Menikahi Pengawal Pribadi

Menikahi Pengawal Pribadi
Part 48


__ADS_3

Tuhan mendengar doa Jelita, setelah dua puluh empat jam. Sasongko sadar pasca operasi. Jelita yang senantiasa menunggui papanya tak henti bersyukur atas anugrah ini.


Setelah menjalani pemeriksaan dari Dokter barulah Sasongko boleh di jenguk. Jelita masih belum bisa meluapkan kerinduannya pada papanya. Masih banyak tamu papanya memberi ucapan penyemangat untuk papanya.


Tamu satu persatu sudah meninggalkan rumah sakit. Kini tinggal Jelita dan Evan diruang rawat Sasongko.


Jelita duduk sembari menatap lekat wajah pucat papanya. Keadaannya masih sangat lemah dan sulit bicara. Dia menaggapi orang bicara hanya dengan angguan kepalanya, serta sesekali dia terlihat tersenyum, walau dengan senyum yang tak sempurna.


"Terimakasih papa sudah mampu bertahan untukku." bisik Jelita parau. Dia berusaha menahan tangisnya agar tak meledak didepan papanya. Sasongko mengangguk, bulir bening terlihat menggenang di sudut matanya. Lalu menetes perlahan.


"Cucumu kangen pa, sudah berapa hari dia tak mendengar suara Opa menyapa seperti biasa." Jelita meraih jemari Sasongko membawanya menyentuh perutnya. Tepat disaat bayi di perut Jelita bergerak hingga memperlihatkan tonjolan dipermukaan kulitnya. Sasongko menyunggingkan senyum lebar. Terlihat jelas rona bahagia pada sorot matanya, saat jemarinya merasakan gerakan cucunya di perut Jelita.


"Lihatlah, dia menyapamu pa." ujar Jelita dengan mata berkaca-kaca. Sasongko mengangguk pelan.


Sementara Evan memperhatikan keduanya dengan perasaan tak menentu. Dia bersukur tuhan mengabulkan doa mereka. Hingga istrinya bisa bertemu papanya lagi dalam keadaan sehat.


Keadaan sasongko yang masih begitu lemah membuat Jelita tak tega mengajaknya bicara terlalu lama. Mungkin karena obat penenang. Sasongko juga langsung kembali tertidur.


Setelah puas menunggui papanya Jelita diminta istrahat oleh Evan. Kandungannya yang memasuki bulan tua, membuat Evan khawatir. Jelita menurut dia diantar pulang oleh Evan. Sementara Sasongko ditunggui orang suruhan Evan.


Jelita duduk menjulurkan kakinya di sofa ruang keluarga. Lama berdiri membuat betisnya terasa pegal. Sementara Evan duduk dibawahnya sembari memijit-mijit betis dan tumitnya. Sesekali dia mengoles minyak telon meredakan rasa pegal yang mendera betisnya.


"Kuasa hukum papa tadi menemui aku." Evan buka suara, sembari terus memijit kaki Jelita.


"Lalu?"

__ADS_1


"Papa sudah menuliskan wasiatnya untuk mu." sahut Evan. Jelita terdiam. Pirasat apa ini? kenapa tiba-tiba hatinya tak tenang.


"Jangan banyak berpikir sayang. Mungkin papa melakukannya karena khawatir pada kesehatannya yang semakin memburuk." hibur Evan. Sejujurnya Evan juga mendapat pirasat yang sama.


"Apa wasiat yang disampaikan kuasa hukum papa?" tanya Jelita dengan tatapan sayu.


"Seluruh harta papa telah dipindahkan atas namamu sayang." ujar Evan. Jelita menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan. Dia sangat takut saat ini. Keluarganya hanyalah ayahnya satu-satunya. Bagaimana nasipnya bila terjadi sesuatu pada papanya. Akankah Evan tetap menyayanginya seperti saat ini bila papanya sudah tiada.


Evan bisa melihat kekhawatiran istrinya. Dia melepas pijatanya pada kaki Jelita. Lalu bergeser mendekat ke Jelita. Memeluk tubuh hangat itu penuh kasih sayang. "Jangan takut sayang. Bukan cuma papa, aku juga menyayangimu melebihi sayang pada diriku sendiri." bisik Evan. Jelita terisak pelan, saat ini hanya Evan satu-satunya harapannya.


Mungkin karena kelelahan. Jelita tanpa sadar tertidur dipangkuan Evan. Sembari sesekali memantau laporan orangnya dirumah sakit. Dia sengaja mengosongkan jadwal dua hari ini demi menemani istri dan mertuanya.


