
Setelah selesai mengerjakan pelajaran tambahannya. Akhirnya Vera masuk ke dalam kamarnya. Menaruh tas di meja dekat jendela. Lalu bergegas mandi dengan air hangat. Setelah keluar dari kamar mandi ia berjalan menuju ruang ganti, mengambil pakaian dalam dan setelan piyama di lemari lalu memakainya.
"Aaaa tempat tidur ku yang empuk. Aku merindukan mu." Bruk Vera menjatuhkan diri di kasurnya, sambil membenamkan wajahnya di bantal tidur. Setelah melewati hari yang panjang. Akhirnya aku bertemu dengan mu juga. Begitu kira-kira yang di rasakan tubuhnya.
Baru saja ia berbaring di kasurnya. Suara ketukan pintu terdengar dari luar.
"Ve!" Arian memanggil
"Iya Kak, ada apa? Masuklah pintunya tidak di kunci Kok." Kebiasaan si Vera memang sering lupa mengunci pintu. Bahkan setiap hari karena malas.
Setelah mendengar jawaban, Arian membuka pintu lalu masuk ke dalam.
"Gak ada apa-apa. Kakak cuma mau bicara sama kamu." Langsung duduk di tepi kasur. "Sudah lama Kakak gak mendengar curhatan mu. Bagaimana dengan pekerjaan mu sayang?"
"Semuanya berjalan dengan lancar. Oya Kak, aku mau bertanya."
''Tanya apa?" Arian menyelipkan rambut Vera ke belakang telinganya
"Begini! Jika kakak pernah jatuh cinta pada teman masa kecil karena hatinya. Misalnya ya. Tapi saat dewasa, teman Kakak berubah menjadi keras hatinya. Apa Kakak masih mencintainya? Dan mau menerima dia apa adanya?"
"Maksud nya?" Arian bingung tidak mengerti maklum karena adik nya yang satu itu masih polos tidak tahu-menahu masalah percintaan
"Maksudnya begini. Jika Kakak mengahadapi wanita yang Kakak sukai menjadi berubah sikapnya. Apa akan membiarkannya seperti itu, karena Kakak tetap mencintainya. Atau Kakak akan menjauh karena sudah tidak tahan menghadapinya."
"Maaf Kakak masih belum paham maksud kamu itu apa? Ceritakan, tentang apa yang kamu alami sebenarnya."
"Sebenarnya ini rahasia teman ku. Dan aku sudah berjanji agar tidak membongkarnya pada orang lain."
"Tapi Kakak bukan orang lain kan sayang?"
"Benar juga ya!" Vera kikuk "Tapi tetap saja itu membeberkan namanya."
"Sudahlah ceritakan saja, kamu jangan membuat Kakak penasaran."
"Mmm, " Ragu karena prinsip. Dia tau setelah mengucap janji tidak boleh sembarangan di ingkari. "Tapiiii, Kakak harus berjanji ya, jangan beritahu siapa pun. Karena aku tidak mau mengkhianatinya.''
"Tentu, Karena ini rahasia mu. Berati Kakak harus menyimpannya dengan rapat demi nama baik kamu sayang." Arian mengusap rambut Vera sebentar "Jadi ceritakan! Kakak mau tau."
"Jadi begini teman ku itu bernama Roni dia...."
Dan mengalirlah semua cerita yang di alaminya dari pertama sampai akhir tanpa ada yang terlewatkan. Termasuk masalahnya dengan Linda.
"Apa?" Arian terkejut saat tau Linda mempermalukan adiknya seperti apa. "Kenapa kamu gak bilang padanya kalau kamu adik Kakak. Bila dia tau itu, mungkin dia tidak akan berani merendahkan mu."
"Kakak sudah tau aku kan? Aku tidak mau membanggakan diri karena mempunyai segalanya pada semua orang."
"Tapi saat mengahadapi orang seperti itu seharusnya kamu membela diri bukan merendah diri kan sayang? Kakak tidak mau lagi mendengar mu di rendahkan orang lain."
"Aku tidak perlu melakukan itu Kak, biarkanlah semua orang tau sendiri tanpa di beritahu. Karena pamer bukanlah gaya ku hehe." Vera nyengir kuda.
"Ya sudah Kakak mendukung mu karena kamu memang baik hatinya." Vera tersenyum "Tapi kenapa teman mu tidak mau memberitahunya Bahwa dia tidak suka dengan sikapnya."
