
Sudah dua hari Jonathan tidak pulang ke rumah membuat Arumi sangat khawatir.
"Arumi kenapa?" tanya Nita
"Mas Jo masih belum pulang Bu, aku sangat mengkhawatirkan nya."
"Biarkan saja anak itu, kamu ga usah pikirin,"
"Tapi ini salah Arumi Bu, gara gara masalah kemarin!"
"Memangnya kalian berantem kenapa?" tanya nya
"Arumi bilang Arumi menyesal menikah dengan nya, di bilang akan menceraikan Arumi, maafkan Arumi Bu?"
"Sudah tak apa apa ini bukan salah kamu, wajar saja mungkin kamu lagi emosi," Nita bukan marah ia malah memilih menantunya karena ia tahu dengan sikap anak nya.
"Ya sudah Bu Arumi mau kembali ke kamar dulu," setelah sampai kamar Arumi mondar mandir sambil menggenggam ponselnya.
"Apa aku hubungi mas Jo saja? aku benar benar khawatir," kemudian Arumi mencari nama kontak suaminya lalu ia menekan tombol hijau.
Jonathan tersenyum sinis setelah tahu siapa yang menelpon nya.
"Rupanya kau masih membutuhkan ku Arumi, tapi keputusan ku sudah bulat, akan aku buktikan nanti," ucap Jonathan namun ia mematikan telpon nya.
"Mas Jo di mana sih, ko malah dimatikan jujur aku ingin minta maaf aku menyesal padahal aku menikah hanya karena untuk balas Budi pada ibu mertua ku," Arumi terus gelisah dengan hati dan pikiran nya.
Jonathan sudah berada di halaman rumah sang Ibu, ia membawa wanita siapa lagi kalau bukan Clara sang kekasih.
"Jo ko aku jadi takut sama Ibu mu,"
"Tak perlu takut ikut saja dengan ku kau hanya cukup diam saja."
"Iya Jo,"
Nita yang berada diruang tamu ia terkejut dengan kedatangan anak nya yang membawa seorang wanita.
"Jonathan,"
"Ibu maaf aku baru pulang, dan aku membawa kekasih ku!"
"Apa maksud mu hah berani beraninya kamu membawa dia kesini, kau sudah menikah jo!" Nita mulai emosi.
"Aku mencintainya Bu, jadi aku akan menikahinya,"
"Apa kau gila hah, kau ingin membunuh Ibu,"
"Ini keinginan Arumi jadi aku menepati permintaan nya,"
"Jo apa tidak bisa kamu mengalah saja, Arumi wanita yang baik kau tak boleh menyakitinya, ibu menyayangi menantu ibu, kenapa kau tak menempati janji mu Jo."
"Maaf Bu tapi ini pilihan hati Jonathan jadi ibu harus menerimanya."
Nita geram melihat Clara yang terus menempel pada tangan Jonathan, ia langsung menjambak rambut Clara.
__ADS_1
"Wanita sialan kau berani berani nya menginjakkan kaki dirumah ku," geramnya
"Sakit Tante!" Clara meringis kesakitan dan Jonathan langsung melepaskan tangan ibunya dengan kasar.
"Hentikan Bu," Bentak nya
"Apa maksud kau membentak ibu hah, berani sekali kamu,"
Arumi yang sedang di kamarnya mendengarkan keributan di bawah ia langsung pergi menuju ruang tamu.
"Ibu ada apa," ucap Arumi yang tiba tiba saja datang. Arumi melihat Jonathan yang sedang menggandeng seorang wanita tanpa sadar air mata Arumi menetes.
"Mas kau sudah pulang,"
"Ya ini lah janji ku padamu Arumi." Lutut Arumi mulai lemas ia tahu apa yang akan di lakukan suaminya pada nya.
"Dia siapa mas?"
"Dia kekasih ku calon istriku," tegasnya, Clara senang sekali dengan pengakuan Jonathan.
"Mas aku minta maaf soal kemarin, kenapa kau tega melakukan ini mas," air mata Arumi semakin membasahi pipi nya.
"Aku tidak mencintai mu Arumi, jadi mulai detik ini aku akan menceraikan mu!" Bagai disambar petir hati Arumi perih mendengarkan kata cerai dari mulut suaminya itu.
