
Zaidan terbangun dari tidurnya . Seluruh lehernya terasa sakit karena tertidur di sofa ruang tengah rumah nya . Di lihat nya tv yang tadi ia nyalakan kini telah padam . Mungkin sang istri lah yang telah mematikan televisi di depan nya itu .
Zaidan juga melihat secangkir kopi di hadapannya . Di raih nya kopi itu dan di minum nya sedikit .
" Mas kopi nya sudah dingin biar aku buatkan lagi ." kata Maira yang baru datang melihat Zaidan telah meminum kopi yang di buat nya meski hanya sedikit .
" Tak usah ..." ucap Zaidan singkat lalu lelaki itu berlalu ke kamar nya .
" Apa dia marah lagi ?" tanya Maira dalam hatinya . Di lihatnya punggung sang suami yang semakin menjauh dan hilang di balik pintu kamar suaminya.
Sebenarnya Zaidan tak marah sama sekali pada gadis itu ia hanya merasa kasian pada Maira .
Tunggu kasian ?..... Zaidan baru tersadar jika ia tak boleh memiliki perasaan kasian pada wanita itu . Karena wanita itu adalah wanita bermuka dua yang jahat . Tak seharusnya ia memberikan belas kasian nya pada istri nya itu.
" Biarkan dia beristirahat dahulu lalu gue akan kasih dia pelajaran yang sangat berharga . " ucap Zaidan tersenyum sinis . Sifat pendendam nya muncul kembali .
Maira merasa lelah dengan keadaan nya sekarang . Semenjak hamil ia mudah sekali lelah bahkan tak jarang ia merasakan pusing di kepala nya yang teramat sangat .
Kini Maira juga harus di beratkan dengan pekerjaan rumah yang menumpuk . Terlebih lagi Zaidan sang suami sengaja memberikan pekerjaan yang tidak ada henti hentinya .
Seakan akan sengaja ingin membuatnya kelelahan . Kesal itulah yang dirasakan Maira saat ini . Bagaimana tak kesal kalau Zaidan menyuruh nya membersihkan ruangan kerja nya yang telah bersih namun lelaki itu bilang masih ada debu di mejanya .
Maira dengan sabar menuruti perintah sang suami . Karena ia merasa hanya menumpang di rumah itu . Dengan telaten dia membersihkan meja itu dengan kemoceng dan lap di tangan nya .
" Sudah selesai mas ..." ucap Maira memberitahu Zaidan saat dirinya telah selesai membersihkan meja kerja sang suami .
Lalu Zaidan berjalan mendekati meja nya tangan lelaki itu menyentuh meja nya merasakan apa masih ada debu di meja itu .
" Masih kotor bersihkan lagi . " ucap Zaidan membuat Maira ingin menangis saja . Pasal nya ini sudah 5 kali sang suami berkata seperti itu .
Sudah 5 kali ia membersihkan meja itu dan jawaban Zaidan tak pernah berubah .
__ADS_1
" Tapi mas ini sudah lima kali aku bersihin meja itu . Masak belum bersih juga sih . " protes Maira yang membuat Zaidan menatap gadis itu tajam .
" Turuti saja perintah ku . Bukankah kamu yang memberikan ijin pada bi Maya untuk libur maka kamu yang harus menggantikan pekerjaan nya . Belajarlah untuk bertanggung jawab sedikit . Baru segitu aja ngeluh . " ucap Zaidan membuat Maira terdiam . Hati gadis itu sedikit tersentil dengan kata kata yang suami nya ucap kan .
Ingin rasanya Marah dan memaki pria itu . Tapi dirinya tak mampu melakukan itu . Ia terlalu takut jika Zaidan marah dan akan mengembalikan nya ke kedua orang tuanya .
Jika itu terjadi pasti orang tua nya akan sedih dan Maira tak mau hal itu sampai terjadi , sudah cukup ia menyusahkan kedua orang tuanya . Ia tak mau menyusahkan kedua orangtuanya lagi.
" Setelah itu Buatkan aku Makan siang . "
Deg....
Jantung Maira berdetak lebih cepat dari biasanya . Keringat dingin mengucur di kening gadis itu . Ia tak tau harus bagaimana sekarang . Mendengar permintaan sang suami sebelum meninggalkan nya .
