Mengejar Cinta Vera

Mengejar Cinta Vera
Menyeret gadis ku


__ADS_3

Hari sudah malam, Adit terlihat membawa mobilnya keluar dari area parkir Cafe, menerobos jalanan ramai. Ia menatap lurus ke depan dengan satu tangan memegang setir. Sambil melajukan mobilnya perlahan ia menyetel radionya dengan volume sedang. Beberapa detik kemudian terdengar suara alunan musik dari mobilnya.


Sayup-sayup ia melihat seorang gadis sendirian duduk di halte sambil memegang lututnya tanpa sadar. Karena penasaran ia memelankan lajunya mengamati.


Vera


Semakin lama semakin pasti, Adit langsung menepikan mobilnya di pinggir halte. Lalu turun secepatnya mendekat ke arah Vera.


"Ini sedang hujan. Apa yang kau lakukan disini Ve ? Baju mu juga basah kuyup." Suara Adit panik terdengar.


"Aku lagi menunggu jemputan." Jawab Vera dengan suara sayup, wajahnya menunduk, menempel di lututnya. Melihat giginya bergemeletuk, Adit langsung memakaikan jaket di tubuhnya.


"Daripada kau menunggunya lama disini, lebih baik aku yang mengantar mu pulang. Lihat wajah mu pucat sekali Ve."


"Tidak perlu, dia sebentar lagi juga datang. Aku sudah berjanji mau menunggunya."


"Kalau begitu, kau tunggulah sebentar, akan ku bawakan susu hangat untuk mu. Bagaimana, kau mau kan ?" Saking kedinginannya Vera hanya diam tidak menjawab.


Sementara Adit naik ke mobilnya, memutar balikan arah menuju Cafe yang baru di kunjungi. Memesan dua cup susu panas, lengkap dengan rotinya. Beberapa menit berlalu ia keluar lagi sambil menenteng kantung pesanannya.


"Terimalah ini, agar tubuh mu tidak masuk angin."


Vera mengangkat wajahnya kaget saat melihat Adit sudah kembali lagi sambil menyodorkan susu panas dan rotinya.


"Terimakasih." Ucap Vera sambil meraihnya. Adit hanya senyum lalu duduk bersebelahan dengannya.


"Kenapa kau bisa disini, hujan-hujanan lagi."


"Aku habis dari rumah teman ku."


"Terus, bagaimana ceritanya baju mu bisa basah kuyup."


"Aku di bawa temanku naik di motornya. Kupikir jarak antara rumahnya sampai sini sangat dekat. Ternyata cukup juga membuat ku basah kuyup begini. Jadinya aku kedinginan."


"Teman mu yang mana, laki apa perempuan ?" Suara dan pandangannya terkesan mengintimidasi, tapi reaksi Vera malah santai menanggapinya.


"Perempuan paling rajin yang baru ku kenal. Dan perempuan yang pernah kalian rendahkan."


Kalau menyangkut tentang di rendahkan Adit langsung diam. Dan saking banyaknya ia tidak ingat siapa perempuan yang di ceritakan Vera. Apalagi merasa bersalah.


"Dan dia tidak memiliki teman dekat lagi selain aku." Vera melanjutkan. "Jujur aku merasa simpati padanya. Makanya, lebih baik aku yang basah kuyup. Dari pada aku mendengar kabar dia sakit gara-gara aku esok harinya."


"Apa itu yang membuat mu simpati ? Sampai kau rela kedinginan begini."


"Selain tempat tinggalnya di sela-sela gang sempit. Dia hanya memliki seorang Kakek. Sisanya mereka sudah lama pergi meninggalkannya. Ayah dan Neneknya meninggal. Ibunya menikah lagi. Aku tak habis pikir kenapa ada manusia setegar itu di dunia. Kesabarannya membuat ku tersadar bahwa sesulit apapun cobaan hidup manusia, masih ada Tuhan yang akan selalu datang merangkul mu. Dan itu yang membuat ku terkesan padanya." Vera tersenyum membuat Adit tidak mampu berkata-kata hanya membalasnya dengan senyuman.


Dan sikap inilah yang membuat ku terkesan pada mu Ve. Kau bijak memilih teman. Tidak suka kau tinggalkan nyaman kau dekati. Kau benar-benar kucing liar yang unik. Menarik sekali.


"Eh, omong-omong kau beli dimana roti dan susunya. Rasanya enak sekali. Perut ku jadi nyaman dan hangat setelah menikmatinya."


"Aku membelinya di Cafe persimpangan jalan. Di sebelah kanan mu. Kau juga bisa melihatnya dari sini." Vera langsung menoleh ke arah sumber yang di tujukan Adit.

__ADS_1


Belum sempat Vera melihat Cafe nya. Pandangannya sudah di halangi dengan sebuah mobil sport berwarna hitam. Perlahan berhenti dengan mulus di belakang mobil Adit. Lalu dalam segera si Pemilik mobil turun dari sana. Berjalan mendekat sambil menenteng tas bag berwarna hitam ditangannya.


"Masuklah, lalu ganti baju mu." Sambil menyodorkan tas bag Arya bicara. Vera menaruh cup nya di tempat duduk. Sementara Adit hanya melongo kaget.


"Apa ini ?"


"Baju mu."


Karena penasaran Vera membuka tas bag nya. Pipinya merona malu setelah melihat isi bajunya yang lengkap. Pakaian luar dalamnya tersedia didalam, sepasang kaus kakinya juga ada.


