Mengejar Cinta Vera

Mengejar Cinta Vera
Membingungkan


__ADS_3

Sementara itu di tempat yang berbeda, saat waktunya istirahat.


"Ta, menurut mu, si Ve bagaimana ya kabarnya?" Nina bertanya sambil melihat layar hp nya. "Ini sudah hari ke duanya dia gak masuk kerja. Aku sudah menanyakannya lewat pesan, tapi belum di balas."


"Mungkin.... Dia masih sakit, makanya pesan mu gak di balas Nin."


"Apa iya ya? Hhh, rasanya perasaan gak enak ku semakin bertambah."


"Heh, kamu dengar tidak. Kemarin saat teman wanitanya si Bos datang ke kesini. Dia bilang si Ve sebentar lagi mau menikah loh."


"Hah? Menikah!" Nina terkejut "Masa sih, aku gak percaya. Kamu jangan mengada-ngada ya."


"Ish, benar dah. Sumpah! Aku gak berbohong. Kemarin sore saat aku mengantar pesanan dia bilang begitu."


"Wah! Gila." Nina bangun dari duduk memasukan hp kedalam saku lalu berjalan menuju dapur kafe, di iringi Tita di sebelahnya. Mereka sudah selesai beristirahatnya. "Masa umur masih begitu muda sudah memikirkan pernikahan. Ada-ada saja."


"Kalau Tuhan sudah memberi jodoh di masa muda kenapa tidak. Dari pada berpacaran yang masa depannya belum tentu arah. Mendingan menikah saja, selain mendapat anugerah kita juga terlindungi dari dosa."


"Ya aku tahu. Berpacaran itu memang berdosa. Tapi kan...." Nina berpikir


"Tapi apanya." Tita menyela "Hayo loh. Kamu gak bisa jawab kan."


"Iya juga sih ya. Selain menambah dosa, berpacaran itu selalu menyesatkan. Masa depan juga hancur gara-gara banyak yang hamil duluan. Ups" Nina menutup mulutnya karena keceplosan.


"Hamil duluan! Idiiih, amit-amit deh." Jawab Tita sambil mengusap-usap perutnya.


"Hahahaa." Nina terbahak sampai suaranya memenuhi ruangan di lorong-lorong.


Mendengar suara Nina yang terbahak Adit nampak tercengang di tempatnya berjalan. Gadis itu mana peduli, kalau sebenarnya Adit sedang menatapnya dengan tajam. Bahkan saat berpapasan dia masih melakukannya.


"Eh Nin, kamu punya masalah apa sama laki-laki tadi? Kok kelihatannya dia gak suka sama kamu. Sampai-sampai dia melihat mu dengan tajam begitu." Tita bertanya setelah Adit melewati Nina


"Hah? Laki-laki yang mana?" Nina bingung.


"Itu loh... Yang barusan lewat di samping mu."


"Mana? Aku gak melihat siapa-siapa di samping ku." Jawab Nina sambil celingukan ke kanan dan ke kiri.


"Ish kau ini melihat kemana? Itu tuh, laki-laki yang sudah ada di belakang kita." Ucap Tita sambil mengedikan wajah ke arah belakang.


Dan Nina langsung menoleh ke belakang.


"Oh yang itu." Angkat bahu "Gak tau ah aku gak bisa melihat mukanya."


"Tapi sepertinya, aku merasa wajahnya gak asing deh." Ujar Tita yang masih penasaran


"Bodo amat ah, aku gak peduli. Yang jelas aku merasa gak mempunyai masalah apapun sama dia. Kenapa dia gak suka pada ku?''


"Entahlah..."


Alih-alih Nina dan Tita sudah memasuki dapur kafe. Adit terlihat berjalan memasuki ruangan Roni.


"Hai Ron." Adit bersapa lalu duduk sambil menengadahkan kepala di sandaran sofa


"Hai juga." Roni menjawab "Apa yang membawa mu datang kesini?"


"Ini." Adit mengeluarkan sebuah kartu undangan dari saku jaket lalu menyimpan di meja. "Adik ku mengundang mu."


"Ternyata ini lebih cepat dari yang aku kira." Kata Roni sambil meraih kartunya


"Cih, kau jangan berpura-pura tidak tahu."

__ADS_1


"Maksud mu?" Roni bingung


"Bukankah kau sudah tahu dari awal."


