Mengejar Cinta Vera

Mengejar Cinta Vera
Panas dingin


__ADS_3

Malam masih larut, ada dua orang manusia berdiri saling berhadapan dijalan lorong-lorong rumahnya. Mencengkram suasana.


"Dia Arian Kak, dan sekarang. Apa bisa Kakak melepaskan tangannya dulu. Tolong, aku tidak bernapas dengan normal jika posisi ku terus di himpit seperti ini. Kita bisa bicarakan dengan baik-baik kan Kak. Sambil duduk misalnya."


Akhirnya Adit tersadar, menurunkan tangannya. Memutar tubuh, meninggalkan Adiknya tanpa bicara sepatah kata. Sementara Fani berjongkok, meraih hpnya di lantai lalu berjalan menyusul Adit di belakang.


Adit sudah masuk ke kamar, menjatuhkan tubuhnya duduk di sofa. Bersandar sambil menengadahkan kepala ke atas, menatap langit-langit kamar. Sedangkan Fani duduk bersila disebelahnya sambil memangku bantal sofa. Menopang dagu.


"Katakan, sejak kapan kau mengajukan permohonan pada Ayah. Yang membuat mu terburu-buru ingin menikahinya."


"Sejak aku melihat gadis itu menggandeng tangannya Kak, meski aku tau dia hanya menganggap Arian adalah Kakaknya. Tapi entah kenapa perasaan ku mengatakan berbeda."


"Aku tidak habis pikir, kenapa kau harus menyukai laki- laki itu."


"Entahlah, mungkin ini takdir ku Kak."


"Takdir!"


Adit terdiam ditempatnya bersandar, merenungi nasibnya sendiri. Berpikir mungkin ini hukum karma yang di berikan Tuhan untuknya. Setelah sekian lama ia menyakiti hati banyaknya perempuan. Akhirnya ia mengalami sendiri juga rasa sakitnya, bahkan lebih. Hukum karma dari Tuhan memang tidak mudah di hindari ya. Makanya kau jangan main-main dengan perempuan Adit. Kalau sudah menyesal kan kamu sendiri yang rugi. Sampai-sampai kau takkan bisa memiliki orang yang kamu cintai pada pandangan pertama. Itu akibat dari perbuatan buruk mu terhadap semua perempuan yang baru kamu temui selama ini. Tuhan memang benar-benar maha adil dan rasakan sendiri takdir mu Adit, gadis itu bukan di ciptakan Tuhan untuk mu.


"Hhh," Adit menghela nafasnya setelah meyakinkan diri. Bahwa gadis yang di cintainya bukan di takdirkan untuknya. "Lalu apa rencana mu pada gadis yang katanya kamu bilang harus memengaruhinya. Apakah gadis yang kamu sebut itu adalah Vera Nindya ?"


Degh, jantung Fani berdebar kuat melihat tatapan Adit yang tidak biasanya. Tatapan yang penuh dengan intimidasi hanya bisa ia lihat saat nama gadis itu di sebutkan.


Melihat dari tatapan Kakak, sepertinya teman ku Vera bukan gadis biasa di hati Kakak. Bagaimana ini, apakah secara tidak sengaja aku melukai hati Kakak. Tapi kan mereka belum lama saling kenal.


"Benar Kak, itulah alasannya kenapa aku berusaha mendekatinya. Tapi jujur Kak, sumpah aku mau berteman dengannya karena tulus. Bukan alasan negatif. Aku berpikir suatu saat dia akan menjadi Kakak ipar ku. Jadi, aku mau menunjukan sikap baik ku agar dia mau menerima ku secepatnya menjadi Adik ipar heheee."


"Tapi kau pernah bilang, Arian memandangnya dengan caranya yang berbeda. Mungkinkah kau mau memengaruhinya agar gadis itu tidak membalas cintanya."


