
Maira menatap sendu ke arah wanita yang duduk di hadapan nya . Maira merasa bersalah karena telah membuat wanita itu bersedih.
" Maafin Maira ma ...... tak seharusnya maira membentak mama seperti tadi tak tak seharusnya pula maira memaksa mama untuk bercerita tentang masalah di rumah . Mama boleh kok menyimpan masalah itu sendiri jika mama tak mau maira tahu . Toh mama lakuin itu demi kesehatan maira biar maira gak kepikiran . " ucap Maira meraih tangan ibu mertuanya itu dan mengusap nya lembut .
" Gpp nak mama paham emosi ibu hamil selalu berubah ubah. Dan soal masalah itu mungkin memang sudah seharusnya kamu mengetahui nya juga . " ucap Zahara tersenyum maklum wanita itu membalas belaian tangan menantunya itu.
"Masalah ini berawal ketika zain mendapat kan pasien lelaki muda yang baru saja mengalami kecelakaan . " ucap Zahara dengan pandangan kosong .
" Tapi ma ...kan mas Zain dokter anak ..."
" saat itu suasana genting . para dokter sibuk terpaksa zain turun tangan karena kondisi pasien itu kritis walaupun zain dokter anak tapi zain tau dan pernah menangani pasien kecelakaan seperti itu Zain pun sangat yakin bahwa dia bisa menyelamatkan pasien itu tapi allah tak mengizinkan nya . Pasien itu meninggal dunia . " ucap Zahara mulai berlinang air mata .
" Dan meninggalkan seorang istri yang tengah mengandung . "
" Lalu ....apa hubungan nya dengan mas Zain " tanya Maira heran .
" zain ingin menikahi wanita itu karena merasa bersalah ...tapi wanita itu tak mau kalau Zain tak menceraikan Zaila . " ucap Zahara tersenyum pahit .
" Tapi mas zain gak setuju kan ma ....?" tebak Maira yang mendapatkan celengan kepala dari Zahara .
" Zain setuju ...dan zaila gak terima akan hal itu , mereka bertengkar dan Zain keluar dari rumah . apalagi Zaila sedang mengandung saat ini dan zain gk tau akan hal itu . " ucap Zahara mulai menangis lagi .
"mbk zahra gak berusaha jelasin ke mas Zain ma ?" tanya maira sendu .
" Dia gak mau kasih tahu ...mama juga udah bujuk dia untuk kasih tau Zain tentang kehamilan nya tapi dia gak mau . " ucap Zahara berlinang air mata .
" Bagaimana kalau maira aja yang nasehatin mbk zaila . " ucap Maira menawarkan diri .
" Iya mbk ...mungkin zaila mau mendengarkan Maira . " ucap mona setuju dengan pendapat putri nya itu .
" Besok Maira ajak mbk maira keluar ya ma sekalian refresing biar pikiran mbk zaila tenang dan bisa di nasehatin dengan baik . "
" Tapi besok kan acara 7 bulanan kamu nak " kata Zahara dengan wajah tak enak hati .
" gak masalah kok ma ...acara nya kan bisa di undur . lagian aku gak mau kalau acara7 bulanan ku gak di hadiri oleh mereka berdua karena mereka masih berantem . " ucap maira tersenyum ceria .
" Makasih ya nak ...kamu sudah mau memikirkan masalah zaila."
" Gak perlu makasih ma ..kak zaila juga kakak ku kok sekaligus adik ipar ku jadi dia udah aku anggep sebagai saudara sendiri . "
__ADS_1
Zahara pun hanya bisa tersenyum dan mengangguk senang mendengar kata kata menantunya itu .
....
...
...
" Kenapa gak di makan ?" tanya zaidan menatap heran ke arah sang istri pasalnya makanan di piring istrinya itu masih saja utah tak berkurang sedikit pun .
Sedangkan Maira wanita itu justru ragu untuk mengucapkan kata kata yang sudah ia fikirkan dari tadi .
