Mengejar Cinta Vera

Mengejar Cinta Vera
Simpan itu dalam hati mu


__ADS_3

Pagi hari di kamar Vera setelah bangun tidur.


"Ve, tadi malam kamu pulang jam berapa sayang ?" Arian membelai pipi Vera di tempat tidur, laki-laki itu hanya di sambut dengan senyuman "Kakak nungguin kamu disini sampai ketiduran."


"Sekitar jam 1 malam mungkin. Veve gak begitu ingat. Yang jelas tadi malam, aku pulang bersama Kakak jahat itu."


"Syukurlah, Kakak khawatir. Kakak pikir kamu pulang sendirian." Vera hanya senyum "Setelah di pikir-pikir, Kak Arya baik juga ya sama kamu akhir-akhir ini. Gak seperti dulu lagi."


"Eh ! Siapa bilang ! Dia juga bersikap kasar kadang-kandang. Aku sampai kesal di buatnya."


"Tapi menurut Kakak, itu hanya sebatas kewajaran. Gak ada niat jahat sama kamu


"


"Entahlah. Mau jahat atau tidak, aku tetap membencinya. Oya kemarin Kakak bilang, Kakak punya masalah. Gimana sekarang ? Sudah baikan ?" Adalah hal yang biasa Vera lakukan, mengalihkan topik dengan halus, bila menyangkut tentang laki-laki dingin itu. Apalagi di waktu pagi begini. Bikin pusing saja.


"Bisa di lalui atau tidak. Kakak masih belum tau. Kakak membutuhkan banyak pertimbangan."


"Pertimbangan ?" Vera menyipitkan matanya.


''Ya. Karena masalah ini, menyangkut tentang gadis yang Kakak cintai."


"Emm ? Jangan bilang Kakak masih belum mengungkapkan perasaan cinta padanya. Cepetan dong Kak, nanti benar-benar di ambil orang."


"Sebenarnya, kamu memaksa Kakak mengakuinya atau bertanya ?"


"Dua-duanya." Vera menjawab cepat


Arian memandang Vera tajam


Apakah kamu begitu tidak pernah mau menembusnya. Padahal cinta ini terlihat begitu nyata hanya pada mu.


Arian memang mencintainya. Tapi dia juga tidak bisa mengatakannya. Hanya bisa menghela nafas berat, mengusir penat dalam hati karena gadis itu.


"Vera, sesungguhnya arti cinta bukan hanya menyatakan cinta. Tanpa mengatakan apapun bisa di sebut cinta. Cinta juga pengorbanan. Cinta juga saling memberi. Mencintai bukan berarti harus memiliki. Cinta juga harus mengubur kebahagian sendiri demi kebahagiaan orang lain sayang."


Vera mengerutkan keningnya


"Jadi apa itu artinya Kakak mengorbankan cinta Kakak demi kebahagiaan orang lain ?"


Degh


"Bukan begitu maksudnya. Kakak hanya mau melihatnya bahagia. Karena itu Kaka belum mengatakan nya sampai sekarang. Kakak butuh banyak pertimbangan sayang." Entah kenapa Arian terkesan panik mengatakannya. Seperti ada sesuatu yang di sembunyikan.


Vera diam tidak mengatakan apapun


Ya Tuhan. Sebesar apa masalahnya sebenarnya. Sampai membuat Kakak rela menahan perasaan sendiri. Padahal itu lebih menyakitkan.


Hhh Vera membuang nafas lelah, mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Semoga gadis yang Kakak cintai segera menyadari perasaannya.


***


Siang hari. Di ruang keluarga


Kebetulan ini hari libur. Setelah berolah raga, keluarga itu selalu menghabiskan waktu nya di rumah. Tanpa pergi kemana-mana. Seperti sekarang ini, mereka sedang asik mengobrol sambil menyalakan tv.


"Apa itu yang mau kamu makan ?" Sambil melihat Vera membuka bungkusan makanan ringan Arian bertanya.