"Benar, Kakak memang pintar deh. Itu yang aku takutkan. Karena Ayah bilang, Mama Aliya mau menjodohkan salah satu putranya. Jadi, aku melakukan semuanya sampai sekarang. Termasuk mengenalkannya pada Kakak."


"Kau jangan berpikir sampai sejauh itu. Apalagi memengaruhi Kakak. Karena dia sudah menentukan calon suaminya kelak."


"Hehe maaf, tapi kan Kakak bisa berteman dengannya juga. Atau mencintai nya dalam diam misalnya, sampai Kakak menemukan gadis lain yang Kakak cintai."


A'! Fani kesakitan saat merasai bagian belakang kepalanya di pukul pelan.


"Kau bodoh atau apa ? Baru saja Kakak sakit hati malah kau suruh mencari gadis lain. Minggir! Kakak mau tidur."


"Yeey, kok Kakak sewot gitu sih. Dan siapa juga yang menghalangi jalan Kakak. Orang dari tadi aku duduk di sebelah Kakak juga. Enak saja."


Adit malas menggubris, melangkahkan kaki menuju tempat tidur. Melepaskan sandal rumah lalu berbaring tengkurap, sambil membenamkan wajahnya di bantal tidur.


"Ya sudah, kalau begitu " Fani berdiri "Selamat malam Kak, semoga Kakak bermimpi indah dan tidur dengan nyenyak malam ini. Sampai jumpa."


Mendengar Fani menutup pintu, Adit membalik terlentang, menatap langit kamar. Membayangkan gadis yang di cintainya menjadi Adik ipar kelak.


***


Sementara itu, masih di malam hari dan di kamar yang berbeda.


Ada seorang laki-laki berdiri di balik jendela kaca di ruang ganti, menatap air hujan yang mengguyur tanaman bunga indahnya. Tangannya mengendorkan dasi yang masih menggantung di lehernya, melepaskan kancing kemeja satu persatu sambil memikirkan kalimat yang di berikan Vera padanya. Yang katanya harus memilih siapa di antara mereka berdua.


Tidak terasa pakaian kantor yang tadinya menempel di tubuh sudah terlepas. Dia lemparkan pakaian terakhirnya ke keranjang baju kotor. Setelahnya Arian berjalan ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air hangat yang turun dari shower dibalik kaca tembus pandang.


Jika memang benar Kakak mendengarnya. Itu artinya, selama ini Kakak berusaha menjauhkan ku dari nya. Karena ingin memilik dia seutuhnya. Dulu aku tidak sadar saat Kakak bicara bahwa dia bukan Adik nya tapi hanya Adik ku. Namun sekarang aku menyadari kebodohan ku. Sial!


Bugh


Arian memukul dinding kaca, melampiaskan kekalahannya.


***


Pagi hari saat waktunya sarapan


Arian dan Aliya sudah duduk di meja makan. Sementara Arya terlihat baru turun dari tangga sambil memakai jam tangan. Berjalan menuju meja makan, menyusul bergabung.


Tapi berbeda dengan si Vera yang masih meringkuk di bawah selimut tebal. Semua pakaian yang di pakainya juga berbahan tebal. Salonpas hangat menempel di jidat sana sini. Bahu dan tengkuknya di tempelkan juga. Hatcih! Dia panas dingin.


Gara-gara kehujanan badan ku jadi menggigil begini. Tadi malam kepala ku terasa enteng, kenapa jadi memberat lagi sekarang. Rasanya kepala ku mau pecah. Padahal aku sudah minum obat pencegah nya semalam. Hatcih!


Ya Tuhan, jangan sampai Mama membawa ku ke rumah sakit, apalagi memanggil dokter kesini. Aku tidak mau, aku takut.


Hah! Dasar si Vera kalau berurusan sama orang saja, beraninya bagai macan. Tapi kalau berurusan dengan medis dia kabur duluan deh sepertinya. Menyerah.


