?" Arian baru melepas cubitannya.
"Maksud kamu?" Arian terdengar sewot
"Ya, sedari tadi aku melihat Kakak seperti orang yang kehilangan roh."
"Lalu?''
"Aku ejek saja Kakak supaya tersenyum. Karena sejak Kakak bersandar pada ku, rasanya Kakak seperti mau menangis saja."
"Siapa yang mau menangis?" Pipi Vera langsung dicubit lagi."Sembarangan kamu ya!"
"Tuh kan, coba saja Kakak lampiaskan semuanya pada ku. Aku rela kok, menjadi bahan pelampiasan Kakak."
"Siapa juga yang melampiaskannya pada mu?Enak saja!" Arian tidak mau kalah, tapi tangannya mencubit pipi lagi
"Masih menyangkal! Padahal Kakak sudah mencubit ku dua kali." Arian melepaskan tangannya lalu tersenyum, mengakui kekalahan."Cih, dasar!" Vera mencibir
"Hehe.." Arian cuma nyengir
"Oya Kak, omong-omong Kok Kakak bisa mengenal Fani sih. Kenal dari mana? Dia kan teman sekelas ku di kampus."
"Ya Kakak tentu kenal sama dia Ve, orang dia anak temannya Mama. Waktu acara teman ulang tahun Kakak di Raja Ampat, Kakak lihat dia juga hadir."
"Hah? Masa sih. Kok aku gak lihat ya."
"Ya meski Kakak kenal, tapi kami tidak dekat. Mengobrol pun tidak pernah. Setiap bertemu kami hanya saling melempar senyum lalu bertukar sapa."
"Kalau Kakak memang sudah lama kenal dia. Kenapa sikap Kakak seperti ini, padahal setahu ku Fani kan orang nya sangat cantik, feminim lagi. Hatinya selembut penampilannya."
"Entahlah Ve" Arian meletakan tangan di belakang kepala, lalu bersandar di sofa menghela napas ''Mungkin hati Kakak sudah dipenuhi dengan bayangan wajahnya. Dan setiap Kakak melihat wajah gadis lain. Rasanya biasa saja, tidak ada yang istimewa. Tadi saat bertemu juga rasanya sama seperti itu."
"Apa! Jadi Kakak sudah melakukan pertemuan ya?"
__ADS_1
"Ya. Kami baru bertemu tadi sore. Kamu tahu Ve, kenapa Kakak merasa dia sangat berbeda dengan semua yang Kakak dapat dari informasinya. Kakak tidak mengerti."
"Dengar Kak, kalian baru pertama kali bertemu. Mungkin Kakak memerlukan pendekatan lebih. Saling bercerita tentang kepribadian melalui pesan singkat misalnya. Baru Kakak tahu kebiasaannya. Lagipula menulis pesan dengan berhadapan langsung tidak sama, benar kan."
"Tapi jujur, saat dia mengatakan perasaan cintanya pada Kakak. Kakak gemas melihat wajahnya yang lucu. Namun dalam sekejap Kakak langsung menepisnya."
"Hah? Kenapa Kakak tepis. Bukannya Kakak cubit saja pipinya. Seperti yang selalu Kakak lakukan pada ku."
"Itu dia masalahnya Ve, kalau Kakak melakukannya. Kakak jadi teringat sama kamu. Jadi Kakak cuma bisa mencubitnya dalam hati."
"Hah? Dasar!"
"Tapi kamu tahu gak Ve, sebelum kami bertemu Kakak sempat berpikir, mungkin dia orang yang seperti ini dan itu. Tapi saat bertemu dengannya langsung, rasanya selalu berbeda. Ada rasa damai yang tidak bisa ungkapkan dengan kata-kata. Aneh ya."
"Hhh," Si Vera tepok jidat "Itu bukan aneh, tapi Kakak sedikit terkesan padanya." Arian memutar otaknya, bingung. "Kakak mau mendengar lagu yang sama dengan keadaan hati Kakak tidak ?"
"Lagu yang mana?"
Bila tidak bertemu aku bisa cemas. Bila bertemu pandangan di curi. Apa yang sedang terjadi pada ku.
Begitu Vera bernyanyi sambil menggoyangkan kepala ke kiri dan ke kanan. Tangannya tetabuhan di pangkuan, mengikuti irama melodi dari lagunya.