"Q-tela" Arian mengerutkan keningnya


"Ya Kakak tau itu namanya. Tapi makanan terbuat dari apa itu ? Kok bentuknya tipis banget"


"Ck, bodoh !" Arya yang panasan


"Cemilan itu terbuat dari singkong sayang." Aliya yang menjawab


"Singkong ?" Arian mengerutkan keningnya kepala nya penuh tanda tanya. "Masa bodoh ! Sini, Kakak mau mencobanya satu." Penasaran Arian merebut bungkusannya dari tangan Vera.


"Iiiiih. Lihat deh mah. Kakak seenaknya saja mengambil cemilan ku."


"Kakak cuma mau minta satu kok, pelit banget sih kamu. Nih Kakak kembalikan"


"Siapa yang pelit ?" Vera meraihnya sambil manyun " Udah maksa gak bilang terima kasih lagi. Nyebelin banget sih jadi Kakak."


"Kamu tuh yang nyebelin" Arian tidak mau kalah "Dasar pelit."


"Cih, kekanakan sekali " Arya bicara dengan nada dingin


"Sudah sudah. Arian kalau kamu mau, kamu bisa ambil sendiri atau kamu minta tolong ambilkan pada Bik Minah di belakang." Aliya bicara "Itu cuma cemilan kok di ributkan. Gak malu apa ? Dari tadi kalian ribut, di lihat oleh Kakak mu."


''Siapa peduli " Vera bicara acuh "Kalau sudah di lihat ya biarkan saja. Kenapa harus peduli dengan perasaannya ?"


Arya menatap Vera tajam seolah bicara. Beraninya. Entah kenapa hawa disekitarnya menjadi dingin


"Huus, kamu gak boleh ngomong gitu." Arian menyadarkan, sedingin apapun laki-laki yang tak bergeming itu tetaplah Kakaknya yang harus di hormati.


"Vera sayang, ini hari libur. Kamu gak kerja sayang ?" Aliya mengalihkan topik agar suasananya menjadi hangat kembali. Dia tau semakin diributkan, masalah lainya akan timbul tiada henti.


"Gak kok mah, kebetulan tempat ku bekerja milik teman ku. Karena kami kuliah di tempat yang sama. Jadi, dia memberi aku cuti di hari libur."


"Teman mu ?" Arian bertanya.


"Ya. Dia Kakak senior ku. Kalau tidak salah Kakak juga pernah melihatnya kan. Di hari ulang tahun teman Kakak. Dia juga hadir disana."

__ADS_1


"Kalau begitu, dia juga rekan bisnis Kakak ya ! Baguslah, pasti dia akan mempekerjakan mu dengan baik." Meski tidak tau orangnya yang mana Arian tetap beranggapan seperti itu. Padahal kalau dia tau orang yang sebenarnya itu siapa. Apalagi pemilik kafe itu pernah memberi jaketnya. Entah bagaimana lagi ceritanya. Bisa jadi dia meminta Vera di keluarkan dari tempatnya.


"Mmm" Vera menganggukkan kepala "Dari awal dia memang sudah baik kok."


"Cih, semoga tidak memiliki niat terselubung."


Aliya diam memandang Arya penuh dengan selidik. Apa dia sudah mengetahui segalanya. Begitu kata yang di ungkapkan lewat matanya. Di tambah lagi laki-laki dingin itu hanya fokus menatap layar kaca. Padahal gerak geriknya terlihat jelas tidak suka.


"Vera, sebaik apapun teman mu itu. Kamu harus tetap menjaga diri ya sayang. Mama tidak mau kamu menyesalinya."


"Oke bos!" Vera memberi hormat la kapten


***


Malam hari setelah makan malam


Vera berdiam diri di teras balkon lantai atas. Dia duduk di pagar sambil melihat bulan dan bintang. Merenungi kalimat yang di berikan Linda kemarin malam.


Kau benci cara mereka memperlakukan mu. Terkekang. Lalu berpura-pura bahagia. Bermainlah lain kali. Jangan hanya melampiaskan pada pekerjaan yang tak berguna. Karena itu lebih membosankan. Ingat takkan ada manusia sempurna di dunia.


Begitu kalimatnya semakin berusaha mengusirnya semakin jelas terbayangkan. Apalagi saat Linda merendahkannya dengan kata. Munafik.