"Mas apa tak ada maaf bagi ku,"
"Aku bilang aku tak mencintai mu Arumi,tanda tangani kertas ini mari kita sudahi hubungan ini,"
Jujur saja Jonathan tak tega melihatnya, namun karena keputusan nya yang sudah bulat.
"Dan ini Clara calon istri ku dia sudah mengandung anak ku," ucap nya.
Arumi semakin lemah mendengar kenyataan semua ini, rasa nya ia ingin mati saja saat ini hatinya bagai di tusuk duri.
"Apa maksud mu Jo," Nita tak kalah terkejutnya dengan pengakuan Jonathan.
"Clara sedang mengandung anakku bu!"
plak plak Nita menamparnya dengan keras, ia benar benar kecewa pada Jonathan, ia memang menginginkan cucu namun bukan begini caranya.
"Anak durhaka kamu Jo, apa kamu tak pernah mengerti dengan perasaan ibu, kamu tega menyakiti istri mu dan juga ibu Jo," air mata Nita mulai menetes ia marah ia geram dengan pengakuan Jonathan.
"Bawa perempuan ini jauh jauh jangan pernah menginjakkan kaki dirumah ini, ibu membenci mu Jo,"
"Ibu tak bisa membenci nya, ada cucu ibu yang sedang dia kandung."
"Kamu benar benar keterlaluan!"
"Lihat lah wanita pilihan ibu sekarang, dia masih belum mengandung, apa ibu masih ingin memilihnya!"
"Jaga ucapan mu Jo," geram Nita.
"Hiks hiks," Arumi terus menangis dengan dada yang sesak ingin berdiri pun ia tak mampu menopangnya.
__ADS_1
"Kau jahat mas," ucap Arumi dengan suara yang lemah.
"Kau bilang kau menginginkan percerai an ini tapi kenapa kau menangis di hadapan ku hah, kau ingin di kasihani? jangan mimpi arumi!"
"Hiks hiks cukup mas aku tak ingin mendengar perkataan mu lagi,"
Clara tersenyum senang tak habis pikir Jo bisa melakukan ini untuk nya.
Nita tak kuat melihat menantunya lalu ia memeluknya dan menguatkan nya.
"Maaf kan Jonathan, maafkan ibu tak bisa mendidiknya," Arumi menggelengkan kepalanya.
"Ini bukan salah ibu, tapi ini salah Arumi," ucap nya.
"Bagus rupanya kau mengakui," kata Jonathan menimpali ucapan Arumi.
Suasana sedang mencekam tiba tiba pak Mul datang dengan nafas ngos ngos an.
"Nona nona," teriak nya
kemudian pak Mul menarik nafasnya dengan panjang.
"Ada apa pak Mul," kata Nita
namun tak Mul tak tega untuk memberitahunya karena ia melihat Arumi yang lemah, tapi ini baginya sangat penting untuk Arumi .
"Ada apa pak Mul cepat kata kan,"
"Bu Retno kecelakaan,"
"Apa?"
"Ibu, Ibu hiks hiks apa maksud pak Mul," Arumi yang sudah lemah di lantai dengan tangisan yang membanjiri pipinya namun setelah mendengar sang ibu ia bangkit kembali.
"Antar saya bertemu ibu pak,"
"Mari nona,"
"Aku ikut," ucap Nita lalu kemudian mereka berdua meninggalkan jonthan dan juga Clara.
Jonathan masih terdiam, hatinya hancur setelah mengatakan semua ini pada Arumi,apalagi melihat Arumi yang seperti tersiksa dengan batin nya. Rasanya ia ingin menarik kata katanya kembali namun ini tak mungkin, Arumi sudah pergi, kata cerai pun sudah ia ucap kan.
Jonathan terduduk lemas di kursi dengan menjambak rambutnya.
"Argghhhh,"
"Jo kamu kenapa?"
"Diam kau Clara," bentak nya.
Jonathan melemparkan pas bunga yang ada di mejanya lalu ia menghancurkan Gucci Gucci yang terpampang rapih.
"Arghhh," teriaknya dengan amarah yang memuncak, hati yang puas serta hati yang menyesal saat ini ia rasakan.
__ADS_1