
Mobil sport mewah berwarna biru berhenti didepan universitas xxxx, Vera pun turun dari sana, Arian membuka kaca mobilnya karena mau berpamitan.
"Kakak terimakasih sudah karena sudah memberi ku tumpangan"
"Kamu ini ada-ada saja, ya sudah Kakak pergi dulu. Jaga diri mu baik-baik. Selamat siang sayang."
"Siang kak, selamat tinggal" Vera melambaikan tangannya
Arian menutup kacanya, lalu membawa mobilnya kembali dengan kecepatan normal.
"Hei pelayan miskin! Kenapa kau ada disini?"
Vera menoleh
Entah kenapa setelah mendengar suaranya, ia langsung naik pitam. Sepertinya wanita itu datang sendirian tanpa ditemani oleh teman laki-laki nya yang berada di kafe kemarin.
"Kau! Bagaimana bisa kau ada disini?" Vera bertanya.
"Malah berbalik tanya! Dasar tidak tau diri " Berjalan maju mendekat "Aku adalah ratu mahasiswi di sini. Bagaimana dengan mu? Lagi mengantarkan pesanan ya." Memancing.
Hanya bermodal wajah cantik, tapi tidak mau menjaga mulutnya. Dia tidak pantas di bilang ratu.
"Tidak! Aku kuliah disini juga." Jawab Vera ketus
"Kau bercanda ya, orang sepertimu mana mampu berkuliah disini, ingat kau itu pelayan miskin. Harus tau diri."
Vera mulai termakan umpannya.
"Hey parasit! Jaga ucapan mu, aku mampu atau tidak, memang apa urusannya dengan mu? Walaupun kau merasa orang yang paling berkuasa disini, tapi kau tidak berhak mendiskriminasi orang seperti ku."
Wanita itu malah terbahak
"Tapi orang sepertimu memang tidak pantas berada disini kan. Lebih baik kau berikan saja uang gaji mu bulan ini pada orang tua mu. Aku jadi simpati, karena mereka memerlukan uang mu demi bertahan hidup. Bukan begitu ?" Senyum liciknya muncul
Entah kenapa di dasar hatinya Vera teringat dengan orang tua kandungnya yang sudah lama meninggal dunia. Dia tersindir. Jantungnya tersayat setelah mendengar kalimat itu.
Tiba-tiba
"Sialan!" Plak, Vera langsung menampar wanita di depannya, wajahnya berapi-api." Seharusnya orang seperti mu jangan di biarkan hidup. Dasar PARASIT! Beraninya kau merendahkan orang tua ku."
"Kau! Dasar pelayan tidak tau diri." Karena tidak rela di permalukan wanita itu mau membalasnya, tapi gagal. Ada seorang yang datang menahan tangannya.
"Ron!" terkejut "Lepaskan tangan ku, aku mau memukul wajahnya. Beraninya dia menampar ku" Ucapnya menggebu
"Jaga sikap mu! Kau lah yang memulainya duluan."
"Untuk apa kau ikut campur ! Dia memang pelayan mu, bukan berarti kau harus membelanya kan ?" Roni melepaskan tangannya
"Kau sudah terlalu melewati batas mu, kau memang tidak pernah berubah, sikapmu selalu berlebihan. Lebih baik kau urus dirimu sendiri."
"Ron ! Kenapa kau begitu membelanya, padahal kau tidak pernah bicara seperti itu pada ku sebelumnya. Kau ingat Ron, aku teman masa kecil mu"
Apa ? Jadi dia teman masa kecilnya
__ADS_1
Si Vera tersentak mendengarnya.
"Kau salah, teman di masa kecil ku adalah orang yang sangat cerdas dan ramah. Selalu merendah hati saat menghadapi masalah, tidak seperti diri mu Linda"
"Kau !" Linda tidak tau harus menjawab apa
Jadi itu alasan nya kau selalu bersikap dingin pada ku selama ini. Ron kau tau, aku berubah seperti ini karena kau melupakan janji mu
Janji masa kecil kita
Roni beralih memandang Vera
"Ver, daripada kamu meladeninya, lebih baik kamu tinggalkan saja dia." Roni melihat jam di tangannya." Dan waktunya sudah hampir telat kita harus segera masuk ke dalam kelas"
"Baiklah" Vera mengangguk
Tanpa sadar Roni merangkul bahunya tapi tidak dengan segera Vera menepis tangannya. Dia cuek sekali karena sudah terbiasa menerima rangkulan dari Kakaknya. Dan akhirnya mereka berjalan meninggalkan Linda tanpa sedikitpun berpaling.
Di sudut lain
Tanpa di sadari, ada seseorang yang sedang mengamati dari kejauhan. Melihat gadis itu di sentuh dengan laki-laki lain. Ia merasa geram sinar wajahnya menghitam.
Sial ! Dia memukul tembok pembatasan demi membuang kesal
Koridor kampus
Vera tak henti-hentinya menatap Roni yang sejak tadi hanya terdiam, ia masih tidak percaya bahwa wanita parasit itu adalah teman masa kecilnya.
