
Sudah hampir satujam Evan berada diruang bermain bersama Alena. Sementara Jelita meperhatikan keduanya dari ruang tengah.
Dia tak ingin mengganggu keduanya, mereka jarang sekali memiliki waktu untuk bermain. Hari ini Alena beruntung, papanya memilih bermain dengannya untuk meredakan emosi yang membakar hatinya.
Setelah cukup lama menunggu barulah Evan dan Alena keluar menemui Jelita.
"Sudah puas main dengan papa sayang?" tanya Jelita saat Alena bergelayut manja di tubuhnya.
"Iya, tapi Alena mau mandi dulu ma."
"Iya pergilah mandi sama mbak ya."
"Baik ma."
Dengan patuh Alena pergi kekamarnya bersama mbak pengasuhnya. Sementara Jelita kini beralih ke Evan.
"Mas juga mau mandi?" tanya Jelita.
"Tentu, kau juga harus mandi." Sahutnya sembari menarik tangan Jelita menuju lantai atas kamar mereka.
Di kamar mandi, Evan sudah melepas bajunya juga milik Jelita. Kini mulai mengguyur tubuh Jelita dengan air hangat yang mengucur dari shower di atasnya. Dia menyetel debit air yang keluar dengan curah sedang.
Evan menghimpit tubuh mulus yang sudah basah kuyup itu, kedinding kamar mandi. Mencumbui tubuh polos itu dengan ritme sangat lamban. Menyentuh dengan penuh kelembutan, dunia mendadak berjalan sangat lambat bagi Jelita. Membuatnya menikmati sentuhan Evan dengan begitu dalam.
Sudah lama bahkan sudah sangat lama dia tak merasa senikmat ini di sentuh Evan. Jemarinya sangat nakal, memuaskannya dengan sentuhan pada inti kenikmatan miliknya yang membuatnya hampir gila karena nikmatnya.
Dia sudah sangat mendamba tapi Evan masih mempermaiankannya dengan sentuhan erotis. Dari cumbuan lambat perlahan bertambah beringas, ruam ungu sudah banyak terlihat di kulit halus Jelita.
Jelita mendesah basah saat jemari Evan menusuk area basah inti tubuhnya dengan gerakan maju mundur. Lalu menusuk sangat dalam berulang kali. Inti tubuhnya sudah sangat basah oleh tusukan nikmat itu, Jelita mengerang dengan tatapan mata memohon dia sudah sangat tak tahan.
"Memohonlah padaku," pinta Evan dengan suara serak.
Jelita mengumpat dalam hati, ini sangat menyiksa tapi dia tak ingin memohon. Dia tau ini adalah hukuman untuknya karena kelakuan Arif tadi siang.
Jelita menatap Evan dengan seringai jahat. Dia ingin lihat siapa diantara mereka yang akhirnya memohon di akhir permainan.
Dengan hasrat yang bergelung bak deburan ombak Jelita membalas cumbuan nakal suaminya. Dia melepas semua pakaian yang masih melekat di tubuh Evan hingga tak tersisa.
Evan terpana, tubuhnya terasa semakin panas saat jemari Jelita menyusuri bawah pusarnya menyentuh benda keras yang tegak menantang dengan sentuhan lembut. Evan mencengkram bo kong seksi Jelita dengan kedua tangannya dengan napas terengah. Gerakan maju mundur tangan ramping Jelita pada pangkal pahanya membuat Evan menggila.
"Aaahh! Sayang..." desah lolos dari bibir tipis Evan. Ini sungguh gila, sentuhan Jelita semakin menggila. Bibir merahnya menyesapi setiap jenkal tubuhnya terasa basah dan hangat menyentuh kulitnya. Darahnya mendidih oleh gairah yang bergelora memicu aliran darahnya, memompa detak jantungnya hingga dadanya seakan ingin meledak. Saat bibir basah jelita menyusuri bawah pusatnya dengan sangat berani.
__ADS_1
'Ahh! ****!!' umpatnya dalam hati sembari mencengkram pundak Jelita yang berada di bawahnya. Mengulum dan menghisap membuatnya hampir meledak dilanda nikmat.
Erangan kembali terdengar dari bibir Evan sesekali bibir seksinya meracau menyebut nama Jelita dengan suara rendah penuh gairah, terdengar sangat seksi di telinga Jelita.
"Stop sayang!" erang Evan ditengah permaian panas Jelita. Dia menyerah memohon Jelita berhenti atau dia akan meledak sekarang juga.
Dibawahnya Jelita mengadah menatap penuh kemenangan manik hitam Evan yang dipenuhi kabut gairah.
"Aku masih mau lagi," bisik Jelita dengan gestur sangat seksi. Tapi Evan tak memberinya kesempatan, dia sudah sangat tak tahan dengan sekali gerak dia sudah mengangkat tubuh Jelita mendudukkannya diatas meja kramik.
"Kau sungguh nakal hari ini sayang." geramnya sembari kembali mencumbui Jelita. Mengekang kedua tangan Jelita dengan satu tangan sementara tangan lainnya menjamahi tubuh mulus Jelita.
"Mas..." Desah Jelita dengan mata sayu, tubuhnya mengeliat liar oleh cumbuat Evan di area sensitifnya.