"Katanya dia mau Linda berubah dengan sendirinya tanpa adanya dorongan dari orang lain Kak."
"Tapi menurut Kakak keduanya sama-sama egois. Dalam hatinya saling berharap tapi tidak mau mengakuinya." Gengsi
"Maksud Kakak, mereka masih saling mencintainya kan?" Ucap Vera dengan nada yakin
"Tentu di nilai dari cerita mu, wanita itu sengaja melakukannya demi mencari perhatiannya. Dan sepertinya itu membuahkan hasil melalui kamu. Karena kamu satu-satunya teman wanita yang dekat dengannya."
__ADS_1
"Linda sengaja memperalat ku begitu bukan maksud Kakak?"
"Bukan memperalat tapi dia cemburu sama kamu sayang" Ucap Arian lembut sambil membelai kedua pipinya dengan hangat
"Begitu ya, pantas saja aku merasa ada yang aneh. Saat dia merendahkan orang tanpa di saring dulu. Ternyata itu hanyalah sandiwara demi mendapat perhatian orang. Seolah dirinya kuat padahal hatinya pesakitan hehe."
"Tapi kamu tidak menaruh hati pada teman mu itu kan?" Arian menatap Vera tajam ada kecemburuan nyata terselip dari wajahnya.
"Ya enggaklah, orang baru kenal juga. Yang ada aku malah gak suka. Karena dia cerewet sekali. Selalu mau tau urusan orang." Vera sewot
"Syukurlah kalau begitu, Kakak lega mendengarnya" Arian tersenyum
"Lagi pula aku juga belum tau. Menyukai orang lain itu rasanya bagaimana. Walau aku suka mendengarkan lagu tentang cinta. Tapi aku tidak tau bagaimana rasanya mencintai seseorang. Apa seindah itu ya! Seindah lagu
yang selalu aku dengar. Tapi bagaimana dengan Kakak? Apa Kakak pernah mencintai seseorang? Ah lupakan, karena aku belum pernah mendengar Kakak bercerita tentang wanita hehe"
Arian diam memandang Vera tajam
"Tapi nyatanya, dari dulu sampai sekarang Kakak tidak pernah berhenti mencintai nya."
"Wuah! Sungguh? Kenapa aku tidak tau dan kenapa Kakak tidak pernah menceritakannya pada ku. Kenalin dong, aku mau tau."
"Kakak tidak bisa mengenalkan dia pada mu saat ini. Tapi suatu hari nanti kamu pasti tau tanpa di beritahu sayang"
"Begitu ya, awalnya aku penasaran dan sekarang lebih penasaran lagi. Aku mau tau bagaimana rupanya, apa dia cantik dan baik hatinya ? Ayolah ceritakan, Kakak harus tanggung jawab."
"Kamu cantik Ve,"
"Hah?"
"Maksud Kakak, dia cantik baik manis lucu dan imut. Saat Kakak dekat dengannya, Kakak selalu merasa nyaman dan terhibur. Sikap dan tingkah laku nya yang polos membuat Kakak tidak mau menjauh darinya. Bahkan Kakak selalu mau memeluknya setiap hari saat dia tersenyum. Tapi Kakak belum memberitahunya bahwa Kakak sangat mencintainya.
"Kakak tidak mau memberitahunya sampai dia menyadari bahwa Kakak selalu ada untuknya."
"Apa maksudnya? Aku tidak mengerti, jika tidak memberitahunya, mana mungkin dia menyadarinya. Aneh sekali. Alangkah baiknya Kakak beritahu dia secepatnya, mungkin dia mencintai Kakak juga. Jangan lama-lama nanti keburu di ambil orang." Vera yang tidak sabaran mendengarnya
"Apa menurut kamu setelah Kakak mengutarakan perasaan ini dia mau menerima cinta Kakak?"
"Pasti karena Kakak sangat tampan dan baik hati orangnya. Walaupun terkadang menyebalkan juga. Tapi aku iri padanya karena dia sudah berhasil mendapat cinta Kakak."
Arian terkejut mendengarnya jantungnya berdetak lebih kencang
"Ve, apa kamu benar-benar iri padanya?"
"Ya, jika aku menjadi dirinya. Aku langsung menerima cinta Kakak. Tapi bohong hehe."
