
Di toilet
Setelah berganti baju Dina akhirnya keluar juga dari toilet. Berkaca sambil mengikat rambutnya dengan asal-asalan. Berdandan lagi alakadarnya. Saat Dina memakai liptintnya sedikit belepotan Vera menyodorkan sebuah tisu.
"Terimakasih." Dina tersenyum sambil meraihnya
"Kau benar-benar tidak apa-apa kan sekarang ?" Sorot mata penuh kekhawatiran nyata terlihat. Khawatir kalau kejadian tadi meninggalkan bekas luka di hatinya.
"Sungguh aku baik-baik saja."
"Tapi saat aku melihat mu tadi, wajah mu terlihat jelas menahan air mata."
"Awalnya aku memang terluka. Tapi sekarang aku benar-benar baik-baik saja. Sungguh." Tersenyum
"Syukurlah, kelakuan binatang itu sebaiknya kau jangan di ambil hati. Anggap saja kau sedang berhadapan dengan bocah yang sedang emosi. Karena kau tidak memahami perasaannya."
"Mmm" Dina mangguk-mangguk." "Aku hanya orang yang sedang jatuh cinta pada pandangan pertama. Berani mengejarnya tanpa melihat hatinya seperti apa. Dan ternyata dia mengerikan ya. Itu sebabnya badan ku sampai gemetar saat bicara dengannya tadi hehe."
"Mengerikan ! Tidak juga, menurut ku ya, dia itu hanya manusia normal yang bermuka dua. Tapi apa yang akan kau lakukan saat berhadapan dengannya nanti ? Apakah kau akan tetap mengejarnya atau sebaliknya ?"
"Untuk apa aku mengejar sesuatu yang tidak dapat ku miliki. Sedangkan di luar sana masih banyak orang yang lebih baik darinya. Aku tidak pernah memaksa orang untuk menerima ku apa adanya."
"Kau benar juga, jangan mengubah kepribadian hanya demi cinta. Karena sesungguhnya orang yang benar-benar mencintai mu tidak membutuhkannya. Jika saling menerima kekurangan dan saling melengkapi. Alangkah baiknya."
"Ya memang begitu maksud ku. Artinya, jika memang dia tidak suka pada ku, ya sudah. Aku menyerah apalagi pada orang yang seperti itu."
"Bagus, tinggalkan saja laki-laki yang kurang ajar begitu. Dan carilah yang lebih baik, apalagi baik hatinya hehe.." Vera menjatuhkan tangannya di bahu Dina, menepuknya pelan-pelan "Aku mendukung mu."
Dina hanya tersenyum
Omong-omong wajah Dina terlihat semakin menggoda setelah berdandan ya. Badannya harum dan sexsi. Orangnya juga polos. Jadi di lihat dari mananya. Perempuan seanggun ini di anggap wanita murahan. Dasar binatang gila. Matanya bermasalah atau mungkin dia tipe laki-laki yang tidak punya selera. Begitu kata yang tertanam di hati Vera. Dia sewot sendiri lalu masuk ke toilet, membuang air kecil.
Sementara Dina memasukan baju kotornya kedalam tas yang sebelumya berisi baju yang di pakainya sekarang. Memasukan semua perlengkapan make up nya tanpa ada yang tertinggal. Saat ia menyisir rambutnya. Vera sudah keluar dari toilet, matanya melihat jam di tangannya.
__ADS_1
"Ini sudah hampir telat. Aku pergi duluan ya."
"Mmm, terimakasih " Mengangguk "Dan maaf karena sudah merepotkan mu."
"Tidak apa-apa, kau jangan sungkan pada ku. Sampai jumpa."
Setelah saling melempar senyum. Akhirnya Vera keluar juga dari sana. Melangkah maju sambil memikirkan laki-laki yang sudah di pukulnya tadi. Kekhawatiran mulai menyebar di hatinya. Wajahnya celingukan mencari-cari.
Dia baik-baik saja gak ya. Saking emosinya aku memukulnya sampai berdarah tanpa sadar. Ah lupakan ! Dia memang pantas di beri pelajaran kan. Kenapa tiba-tiba jadi merasa bersalah. Dasar bodoh.
Hah. Dasar si Vera. Lain di mulut lain di hati. Setelah memukul baru menyesal. Mungkin begitu kalimat yang mewakili perasaanya. Baru saja mau berbelok, ada tubuh seseorang yang menghalangi langkahnya. Bahkan setelah menyingkir jalannya masih di halangi.
"Maunya apa sih ? Kenapa kau menahan ku ?" Karena kesal akhirnya mendongak. Tapi menunduk lagi, tangannya mencari-cari benda di dalam tas. Saat ketemu dia langsung menyodorkannya. "Pakailah ini. Ku rasa kau membutuhkannya."
"Kau mau aku membalut luka hanya dengan plaster itu ?" Adit menatap remeh pada benda di tangan Vera, belum mau meraihnya.
