Mengejar Cinta Vera

Mengejar Cinta Vera
Raja ampat


__ADS_3

Tepat di waktu semua teman dan guru sekolah sudah pergi menuju pulau Bali. Berbeda dengan gadis yang satu ini. Dia justru sedang sibuk menyiapkan keperluannya untuk pergi ke Raja Ampat bersama Kakak nya malam ini. Puihh, akhirnya beres juga. Pikirnya setelah menarik koper ke dekat pintu.


Setelahnya Vera berjalan lalu duduk di kursi dekat jendela kaca yang sengaja dia buka. Menyangga dagu dengan tangannya, sambil mengedarkan pandangannya pada pemandangan malam hari Kota Jakarta.


Ada banyak lampu berkerlap-kerlip dari setiap bangunan tinggi dan rendah terlihat di sana. Seperti bintang sedang menghiasi bumi indah sekali rasanya.


Kira-kira kalian lagi apa ya di Bali. Kalian pasti bahagia disana, aku iri dengan kalian. Batinnya sambil melamun. Setelahnya ia hanya menghirup udara malam, melepaskan kesedihan.


Selang beberapa menit lamunannya buyar dalam sekejap, jantungnya berdebar kaget. Saat merasai ada tangan yang menepuk bahunya dari belakang secara tiba tiba.


"Iiiih Kakak, bikin orang kaget saja deh!" Ucapnya kesal


"Kaget! Kamu pasti melamun lagi ya. Kakak sudah tiga kali memanggil kamu, tapi gak ada jawaban. Ya sudah, Kakak langsung saja dekati kamu." Arian duduk di sebelah Vera." Memangnya kamu memikirkan apa? Kelihatannya kamu sedih sekali sayang."


"Aku lagi memikirkan teman-teman ku, di sana mereka pasti bahagia. Berkumpul bersama, bercanda dan tertawa terus foto-foto. Asik sekali kan rasanya."Ucapnya masih sedih


Arian menghela nafas panjang lalu menarik kepala Vera agar bersandar di dadanya, mengusapnya rambutnya pelan-pelan. Ia tahu bahwa adiknya yang satu ini, membutuhkan sandaran.


"Lebih baik jangan terlalu di pikirkan sayang. Semakin di pikirkan, semakin dalam kesedihanmu." Arian melingkarkan tangannya di tubuh Vera mendekapnya erat-erat. "Maafkan kami yang selalu melakukan ini sama kamu. karena kami gak mau kehilangan kamu."


Wanginyaaaa, aku gak rela Kakak melepaskannya. Hanya pelukan dari Kakak membuat hati ku terasa nyaman dan semua kesedihanku menghilang.


"Walaupun Kakak super menyebalkan. Tapi kakak selalu datang menghibur di saat aku membutuhkannya. Terimakasih Kak."


Arian hanya menampakkan senyum indahnya


"Sayang, satu jam lagi kita harus berangkat. Apa kamu sudah selesai menyiapkan semua keperluan kamu?" Vera mengangguk


"Sudah kak"


"Ya sudah kalau begitu. Lebih baik sekarang kamu segera mandi. Nanti kalau kamu sudah siap langsung turun kebawah saja, Kakak tunggu kamu di mobil."


"Siap bosss" Jawabnya sambil melakukan hormat ala kapten


***


Sebuah Vila megah di pinggir laut Raja Ampat terdapat pemandangan sangat indah. Di tambah lagi satu kolam renang menghadap ke laut di lantai atas. Siapapun yang melihatnya, akan merasa jatuh cinta pada tempat ini. Begitu indah dan sangat nyaman untuk di singgahi.


"Silahkan Nona, ini kamar Anda" Ucap Deni setelah meletakan koper Vera di depan pintu


"Baik, terimakasih ya"

__ADS_1


"Sama-sama Nona" Jawab Deni setelahnya dia menundukkan kepala


"Eh tunggu dulu!" Deni berbalik melihat Vera. "Aku mau bertanya apa boleh?"


"Silahkan Nona."


"Memangnya acara seperti apa yang sudah di rencanakan Kakak ku?" Gak biasanya Kakak begitu memaksa ku. Mama juga memaksa ku datang kesini. Dan anehnya Kakak mau mengenalkan aku pada temannya. Deni merinding melihat Vera bingung sendiri sambil memegang handle pintu. "Anda pasti tahu kan ?" Sambungnya.


"Maaf Nona, saya di perintahkan Tuan Muda untuk tidak memberitahunya pada siapa pun termasuk Anda Nona."


"Begitu ya, baiklah terimakasih ya"


"Anda jangan begitu sungkan Nona" Setelah menjawab Deni berbalik lagi berjalan meninggalkan Vera


Vera membuka pintu lalu masuk ke dalam kamar sambil menarik koper miliknya. Menyimpan hp dan tas selempangnya di atas meja. Setelahnya ia merebahkan diri di tempat tidur.


