
Di kantin kampus, saat yang lainnya sudah masuk ke dalam kelas, tapi Linda malah terlihat duduk sambil menikmati secangkir kopi. Bermain hp tanpa memperdulikan Adit yang mengobrol dengan kedua temannya. Mereka sibuk dengan urusannya masing-masing.
Beberapa saat kemudian terlihat seorang gadis cantik berjalan ke arahnya.
"Loh, Fani. Kenapa kau datang kesini ?" Linda bicara "Perasaan, tadi aku melihat mu masuk ke dalam kelas."
Melihat Fani sudah duduk bergabung, Adit langsung mengusir ke dua teman laki-lakinya dengan gerakan jari. Dalam sekejap kedua temannya langsung berdiri, melangkah meninggalkan meja.
Mengagetkan, dia posesif juga dengan Adik perempuannya ya ternyata. Tidak boleh laki-laki lain melihatnya lebih dari satu menit tanpa izin. Apalagi bersentuhan, bisa gawat urusannya.
"Entahlah" Ucap Fani sambil mengangkat bahu "Dosennya cuti hari ini katanya. Karena bosan, jadi aku kesini saja. Bergabung dengan kalian. Tapi, kenapa kalian gak masuk. Jangan bilang, kalian mau bolos lagi ya?"
"Kau jangan mengadu kalau aku bolos sekarang." Adit mengancam
"Iish, memangnya aku bocah apa, Kakak sampai ngancam segala. Lagian ya, walaupun aku mau mengadu sekali pun. Aku yakin, Ayah dan ibu pasti sudah tau duluan."
"Masa sih?" Linda yang bertanya."Tau dari mana kamu?"
"Ya iyalah, Ayah dan ibu selalu menanyakan pada mata-matanya. Kakak nya saja yang gak peka. Dasar!"
"Cih!" Adit melengos "Walaupun aku sudah sebesar ini. Ayah dan ibu selalu menganggap ku bocah ingusan yang selalu di awasi. Menggelikan sekali."
"Makanya, cari pacar dong Kak. Supaya Ayah dan ibu percaya kalau Kakak sudah dewasa Hehe.." Mendengar Fani bicara soal pacar. Adit langsung memandangnya dengan tatapan mengerikan lagi. "Ah, aku lupa. Kalau sebenarnya Kakak baru patah hati. Maaf"
"Patah hati!" Linda terkejut "Wah, ini kabar yang menarik. Gadis mana yang bisa bisa membuatnya patah hati. Aku jadi penasaran."
"Yee, Kak Linda kepo deh. Kasih tau gak ya ?" Fani melirik Adit, takut dia saat menerima tatapan maut yang mengancam lagi."Jangan deh, nanti ada yang ngamuk."
"Cih, pelit banget sih kamu." Linda mencibir
"Eh, omong-omong kalian ada yang melihat Vera gak ? Sejujurnya aku datang kesini karena mencarinya juga."
"Kami juga gak melihatnya dari tadi. Kenapa kau mencarinya?"
"Ya cuma aku kangen saja sama dia. Kalau gak ada dia di kelas, rasanya aku kesepian. Kangen sama tingkahnya yang lucu namun kurang ajar itu hehe."
"Kau sepemikiran dengan ku juga ya ternyata." Adit menimpali, membuat orang di sekitar kantin terkejut mendengar pengakuannya. Membuat semua orang saling berbisik satu sama lain. Yakin, sebentar lagi pasti akan menjadi berita yang menggemparkan bagi seluruh penghuni kampus. "Jika kau tidak melihat di sekitar sini. Kira-kira, di mana dia sekarang?"
"Di tempat kerja nya mungkin. Meski kurang ajar dia rajin juga orangnya." Linda yang menjawab tanpa berpikir aneh-aneh kalau Vera yang membuatnya patah hati.
