Mengejar Cinta Vera

Mengejar Cinta Vera
Hah! Gila


__ADS_3

Keesokan harinya


Ada seorang laki-laki yang baru selesai mandi. Berjalan masuk ke ruang berganti lalu keluar lagi sudah memakai setelan formal. Gaya rambut nya cool dan rapih, tubuhnya juga wangi. Dia sudah selesai berpakaian.


Melihat jam yang melingkar di tangan, dia bergegas keluar kamar sambil membawa tas dah hp nya. Berhenti didepan kamar Vera, mendekatkan telinganya ke pintu, menguping.


Kenapa tidak ada suara


Penasaran, dia langsung buka pintunya, disambut dengan ruangan yang masih serba tertutup. Melihat tempat tidur, orang yang di carinya masih berbaring menyatu dengan selimut tebal.


Kesempatan dengan santainya dia simpan hp dan tas nya dimeja. Menarik semua tirai jendela kaca, lampu tidurnya juga dipadamkan. Lalu duduk dibibir tempat tidur. Dia pandangi wajah gadis didepannya dengan tajam tanpa berkedip.


Wajah tidur mu selalu terlihat sama seperti bocah umur dua tahun yang minta di cium-cium. Lucu sekali.


Batinnya sambil tersenyum, tangannya terulur mengusap bibirnya dengan induk jari.


Kalau begitu aku akan mengabulkannya untuk mu pagi ini.


Dan benar dia langsung mencium bibirnya barusan dengan kelembutan. Semua perasaan cintanya tersalurkan melalui bibirnya yang hangat. Beberapa detik berlalu dia melepaskan ciumannya. Memandang wajahnya lagi dengan tajam mempesona. Mengamati.


Dan setelah ku cium, ekspresi wajah mu selalu sama seperti ini. Kau tahu, rasanya aku mau memakan mu. Jadinya aku penasaran ingin melihat ekspresi wajah mu yang lainnya saat aku meniduri mu. Bersemayam di bawah ku.


Tersenyum lagi, sambil menyentuh pipinya yang di usap-usap.


Sungguh, aku sudah tidak sabar menantikannya wahai bunga ku. Cepatlah tersadar bahwa kau sudah jatuh hati pada ku lalu kita menikah secepatnya.


Setelah puas menyentuh pipinya, dia mendongakkan dagunya, mengecup bibirnya sekali lagi, lalu berpindah ke bawah leher mengecupnya sampai membekas warna merah. Entah apa tujuannya hanya dia yang tahu. Bangun dari duduk, meraih barang bawaannya di meja. Dan menghilanglah dia dibalik pintu yang tertutup.


Selang beberapa menit Vera baru membuka mata. Melihat sekelilingnya tidak ada orang.


Hhh, bagaimana aku bisa bermimpi seperti itu. Rasanya terlalu nyata, tapi.... Kenapa bibir ku jadi lembab ya? Dan samar-samar aku merasa ada yang terhisap di dada ku. Ada-ada saja.


Tanpa berpikir aneh dia membuka selimutnya, memakai sendal rumah, melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Melepas semua pakaiannya lalu dia lempar ke keranjang baju kotor. Berdiri bawah air shower, memakai shampo di kepala dan sabun ke seluruh badannya.


Membalut losion pembersih pada wajah dan leher sampai berbusa lalu di bilas lagi dengan air shower. Setelahnya dia menyikat giginya sambil berkaca. Badannya sudah di lilit handuk rambut juga sama, sudah dilapisi handuk kecil.


"Eh, apa ini. Kenapa ada warna merah di dada ku." Katanya sambil menyentuhnya. Dia usap berulang-ulang dengan tangannya, berharap warna merahnya menghilang tapi tetap gagal. Mana tahu dia kalau itu tanda kepemilikan namanya.


"Aneh kenapa warnanya gak mau menghilang ya. Padahal aku sudah mencobanya pakai sabun tapi tetap saja gak menghilang. Bagaimana ini."


Begitu katanya, karena bingung akhirnya dia menyerah. Berpikir mungkin ini gigitan nyamuk lalu aku menggaruknya sampai merah begini tanpa sadar.


Setelah menjernihkan pikirannya dia keluar. Berjalan menuju ruang ganti sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Melempar handuk yang barusan dia pakai ke keranjang. Mengambil pakaian dalam dan setelan baju luarnya di lemari lalu memakainya.


