
Malam hari Vera duduk berpikir di jendela sambil melihat bangunan di sekitar. Ada banyak lampu berkerlap-kerlip di sana, seperti lautan bintang yang dapat memanjakan mata. Vera mengembuskan nafas panjang saat angin malam menerpa wajah dan rambut panjangnya.
Aduuh pusing ! Walaupun sejujurnya aku tidak mau kuliah, tapi aku harus tetap memilih. Ah ! Lupakan itu tidak penting, mau kuliah di mana pun juga aku gak peduli. Toh semua universitas di kota ini sama bagusnya.
Dan sekarang aku lebih berharap kakak mengijinkan aku untuk bekerja sambil kuliah. Aku mau tau bagaimana rasanya menikmati gaji pertamaku. Aku mau merasakan kebebasan di luar sana, rasanya aku sudah gak sabar mau menjelajahi kota ini.
Setelah puas memandang deretan lampu, Vera melihat jam dan waktu menunjukan pukul 20:00 wib . Ini sudah waktunya makan pikirnya lalu turun dari jendela. Berjalan menuju pintu dan membukanya
Tiba-tiba
"Aaaaaaa" Vera berteriak kencang, suaranya memenuhi ruangan seisi rumah. Bahkan Arian dan Aliya terkejut mendengarnya, padahal mereka sedang duduk di sofa keluarga.
Melihat kaki Vera gemetar Arya tersenyum sinis menghina
"Melihat cicak saja kau sudah ketakutan setengah mati. Bagaimana jika ada kecoa menempel di badan mu. Apa kau akan mati berdiri ? Hahaha ! Aku penasaran melihat reaksi mu"
Sial ! orang gila ini gak ada habisnya ya. *S*elalu menganggu ketenangan ku. Semakin lama dia di sini, semakin membuat ku benci melihatnya.
Aaaaa rasanya aku mau dia segera kembali ke tempat asalnya.
Vera menghembuskan nafas yang sangat
panjang, mengepal tangan demi membuang kesal
"Dengar bisakah kau tidak menganggu ku dengan kelakuan bocah mu itu satu hari saja ? Aku benci melihat muka mu !" Arya langsung diam tatapan tajam
"Beraninya kau !" Memegang dagu Vera secepat kilat "Hati-hati dengan ucapan mu. Kau tau ? Itu semakin membuat ku ingin menganggu mu kucing liar" Arya menyeringai
"Kau gila ! Tunggu saja aku akan membuat mu menyesal karena selalu menganggu ku. Aku akan membalas mu" Arya melepaskan tangannya
"Hahaha aku menantikannya. Tidak peduli seberapa besar usaha mu" Arya mendekatkan bibirnya di telinga Vera " Dengar ! Kau takkan pernah bisa membuatku menyesal kucing liar"
Sesungguhnya Vera marah besar dengan siapa saja yang berbisik di dekat telinganya. Apalagi bisikan lembut dan dingin seperti itu. Entah apa alasan nya hanya dia yang tau. Vera langsung mendorong kuat dada bidang laki-laki di depannya sampai mundur kebelakang.
"Kau benar-benar gila. Aku sangat membenci mu" Melihat telinganya memerah, seringai tipis muncul di bibir Arya
Dasar bodoh ! Kau bahkan tidak tau. Bagaimana perasaan mu sebenarnya kucing liar.
Karena tidak mau masalahnya menjadi panjang. Vera bergegas melangkah demi meninggalkan Arya, tapi berhenti saat melihat Arian berdiri di depannya.
"Sejak kapan Kakak berdiri di situ ?" Tunggu ! Dia tidak melihat semuanya kan. Entah kenapa Vera gelisah dalam hati
"Kenapa ? Apa kamu gak suka Kaka datang ke sini ?" Arian bertanya acuh pandangannya tidak suka
"Gak ! Siapa bilang ? Aku kan cuma bertanya." Vera berbalik acuh
Arian diam tidak menjawab
Aneh semenjak orang gila itu pulang perasaan Kakak sensitif sekali pada ku. Apa Kakak gak suka aku bertengkar dengannya ? Kakak picik juga ya ternyata.
Kakak sama saja memihak padanya. Jika di pikirkan lagi, Kakak juga gak pernah membela aku. Bodohnya aku ! Kenapa aku berharap Kakak ada di pihak ku.
" Cih ! Sudahlah daripada kamu banyak omong. Lebih baik kau ajak saja kakak mu itu makan bersama" Arya menyindir sambil berjalan menuruni anak tangga meninggalkan mereka.
"Sialan ! Apa maksudnya itu ? Dasar orang gila ! Kau yang banyak ulah duluan tadi"
Ups ! Celaka sepertinya Vera terpancing dengan ucapan Arya barusan. Dia sampai lupa ada Arian berdiri di dekat nya
"Apa kata mu Ve ? Orang gila" Malah Arian yang bicara. Aura wajahnya menghitam.