Evan menatap lembut wajah cabi yang terlihat sangat lelah, yang berada dipangkuannya. Gadis manja yang dulu terkenal dengan sikap keras kepalanya, kini terlihat lemah tak berdaya.


Sudah hampir satu jam Jelita tertidur, Evan terpakasa membangunkannya. Orangnya yang berada dirumah sakit mengabari, kalau Sasongko kembali drop dan harus dibawa keruang tindakan.


Sungguh kalau bisa Evan tak kan memberitau Jelita kabar ini. Tapi itu tidak mungkin. Mau tidak mau, Jelita harus di beritahu kondisi papanya.


Dengan derai air mata Jelita berangkat menuju kerumah sakit diantar Evan.


Jelita berdiri kaku di balik dinding kaca. Menyaksikan papanya mendapat tindakan dari dokter. Tubuhnya telihat terlonjak-lonjak oleh


alat pacu jantung atau defribrilator yang ditempelkan di atas dadanya. Jelita tak tega melihatnya, dia sungguh tak sanggup melihat perjuangan papanya demi satu kata sembuh. Melihat ini, tiba-tiba dia ikhlas apapun yang akan terjadi nanti pada papanya.


"Sayang, duduklah. Kau sudah berdiri semenjak tadi. Jangan terlalu lelah, kasian bayi kita." bujuk Evan sembari mengusap kedua lengan istrinya. Jelita menurut saat Evan membimbing tubuhnya duduk dikursi ruang tunggu.

__ADS_1


Jelita menunggu dengan perasaan cemas. Jemarinya menggenggam erat jemari Evan. Buku-buku jemarinya bahkan basah oleh keringat. Keadaan ini membuat Evan prihatin.


Dokter yang menagani Sasongko tampak keluar dari ruang tindakan dengan ekspresi sedih. Ekspresi yang membuat jantung Jelita berhenti berdetak. Apalagi saat Dokter itu menggeleng pasrah, mengisyaratkan keadaan papanya. Pandangannya tiba-tiba gelap.Tubuhnya limbung seketika, tak sadarkan diri. Beruntung Evan sigap menagkap tubuhnya lalu membawanya keruang rawat.


******


Mansion Sasongko ramai oleh pelayat. Jelita yang sudah sadar duduk disamping Jenazah papanya. Sesekali dia membuka kain penutup wajah papanya. Mencium wajah yang sudah tak hangat lagi dengan penuh kesedihan. Pirasatnya ternyata benar. Papanya benar-benar meninggalkan dia seorang diri. Air matanya sudah tak mengalir lagi, walau dia ingin melampiaskan kesedihannya dengan menagis. Memendamnya begini malah semakin terasa sangat sakit. Dia tak sendiri sampingnya ada Sella dan beberapa teman kuliahnya, yang setia menemaninya. Juga beberapa istri teman papanya, yang menghiburnya. Sedang Evan sibuk mengurus pemakaman mertuanya.


Jelita menatap tanah basah tempat bersemayam jasad papanya, dengan pandangan sendu. Separuh hatinya tertinggal disini. Papanya pergi tanpa sepatah katapun yang sempat dia ucapkan. Ini sangat memukul batin Jelita. Seiklas apapun dia, tetap saja kepergian papanya yang tiba-tiba mengguncang jiwanya.


Beruntung dia memiliki Evan disampingnya. Dia begitu penuh kesabaran mendampingi Jelita.


"Sayang, sudah gerimis. Sebaiknya kita pulang." bujuk Evan. Jelita menurut saat Evan membawanya pergi meninggalkan makam papanya.


Sesampainya dirumah. Evan memandikan Jelita dengan air hangat. Setelah selesai mandi, Evan dengan cekatan dia menyulangi Jelita dengan bubur hangat.


"Sayang, malanlah. lalu istrahat, malam nanti kita mengadakan pengajian untuk papa. Aku sudah memberitahu ketua mesjid agar mengurus hal ini." ujar Evan.


Jelita menatap wajah Evan lekat. "Terimakasih mas." lirih Jelota dengan mata berkaca-kaca.


"Jangan berterimpakasih. Ini kewajibanku padamu dan papa." ucap Evan sembari mengecup lembut puncak kepala Jelita. Hati jelita menghangat.


'tuhan terimakasih sudah mengirim Evan disisiku.'


To be continuous.

__ADS_1


__ADS_2