Menikahi Pengawal Pribadi

Menikahi Pengawal Pribadi
Part 66


__ADS_3

Pagi sekali Jelita sudah tetlihat sibuk menyiapkan berkas-berkas untuk rapat pagi ini. Prusahaan mereka kedatangan tamu penting yang akan mengadakan kerjasama dengan hotel mereka.


Setelah selesai dengan berkasnya, Jelita membangunkan Alena. Jelita memang selalu membuasakan putrinya bangun pagi agar bertemu dengan dia dan Evan sebelum mereka berangkat bekerja.


Walau usianya masih balita, tapi karena kebiasaan yang ditetapkan Jelita membuatnya tak susah bangun pagi.


"Mama mau kerja?" tanya Alena denga suara lembut.


"Iya sayang," sahut Jelita sembari melepas baju putrinya lalu menggendong tubuh mungil itu kekamar mandi.


Di kamar mandi Jelita sudah mengisi bathtub berwarna pink dengan air hangat. Dengan senang hati Alena masuk kedalam lalu menyirami separuh tubuhnya dengan jarinya yang mungil.


"Sini pakai sampo." Jelita menidurkan tubuh putrinya bersandar pada kepala bathtub. Menyampoi rambut hitam Alena lalu membilasnya dengan shower.


Setelah Alena mandi dan memakai baju, Jelita barulah bersiap memakai baju kerjanya. "Alena sudah mandi?" tanya Evan sembari mengancingkan kemejanya.


"Sudah mas."


"Jam berapa rapat kita nanti sayang?"


"Jam sembilan mas."


"Berkasnya sudah selesai?"


"Sudah mas, malam tadi semua data sudah dikirim Sandi ke Email pribadiku." sahut Jelita sembari memakai giwang berwarna hitam dan ada paduan warna putih pada daun telinganya, senada dengan gaun yang dia kenakan atasan putih di padu dengan kulot berwarna hitam.


Dengan stelan itu Jelita terlihat lebih muda dari usianya. Tubuhnya terlihat langsing dan proposional di area tertentu.


Evan menarik napas dalam setiap kali melihat penampilan istrinya. Dia harus banyak bersabar saat banyak mata lelaki mengarah ke-Jelita.


"Jangan protes. Mas juga jadi perhatian para wanita cantik, bahkan lebih ekstrem fansnya mas loh." ucap Jelita saat Evan mengomentari penampilannya, membuat Evan terpaksa tutup mulut.


Sebelum berangkat kerja mereka sarapan pagi bersama Alena. Gadis kecil itu sesekali di bawa Jelita ketempat kerja, saat Evan tidak ada pertemuan diluar.


Alena gadis penurut tak banyak maunya. Saat harus ditinggal dirumah bersama pengasuh dia tak banyak ribut. Saat harus ikut dengan Jelita ketempat kerja, dengan senang hati Alena ikut pergi.


"Mama pergi ya sayang," pamit Jelita sembari mencium pipi Alena penuh kasih. Alena memggaguk patuh.


Kini giliran Evan yang berpamitan, dia menggendong putri kecilnya sebentar sembari melabuhkan kecupan lembut dipipinya.

__ADS_1


"Pulang nanti Alena mau papa bawain hadiah apa?"


Alena terlihat berpikir sembari menyentuh dagunya dengan jemari mungilnya. "Alena mau alat mewarnai, punya Alena udah abis, ya kan mbak?" sahut Alena sembari beralih menatap ke wanita muda pengasuhnya. Si mbak mengangguk mengiyakan ucapan Alena.


"Baiklah nanti papa belikan, sekarang papa sama mama pergi kerja dulu ya sayang," pamit Evan sembari menurunkan tubuh mungil Alena dari gendongannya.


"Iya pa, hati-hati di jalan." Sahutnya sembari melambaikan tangan mungilnya pada kedua orang tuanya.


Rutinitas setiap hari yang membuat dada Evan sesak, saat melihat mata bening Alena tak berkedip sampai mereka menghilang dari pandangannya.


Jam sembilan tiga puluh, seperti yang di jadwalkan Evan ada rapat dengan perwakilan prusahaan travel yang ingin menjalin kerja sama dengan Hotel mereka. Belakangan karena nenurunnya kedangan wisatawan di tempat wisata berimbas pada omzet Hotel.


Maka dari itu Evan ingin menjalin kerja sama dengan prusahaan travel wisata untuk mendongkrak jumlah pengunjung hotel.


Ruang rapat sudah dihadiri beberapa pimpinan divisi terkait, sementara Evan duduk bersebelahan dengan Jelita.


Jelita terlihat menyiapkan berkas persentasinya yang akan diajukan ke pihak travel sebagai pertimbangan.


Tak lama pintu ruang rapat terbuka, terlihat wanita muda masuk kedalam ruang rapat bersama lelaki berusia empat puluhan.


Jelita membulatkan matanya menatap siapa yang datang. Sesa teman kuliahnya dulu yang begitu memuja mantan kekasihnya Boy.