"Jadi aritnya sedari tadi kamu memuji Kakak hanya untuk menghibur?"
"Enggak juga, aku memang benar-benar iri padanya."
"Buat apa kamu iri padanya, karena Kakak selalu ada untuk mu. Dan kapan kamu menyadarinya?"
"Hah! Maksudnya?"
Tiba -tiba Arian mendekatkan wajahnya
pandangannya tajam. Seolah ingin mengutarakan isi hati yang sesungguhnya.
Sementara Vera di lihat wajahnya sedekat itu. Jantungnya berdegup sangat kencang, badannya begetar. Ada rasa takut muncul dalam hati.
__ADS_1
"Apa yang mau Kakak lakukan pada ku?" Ucap Vera dengan gugup, sementara Arian hanya tersenyum sambil mendekatkan bibir di telinganya.
"Aku menantikan mu menyadarinya." Ia bicara lembut
"Hah?" Wajah Vera tersipu malu
Tiba -tiba suara pintu terbuka, memecahkan kecanggungan. Terlihatlah sosok Aliya berdiri di ambang pintu yang terbuka.
"Ve, kenapa kamu masih belum tidur?" Beralih melihat Arian "Arian mama mencari mu dari tadi, teryata kamu ada disini."
"Ada urusan apa Mama mencari ku?" Arian bertanya
"Mama mau tau bagaimana perkembangan bisnis yang di berikan teman Mama pada kamu."
"Baik mah, kita bicarakan itu di ruang kerja ku."
"Ya sudah mama tunggu kamu di sana." Beralih melihat Vera " Ve, kamu cepat tidur ini sudah malam." Mode tegas bicara
"Oke bos" Vera menjawab
"Ya sudah mama tinggal dulu ya sayang. Selamat malam."
"Malam mah" Aliya berjalan lagi meninggalkan kamar pintunya belum di tutup.
Arian memandang Vera lembut
"Tidurlah, dan terimakasih untuk hari ini, karena kamu sudah menghibur Kakak."
Arian tersenyum bibirnya mencium kening Vera dan entah kenapa Vera hanya diam menerima. Tidak merasa jijik seperti biasanya. Dia benar-benar malu sekarang.
"Selamat malam sayang." Arian bangun dari duduknya.
"Malam Kak"
Dan akhirnya Arian menghilang di balik pintu yang sudah tertutup. Tinggallah Vera sendirian di kasurnya. Meraih gitar di pojokan lalu memainkannya sambil duduk bernyanyi.
Mulut memang bernyanyi tapi pikiran tidak fokus. Terbayangkan saat Arian membisikan kalimat penuh makna.
Aku menantikan mu menyadarinya
Kenapa aku merasa seorang wanita di balik cerita Kakak adalah aku ya? Tidak mungkin! Selama ini Kakak tidak pernah menunjukan bahwa dia suka pada ku.
Vera menaruh gitarnya kembali di samping kasurnya. Menarik selimut sampai ujung bahu.
Jujur Kakak adalah tipe laki-laki yang aku suka. Suaranya lembut dan sangat perhatian.
Berbeda dengan orang gila itu. Omongannya kasar dan selalu berbuat semaunya cih. Gila! Kenapa aku memikirkan tentang ini.
Vera berguling-guling di bawah selimutnya
Sadar Ve sadar mereka adalah Kakak angkat mu. Sadar apanya waktu aku kecil Mama pernah bilang, suatu saat aku harus memilih. Dan mau tidak mau aku harus turuti. Aaaa. Kenapa aku teringat pesan itu Ucapan Mama tidak serius. Pasti!
Vera berguling lagi
Tapi bagaimana jika itu benar. Apa yang kan terjadi pada ku.
Vera mengerutkan keningnya sambil menatap langit kamar
Hhh, sudahlah Ve untuk apa memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi. Lebih baik aku tidur saja.
__ADS_1
Vera memadamkan lampu setelahnya ia tertidur dalam mimpinya. Satu jam kemudian seorang laki-laki misterius itu muncul lagi. Dia berjalan dengan santainya lalu mencium bibir Vera. Seperti sudah terbiasa dia melakukannya setiap malam. Dan anehnya kenapa Vera tidak sadar dan langsung terbangun saja. Entahlah. Dia terlalu pulas.