
Masih di malam hari.
Saat ini Arya dan Vera sudah masuk kedalam rumah, berjalan menuju ruang keluarga. Setelah mencium tangan Aliya, Arya duduk di sofa, sementara Vera menyodorkan tas bag nya pada Bibi penanggung jawab masalah pakaian di belakang, lalu duduk bersebelahan dengan Aliya.
"Mama dengar kamu kehujanan. Kenapa kamu tidak menunggu hujan reda dulu sebelum keluar sayang ?"
"Tadinya aku berpikir, Mama pasti khawatir lagi karena aku pulang telat. Jadinya aku berlari saja hehe." Dasar tukang bohong kamu Ve.
"Kamu kan bisa menelepon Mama dulu."
"Itu dia masalahnya Mah, aku kelupaan." Vera melirik Arya meminta bantuan melalui sorot matanya. Dan sepertinya laki-laki itu menangkap maksudnya.
"Katanya tadi Mama bilang ada mau di bicarakan. Bicarakan tentang apa ?" Arya buka suara.
"Ini tentang Arian sayang. Tapi.... Oya Ve sebaiknya kamu istirahat dan tidur lebih awal. Agar bandan mu lebih relax saat bangun di pagi hari nantinya." Vera mengerutkan keningnya
"Memangnya Mama dan Kakak mau bicarakan tentang apa sih. Sampe aku harus di usir segala." Vera bicara ketus
"Sudahlah, kau turuti saja perintahnya. Sebagai gantinya, aku tidak akan memberi mu pelajaran tambahan malam ini."
"Wuah, asik dong. Kalau begitu terimakasih. Aku pergi ke kamar ku sekarang ya Mah."
Setelah mencium pipi Aliya Vera bangun dari duduk, berjalan masuk ke kamar lalu berbaring di kasurnya. Tas selempangnya sudah diletakkan di meja belajar.
"Hhh, hangatnyaaaa. Akhirnya aku bertemu juga dengan mu wahai kasur ku. Sedari tadi aku merindukan mu setengah mati." Vera berbaring miring ke kiri, melihat ke arah jendela. Dan hujan belum reda juga. Gemericik air yang turun dari langit memang terdengar nyaman di telinga ya, seolah merayu ku agar segera menutup mata. Lebih baik mandi air hangat dulu. Baru aku tidur.
Vera berjalan gontai masuk ke kamar mandi. Setengah jam kemudian dia keluar dari ruang ganti baju, sudah memakai setelan piyama celana pendek. Menyisir rambutnya di depan kaca. Setelahnya ia meraih remote Dvd Player menyetel musik dengan volume sedang, menghangatkan suasana.
Tidak berapa lama, ketukan pintu terdengar dari luar. Ada suara Arian di baliknya, izin mau masuk kedalam.
"Ada apa Kak ?" Vera bertanya saat Arian sudah duduk di tempat tidur. Baju kantoran masih melekat di tubuhnya, aroma parfumnya menyebar di udara. Harum sekali.
"Gak ada apa-apa. Kakak cuma kangen aja sama kamu."
"Oh, aku kira ada yang mau di omongin." Vera berbaring di kasurnya.
"Bukan, tapi ada yang mau Kakak tanyakan" Arian ikut berbaring menatap langit kamar.
"Tanya apa ?"
"Tadi gak sengaja Kakak liat kamu jalan sambil bawa jaket laki-laki. Dari mana kamu mendapatkannya ?"
"Oh, jaket itu milik binatang gila."
"Binatang gila !"
"Ya, aku menyebutnya begitu karena kelakuannya mirip dengan binatang. Selalu merendahkan wanita tanpa melihat-lihat dulu. Pikirannya juga sempit, menilai semua wanita sama. Apalagi saat aku melihatnya mempermalukan wanita di depan umum. Kakak tau, saking gregetnya, aku tinju saja wajahnya tadi. Supaya dia tersadar atas kelakuannya hehe."
"Lalu apa yang kamu rasakan setelahnya. Menyesal atau sebaliknya ?" Arian mulai mengintimidasi
"Hah, maksudnya ?"
"Setelah dengan sembarangan melayangkan kepalan tanganmu pada wajah orang lain. Apa yang kamu rasakan ? Khawatir atau bahagia."
"Mmm, kalau itu sih...." Berpikir sebentar " Dua-duanya hehe.."
"Maksud kamu ?"
"Jujur saja ya Kak, setelah menolong wanita yang di rendahkannya. Ada rasa cemas muncul tiba-tiba saat aku memikirkannya."
"Nah loh, kenapa bisa begitu jadinya Ve ?"
"Entahlah, mungkin.... Karena aku gak tega'an juga kali ya Kak orangnya. Apalagi setelah aku mendengar alasannya, jadinya aku merasa bersalah sendiri."