"Ya bisa jadi"
"Kalau begitu, kau tunggu apa lagi?" Hah! Fani melongo "Cepat kau kesana sekarang juga. Bukannya tadi kau bilang kangen sama dia." Malah Adit yang tidak sabaran disini. Ada rasa cemas tiba-tiba muncul dalam hati. Firasatnya mengatakan gadis itu dalam keadaan tidak baik. Apalagi saat melihat wajahnya yang pucat pasi akibat kehujanan tadi malam. Makin frustasi saja dia rasanya.
"Ya iya, aku memang mau bertemu sama dia tapi gak sampai segitu nya dong Kak. Kakak kan tau, selain pergi ke kampus, aku gak di perbolehkan pergi kemana-mana. Karena ada bodyguard Ayah yang siaga menunggu ku di luar. Ada-ada saja."
"Kalau begitu kau coba hubungi saja, tanyakan bagaimana kabarnya dan dimana dia sebenarnya." Linda yang menyarankan.
"Itu masalahnya Kak, aku gak punya nomer hp nya. Kalau aku punya, buat apa aku kesana kemari mencarinya. Benar gak ?"
"Hadeh." Linda tepuk jidat "Kau ini benar-benar ya. Katanya teman dekat, tapi kok, nomer hp nya saja gak punya. Ada-ada saja."
"Hehe.." Fani nyengir kuda
"Sepertinya aku tau siapa orang yang harus di tanyakan." Adit bicara lagi. Kebetulan orang yang mau di tanyakan baru saja lewat. Dan sepertinya dia baru selesai mengikuti pelajaran.
"Siapa ?" Fani bertanya.
"Dia." Adit mengedikan kepala ke arah meja di depan, sementara Fani dan Linda menoleh ke belakang, melihat orangnya.
"Kak Roni maksud Kakak." Fani yang bicara.
"Hemm, coba kau tanyakan padanya."
"Ah, benar juga ya. Kenapa tidak ku pikirkan dari awal. Pasti dia punya nomer hp nya." Fani berdiri
"Tunggu!" Linda menyentuh lengan Fani saat mau melangkah."Biar aku yang melakukannya."
"Hah?" Fani terkejut "Bukankah Kak Linda dan dia...."
"Sudahlah, kau duduk saja. Nanti kalau ada waktu, aku akan jelaskan. Sekarang, tetaplah disini, jangan melakukan apapun sebelum aku memberi kode."
"Mmm, oke" Fani dan Adit saling bertukar pandang saat melihat Linda berdiri dari duduk, serius dengan perkataannya. Seperti ada sesuatu yang terlewatkan, yang membuatnya menjadi seberani itu.
Apalagi saat Linda sudah ada di meja yang sama dengan Roni. Tidak ada kecanggungan sedikit pun saat mereka mulai berbicara. Bertukar kabar dan menanyai nomer telepon Vera. Baru saja mendengar namanya di sebut Roni langsung memberi tahu bahwa gadis yang di carinya sedang jatuh sakit.
__ADS_1
Fani dan Adit terlihat mendekat setelah Linda melambaikan tangan, menarik kursi lalu duduk bergabung.
"Bagaimana, Kak Roni mau memberi teleponnya atau tidak?" Fani bertanya.
"Tentu, aku sudah menyimpannya. Tapi ada kabar yang lebih mengejutkan." Linda yang menjawab.
"Apa itu?" Adit penasaran
"Katanya dia sakit, badannya panas dingin." Roni menimpali
"Apa? Panas dingin!" Reaksi Adit di luar nalar, siapapun yang melihatnya pasti menahan gelak. Melihat tingkah kelucuannya. Saat tersadar di perhatikan dia berdehem, mengembalikan wajahnya yang sok menyeramkan itu.
"Sejak kapan Vera memberi tahu Kak Roni ?''
"Sekitar dua jam yang lalu."
"Jadi begitu, sekarang aku mengerti, kenapa dosen itu tidak ikut masuk hari ini." Suara Adit terdengar rendah, pandangannya menduga-duga. Membuat orang yang melihatnya langsung diam, tidak berani bertanya-tanya.