Dan sekedar mengingatkan. Dari kecil dia memang begitu orangnya, tidak suka dengan berbau rumah sakit adalah sumbernya. Apalagi kalau bertemu dengan dokternya. Belum sempat di periksa dia pingsan duluan karena melihat perlengkapan medis yang terletak di sana sini. Entahlah, mungkin dia trauma, secara tidak sengaja melihat pasien koma di balik kaca ruangan ICU waktu dulu.


Karena itu kalau sakitnya gak parah-parah banget Aliya tidak pernah membawanya ke rumah sakit. Apalagi memanggil Dokter kerumah.


Selama Vera sakit Aliya hanya berkonsultasi dengan Dokter melalui hp. Memberi resep obat lalu membelinya di apotek terdekat. Itu juga tergantung dengan kondisinya ya. Jika dalam jangka waktu tiga hari belum sembuh juga, mau tidak mau ya si Vera di bawa ke rumah sakit.


Alih-alih Vera bersin-bersin. Arya terlihat melihat jam di tangan setelah selesai sarapan. Bertanya pada Aliya kenapa gadis itu belum turun juga, gak biasanya dia begini. Aliya hanya mengangkat bahu tidak tau. Sementara Arian menyuruhnya coba cek langsung ke kamarnya. Mungkin dia masih tidur, alias kesiangan karena tidurnya kebo sampai lupa waktu.


Jika di pikirkan, kenapa tidak Arian sendiri saja yang langsung mengecek ke kamar seperti biasa. Ini sudah waktunya dia berangkat ke kantor. Ada rapat penting yang harus di lakukan hari ini. Yang membuatnya tidak dapat menunda waktu seenak jidatnya. Apalagi cuti. Bisa-bisa berabe semua urusan pekerjaannya.


Karena penasaran Arya langsung naik lagi ke lantai atas. Membuka pintu tanpa mengetuk, saat masuk di sambut dengan ruangan yang masih serba tertutup. Semua tirai jendela kaca belum di buka, lampu-lampu juga belum di padamkan. Hanya AC yang tidak menyala.


Melihat Vera masih meringkuk menyatu dengan selimut tebal, Arya berjalan mendekat. Aroma minyak kayu putih menyeruak setelah ia membuka selimutnya. Gadis itu hanya terdiam sambil melihatnya dengan tatapan sayu. Kelopak bawah matanya terlihat memucat, menandakan dia kurang tidur semalam. Ada beberapa kaplet obat dan segelas air putih terletak di bawah lampu tidur.


"Jangan di buka selimutnya. Badan ku berasa dingin." Menarik selimut lagi sampai ujung leher. Suaranya terdengar agak pelan dan sayup ''Hatcih! Kenapa kau belum pergi ke kampus ?"


Arya tidak menggubris, malah mengulurkan tangannya menyentuh kening Vera mengecek suhu tubuh. Ini hanya demam ringan pikirnya, setelah merasai keringat dingin yang membasahi telapak tangannya.


"Apa yang kau rasakan sekarang ?"

__ADS_1


"Kepala ku pusing, badan ku sakit semua. Lelah sekali rasanya."


Arya menarik dua buah tisu di meja dekat sofa, lalu duduk ditepi kasur, menyeka keringat di area wajah Vera dengan lembut.


"Kau minum obat yang mana tadi pagi ?"


"Aku hanya minum obat sebelum makan. Tapi saat waktunya tiba, nafsu makan ku menghilang. Energi ku juga terkuras, rasanya aku hanya mau berbaring saja, tidak mau melakukan apa-apa."


"Tidak baik juga jika perut mu di biarkan kosong. Sakit kepala mu bisa tambah parah. Sebaiknya kau sarapan dulu baru minum obat. Biar aku yang membawakannya untuk mu."


Belum di jawab Arya sudah berdiri dari duduk. Membuka semua tirai jendela kaca, memadamkan lampu-lampu yang terlihat masih menyala. Terkecuali lampu ruang berganti baju dan kamar mandi. Setelahnya ia turun kebawah mengambil sarapan di meja makan.