"Capek banget rasanya"


Tidak berapa lama Arian muncul tiba-tiba dari balik pintu yang terbuka. Lalu masuk kedalam sambil membawa satu kotak besar berwarna putih di tangannya.


"Vera nanti malam pakai gaun ini, Kakak sudah pesan gaun ini khusus buat kamu." Arian menyodorkan kotanya.


"Apa? Gaun ? Tumben banget." Vera kebingungan saat meraihnya ."Kakak gak salah makan obat kan?" Ucapnya lagi sembari menyentuh kening Arian. "A, Sakit" Lagi-lagi keningnya di sentil


"Bukannya gak suka, aku cuma kaget saja. Lagian kan Kakak sudah tahu kalau aku gak suka pakai rok apalagi pakai gaun. Aneh banget rasanya."


Begitu faktanya Vera memang tidak pernah memakai gaun. Saat di rumah juga ia tidak pernah mau memakai rok dan lebih nyaman memakai celana pendek atau panjang. Kecuali saat pergi ke sekolah. Selalu berpenampilan sederhana dan tidak mencolok saat ikut menghadiri acara apapun bersama Kakaknya.


"Tapi sekarang kenapa Kakak kasih aku gaun ini coba?" Vera melanjutkan kalimatnya


"Kamu jangan dulu banyak omong. Coba buka kotaknya dan lihatlah dulu. Kakak yakin kamu pasti suka"


Vera meraih kotak putih dari tangan Arian dengan wajah malasnya. Dibukanya benda itu dan tampaklah sebuah gaun cantik berwarna biru nan indah. Wanita manapun saat melihatnya pasti akan menyukainya.


"Apa ini yang namanya di sebut dengan gaun ? Kenapa bentuknya aneh begini." Ucap Vera sambil mengangkat gaunnya tinggi-tinggi


Arian terkekeh melihat reaksi Vera


"Kamu seorang gadis apa bukan sih? Kok gak ada feminimnya banget. Masa melihat gaun cantik begini saja di bilang aneh dan gak mau di pakai lagi. "Heran


"Yaaa itu karena aku memang gak pernah melihat gaun begini sebelumnya." Membela diri, sebagai tanda bahwa ia seorang gadis polos pada umumnya."Memangnya nanti malam ada acara apa sih ? Sampai-sampai aku harus memakai gaun ini. Vera kan gak suka juga."

__ADS_1


"Apa salahnya di coba dulu, Kakak yakin kamu pasti cantik saat memakainya."


"Gak terima! Pokoknya aku gak mau pakai gaun ini" Vera membelakangi Arian


"Yakin kamu ?" Suaranya meninggi, tapi Vera masih membelakanginya "Kakak gak mau tau. Pokoknya kamu harus pakai. Kalau enggak, Kakak paksa kamu sampai mau"


"Coba saja kalau berani" Ucapnya menantang


"Kamu pikir ancaman Kakak gak serius ya... Kalau begitu Kakak lakukan sekarang juga" Vera langsung menghadap Arian


"Kakak mau apa ?"


"Kakak mau bantu kamu ganti baju"


"Hah ?"


Jantung Vera berdebar kencang saat melihat Arian semakin mendekat, pandangannya tajam, seperti ingin menelannya hidup-hidup. Baru mau menyentuh ujung bajunya, Vera buru-buru menahan tangannya.


Ya Tuhan ! Ada apa dengan kakak


Kenapa perasaan ku jadi aneh begini.


"Kakak jangan coba-coba ya !" Menepis tangan Arian dengan jauh "Aku bukan anak kecil lagi."


"Jadi bagaimana ? Kamu mau kan sekarang ?"


Vera menganggukkan kepala saja


"Nah begitu dong" Arian tersenyum penuh keberhasilan


"Iiiiiih nyebelin banget sih jadi kakak"


"Hehe.." Arian hanya nyengir


"Ck !" Vera kesal "Tapi kak. Aku kan gak bisa dandan dan Kakak juga tau. Jadi percuma saja Kakak memaksa aku untuk memakai gaun ini kan. Lebih baik aku memakai baju biasa saja bagaimana ?" Belum mau menyerah juga


Arian tersenyum


"Vera sayang, kamu tenang saja. Ada seorang wanita yang akan merias wajah kamu nanti. Kamu tau ? Kakak sudah gak sabar mau melihat penampilan kamu saat memakai gaun ini. Nanti kamu pasti tambah...."


"Tambah apa ?"

__ADS_1


Arian mendekat dan bibirnya menyentuh pipi Vera. "Jelek dek hehe" Ucapnya kikuk lalu buru-buru berlari sebelum


" Iiiiih Kakak...... Jorok tau enggaaaak"


__ADS_2