"Makanya, kamu berpikirlah dulu sebelum bertindak. Jangan mentang-mentang kamu tidak suka, jadi seenaknya saja kamu memukul wajah orang tanpa sadar. Lihatlah akibatnya, sampai saat ini kamu masih memikirkannya kan."
__ADS_1
"Gak juga. Aku hanya lelah memikirkan banyak hal, bukan hanya binatang itu Kak. Hhh" Helaan nafas lelah terdengar mencurigakan di telinga Arian
"Apa yang kamu pikirkan sayang ?" Arian berbaring miring ke kanan, melihat wajah Vera lekat-lekat.
"Kakak tau tidak, tadi siang Linda mau mentraktir ku makan loh. Awalnya aku menolak, namun akhirnya aku hanya diam sambil menemaninya makan di meja yang sama tentunya. Mendengar curhatannya, entah kenapa aku merasa dia bukan orang yang jahat. Hanya keadaan yang membuatnya jadi terlihat begitu sombong. Padahal dia hanya kesepian. Membutuhkan perhatian adalah tujuan utamanya. Makanya dia selalu berbuat semena-mena terhadap siapa saja yang berani melawannya bicara. Saat di tegur malah semakin ngelunjak, merasa diri paling hebat, merasa diri paling pintar, merasa diri paling berkuasa. Dan tidak mau mengaku kalah. Hhh, ternyata ada juga ya orang begitu di dunia. Sombongnya gak ada obat, bikin orang geleng-geleng. Tapi ujung-ujungnya, mau tidak mau aku berteman dengannya juga."
"Tapi, tidak tau kenapa, Kakak dengar dari cara mu bicara, bukan itu intinya dari yang kamu pikirkan sayang. Dan sepertinya kamu merasa terbebani. Jadi cepat katakan apa yang kamu sembunyikan sebenarnya."
Vera mengubah posisi tidurnya miring ke kiri, meraih guling dan memeluknya. Wajahnya berdekatan dengan Arian. Dia ingin menyampaikan sesuatu dengan sungguh-sungguh.
"Aku mau ceritakan semuanya, tapi Kakak harus berjanji Kakak tidak boleh marah ya."
"Apa itu ?" Arian bicara cepat, pandangannya menduga-duga. Ada kecemburuan nyata yang terselip dari reaksinya."Jangan-jangan ini tentang laki-laki yang kamu ceritakan sebelumnya. Kamu menyebutnya dengan panggilan apa tadi. Kakak lupa."
"Bukan! Ini tentang teman ku yang rajin kok enak saja. Lagian ya, mana mungkin aku merasa terbebani gara-gara bintang itu. Menjijikan sekali."
"Nah benar binatang gila itu." Vera menggelengkan kepala."Kalau bukan dia orangnya, jadi teman mu yang mana ? Laki apa perempuan ?" Arian berwajah serius saat menanyakannya, membuat Vera terlihat berpikir sejenak merasai ada yang janggal di hatinya.
Hah! Laki apa perempuan.
Aneh, jika dipikirkan. Kenapa rasanya aku terlalu sering mendengar pertanyaan itu ya. Seolah aku miliknya masing-masing. Vera menatap Arian dengan curiga. Jangan-jangan.... Enggak enggak itu gak mungkin! Tenang Ve tenang, dia Kakak mu. Kau jangan berhaluan.
Arian bingung sendiri saat melihat Vera geleng-geleng kepala
"Dia teman perempuan di tempat ku bekerja Kak. Dan dia yang membuatku memikirnya sampai sekarang."
"Ooooh,"
Hah, Dasar! Kalau soal perempuan, Kakak bilangnya cuma oh. Penasaran kek kali-kali.
"Tunggu apa lagi" Hah! Vera terkejut "Cepat ceritakan Kakak mau tau."
"Tau apanya ?" Vera jadi sewot
"Ah, benar juga ya. Ya sudah deh. Begini ceritanya. Dia itu namanya Nina yang pernah aku ceritakan tentang menolongnya pada Kakak tempo hari dan dia......" Mengalirlah semua cerita dari pertama kali saling mengenal gadis itu sampai malam ini. "Jadi gitu ceritanya, Kakak gak akan bilang sama Mama tentang kejadian hari ini kan."
"Kalau kamu berjanji gak akan di ulangi lagi. Kakak memakluminya. Kakak anggap hari ini gak pernah terjadi."
"Syukurlah, terimakasih ya Kak."
"Sekarang semua masalahnya terselesaikan. Jadi, kamu gak merasa terbebani lagi kan sayang."
"Aku memang merasa terbebani karena tidak minta izin dulu sebelumnya. Tapi pokok dari semuanya adalah aku merasa simpati padanya Kak. Rasanya tangan ku gatal, ingin segara menolongnya memenuhi harapannya. Dan sedari tadi aku memikirkan bagaimana cara ku membantunya, tanpa diketahuinya. Walaupun sejujurnya dia tidak membutuhkannya juga. Karena aku tidak sabaran orangnya."