"Kenapa reaksi ku diam waktu itu. Apa benar yang dikatakannya. Selama ini aku hanya berakting pada keluarga ku sendiri. Jelas-jelas aku sendiri benci saat melihat orang memakai topengnya."


"Jika kau benci melihatnya. Alihkan pandangan mu. Anggap kau tidak melihatnya."


Huh! Vera menarik nafas sekaligus tercekat mendengar orang yang bicara di belakangnya itu siapa.


"Sejak kapan kau berdiri di situ ?" Vera bertanya. "Tunggu apa kau mendengar semuanya."


Bisa mati aku ! Jika dia tau semua yang ku katakan


"Aku baru datang, lalu tidak sengaja. Mendengar mu benci melihat orang memakai topengnya." Arya berjalan mendekat


Syukurlah Vera menarik nafas lega


''Ada urusan apa kau datang kesini ?"


"Aku mencari mu." Arya menjawab


"Mencari ku ! Mau apa ?"


"Ada tugas tambahan yang harus ku berikan pada mu."


"Tugas! Gila, ini hari libur. Aku tidak mau menerimanya."


"Karena otak sangat mu bodoh. Mau tidak mau kau harus menerimanya."


"Aku tetap tidak mau."


"Berterima kasih pada mu. Hahaha becanda ya. Aku baru tau kau peduli dengan kata itu juga ya ternyata."


"Jangan cerewet. Kau ikuti aku sekarang juga." Entah kenapa sikap Arya terlihat salah tingkah


"Emm ? Kenapa wajah mu bersemu merah ? Kau demam ?" Vera menyentuh kening Arya tanpa sadar. Meski bertambah salah tingkah laki-laki itu langsung menepis tangannya.


"Kau jangan menyentuh ku sembarangan."


"Oh, maaf, tangan ku keseleo." Mengelap tangan dengan bajunya. Seperti sudah menyentuh benda menjijikan." Tapi kau benar-benar tidak demam kan ?"


Arya menggetarkan giginya "Dasar bodoh !"


"Kau yang bodoh. Aku berusaha peduli tapi kau..."


"Jangan di teruskan." Arya menyela secepat kilat " Simpan itu dalam hati mu "


"Hah ?" Dasar gila ya. Rasanya, aku merobek wajahnya yang dingin itu.


Mungkin Vera tidak begitu peduli dengan kalimat itu. Padahal kalimatnya mengartikan sesuatu yang teramat dalam.


***


Di ruang Arya


Setelah melewati perdebatan yang menyebalkan, ujung-ujungnya Vera menurut juga. Sekarang dia sudah duduk manis di tempat duduknya di depan Arya. Menunggu tema yang akan di pelajari nya hari ini.


Hp Arya menyala dan bergetar, tanda pesan masuk. Langsung dengan segera dia meraih benda itu lalu membacanya. Selang beberapa detik ia menyimpan kembali hp nya di atas meja.


Vera bingung saat melihat Arya berdiri dari duduk secara tiba-tiba.


Apa yang dia baca ya. Aneh sekali wajahnya. Seperti orang kebingungan


Arya menatap Vera


"Tunggulah disini, aku mau bicara dengan Mama sebentar."


"Hmm, oke"


Setelah melihat Vera menganggukkan kepalanya, Arya berjalan menuruni tangga menuju kamar Mama.


Sebenarnya apa yang mau di bicarakan Mama. Sampai dia harus berjalan begitu cepatnya


Vera berpikir sebentar


"Masa bodolah mereka mau bicara apa. Itu juga gak ada hubungannya dengan ku."

__ADS_1


Vera meraih bukunya, membaca halaman yang akan di pelajari malam ini. Beberapa menit berlalu, dia terlihat kebingungan.


Setelah ku alami ternyata jurusan Pariwisata lebih merepotkan ya. Banyak sekali pelajaran yang sulit ku pahami. Aaaaah aku menyesal ! Rasanya aku mau cepat-cepat mengakhirinya.


Begitu yang di rasakan Vera.