****
Siang hari
Vera bergulingan di kasur, memikirkan bagaimana nasibnya kelak jika menikah dengan laki-laki dingin itu. Wajahnya merona malu setiap memikirkannya. Yang membuatnya susah tidur.
Tapi bukan itu dari pokok masalahnya sekarang, ada sesuatu yang berbeda saat ini. Mendengar Arian sebentar lagi mau bertunangan hatinya berdenyut-denyut. Seolah ada yang hilang dari perasaanya. Perasaan suka yang sudah terlanjur di berikan pada Arian. Berharap Arian membatalkan pertunangannya dan kembali ke sisinya.
Gila! Apa yang kamu pikirkan Ve. Tadi kau sudah bulat membuat keputusan. Tapi kenapa..... Hhh, sekarang aku mengerti, mungkin ini yang di maksud Kakak dan Mama tentang semangat ku jangan mudah tergoyahkan.
Menggeleng
Tidak Ve, kau harus kuat. Meski menyakitkan, kau jangan menyerah pada penyesalan yang segera datang menghantui mu.
Vera membuka selimutnya, meraih satu kaplet obat di meja, mengambilnya sebuah, lalu berjalan menuju dapur bersih, yang nyaris bersebelahan dengan kamar Arya. Hanya tersisa beberapa meter jarak yang memisahkan ke dua ruangannya.
Saat sampai Vera memasukan obatnya ke mulut. Membuka pintu kulkas, meraih botol minum, dia tuangkan airnya ke dalam gelas, meneguknya beberapa kali, obat masuk ke dalam perut.
Melirik pop mie dalam kulkas perutnya jadi lapar. Apalagi kalau di nikmati siang-siang begini, rasanya menggugah selera.
Tanpa berpikir panjang, ia langsung mengisi teko listrik dengan air secukupnya, tunggu sampai mendidih. Setelah beberapa menit, akhirnya dia tuangkan air panas ke dalam pop mie instan yang sudah di buka penutupnya. Baru dia masukan bahan pelengkapnya nanti jika mie nya sudah melunak.
"Apa yang kau buat ?"
"Pop mie, kau mau? Biar aku yang membuatnya sekalian, mumpung air panasnya masih ada."
"Hemm," Mengangguk, tangannya menyentuh kening Vera mengecek suhu nya lagi. Demamnya sudah turun pikirnya "Apa kau sudah minum obat sebelum makannya ?"
"Mmm, baru saja aku meminumnya. Kau mau yang rasa apa ?" Arya menunjuk warna pop mie sama dengannya. Vera langsung mengambilnya dalam kulkas. Dalam hitungan menit dua cup pop mie sudah tersaji, aroma kuah nikmatnya menyebar saat ia mengaduknya. "Ini punya mu."
Arya meraihnya
"Kau mau makan di mana ?"
"Di sana" Vera menunjuk ruangan terbuka yang memiliki pencahayaan natural berkat kehadiran jendela besar. Ada hamparan karpet bulu berwarna putih di bawah sofa yang menghadap ke tv dan tanaman hias di sudut ruangan. Sangat nyaman di jadikan tempat lesehan dan bersantai bersama keluarga.
"Kau makan sambil menonton tv ?"
"Mmm, mari kita makan bersama." Tanpa menunggu jawaban Vera melangkah, lalu duduk di karpet, meraih remote dan menyalakan tv. Sementara Arya datang menyusul sambil membawa botol minum ditangan kirinya. Dia letakan botolnya di karpet baru duduk berdampingan. Menikmati pop mie bersama.
"Kabarnya kau sudah tau tentang Arian."
"Maksud mu, sebentar lagi Kak Arian mau bertunangan kan?" Arya mengangguk "Ya, aku baru tau tadi pagi. Kenapa ?"
"Apa kau benar-benar tidak merasa keberatan, mendengar Kakak yang kau sayangi di miliki orang lain."
Degh Vera terbelalak, menghentikan suapan mie yang nyaris mendekat di mulutnya. Menurunkan pandangan.