Sesa tampil begitu anggun dan sangat menawan, kecantikannya bak dewi kecantikan. Lembut, penuh daya tarik. Dengan stelan kantor warna merah terang yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Membuat pandangan orang tak mampu beralih darinya.


Evan melirik istrinya sekilas, melihat ekspresinya yang terlihat tenang membuat Evan tersenyum.


Rapat berjalan lebih kurang satu jam lebih. Walau tak menghiraukan Jelita tapi Sesa menerima dengan baik apa yang disampaikan Jelita.


Prusahaan Travel miliknya menyasar pada wisatawan luar negri, kerja sama prusahaan mereka dan Hotel milik Evan memang harus dilakukan. Mengingat hanya hotel milik mereka yang memiliki standar internasional tebaik dikota A.


Tapi dimasa lalu mereka telah bekerja sama dengan pihak lain dengan waktun yang cukup lama. Tapi mereka terpaksa memutus hubungan kerja karena beberapa komplain pelanggan terhadap buruknya fasilitas dan layanan hotel.


"Bagai mana nona Sesa? Apa hotel kami sesuai dengan keinginan anda?" tanya Evan saat Jelita selesai menjelaskan mengenai seluk beluk hotel mereka.


"Secara lisan sesua, kami akan mengunjungi hotel untuk mematikan fasilitas dan pelayaan hotel sesuai dengan apa yang di sampaikan nona Jelita." ujar Sesa tanpa melihat Jelita sedikitpun.


"Baiklah, saya sendiri yang akan mengantarkan nona Sesa mengunjungi hotel kami."


"Okay, besok setelah makan siang saya akan datang berkunjung."

__ADS_1


"Baik saya akan menunggu."


Sesa mengulur tangannya menjabat jemari Evan dengan sangan erat sebelum meninggalkan ruang rapat. Jelita mendesah berat, begitu bayangan Sesa hilang dari pandangan.


"Ada apa? Melihatnya mengingatkanmu pada Boy?" tanya Evan dengan mata menyipit.


"Maaf pak Evan, dari mana datangnya pertanyaan tak berdasar ini?" tanya Jelita dengan pupil melebar.


"Helaan napasmu terasa berat saat melepas Sesa, membuatku curiga."


"Aku hanya iba pada nyonya Sesa, masih muda tapi matanya tak berpungsi dengan benar. Dia tak bisa melihat keberadaanku, padahal aku ada disampingmu."


Evan terkekeh, dengan lembut dia mencubit pipi istrinya. "Kau cemburu?" bisiknya mesrah, membuat beberapa OB yang baru saja datang untuk membersihkan ruang rapat ikut tersipu malu.


"Tidak." tegas Jelita.


"Benarkah?"


"Hemm."


Evan tersenyum sembari merengkuh tubuh istrinya memberi kecupan lembut di puncak kepalanya penuh cinta. "Bagus, nyonya Evan tidak boleh asal cemburu." ucapnya dengan suara lembut.


"Tapi tuan Evan boleh melakukannya," ujar Jelita bernada mengejek.


Evan terkekeh, tapi itu benar dia sangat pecemburu dan itu tak bisa di ubah. "Itu karena sayang terlalu berharga untukku. Wajar bukan kalau cemburuku berlebihan?"


"Wajar apanya? Aku tidak memiliki ruang untuk diriku sendiri, membosankan," sungut Jelita sebari melangkah keluar ruang rapat.


Evan menyusul langkah Jelita sembari mengaitkan jemarinya pada jemari lembut istrinya. Dengan lembut memberi ciuman lembut pada punggung tangan Jelita tanpa melepas genggaman tangannya. Beberapa karyawan yang melihat kemesraan mereka terpaksa berpura-pura tak melihat kelakuan pemimpin perusahaan mereka.


Evan selalu tak kenal tempat mengumbar kemesraannya pada Jelita. Jelita sudah sering protes, "Aku mesrah dengan istriku apa salahnya, kamu tau sayang banyak lelaki diluar sana memilih selingkuhannya tempat bermanja dan segan bermesraan di tempat umum." membuat Jelita bungkam. Tentu saja itu bukan omong kosong belaka. Karena mereka selalu menjumpai klien yang melakukan hal yang diucapkan Evan.


Evan tak melepas genggamannya sampai keruangannya. Dia tau ucapan Jelita tadi hanya gurauan. Dia memahami Jelita luar dalam dan dia tau Jelita tak benar-benar menginginkan kebebasan itu.


Jelita menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa sembari menatap Evan yang focus pada berkas diatas meja.


Lelaki tampan dengan sejuta pesona itu adalah suaminya, kelembutan dan cintanya telah membuat hidup Jelita penuh warna.


Mungkin benar kata pepatah, kalau kau ingin anak perempuanmu diperlakukan baik oleh suaminya. Maka perlakukanlah istrimu dengan baik pula.

__ADS_1


Tak ada hal yang indah bagi para istri kecuali perlakuan baik para suami.


To be continuous


__ADS_2