"Kamu menyiapkan makan ini untuk siapa sayang ?" Melihat Arya menyendok nasi lengkap dengan sayuran dan lauknya menyatu di piring Aliya bertanya. Heran, tidak biasanya Arya makan nasi di waktu yang masih terbilang pagi begini. Dia terbiasa makan nasi saat makan siang dan makan malam. Dan kalau pagi-pagi dia kan cuma sarapan roti sandwich dan segelas jus buah.


"Ini untuk Vera Mah, dia tidak enak badan. Seluruh ototnya lemah. Jadi, aku inisiatif membawakan sarapan untuknya."


"Ya Tuhan, kenapa kamu gak bilang dari awal sayang." Aliya terkejut sekaligus panik, reaksi seorang ibu pada umumnya jika mendengar anaknya sedang sakit. "Ini pasti terjadi gara-gara dia kehujanan semalam. Arya tolong tunggu sebentar. Mama mau buatkan teh hangat dulu, agar perutnya lebih nyaman."


"Mama jangan khawatir biar aku yang merawatnya nya."


"Tapi kan sebentar lagi kamu pergi ke kampus. Mama hanya perlu kamu mengantarkan sarapan untuknya sebentar. Sisanya, biar Mama yang melakukannya ya sayang."


"Aku bisa minta cuti hari ini Mah, aku yakin paman Anggara pasti mengerti dan memaklumi."


Sekedar memberitahu, paman Anggara adalah calon keluarga, alias Ayahnya Adit. Pendiri sekaligus pemilik universitas tempat Arya mengajar.


Bibir Aliya tersenyum saat mendengar nama Anggara di sebutkan. Tangannya langsung bergerak menuangkan rebusan air panas ke dalam gelas yang sudah di beri teh celup instant. Dia celupkan tehnya beberapa kali sampai airnya berubah warna.


Setelah semua menu sarapan dan segelas teh hangat terhidang di nampan. Arya buru-buru berjalan naik ke lantai atas memasuki kamar Vera. Menaruh nampan di bawah lampu tidur.


"Bangun dan makanlah meski hanya sedikit."


Melihat Arya sudah duduk di tepi kasur. Vera terbangun, meraih bantal dan menaruhnya di belakang punggung, sekarang ia duduk bersandar sambil meluruskan kaki. Baru mau meraih piringnya Arya menahan tangannya.


"Kenapa ?"


"Biar aku yang menyuapi mu."


Ya Tuhan, lagi-lagi dia yang merawat ku. Suara dan tatapannya yang lembut, hanya bisa di rasakan saat aku sedang sakit. Seandainya jika setiap hari aku berhadapan dengan sikapnya yang perhatian seperti ini, alangkah baiknya.


Vera membuka mulutnya, melahap sesuap nasi yang di sodorkan Arya untuknya. Meski saat mengecap lidahnya terasa getir, tapi ia sanggup menahannya. Seolah terhipnotis dengan kesabaran dan kelembutan tangannya laki-laki itu selama menyuapinya.


Sesuap demi sesuap akhirnya habis juga.


Alih-alih Arya menaruh piringnya kembali di nampan, Vera meraih segelas teh hangat, meneguknya beberapa kali, lalu menyimpan gelasnya lagi di nampan.


Arya memandang Vera lembut. Bibirnya tersenyum, tangannya menyisipkan rambut Vera ke belakang telinga.


"Tunggu beberapa menit. Baru kau minum obatnya."


Arya tersenyum dan berdiri, lalu berjalan ke luar kamar sambil membawa nampan. Menghilang di balik pintu yang tertutup.


Vera meraih hp yang tergeletak di sampingnya, mengetik pesan singkat untuk di kirimkan pada Roni. Minta izin tidak masuk kerja hari ini karena sedang sakit.