"Walau pun aku keberatan, tapi aku tidak mau melarang Kakak menemui takdirnya. Yang bisa ku lakukan hanyalah mendo'akan nya. Semoga Kakak bahagia selamanya" Meski kalimatnya terdengar sederhana, tapi mimiknya mengartikan sesuatu yang teramat dalam di mata Arya.
"Cih" Arya mendengus.
Suasana menjadi hening, hanya suara tv yang terdengar. Kembali menyeruput pop mie masing-masing, sambil melihat tv sesekali.
"Omong-omong, apa kau pernah menyukai seseorang ?" Vera bertanya setelah menyeruput kuah nikmat pop mie nya
"Suka ?" Degh, mata Arya membelalak."Emm...." Berpikir sambil membuang cup mie kosong ke tempat sampah. Menutupi salah tingkah.
__ADS_1
"Kalau belum pernah, kau jangan memaksa diri menjawabnya." Si Vera gak sabaran "Aku hanya berpikir, menyukai seseorang mungkin rasanya seperti ini. Harus menahan perasaan sendiri, membiarkannya bebas melakukan apapun yang dia suka, termasuk mencintai orang lain. Ini baru tak egois, mungkin segalanya bisa di lupakan. Dan berakhir seperti itu"
"Bodoh. Bukankah itu sama saja tidak pernah terjadi apa-apa. Bagaimana jika besok dia mati, baru kau menyesal. Jika itu terjadi pada ku. Aku pasti berusaha meraihnya dengan sekuat tenaga demi mendapatkan mu. Eh," Arya berhenti, keceplosan dia. Jantungnya berdebar-debar. Berdehem mengusir salah tingkah."Omong-omong kenapa kau mendadak menanyakan pertanyaan bodoh ini?"
Vera diam belum menjawab, melempar cup mie yang sudah dia remas ke tempat sampah. Menoleh lagi, seringai mencurigakan muncul di bibirnya. Tapi tidak dengan segera ia menjawab pertanyaannya, hanya batinnya yang bicara.
Penjahat gila ini, ternyata pandai juga. Pandai membuat kalimat yang mengejutkan. Tanpa sadar, dia telah menjawab masalah hati ku dengan mudah.
Lantas, kenapa aku bersembunyi, bahkan sedikit harapan pun tidak ada. Jika aku sungguh-sungguh menyukai Kak Arian, aku harus mengejarnya. Meski mencintai orang lain, Kak Arian begitu berani memilih jalannya sendiri. Jadi, aku harus lebih berani. Mengakui rasa suka ku padanya. Menantang takdir ku sebelum terlambat. Mmm, semangat!
Melihat Vera mengabaikan pertanyaannya, Arya kebingungan. Mana tau dia, kalau gadis itu malah memikirkan laki-laki lain. Akhirnya ia guncangkan saja bahunya, supaya tersadar
Eh! Menoleh
"Kau lagi memikirkan apa ?"
"Ah, tidak." Vera tersenyum "Kau pintar juga ya ternyata. Dan terimakasih atas solusinya."
Mata Arya membelalak lagi tapi dengan perasaan yang berbeda, tangannya terkepal, menahan emosi. Setelah mendengar jawaban yang bukan di maksudnya. Tersadar yang di pikirkan gadis itu bukanlah dirinya.
Eh!
"Ada apa? Kenapa kau melihat ku dengan tatapan begitu ?" Seolah kau mau membunuh ku.
Vera bergidik ngeri tengkuknya merinding, tangan Arya sudah menyentuh dagunya, mencengkram nya kuat.
"Jika kau benar-benar mendo'akannya. Lantas siapa yang kau pikirkan? Arian atau laki-laki lain. Katakan dengan jujur." Bahkan suaranya rendah namun dingin terdengar, ada ancaman nyata terselip dari aura wajahnya yang menghitam.
Matilah aku. Saking bersemangatnya, aku sampai melupakannya. Melupakan calon laki-laki yang akan menjadi suami ku kelak. Ya Tuhan, semoga dia mampu memahami apa yang mau ku katakan padanya sekarang. Sebelum aku benar-benar terlambat menyesalinya.
