
Pagi sekali Evan sudah bersiap. Mereka akan berangkat kerja dari hotel tempat mereka menginap tadi malam.
Evan sedang memakai kemeja biru, saat Jelita keluar kamar mandi dengan tergesa. Dengan susah payah Evan membangunkan Jelita, barulah dia mau bangun.
Tidur seperti orang mati bukan tanpa alasan. Malam tadi Evan benar-benar mengambil jatah untuk dua malam sekaligus. Membuat Jelita kelelahan setengah mati.
"Sayang duduk sini," panggil Evan dengan suara lembut. Ditangannya dia memegang alat pengering rambut. Jelita datang dengan senyum sungkan. Masih pagi dia sudah membuat suaminya repot membantu mengeringkan rambutnya. Dengan cekatan Evan mulai mengeringkan rambut istrinya.
"Udah telat ya mas?" tanya Jelita menyugar rambutnya yang sudah mulai kering.
"Belum, hanya saja aku biasa berangkat pagi." sahut Evan sembari mematikan alat pengering rambut.
"Sudah selesai." ujarnya sembari merapikan rambut istrinya.
Lima belas menit kemudian keduanya sudah selesai dan langsung berangkat kekantor tanpa sarapan. Evan sudah memesan sarapan pagi dan akan memakannya dikantor nanti bersama Jelita.
Pagi ini Jelita terlihat begitu cantik dimata Evan. Dengan balutan kemeja putih transparans di padu kulot berwarna hitam. Jelita tampil begitu anggun.
Mobil yang dikemudikan sopir pribadi Evan, melaju meninggalkan halaman hotel. Evan tersenyum tipis, netranya menatap wajah cantik Jelita yang duduk manis disampingnya.
"Ada apa menatapku begitu? Apa riasanku terlalu mencolok ya mas?" tanya Jelita sembari mengeluarkan cermin kecil dari dalam tasnya. Memeriksa riasan diwajahnya. Tidak ada yang salah.
Memang tidak ada yang salah, semua riasan diwajah Jelita terlihat indah dimata Evan. Pagi ini pertama kali Evan melihat Jelita merias wajahnya walau dengan riasan sangat tipis. Maskara, eyeshadow, lipstik. Semua di poles sangat tipis tapi mampu membuat Jelita semakin bertambah cantik.
"Tidak ada yang aneh sayang, riasanmu membuatmu bertambah cantik." ujar Evan sembari menautkan jemari kokohnya, menggengam erat jemari Jelita.
"Cih! Masih pagi jangan mengumbar rayuan." Cebik Jelita dengan wajah bersemu merah. Melihat itu Evan malah semakin gemas dibuatnya.
"Saat dikantor nanti, tetaplah diam diruanganku. Sayang boleh keluar hanya bila denganku. Aku tidak mau ada mata Ja lang yang seenaknya menikmati wajah cantikmu. Aku cemburu." ujar Evan, netranya menatap manik hitam Jelita lelat.
Jelita menatap Evan sekilas lalu terbahak sembari mendekap mulutnya.
"Aku serius, kenapa tertawa?!" sentak Evan.
"Kamu berlebihan mas, aku tidak secantik itu. Sampai mampu mengundang perhatian. Jangan ngaco deh."
"Pesona istriku ini mana bisa dibilang biasa. Nurut ya sayang."
"Iya, iya. Terserah suamiku saja. Sudah puas?"
"Hemm."
__ADS_1
Evan tidak berdusta dengan ucapannya, Jelita hanya berada diruangannya saja sampai menjelang siang ini.
Pertemuan kali ini bertempat di restauran yang ada dihotel Angkasa. Salah satu hotel bintang lima yang ada di kota A.
Ketika Evan dan Jelita datang, para koleganya ternyata sudah menunggu. Mereka datang bersama sekretarisnya masing-masing. Hanya Evan saja yang membawa Jelita istrinya. Selain itu, Evan juga belum menggantikan posisi Kiara. Jadi posisi itu masih kosong untuk sementara ini.
Yang hadir kali ini ternyata beberapa pengusaha muda. Mereka rata-rara seumuran dengan Evan.
Dari lima orang yang datang, dua diantaranya sudah menikah termasuk Evan.
"Bukan kah dia istrimu?" tanya salah seorang dari mereka. Yang terlihat cukup mengenal Evan ketimbang yang lain.
"Benar, dia istriku. Ada apa? Kau keberatan aku membawa istri?" ujar Evan balik nanya. Yang di tanya malah terkekeh.
"Kau ini masih saja kaku seperti dulu. Harusnya menikah membuat sikap kaku mu itu hilang."ujarnya sembari melirik ke Jelita. Memindai setiap jengkal wajah cantik Jelita sembari tersenyum penuh makna.
"Ikbal, jangan menatap istriku dengan tatapan kotormu itu!"
"Oke, oke baiklah. Kau ini pelit sekali." sungut lelaki yang dipanggil Ikbal.