"Demi menjaga perasaanya, kamu bisa membantunya secara bertahap Ve. Jangan di sekaliguskan. Seperti kamu memberinya melalui tangan orang lain misalnya."
"Wah, benar juga. Kakak memang pintar mencari solusinya ya. Tapi aku minta tolong melalui siapa ya ?" Berpikir lagi "Nanti saja deh, aku pikirkan lagi. Dan sekarang giliran ku bertanya pada Kakak."
"Tanya apa ?"
"Tadi sebelum aku masuk ke kamar, Mama bilang ada yang mau di bicarakan tentang Kakak dengan penjahat gila itu. Tapi sebelum mendengar, aku di usir duluan. Jadinya aku penasaran. Memang, ada apa sih sebenarnya dan kenapa aku tidak boleh tau."
"Mmm, jika terkait masalah itu. Kakak belum siap memberi jawabannya sekarang. Tapi Kakak yakin sebentar lagi juga kamu tau, tanpa di beritahu. Dan Kakak mau tau bagaimana rekasi mu nantinya. Merasa kehilangan atau sebaliknya." Vera mengerutkan keningnya.
"Hah! Maksudnya ?" Kikuk
"Intinya jika kamu sudah tau, Kakak pesan jangan sampai semangat mu tergoyahkan ya sayang. Kakak tidak mau melihat mu sedih gara-gara kamu menyesal dan terlambat menyadarinya. Kakak hanya mau melihat mu bahagia disini selamanya." Arian menyentuh pipi Vera, mengusapnya perlahan. Semua perasaannya teralirkan melalui tangannya yang hangat.
"Kakak bicara apa sih. Kenapa aku merasa ucapan Kakak seolah menyampaikan kalimat perpisahan. Ada-ada saja."
"Bukan perpisahan melainkan harapan. Harapan kami semua sayang."
"Dari dulu, harapan kami semua adalah bahagia dan itu selalu tercapai. Ya meski terkadang ada kejadian yang menyebalkan juga kan. Intinya aku mohon kalian jangan merasa terbebani dengan adanya aku disini ya. Aku jadi merasa gak enak hati nantinya. Lakukanlah sesuai apa yang kalian inginkan dan aku akan selalu memahaminya. Termasuk pesan Mama waktu dulu. Jika itu sungguh-sungguh, aku bersiap diri mau mematuhinya."
"Pesan Mama! Apa itu ? Kok, Kakak tidak tau ya."
__ADS_1
"Soal aku harus memilih salah satu di antara kalian berdua menjadi pendamping hidup. Masa Kakak lupa sih. Waktu itu Kakak juga dengar kan omongan Mama. Walaupun aku tidak yakin, penjahat gila itu pasti mendengarnya juga."
"Hah!" Arian terkejut sampai terbangun duduk dari tidurnya. "Waktu kapan ? Kakak gak ingat sama sekali."
"Saat kita masih kecil, Kakak jangan pura-pura gak ingat loh ya."
"Sumpah, Kakak bersungguh-sungguh Ve,"
"Massa sih!" Arian mengangguk pelan, bola matanya berputar, mencari-cari memori di kepalanya."Ya sudah, daripada Kakak bingung, mendingan Kakak istirahat dan tidur. Itu lebih baik karena mata ku sudah mengantuk juga."
"Jadi, kamu mengusir Kakak nih ceritanya." Arian tersenyum
"Iya, karena mata ku berat tidak tahan mau tidur. Lagian, ini juga sudah malam. Kakak gak lelah apa ?"
"Ya sudah kalau begitu, Kakak juga mau istirahat." Arian mencium kening Vera."Jangan lupa, musiknya di matikan sebelum tidur. selamat malam sayang." Arian turun dari kasur.
"Malam Kak."Vera tersenyum sambil melihat Arian menutup pintunya. Menarik selimut sampai ujung bahu, berdoa dalam hati lalu tertidur lelap dalam mimpinya.
Satu jam kemudian, mendengar musik masih menyala Arya masuk kedalam tanpa mengetuk pintu. Seolah sudah tau dengan situasi di dalamnya. Mematikan Dvd player lalu duduk dipinggir kasur. Memandang wajah indahnya gadis itu lekat-lekat, tangannya terulur mengusap bibir tipisnya secara perlahan dengan induk jari.
Melihat sikap mu siang tadi, aku merasa kau bagaikan bunga yang berduri. Baru menyentuh tangkainya, tangannya tergores. Indah sekali.
Setelah tersenyum penuh makna, bibirnya menyentuh bibir Vera, menciumnya dengan lembut, mencurahkan semua perasaannya.