"Apa kau yang menyiapkan semuanya ?" Ucapnya salah tingkah.


"Hemm. Kau cepatlah berganti."


"Tapi, tunggu sebentar, aku mau menghabiskan susu panasnya dulu. Ini lumayan buat menghangatkan tubuh." Arya menatap sinis pada cup sekaligus orang yang memberikannya. Laki-laki yang di tatap hanya menanggapinya dengan tatapan santai.


"Biarkanlah dulu sebentar. Sedari tadi dia menahan dinginnya demi menunggu mu." Adit bicara. "Mau ku hantar juga dia tidak mau."


"Maka dari itu, jangan di biarkan lama, tubuhnya rentan terkena flu."


"Ah, benar juga." Vera kikuk


"Cepatlah, setelah berganti baju kau harus minum obat pencegahnya. Semuanya sudah ku sediakan di dalam."


"Iya iya... Sabar kenapa, ini sedikit lagi susunya juga habis. Kan sayang kalau di buang." Mode keras kepalanya keluar


"Sudahlah Ve, kau turuti saja dulu. Ini juga demi kesehatan mu." Saking keras kepalanya si Adit malah ikut-ikutan gak sabaran.


"Kabarnya Ayah mu adalah teman dekat Ayah ku dulu." Arya bicara


"Jadi ?"


"Aku hanya mau memastikan. Malam itu aku melihatnya duduk di rumah, berbincang lama dengan Adik ku. Apa yang kalian inginkan ?"


"Untuk masalah itu, sayangnya aku tidak tau." Setelah bicara Adit meminum susu panasnya sedikit.


"Cih! Jika itu terkait perjanjian lama. Jangan sekali-kali kau berani menyeret gadis ku. Karena aku tidak akan tinggal diam menghadapi mu."


Arya bangun dari duduk melangkahkan kakinya menyusul Vera ke dalam mobil. Gadis itu sudah selesai berganti bajunya.


"Apa itu yang kalian janjikan ?" Adit kikuk karena tidak tau pembicaraannya mengarah kemana. Arya diam sejenak, mau meladeni sebentar, tapi pandangannya masih membelakanginya.


"Kau bisa menanyakannya sendiri pada Ayah mu." Adit hanya diam tidak menjawab.


Sementara Arya masuk ke dalam mobilnya, memakai sabuk pengaman, melajukannya dengan kecepatan normal


"Apa yang kalian bicarakan tadi ?" Vera bertanya "Kelihatannya serius sekali."


"Tidak ada."


"Hhh, kau ini ya benar-benar susah sekali di ajak bicara. Apalagi sama perempuan. Dingin sekali."

__ADS_1


"Bagaimana kepala mu, apa kau masih pusing ?"


"Lumayan, setelah minum obat yang kau berikan. Kepala ku jadi enteng."


.


"Syukurlah kalau begitu, semoga keadaan mu lebih membaik kedepannya."


"Mmm, terimakasih" Ucap Vera sambil senyum


"Tadi kau dari mana ?"


"Dari rumah teman ku."


"Tidak bekerja ?"


Degh


Sialan! Aku lupa, orang gila ini mempunyai sejuta cara licik demi meraih satu tujuan.Ya Tuhan, bagaimana aku harus menghadapinya.


"I-ya" Vera menjawab gugup "Ta-tapi kau tidak akan bilang pada Mama tentang kejadian malam ini kan. Aku tidak mau jika harus keluar dari pekerjaan ku."


"Cih! Kau berkeliaran ke rumah orang tanpa minta izin. Apalagi bersama laki-laki itu. Seharusnya kau..."


"Laki-laki itu ? Gila! Kau jangan sembarangan menuduh orang ya." Vera menyela secepat kilat, dia terkena umpannya.


"Jadi, teman mu yang mana ?"


"Teman perempuan di tempat ku bekerja. Dia sangat rajin loh orangnya. Baik hatinya lagi." Entah kenapa si Vera malah berbalik memancing, tujuan membuat Arya penasaran.


Ayo dong tanyakan siapa namanya. Tinggalnya di mana. Aku akan dengan senang hati, mau mengenalkannya pada mu.


"Bagus, di waktu mendatang. Kau harus hati-hati menjaga sikap. Jangan sampai kejadian hari ini terulang kembali."


Gubrak, si Vera serasa ambruk di tempat. Angan-angannya langsung lenyap setelah mendengar kalimatnya.


Ralat, penjahat gila ini. Dingin nya minta ampun. Pantas jika aku belum pernah mendengar kabar bahwa dia dekat dengan perempuan. Bodohnya aku!


"Baik, aku berjanji. Dan terimakasih karena kau mau menjaga rahasia malam ini dengan rapat hehee."


Arya hanya diam tidak menjawab.


Syukurlah, aku menang kali ini.


Alih-alih si Vera bicara dalam hatinya. Tapi si Adit malah terngiang-ngiang dengan kalimat yang di berikan Arya padanya.


Jika itu terkait perjanjian lama. Jangan sekali-kali kau berani menyeret gadis ku. Karena aku tidak akan tinggal diam menghadapi mu.


Kira-kira perjanjian apa yang di maksudnya. Jika itu menyangkut tentang perjodohan. Mungkinkah ada kaitannya dengan laki-laki yang mau di nikahi Adik ku. Cih! Aku jadi sudah tidak sabar mau menanyakannya pada Ayah ku.


Sambil menyetir pikiran Adit tentang perjodohan, terus menghantuinya.

__ADS_1


__ADS_2