"Hahaha" Arian hanya menanggapinya dengan tertawa.
"Nah begitu dong, Kakak tertawa. Kan enak di lihatnya."
"Hehe, terimakasih ya, karena kamu sudah menghibur Kakak."
"Sama-sama." Vera menjawab cepat lalu tersenyum "Oya Kak, sebenarnya aku sengaja kemari mau mengajak Kakak makan malam bersama. Karena Mama dan penjahat gila itu sedang menunggu Kakak di ruang tv."
"Ya sudah, kalau begitu, Kakak mau mandi dulu sebentar." Arian berdiri dari duduk, mengendorkan dasi sambil berjalan menuju kamar mandi.
Sementara Vera melihat Arian sudah masuk melewati ruang berganti baju, ia berjalan menuju tempat tidur. Berbaring miring, memeluk guling sambil berpikir.
Di nilai dari sikap Kakak, sepertinya dugaan ku benar, Kakak kurang perhatian terhadap ku. Berbeda dengan penjahat gila itu. Baru melihat wajah ku saja, di bisa tahu kalau aku sedang sakit. Namun sayangnya dia sulit di ajak bicara dari hati ke hati. Padahal aku membutuhkannya.
Vera menghela nafas panjang sambil merentangkan tangan, bantal di sampingnya sampai terdorong. Lalu tanpa sengaja ia menyentuh benda di bawah bantal tadi.
"Eh, apa ini? Kelihatannya, ini seperti buku harian Kakak." Sambil di bolak balik buku di tangannya Vera bicara.
Karena penasaran ia langsung membuka bukunya. Tersenyum setelah melihat lembaran pertamanya, ada sebuah foto dirinya saat berusia lima tahun. Yang sengaja di tempel di bagian paling depan, dihiasi dengan beberapa tulisan indah di bawahnya. Dan lembar berikutnya ia hanya membaca judul tanpa membaca keseluruhan. Demi menjaga privasi tentunya. Ia terus melakukan hal yang sama pada setiap lembar yang di bukanya.
Sampai pada akhirnya dia tergagap kaget setelah membaca judul hariannya yang sengaja di beri tanda kutip.
"Aku mencintai mu Vera Nindya"
Gadis itu menutup mulutnya menahan haru, buru-buru ia simpan kembali bukunya di tempat semula karena mendengar langkah kaki Arian yang baru saja muncul dari ruang ganti.
Kenapa Kak, Kenapa Kakak tidak mau mengungkapkannya pada ku. Malah memilih gadis lain demi membuat ku bahagia.
Tidak, aku tidak boleh lemah. Aku harus terlihat bahagia di mata Kakak. Karena Kakak sudah mengorbankan segalanya.
Tapi kenapa saat aku melihat senyum palsu dari wajah Kakak, hati ku sakit. Ya Tuhan. Apakah ini yang disebut dengan cinta. Ataukah aku hanya merasa kasihan padanya.
"Ada apa dengan mu Ve, kenapa kamu melihat Kakak dengan wajah sedih begitu?" Sambil mengancingkan piyama panjangnya Arian bertanya.
"Ah, tidak. Aku gak apa-apa kok. Aku hanya bahagia, akhirnya sebentar lagi Kakak mau bertunangan hehe.."
"Bohong! Pasti ada sesuatu?" Entah kenapa Arian terkesan panik mengatakan kalimatnya. Fokus matanya teralihkan pada benda di bawah bantalnya. Lalu dengan segera ia meraihnya dengan terburu-buru. ''Kamu gak menyentuh buku harian ini kan?" Vera menggeleng "Syukurlah, Kakak pikir kamu baru membukanya."
"Enggak Kak, lagi pula, mana berani aku melakukannya. Itu kan barang privasi Kakak." Dasar tukang bohong kamu Ve.
"Lalu kenapa wajah mu sedih begitu. Ada apa ?" Sambil bicara Arian menyimpan bukunya kembali di bawah bantal
"Aku sedih gara-gara menahan lapar dari tadi. Bukan yang lainnya hehe..."
"Ya sudah, mari kita berjalan ke ruang makan sekarang"
"Oke bos." Vera memberi hormat ala kapten
__ADS_1
Bersambung.........