Menyisir rambutnya di depan kaca dan selesailah dia berdandan dan berpenampilan ala kadarnya. Biasa saja kok, hanya memakai kaos kebesaran dan celana Jeans di bawah lutut. Simple kan gak ada istimewanya banget hehe 🙈


Baru saja dia mau meraih hp nya, ketukan pintu terdengar dari luar kamarnya.


"Siapa?"


"Ini Mama sayang."


"Masuk saja Mah, pintunya gak di kunci kok."


Pintu terbuka dan Aliya masuk ke dalam, di susul Kepala Pelayan di belakang sambil membawa nampan.


"Apa itu yang Bik Minah bawa?" Vera bertanya.


"Sarapan buat kamu sayang" Aliya yang menjawab. "Kamu bangunnya agak siang, jadinya di tinggal sarapan deh."


"Hehe.." Vera nyengir kuda lalu duduk di karpet tempat Bik Minah meletakkan nampannya barusan. Di susul dengan Aliya duduk bersebelahan "Kok tumben, Mama gak marah kalau aku bangun siang?" Lanjutnya setelah Bik Minah keluar dari kamar


"Itu karena Kakak mu yang bilang tadi sama Mama, katanya tadi malam kamu gak bisa tidur. Jadinya Mama gak mau bangunin kamu. Gimana sayang, kamu udah gak pusing lagi kan sekarang?"


"Mmm" Vera mengangguk sambil makan "Oya Mah, soal acara pertunangan Kakak mau mengadakannya di mana nanti?"


"Di rumah Fani sayang, calon tunangannya."


"Di rumah! Kenapa gak di adain di hotel saja. Itu kan lebih praktis."


"Entahlah, katanya Fani sendiri yang mau mengadakannya di sana. Oya hari ini dia mau ikut berbelanja bareng loh sama kita."


"Hah? Masa sih?"


"Benar sayang, kamu berteman dekat kan sama dia?"


"Iya, kok Mama tau?"


"Tau dong, kalau di kampus kamu harus baik-baik ya sama dia."


"Kenapa memangnya?"

__ADS_1


"Sebagai keluarga, kita harus saling berbuat baik dan saling menyayangi. Lagi pula, Mama juga tau kok, kalau dikelas, dia gak mau dekat dengan orang lain selain kamu. Benar kan?"


"Benar juga sih, hehe."


"Ya sudah, sekarang kamu cepat habiskan sarapannya. Nanti susu coklatnya keburu dingin."


"Ya ya ya."


* * *


Sementara itu di rumah yang lainnya. Ada seorang gadis yang baru masuk ke mobilnya, duduk di kursi belakang. Saat mobil melaju dia keluarkan hp dalam tasnya, membaca pesan masuk.


Hah? Gila.


Katanya sambil menggeser-geser layarnya. Sepertinya pesan yang di bacanya bukan berupa tulisan. Melainkan beberapa foto yang dia dapatkan dari mata-matanya.


Aku tidak menyangka ternyata apa yang dibicarakannya di malam ulang tahun ku benar-benar terbukti. Seharusnya, aku gak perlu takut lagi kan. Hhh, rasanya perasaan bersalah ku semakin bertambah. Karena gadis itu benar-benar miliknya.


Alih-alih dia bicara dalam hatinya mobil sudah berhenti di depan teras rumah. Saat pintu mobilnya terbuka dia turun dari sana.


"Selamat siang Non" Bik Minah menyambut saat dia sudah masuk melewati pintu .


"Siang Bik, tante Aliya sama Vera nya ada kan?"


"Ada Non, Nyonya dan Nona muda sedang menunggu Non di dalam. Mari saya hantar kesana."


"Baik, terimakasih ya Bik."


"Sama-sama Non." Bik Minah menjawab sambil menuntun di depan sementara tamunya membuntut di belakang melewati lorong-lorong dan sampailah di ruang keluarga


"Siang tante siang Ve." Sapanya sambil berjalan


"Siang, eh ada Fani" Aliya yang menjawab lalu tersenyum "Akhirnya, yang di tunggu tante datang juga. Apa kabar?"


"Baik tante" Kata Fani sambil mencium tangan Aliya lalu duduk bersebelahan


"Syukurlah, kamu sudah sarapan kan?"


"Sudah tante, tadi pagi." Setelah menjawab Fani melihat Vera "Hai Ve, bagaimana kabarnya? Kamu sudah sembuh kan?"


"Mmm" Vera mengangguk sambil senyum, sesudahnya dia menyenggol Fani dengan lengannya. "Heh, kenapa gak bilang, kalau sebenarnya kamu calon tunangan Kakak ku." Berpura-pura marah.