" Kamu marah ya , gara gara tadi aku nyusul kamu ...?" tanya zaidan cemberut tak suka karena tak mendapatkan jawaban dari istrinya itu .
" Enggak kok mas ." jawab Maira singkat .
" Terus kenapa ?" tanya zaidan menggeser tempat duduk nya agar lebih dekat dengan kursi di mana maira duduk . Hening sejenak suasana di meja makan itu kemudian dengan perlahan maira mulai mengutarakan isi hatinya pada sang suami .
" Mas ...sebaiknya 7 bulanan aku undur aja ya . " ucap maira sedikit pelan namun masih bisa di dengarkan oleh Zaidan .
" memang nya kenapa ?" tanya zaidan terkejut juga heran mendengar kata yang keluar dari mulut istrinya itu .
" ukey kita undur seminggu lagi ya .." ucap zaidan sedikit heran karena alasan yang di berikan istri nya itu tak masuk akal namun lelaki itu hanya menurut saja tak mau membuat istri nya tak senang .
" Makasih mas ..." ucap maira lega .
" gak perlu makasih sayang ....oh iy aku punya kejutan buat istriku yang cantik ini "
" Apa itu ..?" tanya Maira tak sabar ..
Tanpa menjawab Zaidan mengangkat maira ke dalam gendongan nya .
" Mas ..." decak maira tak suka karena pipi wanita itu mulai memerah menahan malu .
" Kamu semakin berat sayang . " ucap Zaidan tak memperdulikan decakan sang istri justru lelaki itu terus berjalan menuju sebuah kamar yang terletak di samping kamar milik nya dan zaidan .
" Ini dia kejutan nya . " ucap zaidan menurunkan maira dan membuka kamar tersebut .
Betapa terkejutnya maira melihat kamar itu yang di dalam nya telah lengkap peralatan dan perlengkapan bayi . Dari mulai kasur dan ranjang bayi dan beberapa mainan untuk anak anak .
__ADS_1
" ini semua mas yang nyiapin ? " tanya Maira menatap Zaidan tak percaya .zaidan tak menjawab dan hanya tersenyum mengangguk .
" kapan ?"" tanya Maira penasaran .
" gak penting kapan yang penting kamu suka gak ?" tanya zaidan berbisik di telinga maira .
" Suka...suka banget , Terima kasih mas .'' ucap Maira girang dan memeluk Zaidan .
" Sama sama sayang , syukurlah kalau kamu suka mas .Mas harap anak kita ini juga menyukainya ." ucap Zaidan mengusap perut Maira yang membesar .
" tentu dia suka mas karena ini semua yang nyiapin papa nya . " ucap maira tersenyum .
Zaidan pun ikut tersenyum dan mencium perut maira lembut .
" Aku gak sabar nunggu dia lahir dan memanggil ku papa . " ucap zaidan penuh bahagia .
" Begitupula aku mas ...aku juga gak sabar nunggu dia lahir ke dunia . membesar kan dia menemani dia main dan mendandani dia nanti nya . " ucap Maira mengusap rambut Zaidan lembut .
" Ra ...nanti kita main yuk ke rumah mama ...udah lama kita gak ke sana . " ucap zaidan menatap Maira .
" gawat kalau sampai mas zaidan tau kak zaila lagi berantem sama mas zain pasti dia bakal marah banget ke mas zain dan gak terima tentunya karena mas zain telah menyakiti mbk zaila . " batin Maira dalam hati .
" Lusa aja ya mas Maira capek lagian ini dah malem ." tolak maira halus .
" Ya udah lusa ya sayang ." ucap Zaidan di angguki oleh Maira .
Maira berjalan mendekati ranjang tidur calon anak nya di elus nya kasur di ranjang itu lembut ia sudah membayangkan sang anak berada di kasur itu dan tengah tertidur lelap .
Sementara zaidan menatap Maira dalam ia curiga sang istri menyembunyikan sesuatu dari nya .
....
...
...
...
...
__ADS_1