Beberapa detik kemudian jawaban pesan singkat berderet. Menandakan pengirim nya khawatir diluar nalar, membuat si Vera malas meladeni. Dia lempar pelan hpnya kembali di kasur. Cerewet sekali.


Vera meraih beberapa kaplet obat, mengambilnya satu buah di setiap kapletnya. Memasukan obatnya ke mulut, menyambar segelas air. Dia dorong dengan air yang di minumnya dalam beberapa kali tegukan, obat masuk melewati tenggorokan.


Suara pintu terbuka saat ia mau menaruh gelasnya kembali di meja. Menoleh, terlihatlah Aliya berjalan mendekat, pandangannya penuh dengan intimidasi. Beberapa pertanyaan terbesit di benaknya. Seolah sudah tau dengan akibat dari kejadian sesungguhnya, yang menyebabkannya jatuh sakit.


Gadis itu tentu paham dengan arti tatapannya. Ia mengetuk jarinya pada gelas kaca yang masih ia pegang di meja, karena takut ketahuan berbohong.


Ya Tuhan jangan sampai Mama menyudutkan ku dan menyuruh ku berhenti dari pekerjaan ku. Aku tidak mau. Karena masih ada beberapa urusan yang harus ku selesaikan secepatnya.


"Bagaimana keadaan mu sekarang sayang?" Aliya membelai rambut Vera saat sudah duduk di sampingnya. "Badan mu masih tidak enak?"


Vera menarik selimut sampai batas pinggang, masih dalam keadaan duduk bersandar sambil menekuk lututnya.


"Agak mendingan Mah, setelah makan kepala ku gak pusing lagi, tinggal lemas nya saja. Bersinnya agak menghilang. Gak sering-sering banget. Jadi, Mama gak akan membawa ku ke rumah sakit kan ?" Belum saja Aliya mengusulkan si Vera malah mengarah ke sana. Badannya gemetar duluan. Aliya tau itu tandanya dia ketakutan.


"Tentu," Tersenyum "Mendengar jawaban mu yang antusias Mama gak khawatir lagi sayang. Tapi sebaliknya Mama mau memberi mu beberapa pertanyaan. Dan kamu harus jawab dengan jujur." Mode tegas nya keluar lagi, pandangannya penuh selidik.


Degh


"I-iya," Vera gugup, reaksi yang sama saat orang ketahuan berbohong."Pertanyaan apa ?" Bertingkah aneh seolah pura-pura tidak tahu.


"Mama dengar, kemarin kamu gak kerja malah main ke rumah teman mu. Benar begitu ?"


"Benar, akhirnya Mama tau juga. Hehe..." Kening Aliya cenat-cenut sendiri saat melihatnya nyengir tanpa dosa."Stop! Mama jangan cubit pipi ku. Vera kan lagi sakit."


Hhh! Aliya menghela nafas, mengusir emosi yang meluap di hatinya. Percuma ia melampiaskan amarah, jika ujung-ujungnya hanya mendengar janji palsu. Berkali-kali mengucap janji tapi di langgar juga. Semakin di larang malah semakin menjadi, lama-lama ketahuan sikap aslinya. Sulit di atur. Capek sendiri jadinya. Ya sudahlah mending di diamkan saja, membiarkan apapun yang ia mau. Toh Aliya juga tau sendiri si Vera mampu menjaga diri. Tau mana yang terbaik dan terburuk untuknya dan tau batasannya.


"Apa saja yang kamu lakukan disana ?" Aliya bicara lagi.


"Awalnya kami hanya mau makan bakso bersama. Tapi saat di rumahnya, aku jadi keterusan sampai menumpang tidur siang di kamarnya. Waktu terbangun, baru saja aku mau berpamitan pulang. Kakeknya menawari aku makan bersama, aku merasa tidak enak jika aku menolaknya. Jadinya aku baru bisa pulang malam hari, saat waktunya hujan turun. Tadinya aku mau menunggu hujan reda baru aku pulang, tapi aku takut Mama marah pada ku. Ya mau tidak mau akhirnya aku memberanikan diri menumpang di motornya sampai di halte sambil hujan-hujanan."