"Ah benar, itu juga karena Linda yang memberi tahu ku di waktu siang kemarin. Tapi bagaimana dengan mu, apa hati mu suda benar-benar merelakannya?"


"Berhenti memancing ku. Kau sama saja dengan nya, selalu meledek ku."


"Hehe, ternyata yang di katakan orang itu benar ya. Cinta pada pandangan pertama memang menyakitkan. Tapi kau masih beruntung."


"Beruntung?" Adit mengerutkan keningnya.


"Ya, karena kelak dia akan menjadi adik ipar mu hehe.."


"Kurang ajar!" Adit langsung melempar bantal sofa ke wajah Roni. "Sudah ku bilang kau jangan memancing ku. Kau tahu, aku tidak suka di ledek seperti itu."


"Makanya, kau harus segera move on dong. Lalu carilah gadis yang lain. Dan buatlah kami semua berhenti meledek mu."


"Kedengarannya, kau seperti cari mati." Ujar Adit dengan suara rendah, membuat siapa saja yang mendengarnya pasti merinding.


"Hehe..." Si Roni malah nyengir kuda "Eh, omong-omong tentang pelayan yang kau ceritakan tadi malam, aku masih belum bisa menjawabnya."


"Kenapa? Bukankah saat mau mengetahui namanya, itu sangatlah mudah bagimu."


"Ada banyak pelayan yang kau sebutkan kriteria nya disini. Bagaimana mungkin aku bisa menemukan sosoknya sialan!"


"Intinya, wajahnya terlihat mungil dan imut. Perawakannya juga sama persis dengannya. Tidak pendek dan tidak tinggi, kurus tidak gemuk juga tidak."


"Hah?" Kepala Roni langsung di serang dengan ribuan tanda tanya. "Ini aku bingung sekali loh ya sumpah. Kali ini aku sungguh tidak paham. Siapa sebenarnya pelayan ku yang kau sebutkan ciri-cirinya itu."


"Hhh." Menghela nafas "Sudahlah lupakan saja. Biar aku yang melakukannya sendiri. Dan kau jangan coba-coba berani mendalami tanpa sepengetahuan ku."


"Oh, ok!" Roni mengangguk "Tapi aku juga mau meminta satu hal."


"Aku mau kau segera move on lalu beralih menyukai nya. Hehe..."


"Sialan!" Wajah malu di bawa keluar dari ruangan, di susul Roni di belakang, melewati lorong-lorong dan sampailah Adit di meja yang di duduki nya tadi sebelum masuk ke ruangan. Adit duduk di kursinya meraih kopinya di meja, menyesapnya sedikit. Sementara Roni terlihat sibuk mengamati semua pelayannya. Sambil mencari-cari sosok wajah seorang gadis yang sebutkan Adit.


"Cih, ternyata dia belum mau menyerah juga." Setelah bicara Adit menyimpan kopinya lagi di meja. Memerhatikan gadis yang ada di depan matanya.


Kau tahu, sedari tadi aku mencari mu. Tapi ternyata kau sedang beristirahat di belakang. Mengagetkan, ku pikir kau tidak masuk bekerja hari ini. Kau memang benar-benar terlihat gadis yang rajin.


Gadis yang rajin?


Sepertinya aku pernah mendengar kalimat ini. Apa mungkin kau adalah teman yang pernah di ceritakannya malam itu. Tidak, aku harus segera mencari tahu semua informasinya. Dan alangkah baiknya jika kau memang benar-benar temannya.


* * *


Sore menjelang malam saat di kamar Vera tepatnya di ruangan berganti.


"Kak, lihat deh. Mama menyuruh ku memilih sepatu yang mau di pakai nanti. Di antara kedua sepatu ini, menurut Kakak mana yang lebih cocok dengan kaki ku."


"Mmm" Arian terlihat berpikir sambil mengamati sepatunya satu-satu. Yang satu hak nya terlihat tinggi sementara yang satunya lagi biasa saja. "Sepertinya yang ini lebih bagus. Kakak suka dengan modelnya, warnanya juga cantik." Jawab Arian sambil memegang sepatu yang di pilihnya.


"Benarkah?"


"Mmm" Arian mengangguk.


"Tapi sepatu ini terlalu tinggi. Bisa jadi kaki ku nanti terkilir."