"Ju-jur, aku menyukai Kak Arian, tapi entah kenapa setiap aku berada di dekat mu. Aku merasa terlindungi. Jadi. A-apa yang harus ku lakukan?"
Arya diam, posisi tangannya masih memegang dagu, tatapannya tajam penuh dengan intimidasi.
Mendengar adanya nama orang lain yang menggoda di hatinya. Aku terpancing emosi dan nyaris gegabah, memaksa mengakui cinta ku pada nya.
Tapi sekarang, aku akan membiarkan moment ini terjadi sementara. Dan melihat seberapa kuat kau mampu bertahan menyukai laki-laki yang segera menjadi milik orang lain. Cih!
Aku sudah tidak sabar menantikan hari itu. Hari di mana kau terluka, bersandar pada ku. Saat mendekap, kau takkan pernah ku lepaskan selamanya.
Gadis itu merinding sendiri melihat seringai nakal yang muncul di bibir Arya. Pikirannya berkeliaran, sambil merasai bibirnya di sentuh induk jari. Menyeka sisa kuah mie yang menempel di bibir. Fokus sekarang tertuju pada wajahnya yang lama-lama semakin mendekat. Helaan nafasnya saling mengadu, pandangannya bertemu. Degh degh
Ya Tuhan, dengan jarak wajahnya yang begitu dekat seperti ini. Apa yang mau dilakukannya pada ku. Tidak! Ini terlalu dekat.
Melihat wajah Vera menegang, Arya melepaskan tangannya.
"Hhh!" Menghela nafas "Untung saja." buru-buru bergeser, mengelus dada berulang kali. Mengusir ketegangan yang tercipta.
"Kenapa wajah mu bersemu merah? Pasti kau mempunyai pikiran kotor." Setelah bicara Arya meraih botol air minum, meneguknya sekali.
"Aku?" Vera menunjuk dirinya "Heh! Mana ada ?" Karena salah tingkah, Vera merebut botol di tangan Arya, meneguknya tanpa sadar."Yang ada aku hanya mau bertanya, kenapa kau tidak menjawab pertanyaan ku" Meneguk airnya lagi beberapa kali.
"Cih, jika tida ada, kenapa kau minum di tempat yang sama dengan bekas bibir ku ?"
Uhuk! Vera tersedak dengan air yang di minumnya barusan.
Benar juga, secara tidak langsung kami berciuman kan maksudnya. Ah, tidak Ve tidak! Kau jangan terpancing suasana. Mungkin dia mau mengejek mu. Mengalihkan pertanyaan mu.
"Memangnya kenapa kalau aku minum di bekas bibir mu ? Bukankah dulu aku selalu melakukan hal yang sama. Kita kan pernah juga makan sepiring berdua. Itu juga kau yang menyuapi ku. Dasar!" Wajah malu di bawa melengos, mengalihkan pandangan pada layar kaca. Bertopang dagu, sambil sesekali melirik-lirik.
Melihat reaksinya yang lucu Arya berdehem lagi. Mengusir kegemasan yang nyaris menghilangkan kendali. Yang mau mengigit bibirnya barusan. Ia palingkan pandangannya pada hp yang tergeletak di sofa, membaca pesan masuk.
"Kau jangan lupa minun obatnya. Agar sakitnya cepat sembuh." Arya berdiri dari duduk
"Mmm, kau mau kemana ?"
"Ada orang yang harus ku temui di bawah."
"Siapa ?"
"Teman mu."
"Hah ?"
"Sebaiknya kau tunggu di kamar, dan jangan berkeliaran sebelum aku memberi mu izin." Tanpa menunggu jawaban, Arya sudah berjalan menuju lantai bawah.
__ADS_1
Hhh, mulai lagi. Mulai mendengar ceramah yang tiada henti. Jadi, aku harus bersiap diri memasang telinga ku.