"Hujan-hujanan! Haduh, kamu ini benar-benar ya.'' Kening Aliya cenat-cenut lagi." Kenapa kamu tidak memakai jas hujan sayang ? Lihat akibatnya, badan mu jadi panas dingin kan sekarang."


"Itu karena teman ku hanya mempunyai satu jas hujan Mah, aku tidak mau jika esok harinya mendengar di jatuh sakit gara-gara aku."


"Ini sebenarnya yang Mama takutkan. Kamu terlalu gak tega'an orangnya. Dan kamu harus tau, Mama melarang mu bukan tanpa alasan. Mama hanya tidak mau, mendengar kebaikan hati mu di bodohi. Dan selama ini Mama selalu melarang mu membawa teman ke rumah, karena Mama tau sikap teman mu itu bagaimana. Kamu masih terlalu polos, untuk memahami situasi nya sayang."


"Aku belum bisa membedakan mana yang benar-benar tulus dan tidak nya berteman dengan ku. Tanpa adanya tujuan yang menyimpang. Begitu kan maksud Mama."


"Meski tidak semuanya benar, tapi itu juga termasuk. Begini maksud Mama, contohnya sekarang ini, coba kalau kemarin kamu jujur dari awal, kamu telepon Mama sebelumnya. Mungkin kamu gak akan sakit. Jika kamu mau berkorban juga ada batasannya, coba kamu pikirkan bagaimana dengan perasaan teman mu jika dia tau kamu sedang sakit. Bisa jadi dia lebih merasa bersalah di banding kamu."

__ADS_1


"Ah, benar juga. Kenapa aku tidak berpikir kesana sebelumnya ya ?" Kikuk.


"Maka dari itu, Mama mohon, cobalah mulai sekarang kamu memahami perasaan Mama. Jangan sampai kamu menilai Mama jahat di hati mu. Apalagi dengan kedua Kakak mu. Mereka selalu melarang mu ini dan itu karena mereka sepenuhnya sayang sama kamu. Kamu terlalu berharga di hatinya."


"Baik Mah, aku berjanji, mulai sekarang aku akan selalu menjalani hidup sesuai dengan nasihat Mama. Karena Mama satu-satunya orang yang sangat ku sayangi di dunia ini. Dan terimakasih karena Mama selalu melindungi ku dengan penuh kesabaran."


Bibir Aliya tersenyum merekah setelah mendengarnya. Tangannya terulur membelai rambutnya berkali-kali, mengalirkan semua kasih sayang nya.


"Bagaimana dengan kedua Kakak mu. Kamu sayang jugan kan sama mereka ?"


"Tentu, mereka juga sangat baik pada ku."


"Lalu, apa kamu sudah siap jika Mama sekarang menyuruh mu memilih salah satunya untuk di jadikan suami mu ?" Suara Aliya serius terdengar saat menyampaikannya.


Degh


Benar kan, selama ini firasat ku mengatakan bahwa, Mama selalu melarang ku berteman dengan laki-laki karena itu alasannya. Aku harus memilih salah satu di antara kedua Kakak ku. Aaaaa membayangkannya saja rasanya aku sangat malu.


Bibir Aliya tersenyum melihat rekasi Vera. Lucu sekali dan gemas, rasanya tangan Aliya gatal mau mencubit pipi chuby putrinya yang sudah merona merah.


"Bagaimana dengan jawaban mu ?" Hah! Vera terkejut "Kamu sudah siap atau belum ?"


Vera masih terdiam pipinya semakin merona, menahan malu.