Apalagi author nya, boro-boro ngerti. Cuma lulusan SMK lagi, mana tau buku yang di bacanya itu apa. ๐Ÿ™„Hehe.


Balik lagi ke cerita


Kecerdasan otak Vera terbilang normal. Mudah jika bertemu dengan pelajaran mudah dan sulit jika bertemu dengan pelajaran yang sulit. Sama halnya dengan masa SMK, belum pernah tuh sekalipun Vera mendapat peringkat teratas.


Sejujurnya ya, dia pemalas jika menyangkut tentang masalah pelajaran di sekolah. Di tambah lagi dia harus menyelesaikan kuliah saat ini. Semakin banyaknya pelajaran yang harus di hadapi. Otaknya menjadi lebih kusut.


Pernah suatu hari di SMK dia rela berbohong karena tidak mau mengikuti pelajaran yang di bencinya. Baru saja pelajaran akan di mulai, saking malasnya Si Vera sempat-sempatnya minta izin pada gurunya ke toilet. Padahal dia jajan di kantin. Mie rebus instan lagi, wwkkk. Gak kebayang, berapa lama dia menghabiskan waktunya disana.


Hah ! Seandainya Aliya memberinya izin berhenti kuliah. Mungkin dia akan merasa hidupnya menjadi lebih bermakna dan indah. Hanya dengan memberinya kebebasan untuk melakukan apapun yang dia mau. Itu sudah cukup memenuhi harapannya.


Dulu saat dia masih sekolah di SMK sempat membicarakan tentang ini dengan teman sebangkunya di taman sekolah waktu istirahat berlangsung.


"Sebenarnya aku tidak mau kuliah" Persi Vera SMK bicara.


"Lho kenapa ?" Anya teman sebangkunya bertanya.


"Cuma malas sih sebenarnya."


"Aneh kau ini. Orang lain sampai rela banting tulang demi melanjutkan kuliahnya. Kok kamu malah gak mau ! Heran. Padahal memiliki gelar itu penting lho. Apalagi saat menghadapi masa depan. Kamu bisa gunakan itu sebagai perisai di tempat manapun saat kamu mau mencari pekerjaan."


"Masa bodolah, aku yang gak mau, kenapa kau yang repot." Vera ketus "Menurut ku gelar pada wanita itu gak penting-penting amat"


"Iiii penting tau," Anya sewot " Heh ! Aku beritahu ya, nanti kalau kamu mau menikah dan berjodoh dengan konglomerat. Calon mertua mu pasti mau tau latar belakang mu seperti apa. Bisa-bisa gak jadi nikah deh, karena kamu cuma lulusan SMK."


"Bodo amat ! Siapa juga yang mau nikah sama konglomerat. Di atur sama keluarga sendiri saja, bosannya minta ampun. Apalagi sama konglomerat ! Bisa mati aku !" Vera tepok jidat " Lagian ya buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau ujung-ujungnya masuk ke dapur juga.''


Anya tersenyum mencurigakan


"Vera sayang, kau lupa ya ? Kita sama-sama hidup dalam dunia yang terpandang. Jika kamu mau mempermalukan keluarga mu, lakukan saja. Seperti yang kamu bilang, gak usah sekolah tinggi-tinggi. Aku tidak mau campur tangan hehe" Anya memancing


"Benar juga. Kita yang melakukan kenapa keluarga yang selalu menanggung akibatnya ya.'' Vera kikuk


"Karena hidup di dunia yang terpandang sangatlah tidak mudah. Harus selalu menuruti semua aturan dan tradisi keluarga. Satu kali saja ketahuan melakukan kesalahan fatal. Tamatlah riwayat ini. Seluruh media akan tau, lalu di banjiri dengan hujatan. Menyeret satu keluarga menanggung dampak akibatnya."


Vera langsung diam tidak menjawab


Begitu cerita dan alasan Vera menerima aturan keluarganya, termasuk masalah pendidikannya saat ini. Semua sudah di atur. Demi menjaga nama baik keluarga yang sudah membesarkannya. Mau tidak mau dia harus menyelesaikan kuliahnya dan tugasnya saat ini.