"Hehe...Enggak kok " Langsung memeluk lengan Arian erat seperti anak manja "Kakak jangan marah ya, lebih baik kita makan saja yuk. Vera sudah lapar banget nih dari tadi"
Dia selalu tau kelemahan ku Senyuman nya, aku kalah
Kalimat Arian dalam hati
Bukan Vera namanya jika tidak tau bagaimana membuat laki-laki di dekatnya menjadi tenang kembali.
"Baiklah, Mama sudah menunggu kita di meja makan" ucap Arian lembut
"Oke bos" menarik tangan Arian agar berjalan dekat di sampingnya, menuruni anak tangga menuju meja makan.
_____
__ADS_1
Di sofa keluarga setelah selesai makan malam, Vera dan keluarga berbincang-bincang tentang menentukan kuliahnya
"Sayang apa kamu sudah menentukan keputusan mu ? Kami sengaja berkumpul disini karena mau tau, universitas mana yang kamu pilih" ucap Aliya
"Pastinya mah, Karena aku mau mengambil jurusan Pariwisata, jadi aku memilih kuliah di universitas xxxx saja. Kebetulan letaknya juga gak terlalu jauh dari rumah"
"Begitu ya. Tapi apa kamu sudah yakin dengan keputusan mu ?"
"Tentu, Vera sudah yakin banget kok mah"
"Cih ! Kenapa kamu tidak mengambil jurusan komunikasi saja, agar kamu bisa menjaga ucapan mu" Arya menimpali.
" Hah ! Apa Kakak gak salah omong ? Seharusnya Kakak sendiri yang lebih jauh membutuhkannya dari pada aku kan" Vera tidak mau kalah
"Kau...."
"Sudah-sudah kalian jangan bertengkar lagi " Aliya memotong cepat
"Vera lebih baik kamu, siapkan saja dirimu untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan mu. Kakak mengijinkan mu" Arian ikut menimpali
"APA ?" terkejut " Aku gak salah dengar kan ? Kakak sudah memberi aku izin kah ?"
"Iya, kakak mengijinkan mu, tapi harus ingat sama persyaratan kakak kemarin. Kamu gak boleh pacaran." Ucapnya santai
Sesaat Vera diam memandang Arian tajam
Kakak masih saja bertingkah seolah aku masih bocah. Sadar dong kak aku sudah besar.
''Tapi kalau cuma berteman, boleh kan? Aku...."
"Boleh saja, asalkan tidak melebihi batas mu" Arya memotong cepat, membuat Arian dan Vera tercengang mendengarnya
Eh ! Ada apa dengannya malam ini. Kenapa membantu ku. Tapi lupakan ! Orang bilang kesempatan emas gak akan muncul dua kali kan. Itu benar lebih baik aku terima saja sarannya sekarang.
"Baik ! Aku setuju dengan syarat mu dan tidak mungkin melewati batas ku" Vera menjawab dengan sumringah
Arian diam membisu hatinya hancur berkeping saat mendengar kalimat Vera. Biasanya selalu melarang, tapi sekarang Hanya menatap reaksi bahagia Vera saja rasanya tidak mampu.
Demi mendapatkan hati mu di masa depan.
"Ya sudah kalau begitu, Vera mau pergi ke kamar dulu ya mah, Vera mau tidur"
"Dasaar kebo, pikiran mu itu selalu di penuhi sama tidur" Arian mengusap rambut Vera lembut. Telapak tangannya hangat mengalirkan semua perasaannya.
"Hee..." Vera hanya nyengir
"Ya sudah sekarang kamu cepat tidur" ucap Aliya
"Siap boss Mama memang yang terbaik" Vera memeluk Aliya dan mencium pipinya."Vera sayang banget sama Mama, kalau begitu aku mau pergi ke kamar ku sekarang, selamat malam mah"
"Vera tunggu, kamu belum kakak cium"
Baru mau beranjak Vera langsung menoleh
"Iiiiiih jorok banget sih jadi kakak" Arian tertawa mendengarnya
Sebelum berjalan Vera menatap Arya sebentar dengan tajam. Setelahnya ia menggerutu dalam hatinya
Esok hari adalah waktunya dia untuk pulang kan. Rasanya aku ingin dia segera menghilang secepatnya. Aku benci sekali melihat wajahnya
Vera masih belun tau bahwa Arya sekarang sudah lulus dari study nya di negara xxxx demi menjadi dosen.
"Arya mama harap kamu melindungi dan mengajari Vera dengan baik" Dan kamu tidak boleh mengganggunya lagi. Begitu kata yang di utarakan lewat matanya. Aliya tau Arya keras kepala, semakin di larang malah semakin menjadi.