"Aku kan cuma mau memberi kejutan, kamu gak sadar ya, dari awal aku deketin kamu, karena kamu calon Kakak ipar ku hehe.." Fani nyengir tanpa dosa


"Apa? Dasar! Oh, jadi ini ya, gara-garanya kamu selalu menempel pada ku. Hemm?" Vera masih berpura-pura marah


"Hehe, sebagai calon Adik Kakak kita harus saling dekat dan saling menyayangi. Benar kan tante."


"Tentu benar dong sayang. Masa saling menjauh sih. Ada-ada saja"


"Hhh" Vera hanya menghela nafasnya, kalah dia. Sementara Fani tersenyum meledek


''Ya sudah" Aliya menjatuhkan tangannya di bahu Fani. "Sayang, karena kamu sudah datang. Kita berangkat sekarang saja yuk. Mumpung masih pagi."


"Baiklah."


Setelah saling melempar senyum semuanya berjalan menuju mobil, lalu masuk kedalam. Aliya dan Fani duduk di kursi belakang, sementara Vera duduk di kursi depan di samping pengemudi. Alias Pengawal Pribadi wanita yang sudah dianggap keluarga sendiri oleh Aliya. Melihat Vera sudah memakai sabuk pengamannya. Tanpa menunggu lama mobil pun melaju dengan kecepatan sedang.


"Sayang, tante masih penasaran. Kenapa ya kalian mau pertunangannya di percepat? Padahal kalian baru melakukan pertemuan kemarin."


"Yah, tante gak tahu ya. Kalau sebenarnya Kak Arian suka pada ku"


"Hah? Masa sih?" Vera yang terkejut


"Beneran, itu juga Kak Arian sendiri loh yang bilang pada ku." Setelah menjawab Fani menutup wajahnya dengan tangan.


"Cieeee, anak tante yang satu ini kalau lagi kasmaran mukanya merah bangeeet, kamu malu ya." Aliya malah menggoda


''Ah, tante bisa aja deh. Aku kan tambah malu jadinya."


"Mohon jangan di ambil hati ya pemirsa, Mama memang begitu, orangnya suka meledek kadang-kadang. Hehe" Vera menimpali


"Masa sih?" Fani penasaran


"Hush, kamu jangan membongkar kebiasaan Mama, nanti Fani gak mau deket lagi sama Mama."


"Hehe" Vera nyengir kuda.


"Eh Ve, dengar-dengar, kalau kami sudah bertunangan, itu artinya kamu akan menikah."


"Lalu?"

__ADS_1


"Perasaan mu sendiri bagaimana, apa kamu juga sudah jatuh cinta pada Kak Arya?"


Wajah Vera langsung tersipu setelah mendengar kalimatnya, hatinya juga bergetar. Degh,


"Apa sih! Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan hal itu. Aku kan malu jadinya."


"Cieeee, kamu juga lagi jatuh cinta ya ternyata. Mama baru tahu loh."


"Apaan sih Mama. Kita kan saling membenci, Mama juga sudah tahu."


"Heh, kamu bodoh atau apa. Cinta dan benci memiliki perbedaan yang sangat tipis." Fani yang panasan. "Contohnya, sama persis kayak kamu. Bibir mu bilang benci tapi wajah mu berkata lain. Hhh, ada-ada saja."


"Hehee... Lagian, kamu gak tahu ya, kalau setiap hari dia selalu iseng menganggu ku. Mana ada orang yang jatuh cinta seperti itu. Dimana-mana tuh ya, orang kalau jatuh cinta pasti saling mengasihi. Saling mengecup kening dan bibirnya lalu berpelukan. Seperti lagu yang selalu aku dengar."


Dan sebenarnya yang aku suka adalah Kak Arian bukan penjahat gila itu.


"Hadeh" Aliya yang tepok jidat "Sudahlah Fan, berkali-kali kamu menjelaskan dia gak akan ngerti. Yang ada kamu malah capek nantinya."


"Benar juga ya tante. Sepertinya dia masih terlalu polos soal itu."


"Nah, kamu ngerti kan sekarang, kenapa kami selalu melarangnya ini dan itu. Karena dia orangnya memang begitu. Menilai semua hal dalam sudut pandang saja. Kamu harus maklum ya."


"Ya tante."


"Aish, kenapa jadinya Mama membongkar sikap asli ku. Padahal kita sudah sepakat kan tadi."