Sekedar memberitahu, sedari tadi ada seseorang berdiri sambil memasang telinga di balik celah pintu, tangannya terlihat jelas memegang handle nya, menahan daun pintu agar tidak terbuka dengan lebar. Jadi, dia bisa melihat dan mendengar dengan bebas semua yang di bicarakan Aliya barusan. Menunggu jawaban Vera, tanpa di ketahui.


"Untuk saat ini, sepertinya aku belum siap Mah, lagi pula aku juga belum tau, siapa yang harus aku pilih." Vera menutup wajahnya dengan tangan karena malu.


"Tapi menurut kamu, untuk saat ini siapa yang mendekati pilihan mu ? Tidak mungkin kamu berpikir mau memilih dua-duanya kan sayang."


"Jujur Mah, aku belum bisa memutuskan. Karena dua-dua nya sangat baik pada ku."


"Meski sekedar suka, kamu ...."


"Jujur, awalnya aku suka Kak Arya Mah. Tapi sepertinya Kak Arya malah membenci ku. Akhirnya, aku palingkan saja rasa suka ku menjadi membencinya juga. Aku bahkan menyebutnya penjahat gila sekarang." Ups Vera menutup mulutnya keceplosan.


"Syukurlah, tadinya Mama pikir kamu suka sama Kak Arian. Tapi setelah mendengar kamu bicara begitu Mama jadi lega."


"Tapi aku suka juga sama Kak Arian Mah, tapi saat mendengar Kakak bercerita tentang wanita yang di sukainya, aku jadi mundur. Menyerah adalah yang terbaik daripada aku mengganggu hubungannya dengan wanita itu."


"Mama dengar omongan mu. Kok, kamu seperti orang yang cemburu begitu sih sayang."


"Bukannya cemburu Mah, tapi aku kesal karena sampai sekarang, Kakak masih belum menyatakan perasaannya pada wanita itu. Sebal."


Itu karena Kak Arian sangat menjaga perasaan mu sayang. Dia takut, setelah kamu tau dengan perasaannya, kamu menjauh darinya. Itu kelemahan Kakak mu, meski cinta tapi dia tidak berani mengatakannya. Malah memilih jalan lain demi membuat mu bahagia.


"Mungkin, Kakak mu mempunyai alasannya tersendiri. Jadi, kamu gak boleh sebal sama Kakak mu ya sayang."


"Tentu tidak dong Mah, yang ada aku malah kasihan saat melihat Kakak menahan perasaannya sendiri. Itu kan lebih menyakitkan."


"Ya, Mama paham apa yang kamu pikirkan sayang. Dan jika kamu sudah tau dengan rencana Kakak mu. Pesan Mama, semangat mu jangan sampai tergoyahkan ya. Mama tidak mau melihat kamu menyesalinya. "


"Hah ?" Vera bingung "Sebenarnya ini ada apa si Mah ? Kenapa omongan Mama sama persis dengan Kak Arian semalam ?"


"Karena sebentar lagi Kakak mu mau bertunangan."


Degh, mata Vera terbelalak.


Ya Tuhan, kenapa setelah mendengar Kakak mau bertunangan. Perasaan ku mengatakan bahwa aku tidak rela ya. Seharusnya aku kan bahagia.


"Ya bagus dong Mah, kenapa juga aku harus menyesalinya. Aku kan bahagia hehe." Nyengir yang di paksakan."Ada-ada saja Mama ini." Entah kenapa Aliya merasa mimik Vera berbeda dengan perkataannya. Di mata Aliya dia terlihat gundah.


Tapi berbeda pendapat juga dengan seorang yang sedang mendengar di balik celah pintu. Setelah mendengar Vera bicara bibirnya malah tersenyum. Menggaris bawahi bahwa gadis itu benar-benar akan menjadi miliknya seorang mulai sekarang. Bahkan rencana dalam hati sudah ia uraikan dengan penuh kehati-hatian. Agar gadis itu tetap berada di dalam lingkaran ikatan cintanya.