"Cepatlah menikah agar matamu itu tidak jelalatan melihat yang bukan milikmu." ujar Evan dengan suara datar.
"Pria bereng sek itu. Jangan kau dengar ucapannya." ujar Evan sembari menggengagam jemari Jelita.
"Uhuk! uhuk!" Ikbal tiba-tiba tersedak melihat Evan memperlakukan istrinya dengan begitu lembut. Lelaki yang dia kenal bersikap kaku itu kenapa begitu lembut pada istrinya.
"Kau kenapa?" tanya Evan sembari menyodorkan segelas air untuk Ikbal.
"Kau kenapa bisa bersikap berbeda saat bersamaku. Dan lihatlah sikapmu tadi sangat lembut penuh perhatian." protes Ikbal.
"Kau cemburu? Kalau kau ingin aku bersikap lembut padamu maka jadilah istriku." sahut Evan dengan senyum samar dibibirnya.
"Haaa kampret kamu Van." seru Ikbal yang disambut gelak tawa yang lainnya.
Selama pertemuan Jelita begitu terpesona oleh sikap Evanyang rerlihat sangat saat menghadapi para koleganya. Sikap tegas, dingin, dan wibawa mendominasi sepanjang perbincangan mereka. Ide-ide yang keluar bagai air mengalir mengundang decak kagum didalam hati Jelita. Dia seperti bukan melihat Evan. Sikap yang biasa dia perlihatkan pada Jelita tak terlihat sama sekali.
Hanya saat bicara padanya saja dia akan berubah lembut. Tapi saat bicara pada partner bisnisnya sikapnya berubah dingin dan tegas.
Pertemuan kali ini membahas tentang proyek baru yang sedang Evan garap. Dan keempat temannya adalah bagian dari orang-orang yang ikut bekerja sama dalam proyek itu.
Maraknya destinasi wisata alam, membuat Evan berencana mengembangkan Pulau C, miliknya. Menjadi tempat wisata berbasis internasional.
__ADS_1
Dia sengaja menggaet pengusaha muda sebagai rekan bisnisnya. Mereka lebih mudah diajak kerja sama juga, lebih paham selera pasar.
"Baiklah, karena sudah sepakat. Kerja sama kita ini semoga menjadi awal kerja kita pada proyek selanjutnya." ujar Evan menyudahi rapat mereka.
Selain Ikbal, ada Reza, Anzar juga Bisma. Inilah pengusaha muda yang penuh talenta yang dipilih Evan sebagai rekan. Diantara mereka Reza lah yang sudah menikah yang lainnya masih membujang.
Sementara Ikbal adalah teman lama Evan. Mereka selalu terlibat dalam proyek yang sama di prusahaan Sasongko.
"Semoga demikian. Bisa bekerja sama dengan orang sekelas saudara Evan sungguh keberuntungan buat saya dan yang lainnya." sahut Reza mewakili rekannya yang lain.
"Jangan sungkan. Saya bukan siapa-siapa tanpa dukungan rekan-rekan. Berhubung hidangan sudah tersedia silahkan dicicipi." ujar Evan. mempersilahkan.
Saat makan, Evan kembali memperlihatkan perhatiannya pada Jelita. Sebenarnya itu hal biasa yang Evan lakukan dirumah. Menyendok sayur untuk Jelita, menuang minum. Serta memotong daging. Tapi di depan orang yang selalu melihat sikap datar Evan ini terlihat istimewa. Bahkan mata para sekretaris tampak berbinar melihat kelembuatan Evan.
"Aku bisa sendiri." bisik Jelita. Saat Evan akan menuang minum untuknya.
"Aku tau." sahut Evan, tapi tetap menuangkan air kedalam gelas Jelita.
"Jangan lakukan lagi. Atau mata para gadis itu melompat keluar karena perhatianmu." sungut Jelita dengan suara berbisik sangat pelan. Tapi masih terdengar jelas oleh Evan.
"Apa karena mereka aku harus mengabaikanmu? Bodoh!" jawab Evan juga dengan berbisik. Sembari mencubit hidung Jelita.
"Mas," cebik Jelita dengan mata melotot. Sebab sekarang mata semua orang tertuju pada mereka.
"Ehem! Jangan sampai Reza menelpon istrinya untuk datang kemari ya Van. Karena melihat sikap mesrah kalian." ledek Ikbal.
"Baguslah, biar cacing jomblo dikepalamu semakin menggelepar." sahut Evan acuh. Beberapa orang tertawa mendengar ucapan Evan yang meledek Ikbal.
"Oke baiklah, pria beristri selalu menang." ujar Ikbal akhirnya.
Evan menanggapinya dengan senyum tipis di bibirnya. Ikbal memang suka selengehan kalau bicara tapi saat kerja otak dan geraknya sama cepat. Itulah sebabnya Evan suka bekerja sama dengannya.
To be continuous.
Evan
Jelita
__ADS_1