Aliya hanya tersenyum


Setelah Aliya tersenyum mobil pun berhenti didepan butik ekslusif terkenal di dunia. Butik ekslusif yang hanya membuat satu setel busana dari satu model, lengkap dengan sepatu tas tangan kalung dan gelang yang senada dengan tema busana.


Dan sekarang mereka sudah berada di dalam butik, mau mencoba gaun pesta yang di pilih masing-masing.


Setelah beberapa gaun di cobanya, akhirnya Fani dan Aliya sudah menemukan gaun yang cocok serta pelengkapnya. Aliya bahkan sudah menemukan setelan blazer yang cocok untuk kedua putra nya.


Berbeda dengan Vera dia masih bingung mau pilih yang mana. Semuanya bagus dan elegan warnanya juga cantik-cantik. Saking bingungnya belum ada satupun yang dia pilih. Pelayan butik yang di sampingnya juga tertular bingungnya, padahal sudah berbagai macam model yang di tawarkan tadi padanya.


Dan sekarang Aliya yang turun tangan, mencari model yang cocok untuknya, dan ketemu. Awalnya Vera sempat menolak gaun yang di pilihnya, karena modelnya menonjolkan bahu. Namun akhirnya dia mau juga, karena di paksa.


Dan baru saja dia keluar dari ruang ganti, ada empat pasang mata yang langsung tertuju pada tanda merah di dadanya, bukan pada gaun yang di cobanya.


"Eh, ada apa? Kenapa kalian melihat ku aneh begitu?" Bingung "Ah, pasti gaun ini gak cocok untuk ku kan?"


Fani dan Aliya saling bertukar pandang belum menjawab.


"Hei! Kenapa kalian jadi pada bengong?" Vera bertanya lagi "Ada apa sih sebenarnya?"


"Eh, tidak. Tadi kamu menanyakan apa sayang, Mama gak dengar."


"Hadeh" Vera menepuk jidatnya.


"Omong-omong dada kamu kenapa sayang? Kok, ada tanda merah begitu." Aliya basa-basi


"Oh ini ya" Vera menunjuk dadanya. "Gak tahu Ma, mungkin tadi malam aku di gigit nyamuk. Aku juga baru melihatnya tadi pagi."


"Nyamuk?"


"He'emh, kenapa memangnya? Kok, ekspresi kalian kelihatannya aneh banget."


Itu gak mungkin sayang, pasti bocah dingin itu yang membuatnya. Dan mungkin dia sengaja, supaya Mama gak bisa memilihkan gaun yang terbuka buat kamu. Hhh...


Begitu Aliya berpikir, sementara Fani hanya menutup mulutnya dengan tangan sambil senyum-senyum sendiri.


Gila, jadi ini ya maksudnya, foto yang aku lihat tadi pagi. Tadinya aku berpikir dia hanya mencium bibirnya dan ternyata. Aaaa rasanya aku malu sendiri membayangkannya. Ini sih posesif nya keterlaluan.


"Kamu gak aneh kok sayang, malah cocok banget sama kamu." Aliya bicara lagi, tangannya bergegas mencari model yang lainnya. Model apa saja yang bisa menutupi tanda merahnya dan ketemu. "Tapi sepertinya yang ini lebih bagus deh. Bahu dan dadanya juga tertutup. Bagaimana kamu suka gak?"


"Terserah Mama deh, mau bagaimana pun modelnya, aku gak peduli. Yang penting Mama suka saat aku memakainya nanti."


"Ya sudah, yang ini saja ya. Mama suka kok, modelnya sangat bagus warnanya juga cantik. Benar kan Fan yang tante bilang?"


"Mmm" Mengangguk "Itu bagus banget loh Ve modelnya."


"Baiklah, aku pilih yang itu saja"


"Hehe, mau di coba dulu gak?" Fani bertanya


"Gak perlu deh Ve, gaunnya kan sudah di sesuaikan dengan ukuran badan kamu." Aliya yang menjawab


"Ya sudah, sekarang aku mau ganti baju dulu."


"Hemm" Aliya mengangguk

__ADS_1


Alih-alih Vera mengganti bajunya di ruang ganti, Aliya melakukan transaksi, meminta pada Pelayan butik untuk di bungkus gaunnya serta semua pelengkapnya. Dan minta di hantar ke alamatnya masing-masing.


Setelah Vera selesai berganti bajunya, mereka keluar dari butik. Melanjutkan perjalananya menuju restoran ternama karena mau makan siang bersama.


__ADS_2