"Mama percayalah, serahkan saja dia padaku, akan ku buat hidupnya menjadi lebih bermakna" Nada bicara Arya terdengar lembut
Bermakna ! Aliya tersenyum bahagia
"Terima kasih sayang, Mama percaya sama
kamu"
"Apa mama sungguh percaya padanya, tapi kenapa aku malah merasa dia akan semakin menindas Vera" Arian menimpali
__ADS_1
Arya tersenyum sinis
"Aku bersungguh-sungguh " Malah Arya yang menjawab cepat "Asal kau jangan diam-diam mengawasinya."
"Kenapa kau licik sekali Kak ?" Arian mulai memanas
"Kau yang licik ! Sampai sejauh ini kau berpura-pura melindungi. Padahal hanya mau mengikatnya, agar tidak mudah terlepas dari genggaman mu."
Degh, debaran jantung Arian menguat
Apa itu maksudnya. Apa Kakak juga diam-diam mengetahui keinginan Mama sesungguhnya
Ini tidak mungkin ! Selama ini Mama selalu menyimpannya rapat dalam buku harian di ruang kerja ku dan Kakak juga tidak pernah melihatnya. Ya tuhan semoga ini hanya perasaan ku saja. Aku benar-benar tidak mau kehilangannya.
"Mama setuju dengan saran Arya" dengan santainya Aliya mengatakannya, tidak peduli bahwa keputusannya telah membuat perasaan Arian semakin hancur berkeping. "Lebih baik kita tidak perlu mengawasi Vera, dia sudah besar. Sudah waktunya dia bisa menentukan sendiri, mana yang baik dan buruk baginya.
Biarkan dia bebas sebelum dia menikah, Arian mama mohon kamu percayalah pada kakak mu"
Arian diam tidak menjawab
Aku tidak akan pernah mau percaya padanya dan kenapa Mama mudah percaya. Jelas-jelas Kakak sangat membenci Vera
"Kau tenang saja, aku akan memastikan dia tidak akan pernah memiliki kekasih" Dan tidak akan ku biarkan itu terjadi. Begitu katanya dalam hati
Arian terkejut setengah mati
Apa Kakak juga tau dengan perasaan ku yang sebenarnya. Tidak mungkin ! Jika benar
Apakah itu tandanya Kakak mau bersaing dengan ku.
"Baik ! Jika itu yang Kakak mau. Aku percaya dan aku tidak akan mengawasinya lagi"
Arya tersenyum sinis penuh makna
"Ingatlah kau harus menepati janji mu, berani melanggarnya. Maka jangan salahkan aku jika melebihi batas"
Di akhir kalimat Arya bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan menuju lantai atas, sedangkan Aliya dan Arian hanya diam memandangnya
"Jadi itu artinya mulai sekarang, Mamah sudah melepaskan Vera, tapi apa Mama yakin Vera baik-baik saja ? Suatu saat nanti Vera menikah dan pasti meninggalkan rumah ini kan?"
Arian berpura-pura tidak tau padahal hanya memancing. Memastikan jawaban tentang buku harian Aliya yang dulu pernah di bacanya.
"Mama yakin, walaupun Vera menikah, dia tidak berani meninggalkan rumah ini sayang''
"Maksud Mama ?" masih memancing, belum puas dengan jawaban Aliya
"Apa kamu cemburu, jika Vera menikah dengan laki-laki lain ?" Aliya yang malah menggoda Arian dengan mimik wajahnya
Arian terbelalak
Hanya dengan mengangguk. Apa Vera bisa menjadi milik ku. Tapi bagaimana dengan Vera
Bahkan aku belum mengungkapkan perasaan ini padanya.
"Tidak ! Mana mungkin" ucapnya gugup
Aliya tersenyum
"Benarkah ?" Arian diam malu-malu." Ini sudah malam, sebaiknya kamu cepat pergi ke kamar istirahat dan tidur"
"Baiklah aku pergi ke kamarku sekarang, selamat malam Mah"
"Malam sayang"
Selepas Arian pergi ke kamarnya. Aliya berjalan memasuki ruang kerja Arian mengambil buku harian dalam laci lalu duduk di meja.
Di bukanya buku hariannya mengambil pulpen lalu menulis semua penatnya dalam buku
Agar tidak ada yang tersakiti dan saling menyakiti. Arya dan Arian terimakasih karena selama ini mama tau, kalian selalu menahan diri demi menjaga perasaan Vera.
Mama tau kalian lelah, rasanya mama mau membantu....
Tapi lebih baik biarkan seperti ini dulu, biarkan Vera yang menjawab semua harapan. Harapan kita semua.
__ADS_1
Bersambung.....