"Setidaknya, ini berguna menutupi luka di bibir mu sementara. Dan semoga pelajaran dari ku membuat mu tersadar ya. Menyadarkan mu supaya tidak berani lagi melakukan kesalahan yang sama. Dengan kata lain kau jadi kapok hehe.." Kurang ajar.
"Kenapa harus kapok. Jika semua wanita sama saja. Datang hanya mengincar nama keluarga."
"Bagaimana jika wanita itu memang pantas di rendahkan. Di beri pelajaran."
"Kalau memang menurut mu harus begitu, kau jangan melakukannya di depan umum. Karena belum tentu semua orang beranggapan yang sama dengan mu. Artinya masih banyak manusia di luar sana yang mau menghargainya. Jika hatinya hidup dia akan berubah, lalu pergi mencari yang lebih baik. Berpikir kau memang pantas di tinggalkan.
Namun jika hatinya sudah gelap, meski jatuh bangun dia akan tetap mengejar mu, mempertahankan cintanya demi memiliki mu seutuhnya. Karena hatinya di penuhi dengan Nama mu. Dan kau harus tau.
Terkadang penghinaan adalah panutan untuk merubah orang menjadi lebih baik lagi. Tapi itu hanya berlaku pada orang yang murni yang benar-benar mencintai kehidupan. Jadi, jangan sampai kau menyesal setelah meninggalkan bekas luka dihatinya."
"Cih. Bicara panjang lebar begitu, apa itu hanya menurut sudut pandang mu saja. Atau kau peduli pada ku ? Atau jangan-jangan kau sudah pernah mengalaminya."
"Enggak siapa bilang ? Dan pastinya itu hanya menurut sudut pandang ku saja hehe." Nyengir." Kenapa kau bertanya-tanya ? Dan kenapa kau memandang ku mengerikan begitu sekarang. Seolah kau mengancam ku."
"Lalu bagaimana dengan mu ?" Hah! Si Vera serasa mau ambruk di tempat. Semua pertanyaannya di abaikan. "Apakah hati mu hidup atau mati. Maksud ku kau termasuk yang mana ?" Adit bicara lagi dengan suara rendah yang menusuk hati, membuat gadis itu salah paham mendengarnya.
__ADS_1
"Aku bukan salah satu orang yang mengejar cinta mu. Kenapa kau melempar pertanyaan itu pada ku. Sudah gila ya !" Sewot lagi. "Minggir, ini sudah telat. Aku mau segera masuk ke kelas ku."
Entah kenapa Adit belum menyingkir dari posisinya. Gadis itu tidak mau ambil pusing. Akhirnya mengalah, mencari jalan lain dan berhasil. Baru saja maju tiga langkah, lengannya langsung di tarik. Mengembalikan jalannya.
"Apa lagi ?" Menoleh dengan wajah malasnya. Malas meladeni karena waktunya sudah benar-benar mau habis. Seperti bom yang segera mau meledak.
"Berikan pada ku." Langsung menyambar plaster ditangan Vera memasukannya ke dalam saku jaket. Memandang lagi gadis di depannya dengan tajam mempesona.
Si Vera malah jadi salah tingkah.
"Ah aku lupa, semoga bermanfaat ya. Selamat tinggal."
Sialan ! Kenapa dia memandang ku begitu barusan. Bikin orang malu saja.
Sambil berlari dengan cepat Vera bicara dalam hatinya tanpa berpaling lagi. Meninggalkan laki-laki yang masih memandangnya.
Kalau begitu biarkan aku menjadi salah satunya orang yang mengejar cinta mu Vera Nindya. Bersaing dengannya.
***
Di waktu yang sama tepatnya di ruangan CEO Arian duduk sambil mendalami beberapa proposal di mejanya. Ada Sekretaris Deni berdiri di sampingnya, menunggu Arian selesai menandatanganinya.
"Bagaimana Tuan Muda. Apa Anda sudah membuat keputusan ?" Sekretaris Deni bertanya
"Jika hanya ini salah satunya cara, aku rela menerima asalkan semua berjalan dengan lancar. Dan tidak ada lagi saling berhutang budi di antara kedua belah pihak keluarga. Semuanya impas."
"Tapi bagaimana dengan keinginan Anda ? Bukankah dari dulu Anda sudah rela menunggu. Hanya tinggal menunggu beberapa bulan lagi, Anda bisa mewujudkannya."
"Aku sudah mengatur banyak cara demi menemukan jalan keluarnya. Dan akan ku coba jalani sesuai rencana ku. Berhasil atau tidak itu tergantung padanya. Aku menjadi tidak sabar menantikannya Deni."
Saat sudah selesai menandatangi proposal Arian menggenggam tangan di meja sambil memandang jendela kaca. Melupakan laki-laki masih berdiri di sampingnya menunggu benda yang tertindih bawah tangannya.
Sekretaris Deni bingung harus menanggapinya bagaimana. Karena tidak tau apa yang di pikirkan Tuan Mudanya.
__ADS_1
"Kalau begitu, saya bersedia membantu Anda menemukan jalan keluarnya saat Anda membutuhkannya Tuan Muda."
Arian hanya senyum.