"Tidurlah dengan tenang wahai bunga ku, wajah mu terlihat pucat. Semoga kesehatan mu lebih membaik dari keadaan mu yang sekarang. Selamat malam."
Meski suaranya terdengar jelas, tidak ada reaksinya sama sekali dari gadis itu. Dia terlalu kebo. Arya bangun dari duduk, memadamkan semua lampu terkecuali lampu tidur. Lalu keluar lagi menutup pintunya perlahan tanpa suara.
***
Di waktu yang sama dan ditempat yang berbeda.
Adit duduk di sofa ruangan kerja Ayahnya menceritakan tentang perjanjian lama. Ada dua cangkir teh hangat di meja dan beberapa piring kue kering yang belum di sentuhnya.
"Dulu, waktu Ardana sebelum meninggal, dia menitipkan pesan pada Ayah."
"Pesan apa Ayah ?"
"Mengingat kedua orang tua putri angkatnya meninggal. Ardana dan Ayah berjanji mau menikahnya dengan mu."
"Lalu ?"
"Tapi setelah beberapa hari Ardana meninggal. Aliya memohon pada Ayah, dia tidak mau menikahkan putrinya dengan mu. Maka, Ayah dan Aliya membuat perjanjian baru. Kebetulan, saat itu perusahaan Ardana nyaris mengalami kebangkrutan. Ayah langsung menolongnya dengan menanamkan saham beberapa puluh persen. Dan Ayah terkejut, delam beberapa tahun Aliya mampu mengembangkan perusahaannya dengan seorang diri. Sebagai imbalan Aliya berjanji mau menikahkan salah satu putra kesayangannya dengan Adik mu karena bahagia."
"Jadi maksud Ayah adalah dia tega mengorbankan kebahagian anak laki-lakinya demi menebus hutangnya pada Ayah ?"
"Ini bukan soal hutang budi. Tapi kami ingin mengembangkan hubungan kekeluargaan. Aliya Ardana dan ke dua orang tua putri angkatnya adalah teman dekat Ayah dan ibu kandung mu dulu. Itulah sebabnya Ayah dan Aliya merencanakan semuanya sejak lama."
"Jika salah satu putranya mau di nikahkan dengan Adik ku. Lalu bagaimana dengan putri angkatnya ? Mendengar dia di perlakukan tidak adil. Seharusnya dia yang lebih berhak mendapatkan kebahagiaannya Ayah."
"Aliya memiliki rencananya sendiri, sebagai seorang ibu dia pasti tau. Mana yang terburuk dan terbaik baginya di masa depan. Dan yang paling membuat Ayah terkejut adalah, dia mau menikahkan putri angkatnya dengan salah putranya. Itulah menurutnya, yang akan membuat putri angkatnya bahagia selama hidupnya."
JGERRR
Adit mematung di tempatnya, tangannya terkepal. Setelah mendengar kalimat yang menghancurkan semua angan-angannya. Saking terlukanya dia hanya diam tanpa bicara sepatah kata.
"Dan beberapa minggu lalu Adik mu bilang pada Ayah. Dia jatuh hati pada salah satu putranya. Artinya ini pertanda bagus dan sangat bagus. Karena mendengar Adik mu berkata begitu, tempo hari Ayah berkunjung saja langsung kerumahnya, membicarakan masalah ini. Dan baru di pagi hari ini, Aliya mengatakan putranya setuju dan beberapa minggu lagi kami akan mempertemukan mereka. Kau tau Ayah sangat bahagia rasanya." Suara Ayah terdengar antusias saat menyampaikannya. Membuat Adit semakin tidak berdaya. Karena memang pada dasarnya dia selalu mementingkan kebahagiaan Ayah dan Adiknya di atas segalanya. Tapi entah kenapa ada sesuatu yang terlihat berbeda dari raut wajahnya sekarang.
Saat melihat Ayah meneguk teh beberapa kali, Adit keluar dari ruangan. Baru beberapa langkah, Fani datang mendekat sambil membawa pertanyaan. Belum sempat ia bicara, tangan Adit sudah mendorong tubuhnya, merapat di dinding.
"Sebutkan siapa nama laki-laki yang mau kau nikahi." Adit bicara dengan suara dingin "Arya atau Arian ? Jawablah dengan akurat."
Fani tersentak ditempatnya terkepung, sekujur tubuhnya merinding melihat sorot matanya. Hp yang di genggamnya sampai terjatuh mendarat di lantai. Dia ketakutan.
Ya Tuhan! Ada apa dengan Kakak malam ini dan kenapa Kakak kelihatannya marah pada ku. Seolah aku melakukan kesalahan yang fatal. Padahal aku bersumpah, aku tidak pernah melihat reaksi Kakak yang seperti ini sebelumnya. Wajahnya mengerikan sekali.
__ADS_1