"Vera sayang, jika kamu tidak setuju dengan pertunangan Kakak mu. Mama juga bisa bicara padanya agar Kakak mu membatalkan pertunangannya."


Hah! Ya Tuhan, apakah hanya dengan mengangguk Kak Arian bisa menjadi suami ku kelak. Tapi bagaimana dengan Kakak ? Bahkan aku sendiri juga belum tau bagaimana perasaan ku pada Kakak sebenarnya. Hanya sekedar suka tapi untuk masalah cinta aku belum pernah merasakannya. Jadi, aku tidak boleh melarang Kakak untuk mencari kebahagiaannya sendiri. Benar, aku tidak boleh egois.


Melihat Vera melamun Aliya menyentuh bahunya supaya tersadar.


Eh!


"Bagaimana sayang ? Kamu mau membatalkan rencana pertunangan Kakak mu. Agar dia bisa menjadi suami mu kelak ? Dengan begitu kamu bisa mengejar cinta Kakak mu mulai dari sekarang."


Degh, seorang yang berdiri di balik celah pintu merasa was-was sambil menunggu jawaban Vera.


"Meski aku suka sama Kak Arian, tapi bukan berarti aku harus memilikinya Mah. Apalagi sampai melarang Kakak mencari kebahagiaannya sendiri. Selama Kakak bahagia aku juga bahagia. Dan aku yakin, jika memang kami harus bersama. Suatu saat aku pasti bahagia bersama Kakak jahat itu. Hehee. Mama doa kan saja ya. Supaya dia selalu baik pada ku. Apalagi saat menjadi suami ku."


Vera menutup mulutnya lagi, malu dia. Setelah menyebut laki-laki dingin itu menjadi suami ku


"Ah, aku jadi malu sendiri membayangkannya Mah." Bantal mana bantal aku mau menutup wajah ku saking malunya. Dan benar wajahnya sudah di tutup dengan bantal sekarang. Aliya sampai tertawa kecil melihat reaksinya. Apalagi seorang yang berdiri di balik celah pintu, dia lebih gemas lagi. Dan saking gemasnya dia nyaris mendorong pintu, menerobos masuk kedalam karena hanya mau mencubit hidungnya barusan.


"Ya sudah, Mama doa kan agar Kak Arya selalu baik dan perhatian pada mu. Dan tidak jahat lagi sama kamu ya sayang."


Seandainya kamu tau, selama ini Kak Arya selalu memberi mu perhatian lebih, bahkan melebihi Kak Arian. Namun sayang nya kamu terlalu tidak peka, hanya kebencian yang selalu kamu lihat dari sikapnya. Padahal jika di lihat dari matanya, kamu pasti tau, bahwa dia sangat mencintai mu.


Alih-alih saat Aliya bicara dalam hatinya, si Vera mengintip di balik bantal yang ia tempelkan di wajahnya. Menurunkan bantalnya.


"Hehe," Nyengir "Terimakasih Mah."


"Ya sudah, lebih baik sekarang kamu istirahat yang banyak dan tidur. Mama tau obat yang kamu minum menyebabkan kantuk mata. Jadi, gunakan waktu istirahat dengan sebaik mungkin. Agar sakit nya cepat pulih. Selamat tidur sayang."


"Mmm" Vera mengangguk saja bibirnya tersenyum.


Melihat Aliya bangun dari duduk, seorang yang di balik celah pintu langsung kabur tanpa menutup pintu. Dan pintu terbuka lebar dengan sendirinya, awalnya Aliya sontak kaget, tapi saat mendengar suara langkah kaki, dia jadi tersenyum, melihat tingkah kekanak-kanakannya.

__ADS_1


Dasar bocah! Bisa-bisanya kamu mendengar semuanya tanpa melakukan apa-apa. Lucu sekali kamu Nak. Mama jadi mau mencubit pipi mu yang sok dingin itu.


__ADS_2