Rasa takut mulai menguasai hati dan pikirannya . Ia takut sang suami mengetahui bahwa selama ini ia yang telah memasarkan makanan untuk suami nya itu, bukan Bi Maya .
..
.
.
..
..
..
Saat ini Maira tengah berada di dapur . Wanita itu tengah membuatkan makan siang untuk suaminya . Maira memasak dengan ragu ragu.
Hatinya begitu gelisah memikirkan respon yang akan di berikan sang suami nantinya saat mengetahui dirinya telah berbohong .
" Sudah matang belum aku sudah lapar . " teriak Zaidan dari meja makan . Membuat Maira sedikit kelabakan . Dengan cepat wanita itu menyelesaikan pekerjaan nya dan segera menghidangkan makanan yang ia masak ke hadapan sang suami .
Zaidan menatap makanan itu dengan ragu . Ia tak yakin kalau Maira bisa memasak . Namun melihat Makanan itu dan bau masakan itu yang begitu harum membuat perut nya semakin keroncongan .
__ADS_1
" Biar ku ambilkan nasi nya mas . " ucap Maira hendak meraih piring sang suami . Ia ingin menjadi istri yang baik dengan melayani sang suami makan . Namun belum sempat tangan Maira menyentuh piring Zidan sudah lebih dulu mencegah nya .
" Tak usah aku bisa sendiri . " ucap Zaidan dingin . Hati Maira sedikit sakit dengan penolakan itu namun gadis itu hanya bisa diam dan duduk di samping suami nya .
" Mau apa kamu duduk disitu ?" tanya Zaidan sinis .
" Makan mas " ucap Maira menatap mata tajam Zaidan lembut .
" Tempat kamu bukan disitu . Tunggu aku selesai makan dan pergilah ke dapur . Itu adalah tempat yang cocok untuk kamu . " ucap Zaidan membuat tangan Maira yang tadinya memegang sendok pun menjatuhkan kembali sendok di tangan nya ke atas piring .
Wanita itu tak tahan untuk menangis . air matanya mengalir begitu saja dari matanya . Lalu tanpa berkata apapun lagi . Maira pergi menuju dapur dan menangis di sana .
Zaidan menatap Punggung Maira yang semakin menjauh .Entah kenapa hatinya begitu sakit melihat gadis itu pergi dengan berlinang air mata .
Ia merasa bersalah karena telah membuat gadis itu menangis karena kata katanya . Namun tak ingin terlalu mengasihani wanita itu Zaidan pun langsung tak mempedulikan masalah itu . Dan mulai menyantap makanan di depan nya itu .
Zaidan merasa tak asing dengan rasa masakan yang Maira buat . Rasa masakan itu sama persis dengan masakan yang di buat bi Maya satu Minggu ini . Fikiran Zaidan pun mulai mengira ngira apa yang sebenarnya terjadi .
" Jangan jangan makanan yang selama seminggu ini aku makan adalah masakan gadis murahan itu . Berani nya dia membohongi ku . " ucap Zaidan penuh emosi ..
Prang ....
Zaidan membanting piring nya ke arah lantai . Ia merasa bodoh karena di bohongi oleh gadis murahan itu . Rasa marah membuat nya bersikap seperti itu .
Maira yang terkejut mendengar piring jatuh itu pun segera menghampiri Zaidan . Zaidan menatap Maira sejenak . Pandangan lelaki itu penuh amarah tak ada keramahan sama sekali di wajah pria itu .
Tanpa berkata apapun Zaidan pergi menuju kamar nya dan membanting pintu nya kasar . Maira yang mendengar pintu kamar Zaidan di banting pun hanya bisa menangis . Mungkin sang suami telah mengetahui kebohongan nya hingga kini lelaki itu semakin membenci nya .
Dengan sedih maira mulai membersihkan pecahan piring itu dengan perasaan kacau nya . Tanpa sadar tangan gadis itu berdarah karena tergores oleh pecahan piring di tangan nya . Dan hal itu semakin membuat Maira menangis ...
..
..
***Kasian juga aku nulis nya ....
__ADS_1
vote dan like plis jangan lupa bagikan ke teman teman kalian ya .... Terimakasih***