"Belum juga di coba, kamu sudah berpikir seperti itu. Hati-hati, nanti jadi kenyataan loh." Arian bicara sambil mencubit hidung Vera.

__ADS_1


"Hehe..." Vera nyengir kuda. "Ya sudah, nanti aku mau pakai yang ini saja. Terimakasih ya Kak, karena sudah membantu ku memilihnya."


"Hhh" Arian menghela nafas "Jadi, kamu menyeret Kakak kesini hanya untuk ini ya. Memilihkan sepatu buat kamu."


"Ya, karena penjahat gila itu belum pulang. Jadi, aku paksa saja Kakak kesini hehe..." Setelah bicara Vera memasukan semua sepatunya kedalam kotak. Meletakkannya di lemari khusus menyimpan koleksi sepatunya.


Sementara Arian setelah mendengar dirinya sudah di nomor dua kan. Dia menurunkan pandangannya.


"Eh, ada apa? Kenapa wajah Kakak berubah murung begitu?" Bingung.


"Gak kok, Kakak gak apa-apa." Arian tersenyum lalu mengikuti langkah Vera di depan menuju tempat tidur.


"Hhh, dasar. Kalau Kakak lagi sedih ceritakan saja. Gak perlu di sembunyikan." Jawab Vera lalu berbaring di kasurnya.


"Kakak gak lagi bersedih kok, justru Kakak senang. Karena setelah Kakak mengadakan acara lamaran. Kamu akan menikah hehe..." Arian menjawab lalu duduk di tepi kasur.


"Lamaran! Jadi sebenarnya Kakak mau melamarnya bukan mengajaknya bertunangan."


"Mmm" Arian mengangguk sambil senyum.


Degh, debaran jantung Vera menguat setelah melihat senyum palsu yang di tujukan Arian.


Kenapa Kak, kenapa di saat seperti ini, Kakak masih tidak mau mengatakan apapun keadaan hati Kakak yang sebenarnya pada ku.


Jika boleh aku jujur, sebenarnya aku tidak rela Kakak secepat itu melamarnya. Tapi entah kenapa bibirku enggan mengungkapkannya.


Apakah mungkin keadaan hati Kakak sama seperti ku. Yang selalu di landa dengan kebimbangan. Di satu sisi aku memang mau mengungkapkannya, tapi di sisi lain aku juga tidak mau merusak kebahagian orang lain.


Hhh, perasaan ini memang benar-benar membingungkan.


"Kenapa kamu bengong Ve?" Arian bicara sambil menyisipkan rambut Vera kebelakang telinga.


"Aku gak lagi bengong Kak, aku cuma lagi berpikir barusan."


"Berpikir apa?"


"Berpikir tentang Kakak."


"Wajah Kakak memang sudah tampan dari sananya. Buat apa di pikirkan. Nanti kamu tambah pusing."


"Yeee, siapa juga yang lagi memikirkan wajah Kakak. Pd banget sih jadi orang."


"Hehe..."


Alih-alih Arian terlihat nyengir kuda, ketukan pintu terdengar dari luar kamar. Ada suara Bik Minah di baliknya, memberitahu bahwa Aliya sudah menunggunya di meja makan. Setelahnya Kakak beradik itu pun keluar dari kamar karena mau makan malam bersama.


Saat di meja makan.


"Oya Mah, omong-omong Kak Arya kemana ya? Kok dari pagi dia gak kelihatan." Tanya Vera sambil makan


"Mama juga gak tahu sayang. Mungkin Kakak mu lagi sibuk. Kenapa memangnya, kok tumben kamu menanyakannya." Aliya heran


"Cieee, kangen ya?" Arian meledek.


"Ish, Kakak ngomong apa sih. Sembarangan saja. Kan Kakak sudah tahu kalau aku membencinya." Dan orang yang aku sukai itu cuma Kakak.


"Ehem" Suara deheman terdengar di belakang, dan si Vera terlihat salah tingkah, setelah melihat orang yang baru saja di tanyakannya muncul. Menarik kursi lalu duduk berhadapan dengannya. "Maaf mah, karena aku terlambat pulang."


"Gak apa-apa. Sekarang makanlah, kebetulan Mama memasak menu kesukaan kamu malam ini."


"Iya Mah, terimakasih."

__ADS_1


"Sama-sama sayang." Aliya menjawab lalu senyum


__ADS_2