Vera terlihat sedang membolak-balikkan halaman bukunya. Bolak-balik terus bolak-balik lagi. Tetap tak bertemu jawabannya Huh sebal. Pandangannya teralihkan pada benda lebar yang menyala di depannya. Karena penasaran dia langsung berpindah duduk ke kursi Arya. Di tatapnya layar laptop lalu terkejut saat melihat sebuah file bernama kucing liar. Siapa lagi kalau bukan dirinya. Begitu pikir Vera. Tanpa basi-basi telunjuknya mulai beraksi.


Gadis bodoh yang menarik. Semakin di permainkan semakin bahagia rasanya. Senang melihatnya marah dan kesal.


"Jadi ini alasannya, kau bahagia melihat ku menderita begitu ya, awas lihat saja kau nanti. tunggu pembalasan ku" menscroll ke bawah lagi


Saat lelah di permainkan dia mengabaikan ku, perlahan menjauh, entah kenapa aku menjadi takut kehilangannya.


"Takut kehilangan ku hahaha. Kau pikir aku boneka mu apa." tertawa saja karena tidak tahu artinya itu apa, setelahnya ia menscroll kebawah lagi


Frustasi saat melihatnya tertawa dengan laki-laki lain


"Aku yang tertawa, kenapa kau yang frustasi, dia aneh sekali pemikirannya" setelah puas mengumpat ia menscroll ke bawah lagi


Tidak peduli sudah berapa lama aku memikirkannya. Ini tidak mudah di percaya. Ternyata aku sudah lama men.....nya


"Apa katanya ?" Apa dia sudah jatuh cinta padaku. Berpikir aneh setelah membaca kata terakhirnya. Degh degh degh. Jantungnya mulai berdebaran. Gak ! Gak ! itu gak mungkin ! Dia membenci ku, pasti. Yakin setelah mengalami banyak kenyataan


Tiba-tiba Arya datang


"Apa yang kau lakukan di tempat ku ?"


Dengan refleks Vera langsung berdiri, lututnya membentur ujung meja sakit. Tapi anehnya kaki-laki dingin di depannya tidak tergerak sama sekali. Malah senyuman tipis muncul di ujung bibirnya


Ah, sakit ! lutut ku berdenyut sakit


Vera mengusap lututnya dengan tangan


"Kenapa kau datang tanpa suara ? Mengagetkan saja"


Arya masih diam berdiri menunggu penjelasan


"Aku lagi mencari dokumen mana yang harus aku pelajari" Berbohong saja demi melindungi diri, tapi siapa sangka, tangan kirinya bergerak di belakang, menghilangkan jejak. Agar tidak ketahuan dan hebatnya ia berhasil.


"Sejauh ini aku tidak pernah menyuruh mu mencarinya sendiri dan lihat sekarang kau malah seenaknya duduk disini dan menyentuh barang ku semau mu."


Ya ya ya aku tahu, itu tidak sopan namanya. Tapi siapa suruh laptop mu membuat ku penasaran kata Vera dalam hati.


"Aku menunggu mu dari tadi, aku lelah, mata ku sudah mengantuk dan aku gak mau sampai ketiduran lagi di kamar mu. Aku pikir kau sedang pergi ke luar rumah. Jadi aku inisiatif mencarinya sendiri" Ada saja alasannya padahalmah lain lagi ceritanya


"Bukankah aku sudah bilang dari awal, aku mau bicara dengan Mama sebentar" Melihat jam di tangan "Dan itu hanya beberapa menit. Bagaimana kau berpikir aku pergi keluar rumah ?"


"Yaaaa siapa tau itu bisa terjadi hehe" Menggaruk kepala tanpa sadar kikuk.


Arya melengos gemas, bibirnya terkunci membuat dirinya tidak mau bertanya lagi. Padahal jawaban dari Vera belum memuaskan.


"Kau duduklah di kursi mu" Arya bicara tegas


"Ah ! Baiklah" Langsung duduk secepat kilat di kursinya,

__ADS_1


Arya fokus melihat laptopnya kembali sementara Vera menunggu sambil membuka bukunya dan pembelajaran tambahan malam ini pun mengalir dengan tenang.


__ADS_2