"Asal kamu tau saja, Linda itu tidak seburuk yang kamu kira, sebenarnya hatinya baik dan lembut" Vera tersentak mendengarnya
"Apa kau serius ?" Vera menatap Roni dengan penuh tanda tanya
"Tentu saja. karena aku tau bagaimana sifat dia sesungguhnya sejak kecil"
"Lalu, kenapa dia berubah seperti itu sekarang ?"
"Mungkin karena waktu kecil, dia adalah korban bully di sekolah dan hanya aku yang berani menolongnya. Aku pernah berjanji padanya akan selalu melindungi dan menjaganya dengan baik. Tapi sejak sekolah ku di pindahkan atas kemauan orangtuaku, dia salah paham. Mengira bahwa aku sengaja meninggalkannya dan melanggar janji ku"
"Lalu kenapa kau tidak jelaskan saja padanya ?"
"Aku terkejut "Roni melanjutkan ceritanya "Saat tau bahwa di bukan seperti teman yang dulu ku kenal dan aku tidak menyukai sifatnya yang seperti itu. Dan mulai saat itu perlahan rasa sayang ku padanya menghilang. Aku pikir aku lebih baik menjauh darinya."
Hening
Entah kenapa Roni merasa jiwanya tenang saat Vera berada di sampingnya. Seperti menemukan teman yang sangat cocok untuk di jadikan teman curhatnya.
Sementara Vera menatap wajah Roni hanya diam pandangannya menerawang entah kemana. Dia tau bagaimana perasaan laki-laki di sampingnya.
"Kau sedang berbohong kan ?" Roni menatap Vera "Jelas-jelas kau terlihat gundah dan wajah mu memberitahu ku seolah kau masih menyukainya. Bukan begitu ?"
"Aku berharap dia berubah. Karena hanya itu yang ku inginkan."
"Kenapa kau tak bicarakan saja padanya ? Aku yakin setelah mendengar mu dia pasti berubah."
__ADS_1
"Tidak, bukan begitu maksud ku. Aku berharap dia berubah untuk dirinya sendiri dan bukan karena ku"
"Mmm aku setuju dan kau harus yakin, suatu saat dia pasti akan berubah"
"Kau harus merahasiakan nya pada orang lain, hanya kamu yang boleh mengetahui nya. Bahwa aku menginginkan dia berubah. Apa kamu mau berjanji padaku?"
Vera terdiam
Aku sungguh tidak percaya, baru kali ini aku dekat dengan laki-laki. Tapi di sudah menceritakan rahasia pribadinya padaku, seolah percaya bahwa aku tidak akan mungkin membongkarnya. Apa semua lelaki itu memang seperti ini saat menyukai seseorang ya.
"Ve! Kenapa melamun ?" Bingung
Vera tersadar
"Ah, tidak! Aku hanya sedang berpikir barusan." Vera nyengir " Kau tenang saja, biarpun aku orangnya begini tapi aku pandai menjaga rahasia orang lain kok! Akan ku pastikan seluruh penghuni kampus ini tidak ada yang mengetahuinya hehe. Kau percaya pada ku kan ?"
"Dari awal aku sudah percaya pada mu Ve, itu sebabnya aku menceritakan nya hanya pada mu."
"Terimakasih karena kau sudah percaya pada ku"
Roni tersenyum setelahnya ia melihat jam ditangannya
"Baiklah kalo begitu, aku pamit pergi ke kelas ku sekarang"
"Ya! sampai jumpa."
Roni melambaikan tangan sambil berjalan sementara Vera masih berdiri di tempatnya saat Roni sudah berlalu ia melihat jam di tangan
"Matilah aku" Vera buru-buru berlari sekencang mungkin menuju kelasnya. Tapi saat sedang berbelok di tikungan, tiba-tiba Brukk ia terpental badannya terjatuh menimpa tubuh seorang laki-laki di bawahnya. Vera mengangkat wajahnya tangannya bertumpu di lantai, menopang tubuh. Tapi tidak dengan segera ia mengubah posisinya. Di tatapnya wajah laki-laki di bawahnya dengan lekat, pandanganya bertemu.
Melihat wajahnya sedekat ini, kenapa hati ku terasa indah ya. Rasanya aku mau menyentuhnya.
Hening
"Mau berapa lama kau diam di atas tubuh ku ?" Arya bicara
Degh, saat tersadar Vera langsung bangun dari posisinya. Sedangkan Arya meraih bukunya di lantai lebih dulu, baru terbangun dari posisinya.
"Kenapa kau berlari ?" Arya bertanya
"Karena aku mau mengikuti pelajaran mu, waktu ku sudah hampir habis jadinya aku berlari. Tapi kau tidak apa-apa kan?" Panik tangannya menyentuh punggung Arya tanpa sadar, entah kenapa ia merasa bersalah dalam hatinya.
Tak ! A' sakit. Arya memukul jidat Vera dengan bukunya
"Apa kau lupa dengan akibatnya jika kau melanggar janji mu?" Mengalihkan topik dengan cepat
"Huh ! Benar juga ya" Vera kikuk "Aku hampir melupakannya"
"Daripada berdiam diri di sini, lebih baik kau..." Belum sempat Arya melanjutkan kalimatnya gadis itu sudah berlari dengan kencang meninggalkannya
Kucing liar yang bodoh
Arya tersenyum
__ADS_1