"Buka pahamu sayang..." pinta Evan dengan suara parau. Jelita melakukannya, memperlihatkan benda nikmat yang sedari tadi membuatnya gila. Juniornya semakin bertambah keras dan sesak ingin segera menikmati benda berwarna merah jambu pucat yang sudah terlihat basah itu dengan segera.
Evan menarik bo kong Jelita sedikit ketepi Meja, kemudian mulai menghujamkan miliknya dengan sangat dalam.
"Ahhh!" lenguh keduanya bersamaan.
Evan kembali mendesah oleh milik Jelita yang terasa hangat dan berdenyut menggisap miliknya yang masih diam belum bergerak.
"Kau nikmat sayang..." bisiknya memuja. Lalu mulai memaju mundurkan tubuhnya dengan sangat seksi. Desah dan erangan terdengar memenuhi kamar mandi dari dua insan yang sedang dilanda bira hi. Bermain dengan samgat panas dengan segala posisi yang mengundang nikmat.
"Aku ingin keluar..." erang Jelita dengan gerakan makin menggila.
"Aku juga, lakukan sedikit lagi." geram Evan dengan kedua tangan mencengram pinggul Jelita yang bergoyang maju mundur dengan sangat seksi.
"Ahh!" pekik keduanya lalu terkulai tak berdaya saat mereka benar-benar sampai pada puncak kenikmatan.
Evan meraih tubuh lemas Jelita memawanya masuk kedalam bathtub, lalu mengisinya dengan air hangat dan mulai memandikan istrinya dengan penuh kasih sayang.
Jelita memperhatikan Evan dengan seksama, tidak ada lagi kemarahan pada sorot matanya. Hanya ada cinta dan kasih sayang terpancar jelas disana.
"Mas puas," tanya Jelita dengan suara rendah.
Evan yang sedang menyabuni tubuh Jelita menhentikan gerakannya. Wajahnya mendekat lalu dengan lembut menghuni wajah Jelita dengan kecupan. "Sangat, sangat puas sayang. Kau gila hari ini membuatku hampir meledak." ucapnya lembut.
Jelita terkekeh, memang itu tujuannya. Mereka juga sudah lama tak bermain segila ini.
"Masih marah padaku?" tanya Jelita lembut.
__ADS_1
Evan tak menyahut, dia mengguyur tubuhnya dan Jelita dengan shower lalu meraih handuk untuk menutupi tubuh bawahnya. Lalu mengambil jubah mandi untuk Jelita, kemudian membawa tubuh seksi itu keluar dari kamar mandi.
"Aku tidak marah padamu sayang," ujar Evan sembari meletakkan tubuh Jelita di pinggir tempat tidur, dia sendiri duduk di samping Jelita.
"Lalu?"
"Aku marah pada diriku sendiri juga Arif. Dia sengaja melapaui batasannya terhadapmu."
"Arif pria yang baik aku akui itu. Tapi dia benar-benar menyukaimu aku juga tau itu. Arif dan aku memiliki selera yang sama terhadap wanita. Jadi bagaimana aku mengagumimu seperti itulah dia terhadapmu." imbuhnya dengan helaan napas.
"Bukankah dia tau aku adalah istrimu?"
"Dia gila sayang, dia tak perduli statusmu. Walau begitu dia tak kan berani melakukan hal tak senonoh padamu tapi tetap saja melihat dia memandangmu penuh rasa suka membuatku cemburu." keluh Evan dengan wajah muram.
Jelita tersenyum simpul, senang rasanya mendengar ungkapan rasa cemburu Evan. Dia berasa jadi wanita paling cantik didunia.
"Mulai besok aku akan menghindari Arif saat aku melihatnya."
"Itu harus."
"Tapi bagaimana dengan Sesa? Dia sepertinya menyukaimu mas."
"Targetnya bukan aku tapi kamu sayang."
"Mas tau itu?"
"Tentu saja, kau lupa apa pekerjaan awalku dulu. Membaca gestur seseorang adalah keahlianku."
"Mas membiarkan dia melakukannya? Ingin mengambil keuntungan dari kecantikannya?" sungut Jelita.
"Salah! bukan dari kecantiaknnya tapi dari sumberdaya yang dia miliki. Sebab menurutku dia tidak cantik."
"Idih bohong banget sih mas! Anak baru lahir aja tau kalau dia tuh sangat cantik."
"Gak bohong aku sayang. Bagiku cantik itu yang mampu membuat aku tertarik dan mampu membangkitkan gairah kelelakianku. Tapi dia tidak memiliki itu sama sekali."
Jelita terdiam. Evan tidak bohong, selama mendampingi Evan dia banyak bertemu wanita yang lebih cantik dan seksi dari Sesa. Mempertontonkan bentuk tubuhnya pada Evan dengan suka rela, tapi Evan terlihat tidak tertarik sama sekali. Dia melihat objek menggiurkan itu layaknya seperti benda mati yang tak meliki daya tarik sama sekali.
Tapi dengannya Evan mudah terang sang. Sedikit saja melihatnya berdandan seksi, libido Evan langsung naik.
"Sudah jangan banyak berpikir, pakai bajumu sana nanti masuk angin." titahnya dengan lembut lalu bangkit menuju ruang ganti.
__ADS_1
Jelita menatap punggung Evan dengan perasaan bahagia. Tuhan memberikan lelaki langka seperti Evan adalah karunia yang tak terhingga.
To be continuous.